Sabtu, 07 November 2015

Janganlah Menyelisihi Sunnah


🔹 Allah mengancam dengan keras orang-orang yang berani membantah ajaran Nabi-Nya. Tidak saja diancam dengan adzab akhirat, namun banyak yang disegerakan hukumannya di dunia.
🔹 Salah seorang murid Imam Ahmad bernama Abu Thalib mengatakan: “Saya mendengar Imam Ahmad ditanya tentang sebuah kaum yang meninggalkan hadits dan cenderung kepada pendapat Sufyan (salah seorang ulama kala itu).” Maka Imam Ahmad berkata: “Saya meresa heran terhadap sebuah kaum yang tahu hadits dan tahu sanad hadits serta keshahihannya lalu meninggalkannya, lantas pergi kepada pendapat Sufyan dan yang lainnya padahal Allah berfirman: “Maka hendaklah berhati-hati orang yang menyelisihi perintah Rasul-Nya untuk tertimpa fitnah atau tertimpa adzab yang pedih.” (An-Nur: 63). Tahukah kalian apa arti fitnah? Fitnah adalah kufur. Allah berfirman . “Dan fitnah itu lebih besar daripada pembunuhan.” (Fathul Majid: 466)
🔹 Ayat yang dibacakan oleh Imam Ahmad tersebut benar-benar merupakan ancaman keras bagi orang-orang yang menyelisihi Sunnah Nabi. Ibnu Katsir menafsirkan ayat ini katanya: “Hendaklah takut siapa saja yang menyelisihi syariat Rasul secara lahir maupun bathin untuk tertimpa fitnah dalam hatinya baik berupa kekafiran, kemunafikan atau bid’ah atau tertimpa adzab yang pedih di dunia dengan dihukum mati atau dihukum had atau dipenjara atau sejenisnya.” (Tafsir Ibnu Katsir: 3/319)
🔹 Allah juga berfirman:
“Wahai orang-orang yang beriman janganlah kalian keraskan suara kalian di atas suara Nabi dan jangan kalian bersuara keras terhadap Nabi sebagaimana kerasnya suara sebagian kalian kepada sebagian yang lain supaya tidak gugur amal kalian sedangkan kalian tidak menyadarinya.” (Al Hujurat: 2)
🔹 Ibnul Qayyim menjelaskan ayat ini katanya: “Allah memperingatkan kaum mukminin dari gugurnya amal-amal mereka dengan sebab mereka mengeraskan suara kepada Rasul sebagaimana kerasnya suara mereka kepada sebagian yang lain. Padahal amalan ini bukan merupakan kemurtadan bahkan sekedar maksiat, akan tetapi ia dapat menggugurkan amalan dan pelakunya tidak menyadari. Lalu bagaimana dengan yang mendahulukan ucapan, petunjuk, dan jalan seseorang di atas ucapan, petunjuk dan jalan Nabi?! Bukankah yang demikian telah menggugurkan amalannya sedang dia tidak merasa?” (Kitabush Shalah, 65, Al Wabilush Shayyib, 24 dan Ta’dhimus Sunnah, 22-23).
🔹 Dalam hadits yang lalu Nabi menyebutkan:
“Barangsiapa yang membenci Sunnahku,dia bukan dari golonganku.” (Shahih, HR Muslim).
Maksud bukan dari golonganku artinya dia termasuk orang kafir jika ia berpaling dari Sunnah Nabi, tidak meyakini Sunnah itu sesuai dengan nyatanya. Tapi jika ia meninggalkannya karena menggampangkannya maka ia tidak di atas tuntunan Nabi. (Lihat Syarh Shahih Muslim, Al Imam An Nawawi: 9/179 dan Nashihati Linnisa’ hal. 37)
🔹 Ancaman-ancaman tersebut cukup menakutkan tapi ada yang tak kalah menakutkan yaitu bahwa orang yang menentang Sunnah Nabi terkadang Allah percepat hukumannya semasa mereka di dunia sebagaimana diriwayatkan dalam beberapa riwayat, di antaranya:
“Dari Abdulah bin Abbas, dari Nabi bahwa beliau bersabda: ‘Jangan kalian datang kepada istri kalian (dari safar) di malam hari.’ Kemudian di suatu saat Nabi datang dari safar maka tiba-tiba dua orang pergi mendatangi istri mereka (di malam hari) maka keduanya mendapati istri mereka sudah bersama laki-laki lain. (Sunan Ad Darimi, 1/118)
Didapatinya istri mereka bersama laki-laki lain adalah hukuman bagi mereka dimana mereka melanggar larangan Nabi untuk mendatangi istri mereka di malam hari sepulangnya dari safar, kecuali jika sebelumnya mereka sudah terlebih dahulu memberi tahu bahwa mereka akan datang di malam itu maka yang demikian diperbolehkan sebagaimana dijelaskan oleh Ibnu Hajar dalam Fathul Bari (9/240, 242)
🔹 Salamah bin Al Akwa’ berkata: “Bahwa seseorang makan dengan tangan kiri di hadapan Rasulullah maka Rasulullah menegurnya: ‘Makanlah dengan tangan kananmu.’ Ia menjawab: ‘Saya tidak bisa.’ Maka Nabi katakan: ‘Semoga kamu tidak bisa. Tidaklah menghalangi dia kecuali sombong.’ Akhirnya ia tidak dapat mengangkat tangannya ke mulutnya.” (Shahih, HR Muslim).
🔹 Abdurrahman bin Harmalah mengisahkan, seseorang datang kepada Said bin Al Musayyib megucapkan salam perpisahan untuk haji atau umrah, lalu Said mengatakan kepadanya: “Jangan kamu pergi hingga kamu shalat dulu karena Rasulullah bersabda: ‘Tidaklah ada yang keluar dari masjid setelah adzan kecuali seorang munafik, kecuali seorang yang terdorong keluar karena kebutuhannya dan ingin kembali ke masjid.’ Kemudian orang itu menjawab: “Sesungguhnya teman-temanku berada di Harrah,” lalu keluarlah dia dari masjid, maka Said terus terbayang-bayang mengingatnya sampai beliau dikhabari bahwa orang tersebut jatuh dari kendaraannya dan patah pahanya. (Sunan Ad Darimi 1/119, Ta’dhimus Sunnah hal. 31, Miftahul Jannah hal.134)
🔹 Abu Abdillah Muhammad bin Ismail At Taimi mengatakan, dirinya membaca pada sebagian kisah-kisah bahwa sebagian ahlul bid’ah ketika mendengar sabda Nabi:
“Jika salah seorang dari kalian bangun dari tidurnya maka janganlah ia celupkan tangannya ke bejana sebelum mencucinya terlebih dahulu karena sesungguhnya ia tidak tahu di mana tangannya barmalam.” (Shahih, HR Al Bukhari dan Muslim)
Maka ahlul bid’ah tersebut mengatakan dengan nada mengejek: “Saya tahu di mana tanganku bermalam, tanganku bermalam di kasur.” Lalu paginya dia bangun dari tidurnya dalam keadaan tangannya sudah masuk ke dalam duburnya sampai ke lengannya.
🔹 At Taimy lalu berkata: “Maka berhati-hatilah seseorang untuk menganggap remeh Sunnah dan sesuatu yang bersifat mengikut perintah agama. Lihatlah bagaimana akibat jeleknya menyampaikan kepadanya.”
🔹 Al Qadhi Abu Tayyib menceritakan kejadian yang ia alami, katanya: “Kami berada di sebuah majlis kajian di masjid Al Manshur. Datanglah seorang pemuda dari daerah Khurasan, ia bertanya tentang masalah musharat lalu dia minta dalilnya sehingga disebutkan dalilnya dari hadits Abu Hurairah yang menjelaskan masalah itu. Dia -orang itu bermadzhab Hanafi – mengatakan: ‘Abu Hurairah tidak bisa diterima haditsnya…’ Maka belum sampai ia tuntaskan ucapannya tiba-tiba jatuh seekor ular besar dari atap masjid sehingga orang-orang loncat karenanya dan pemuda itu lari darinya. Ular itupun terus mengikutinya. Ada orang mengatakan: ‘Taubatlah engkau! Taubatlah engkau!’ Kemudian dia mengatakan ‘Saya bertaubat.’ Maka pergilah ular itu dan tidak terlihat lagi bekasnya.” Adz Dzahabi berkata bahwa sanad kisah ini adalah para imam.
🔹 Itulah beberapa kejadian nyata -insya Allah- dan bukan cerita fiktif yang diada-adakan, tetapi cerita-cerita yang diriwayatkan dengan sanad. Tentu yang demikian menjadi pelajaran buat kita karena bukan hal yang mustahil kejadian di atas terjadi di masa kita sebagaimana terjadi di masa dulu manakala ada seseorang yang menghina Sunnah Nabi. Ancaman ini telah ditetapkan di dalam Al Qur’an sebagaimana firman-Nya:
“Sesungguhnya orang yang mencelamu, dialah yang terputus.” (Al Kautsar: 3)
Yakni terputus dari segala kebaikan (Taisir Al Karimirrahman: 935)
Ibnu Katsir menjelaskan: “yang mencelamu artinya yang membencimu wahai Muhammad, dan yang membenci apa yang engkau bawa dari petunjuk dan kebenaran serta bukti yang nyata. Dan yang terang dialah yang akan terputus, yang hina, dan tidak akan dikenang namanya (dengan baik).
Ibnu Abbas mengatakan bahwa makna yang mencelamu adalah musuh-musuhmu. Dan ini mencakup siapa saja yang memiliki sifat itu baik yang disebut atau yang lain.” (Tafsir Ibnu Katsir, 4/598)
🔹 Jadi apa yang telah Allah ancamkan sangat mungkin terjadi pada individu atau kelompok pada masyarakat kita jika Allah tidak memberi rahmat-Nya. Bahkan bagi seseorang yang mengagungkan Sunnah-Sunnah Nabi lalu ia perhatikan perilaku manusia dalam mensikapinya dengan sikap negatif, dia akan mendapatkan kebenaran firman Allah ? di atas di mana ia akan melihat tidak sedikit dari orang-orang yang tertimpa musibah lantaran menghina Sunnah Nabi.
🌐Dikutip dari ttp://www.asysyariah.com,
✏Penulis : Al Ustadz Qomar Suaidi, Lc,
📂Judul asli: Menyelesihi sunnah menuai ancaman
Artikel : Qur'an dan sunnah

Kamis, 05 November 2015

RENUNGAN


Dosa Jangan di ➕
Amal Jangan di ➖
Cinta Jangan di ➗
Hidup hanya. 1 ❌

*Gugur Bunga karena* Layu
*Gugur Iman karena* Nafsu
*Gugur Cinta karena* Cemburu
*Tertawa karena* Bahagia
*Menangis karena* Derita
*Bertaubat karena* Dosa
*Beribadah karena* Takwa
*Hidup tanpa Cinta* pasti Hampa
*Hidup gila Harta* pasti Celaka
*Hidup penuh Dosa* akan Binasa
*Hidup Bersyukur* akan Bahagia
*Hiduplah tiap hari seperti Matematika:*
*1. Mengalikan (x) keGembiraan*
*2. Mengurangi (-) keSedihan*
*3. Menambahkan (+) Semangat*
*4. Membagi ( : ) keBahagiaan*
*5. Meng-kuadratkan Kasih Sayang antar sesama*
*Ada 3 hal dalam hidup yang tidak bisa kembali:*
1. Waktu
2. Ucapan
3. Kesempatan
*Jagalah itu, jangan sampai menyesal karenanya*
*Ada 3 hal yang dapat menghancurkan hidup seseorang:*
1. Amarah
2. Keangkuhan
3. Dendam
*Hindarilah ia selalu*
*Ada 3 hal yang tidak boleh hilang*
1. Harapan
2. Keikhlasan
3. Kejujuran
*Peliharalah ketiganya*
*Ada 3 hal yang paling berharga*
1. Kasih Sayang
2. Cinta
3. Kebaikan
*Pupuklah itu semua*
*Ada 3 hal dalam hidup yang tidak pernah pasti*
1. Kekayaan
2. Kejayaan
3. Mimpi
*Jangan terobsesi karenanya*
*Ada 3 hal yang dapat membentuk watak seseorang*
1. Komitmen
2. Ketulusan
3. Kerja Keras
*Upayakanlah sekuatnya*
*Ada 3 hal yang membuat kita sukses*
1. Tekad
2. Kemauan
3. Fokus
*Usahakan dengan sungguh-sungguh*
*Ada 3 hal yang tidak pernah kita tahu*
1. Rejeki
2. Umur
3. Jodoh
*Mintalah pada Tuhan YME*
*TAPI, ada 3 hal dalam hidup yang PASTI*
1. Tua
2. Sakit
3. Kematian
*Persiapkanlah dengan sebaik-baiknya...*

SYAFAAT NABI

Diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim, dari Said dan Hisyam, dari Qatadah, dari Anas bin Malik Radhiallahuanhu, dari Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wassalam beliau bersabda, :
"Pada hari Kiamat nanti orang orang yang beriman akan berkumpul di suatu tempat dan berkata,"Siapakah seseorang yang dapat memberi syafaat untuk kita dihadapan Allah?" Lalu mereka mendatangi Nabi Adam dan berkata,"Engkau adalah bapak manusia, Allah menciptakanmu langsung dari Tangan-Nya, menyuruh para malaikat untuk bersujud kepadamu, dan mengajarkanmu nama-nama dari segala sesuatu, maka sampaikanlah syafaatmu kepada Allah untuk kami agar kami dapat menenangkan diri di tempat ini."Nabi Adam berkata,"Aku tidak berhak untuk memberikan syafaat untuk kalian..(lalu Nabi Adam menyebutkan dosa yang telah dilakukan olehnya). Pergilah kalian menghadap Nabi Nuh, karena ia adalah Rasul pertama yang diutus oleh Allah kepada penduduk bumi."Maka merekapun segera menemui Nabi Nuh, lalu Nabi Nuh berkata: "Aku tidak berhak untuk memberikan syafaat untuk kalian..(lalu Nabi Nuh menyebutkan dosa yang telah dilakukan olehnya). Pergilah kalian menghadap Nabi Ibrahim, karena ia adalah kesayangan Allah."Maka merekapun segera menemui Nabi Ibrahim, lalu Nabi Ibrahim berkata,"Aku tidak berhak untuk memberikan syafaat untuk kalian..(lalu Nabi Ibrahim menyebutkan dosa yang telah dilakukan olehnya). Pergilah kalian menghadap Nabi Musa, karena ia adalah hamba Allah yang diberikan Kitab Taurat dan pernah berbicara langsung dengan Allah."Maka merekapun segera menemui Nabi Musa, lalu Nabi Musa berkata,"Aku tidak berhak untuk memberikan syafaat untuk kalian..(lalu Nabi Musa menyebutkan dosa yang telah dilakukan olehnya). Pergilah kalian menghadap Nabi Isa, karena ia adalah hamba Allah, Utusan-Nya, kalimat-Nya, dan ruh-Nya."Maka merekapun segera menemui Nabi Isa, lalu Nabi Isa berkata,"Aku tidak berhak memberikan syafaat untuk kalian..(lalu Nabi Isa menyebutkan dosa yang telah dilakukan olehnya). Pergilah kalian menghadap Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wassalam, karena ia adalah hamba Allah yang telah diampuni segala dosanya yang telah lalu dan yang akan datang."Maka merekapun datang menghadapku untuk meminta syafaatku, dan aku pergi menghadap Tuhanku, lalu aku meminta izin untuk bertemu dengan-Nya, dan akupun diberikan izin untuk menemui-Nya. Ketika aku melihat Tuhanku, maka akupun tersungkur bersujud kepada-Nya, lalu aku dibiarkan dalam keadaan demikian hingga waktu yang dikehendaki-Nya, kemudian dikatakan kepadaku,"Bangkitlah wahai Muhammad, katakan apa saja maka kamu akan didengar, minta apa saja maka kamu akan diberikan, berikan syafaat maka syafaat itu akan diterima."Lalu aku mengucapkan puji-pujian dengan kalimat yang pernah diajarkan kepadaku. Setelah itu aku pun segera memberikan syafaat kepada orang-orang yang aku kehendaki sesuai dengan batasan yang diberikan padaku, dan mereka yang aku berikan syafaat pun diizinkan untuk masuk ke dalam surga. Kemudian aku kembali menghadap Tuhanku, ketika aku melihat Tuhanku, maka akupun tersungkur bersujud kepada-Nya, lalu aku dibiarkan dalam keadaan demikian hingga waktu yang dikehendaki-Nya, kemudian dikatakan kepadaku,"Bangkitlah wahai Muhammad, katakan apa saja maka kamu akan didengarkan, minta apa saja maka kamu akan diberikan, berikan syafaat maka syafaat itu akan diterima."Lalu aku mengucapkan puji-pujian dengan kalimat yang pernah diajarkan kepadaku. Setelah itu akupun segera memberikan syafaat kepada orang orang yang aku kehendaki sesuai dengan batasan yang diberikan padaku, dan mereka yang aku berikan syafaat pun diizinkan untuk masuk kedalam surga. Kemudian aku kembali menghadap Tuhanku dan aku berkata,"Wahai Tuhanku, tidak ada lagi yang tersisa di dalam neraka kecuali mereka yang ditetapkan didalam Al-Quran bahwa mereka akan kekal abadi didalam neraka."Kemudian Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wassalam bersabda,"Siapapun akan dikeluarkan dari neraka jika telah mengucapkan LAA ILAAHA ILLALLAH(Tiada Tuhan melainkan Allah) dan dihatinya terdapat kebaikan meski seberat jewawut. Kemudian akan dikeluarkan pula dari neraka siapapun yang telah mengucapkan LAA ILAAHA ILLALLAH(Tiada Tuhan melainkan Allah) dan dihatinya terdapat kebaikan meski seberat biji gandum. Kemudian akan dikeluarkan pula dari neraka siapapun yang telah mengucapkan LAA ILAAHA ILLALLAH(Tiada Tuhan melainkan Allah) dan dihatinya terdapat kebaikan meski seberat atom.

Rabu, 04 November 2015

MUHASABAH DIRI.


Ini tentang muhasabah diri.
Dimana seorang hamba ..
mengadili diri sendiri dalam sunyi
Tanpa saksi ...tanpa hakim,
tanpa jaksa .... tanpa pembela.
Karena semua telah berkumpul dalam hatinya.

Dalam Pengadilan sunyi...
Seorang hamba meneliti kembali
jalan kehidupannya
dan menemukan berjuta kekhilafan di setiap jengkalnya.
Muhasabah diri..
ini tentang arah kehidupan.
Dimana kesadaran dan penyesalan akan kekhilafan ...
menerbitkan do'a pengampunan
dan merubah arah kehidupan.
Muhasabah diri
Ini tentang energi kemuliaan.
dimana kesadaran dan penyesalan..
membangkitkan tekad
tuk menebus setiap kekhilafan
dan memancar sebagai energi kemuliaan.
Muhasabah diri
Inilah hakikat Pengadilan Sunyi di bulan suci.
Dimana hamba yang menghadiri
Menyesali setiap kekhilafan yang dilakui
dan memohon ampunan kepada Illahi Robbi.
Sehingga lurus kembali jalan hidupnya.
Dan semangat hidupnya
kembali membara...
melampaui kerapuhan jasadnya.
Muhasabah diri ...
Pengadilan sunyi...
setiap orang musti menghadiri.
Tetapi diriku ...
bahkan sangat sulit menghadiri
Karena penyakit hati masih sangat kuat menghijab diri.
Dimana setiap kesalahan
selalu kucarikan alasan
dan ketitik kebaikan
selalu saja aku banggakan.
Ya Alloh ya Robbi...
di penghujung bulan suci ini..
Kami ingin menghisab diri.
pasunglah sementara nafsuku....karena ia selalu menghalangiku tuk hadir dalam Pengadilan sunyi....
Agar aku bisa hadir di pengadilan sunyi dan menghisab diri.
Agar bersihkan jiwaku
dan lurus setiap niatku
Hanya untukMu...
Sebelum Izroil menjemputku.

Senin, 02 November 2015

KEUTAMAAN SHALAT BERJAMAAH

KEUTAMAAN SHALAT BERJAMAAH
- SYEKH ALI JABER
1- Shalat adalah tiang Islam. Islam seseorang tidaklah tegak kecuali dengan shalat.
Dalam hadits Mu’adz disebutkan,
“Pokok perkara adalah Islam, tiangnya adalah shalat, dan puncak perkaranya adalah jihad” (HR. Tirmidzi no. 2616. Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa hadits ini hasan). Yang namanya tiang suatu bangunan jika ambruk, maka ambruk pula bangunan tersebut. Sama halnya pula dengan bangunan Islam.
2- Shalat adalah amalan yang pertama kali akan dihisab. Amalan seseorang bisa dinilai baik buruknya dinilai dari shalatnya.
Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Sesungguhnya amal hamba yang pertama kali akan dihisab pada hari kiamat adalah shalatnya. Apabila shalatnya baik, dia akan mendapatkan keberuntungan dan keselamatan. Apabila shalatnya rusak, dia akan menyesal dan merugi. Jika ada yang kurang dari shalat wajibnya, Allah Tabaroka wa Ta’ala mengatakan, ’Lihatlah apakah pada hamba tersebut memiliki amalan shalat sunnah?’ Maka shalat sunnah tersebut akan menyempurnakan shalat wajibnya yang kurang. Begitu juga amalan lainnya seperti itu.”
Dalam riwayat lainnya, ”Kemudian zakat akan (diperhitungkan) seperti itu. Kemudian amalan lainnya akan dihisab seperti itu pula.” (HR. Abu Daud no. 864, Ahmad 2: 425, Hakim 1: 262, Baihaqi, 2: 386. Al Hakim mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih dan tidak dikeluarkan oleh Bukhari dan Muslim, penilaian shahih ini disepakati oleh Adz Dzahabi)
3- Perkara terakhir yang hilang dari manusia adalah shalat.
Dari Abu Umamah Al Bahili, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Tali ikatan Islam akan putus seutas demi seutas. Setiap kali terputus, manusia bergantung pada tali berikutnya. Yang paling awal terputus adalah hukumnya, dan yang terakhir adalah shalat.” (HR. Ahmad 5: 251. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini jayyid)
Hadits ini jelas menyatakan bahwa ketika tali Islam yang pertama sudah putus dalam diri seseorang, yaitu ia tidak berhukum pada hukum Islam, ia masih bisa disebut Islam. Di sini Nabi tidak mengatakan bahwa ketika tali pertama putus, maka kafirlah ia. Bahkan masih ada tali-tali yang lain hingga yang terakhir adalah shalatnya.
Dari Zaid bin Tsabit, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Yang pertama kali diangkat dari diri seseorang adalah amanat dan yang terakhir tersisa adalah shalat.” (HR. Al Hakim At Tirmidzi dan disebutkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih Al Jami’, 2: 353).
4- Shalat adalah akhir wasiat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha mengatakan bahwa di antara wasiat terakhir Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,
“Jagalah shalat, jagalah shalat dan budak-budak kalian” (HR. Ahmad 6: 290. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa hadits ini shahih dilihat dari jalur lainnya).
5- Allah memuji orang yang mengerjakan shalat.
Allah Ta’ala berfirman,
“Dan ceritakanlah (hai Muhammad kepada mereka) kisah Ismail (yang tersebut) di dalam Al Quran. Sesungguhnya ia adalah seorang yang benar janjinya, dan dia adalah seorang rasul dan nabi. Dan ia menyuruh keluarganya untuk shalat dan menunaikan zakat, dan ia adalah seorang yang diridhai di sisi Rabbnya. ” (QS. Maryam: 54-55).
6- Allah mencela orang yang melalaikan dan malas-malasan dalam menunaikan shalat.
Allah Ta’ala berfirman,
“Maka datanglah sesudah mereka, pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka mereka kelak akan menemui kesesatan.” (QS. Maryam: 59).
Dalam ayat lain disebutkan,
“Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya (dengan shalat) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali.” (QS. An Nisa’: 142).
7- Rukun Islam yang paling utama setelah dua kalimat syahadat adalah shalat.
Dari ‘Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Islam dibangun atas lima perkara, yaitu : (1) bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang benar untuk diibadahi kecuali Allah dan bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan-Nya, (2) mendirikan shalat, (3) menunaikan zakat, (4) naik haji ke Baitullah (bagi yang mampu, -pen), (5) berpuasa di bulan Ramadhan.” (HR. Bukhari no. 8 dan Muslim no. 16)
8- Shalat diwajibkan tanpa perantara Jibril ‘alaihis salam. Tetapi Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri yang langsung mendapatkan perintah shalat ketika beliau melakukan Isra’ dan Mi’raj.
9- Awalnya shalat diwajibkan sebanyak 50 shalat. Ini menunjukkan bahwa Allah amat menyukai ibadah shalat tersebut. Kemudian Allah memperingan bagi hamba-Nya hingga menjadi 5 waktu dalam sehari semalam. Akan tetapi, tetap saja shalat tersebut dihitung dalam timbangan sebanyak 50 shalat, walaupun dalam amalan hanyalah 5 waktu. Ini sudah menunjukkan mulianya kedudukan shalat.
10- Allah membuka amalan seorang muslim dengan shalat dan mengakhirinya pula dengan shalat. Ini juga yang menunjukkan ditekankannya amalan shalat.
Allah Ta’ala berfirman,
“Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyu’ dalam shalatnya, dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna, dan orang-orang yang menunaikan zakat, dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak yang mereka miliki; maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada terceIa. Barangsiapa mencari yang di balik itu maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas. Dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat (yang dipikulnya) dan janjinya. Dan orang-orang yang memelihara shalatnya.” (QS. Al Mu’minun: 1-9).
11- Allah memerintahkan kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dan umatnya untuk memerintahkan keluarga mereka supaya menunaikan shalat.
Allah Ta’ala berfirman,
“Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezki kepadamu, Kamilah yang memberi rezki kepadamu. Dan akibat (yang baik) itu adalah bagi orang yang bertakwa.” (QS. Thaha: 132).
12- Semenjak anak-anak sudah diperintahkan shalat dan boleh dipukul jika tidak shalat pada waktu berumur 10 tahun. Perintah shalat ini tidak ditemukan pada amalan lainnya, sekaligus hal ini menunjukkan mulianya ibadah shalat.
Dari Amr bin Syu’aib, dari bapaknya dari kakeknya radhiyallahu ‘anhu, beliau meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Perintahkan anak-anak kalian untuk mengerjakan shalat ketika mereka berumur 7 tahun. Pukul mereka jika tidak mengerjakannya ketika mereka berumur 10 tahun. Pisahkanlah tempat-tempat tidur mereka“. (HR. Abu Daud no. 495. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa hadits ini shahih).
13- Siapa yang tertidur atau lupa dari shalat, maka hendaklah ia mengqodhonya. Ini sudah menunjukkan kemuliaan shalat lima waktu karena mesti diganti.
Dari Anas bin Malik, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Barangsiapa yang lupa shalat, hendaklah ia shalat ketika ia ingat. Tidak ada kewajiban baginya selain itu.” (HR. Bukhari no. 597 dan Muslim no. 684).
Dalam riwayat Muslim disebutkan,
“Barangsiapa yang lupa shalat atau tertidur, maka tebusannya adalah ia shalat ketika ia ingat.” (HR. Muslim no. 684). Dimisalkan dengan orang yang tertidur adalah orang yang pingsan selamat tiga hari atau kurang dari itu, maka ia mesti mengqodho shalatnya. Namun jika sudah lebih dari tiga hari, maka tidak ada qodho karena sudah semisal dengan orang gila. Baca artikel Shalat bagi Orang yang Pingsan.
Hanya Allah yang memberi taufik.
Referensi:
Shalatul Mu’min, Syaikh Dr. Sa’id bin ‘Abi Wahf Al Qohthoni, terbitan Maktabah Malik Fahd, cetakan ketiga, tahun 1431 H.
—
Oleh Akhukum fillah: Muhammad Abduh Tuasikal
Disusun di Warak, Panggang, Gunungkidul, @ Pesantren Darush Sholihin, 8 Safar 1435 H, 12: 03 AM

Sabtu, 31 Oktober 2015

Kisah Tentang Syiah

Kisah nyata wanita yang bernama Aisyah ini terjadi di kota Medan, tentang Pemahaman Syiah...*
Sebelum Aisyah pergi ke masjid untuk mengisi kajian ibu-ibu dekat rumah, dia menyempatkan untuk mampir dulu ke rumah sepupu karena ingin mengambil kitab Fiqih Sunnah yang beberapa hari lalu dipinjamkan kepada sepupunya karena Aisyah akan membawanya ke pengajian.
Ternyata di rumah sepupunya sedang ada tamu yang penampilannya sangat islami, Kemudian Aisyah bertanya kepada sepupunya.
Siapa mereka?
Sepupunya menjawab: Mereka itu temanku sewaktu SMA. Kemudian Aisyah memuji penampilan mereka yang sangat Islami, dia berkata: "nah begitu dong kamu seharusnya, pakai pakaian yang tertutup (jilbab besar)".
Sepupunya menimpali: "Tapi pemahaman mereka beda dengan pemahamanmu yang kau ajarkan padaku Aisyah."
Aisyah pun bertanya: "Memang bagaimana perbedaannya?"
Sepupunya menjawab: "Lebih baik kau bicara sendiri dengan mereka."
Aisyah menjawab: "Tapi aku sedang ada pengajian."
Sepupunya berkata: "Sebentar saja, setidaknya kau bisa mengetahui perbedaan pemahamanmu dengan mereka."
Baiklah kata Aisyah.
Kemudian Aisyah ikut duduk di ruang tamu dengan mereka dan mengucapkan salam.
Setelah ngobrol beberapa waktu, Aisyah sudah bisa memastikan bahwa mereka ini adalah wanita-wanita Syiah.
Lalu Aisyah beranikan diri untuk bertanya: Kalian penganut syiah?
Si tamu pun menjawab: Benar.
Aisyah berkata: Subhanallah, sungguh indah penampilan wanita-wanita Syiah..
Si tamu pun tertawa ringan dan berkata: Terima kasih tapi memang beginilah kami di ajarkan dan kami kemari pun dengan tujuan mengajak teman kami ini (sepupu Aisyah) untuk ikut dalam pengajian kami. Jika mbak Aisyah ingin ikut juga, mari sama-sama.
Aisyah menjawab: Aisyah tertarik sekali ukht, tapi Aisyah sekarang sedang ada keperluan. Bagaimana kalau nanti malam kalian sempatkan datang ke rumah Aisyah untuk mendakwahi Aisyah dan keluarga Aisyah tentang ajaran yang kalian anut, apa kalian punya waktu?
Si tamu pun berkata: Tentu, tentu kami akan datang.
Aisyah mengatakan: Alhamdulillah, nanti Husna (sepupunya) akan menemani kalian, rumah Aisyah dekat dari sini kok.
Kemudian Aisyah pamit, sepupunya mengantarkan ke depan pagar dan bertanya: Aku gak ngerti aisyah, untuk apa kami ke rumahmu?
Aisyah menjawab: Nanti kau akan tau Husna
Sepupunya membalas: Duh syah, jangan gitu, bilang aja..
Aisyah: Mereka sedang berniat untuk mensyiahkanmu Husna, sementara sudah pernah kukatakan bahwa Syiah itu jauh dari Islam.
Maka nanti malam in sya Allah kita yang akan mengembalikan pemahaman mereka ke pemahaman yang benar, in sya Allah.
Setelah selesai shalat Isya' beberapa menit kemudian datanglah mereka ke rumah Aisyah. Tapi Aisyah melihat mereka bersama seorang lelaki dan penampilannya juga luar biasa islaminya, berjubah putih dan imamah hitam.
Aisyah senyum saja dan sudah tau bahwa ini lah orang yang akan mereka andalkan dalam mendakwahi Aisyah sekeluarga.
Wanita-wanita itu memberi salam dan Aisyah menjawab salam mereka dengan senyum tapi Aisyah tidak langsung mempersilahkan mereka masuk rumah.
Aisyah berkata: afwan ukht, tunggu dulu, sebelum masuk rumah, Aisyah harus minta izin dulu pada mahram Aisyah, sebab kalian membawa seorang lelaki.
Mereka mengangguk saja dan tersenyum manis.
Aisyah bertanya pada abangnya: Bang, apakah laki-laki ini boleh masuk?
Abang Aisyah menjawab: Boleh.. biar abang yang menemani kalian. Kemudian masuklah mereka semua, dan memperkenalkan laki-laki yang ada bersama mereka, ternyata benar bahwa laki-laki itu yang membimbing mereka dan yang mengisi dakwah di pengajian mereka.
Singkat cerita, setelah basa-basi selama 3-4 menit maka dakwah mereka pun di mulai.
Salah seorang tamu tadi bertanya: Mbak Aisyah nama lengkapnya siapa?
Aisyah menjawab: Aisyah bintu Umar al Muhsin bin Abdul Rahman Salsabila, kenapa ya ukhty?
Si tamu: Wow panjang juga ya hehe.. oh enggak hanya kami ingin memanggil mbak dengan nama yang lain, bagaimana jika kami panggil dengan Salsa saja?
Aisyah sudah menyadari bahwa mereka tidak akan suka dengan nama Aisyah, sebab serupa dengan nama istri Rasulullah, dan mereka sangat benci kepada ummul mukminin Aisyah.. na'udzu billah min dzalik
Aisyah pun tersemnyum dan berkata: Boleh juga, tapi boleh tau alasannya apa ya ukht?
Si tamu: Kami tidak menyukai nama itu sebab .......... (dia cerita cukup panjang dan intinya menjelek-njelekkan ummul mukminin Aisyah).
Tiba-tiba si laki-laki (ustadz Syiah) yang mereka ajak itu angkat suara.
Ustadz Syiah itu berkata: Aisyah itu adalah pendusta dan pezina, semoga Allah membakarnya di neraka.
Mendengar ucapan orang bodoh ini mata Aisyah spontan tertutup dan hati aisyah terasa bergetar.. kemudian Aisyah menundukkan kepala dan mengucap istighfar, dan memohon pada Allah agar dikuatkan mendengar fitnah keji dari mulut-mulut yang masih jahil, kemudian setelah tenang, Aisyah angkat kepala dan senyum pada mereka dan membuat situasi seolah-olah Aisyah tidak tau tentang hal itu.
Aisyah berkata: Masya Allah, benarkah begitu ustadz?
Ustadz Syiah menjawab: Benar, dialah penyebab wafatnya rasulullah, dia yang meracuni rasulullah hingga wafat.. semoga laknat selalu menyertainya.
Air mata aisyah menetes mendengar ucapan orang ini, dalam hatinya bagai tersayat-sayat.. seorang ibu dihina di depan anak-anaknya, rasanya ingin melemparkan gelas ini ke wajahnya. Aisyah pun melihat abangnya sudah mengenggam kedua tangannya dan menahan amarah. Namun sebelumnya Aisyah sudah mengiingatkan kepada abangnya bahwa diskusi ini tentu akan membuat hati panas.
Aisyah pun menimpali: Astaghfirullah, sehebat itukah fitnahnya?
Si tamu wanita menjawab: Kok fitnah mbak? itu nyatanya, nih kami bawa kitab tafsir Al Ayyasyi (kitab Syiah) didalamnya terdapat bukti, bahkan Abdullah bin Abbas mengatakan Aisyah adalah seorang pelacur, ini ada kitabnya.
Dia keluarkan kitab tapi Aisyah lupa nama kitabnya, ma'rifat rijal kalau Aisyah tidak salah ingat. DanAisyah melihat memang isinya benar seperti yang mereka ucapkan.
Singkat cerita, mereka terus menghina Aisyah dan para sahabat, sampai telinga ini seperti sudah bengkak.
Akhirnya Aisyah tidak tahan dan berkata pada mereka: Sebentar ustadz, Aisyah mau ambil kitab Syiah punya Aisyah, ada yang ingin Aisyah tanyakan mengenai isinya.
Ustadz Syiah menjawab: Silahkan.
Aisyah sudah siapkan satu soal yang akan menunjukkan jati diri mereka, apakah mereka orang yang cerdas atau cuma bisa ngomong besar.
Dan pertanyaan ini juga pernah ditanyakan oleh syaikh Adnan kepada seorang syaikh Syiah, tapi syaikh Syiah malah bingung menjawabnya.
Aisyah berkata sambil menyodorkan kitabnya: Nih dia kitabnya.
Ustadz Syiah: Oh saya juga punya itu, Al Ghaibah, kebetulan saya bawa hehe.
Aisyah berkata: Oh iya, kebetulan..
Si tamu wanita berkata: Hehe, Allah memudahkan urusan kita hari ini.
Aisyah tersenyum ringan melihat tingkah laku mereka.
Aisyah berkata: Begini ustadz, di dalam kitab ini disebutkan tentang beberapa wasiat rasul kepada imam ali, benarkah ini ustadz?
Ustadz Syiah: Halaman berapa?
Aisyah: 150 no 111
Ustadz Syiah: Sebentar saya lihat. Ya, benar, lalu apa yang ingin ditanyakan dari wasiat yg mulia ini?
Aisyah: Masih berlakukah wasiat ini ustadz?
Ustazd Syiah: Tentu, sampai hari kiamat.
Aisyah: Di dalam kitab ini rasul berwasiat
"Yaa 'Aliy anta washiyyi 'ala ahli baiti hayyihim wa mayyitihim wa 'ala nisa-i. fa man tsabbattuha laqiyatniy ghadan, wa man tholaqtuha fa ana bari’un minha".
Ustadz Syiah hanya bergumam
Aisyah: Benarkah ini ustadz?
Ustadz Syiah: Bagaimana kamu mengartikan kalimat wasiat itu.
Aisyah: Isi wasiat ini adalah
"wahai 'Ali engkau adalah washiy ahlul baitku (penjaga ahlul baitku) baik mereka yang masih hidup maupun yg sudah wafat, dan juga ISTRI-ISTRIKU. Siapa diantara mereka yang aku pertahankan, maka dia akan berjumpa denganku kelak. Dan barang siapa yang aku ceraikan, maka aku berlepas diri darinya, ia tidak akan melihatku dan aku tidak akan melihatnya di padang mahsyar."
Benarkah ini ustadz?
Ustadz Syiah: Benar ini wasiatnya.
Aisyah: Yang ingin saya tanyakan, apakah Aisyah istri Rasulullah itu pernah dicerai oleh Rasulullah?
Ustadz Syiah begumam dan berkata: Tidak..
Aisyah: Apakah Aisyah di pertahankan Rasulullah sampai Rasulullah wafat?
Ustadz Syiah: Ya benar.
Aisyah: Lalu kenapa tadi ustadz bilang Aisyah itu masuk neraka sedangkan dalam wasiat ini Aisyah tergolong orang yang masuk surga??
Ustadz Syiah: Bukan seperti itu maksud dari wasiat ini mbak Salsa.
Aisyah tersenyum melihat tingkah si ustadz dan Aisyah melirik kedua wanita syiah tadi yang mulai hilang senyumannya.
Aisyah: Entahlah ustadz tapi inilah isi dari kitab Syiah dan ini adalah wasiat dari Rasulullah, berarti wasiat ini tidak lagi dianggap oleh orang Syiah sendiri ya ustadz?
Ustadz Syiah: Oooh tidak begitu tapi,, tapi bukan begitu cara menafsirkannya.
Dan akhirnya dia menjelaskan tentang penafsirannya tapi sedikitpun tidak masuk akal bahkan kedua wanita syiah itu sendiri pun terlihat bingung mendengar penjelasan si Ustadz Syiah.
Abang Aisyah pun berkata: Ustadz, saya tidak faham dengan penjelasan antum, mohon diulangi ustadz.
Ustadz Syiah tersebut mulai gelisah.
Ustadz Syiah: Begini, intinya hadits wasiat ini dinilai oleh ahli ilmu hadits Syiah dan tentunya berdasarkan ilmu hadits Syiah adalah lemah sekali bahkan sampai derajat palsu.
Aisyah berkata dalam hati: Wah ini ustadz mulai aneh. tadi katanya wasiat ini masih berlaku sampai hari kiamat, sekarang menyatakannya sebagai hadits palsu.
Aisyah diam beberapa saat memikirkan bagaimana cara membuat orang ini terdiam dan malu karena pendapatnya sendiri.
Aisyah: Sudah-sudah, cukup, mungkin ini terlalu rumit pertanyaannya, nih ada pertanyaan lagi ustadz.
Seperti yang pernah saya dengar bahwa Syiah menganggap bahwa Ali lah yg seharusnya menjadi khalifah setelah wafatnya Rasulullah, apakah benar?
Ustadz Syiah: Ya benar sekali, tapi Abu Bakar rakus akan kekuasaan sampai-sampai dia berbuat kezaliman dan makar yang besar, diikuti pula oleh Umar dan Utsman.
Aisyah: Apakah ada dalil yang menunjukkan Ali sebagai orang yang dipilih Rasul menjadi khalifah sesudah wafatnya beliau?
Ustadz Syiah: Tentu ada, hadits Ghadir Khum , ketika Nabi sedang menunaikan haji wada' disertai beberapa orang sahabat besar, Nabi berkata kepada Buraidah: "Hai Buraidah barangsiapa menganggap aku sebagai pemimpinnya, maka terimalah Ali sebagai pemimpin..”
Aisyah: Ustadz, kalau saya tidak mengamalkan dan sengaja menolak apa yang diperintahkan Nabi, kira-kira apa hukuman buat saya ustadz?
Ustadz Syiah: Mbak Salsabila bisa dihukumi kafir karena mendustakan Nabi.
Aisyah: Astaghfirullah, berarti imam Ali pun telah kafir dalam hal ini ustadz, sebab dia tidak mengindahkan perintah Nabi, jika memang ini dalil yang menunjukkan Ali sebagai khalifah, bahkan imam Ali membai'at Abu Bakar, maka Abu Bakar pun di hukumi kafir, begitu juga Umar, dan semua sahabat yang menyaksikan ketika itu semuanya kafir, sebab yang menjadi pesan Rasul adalah man kuntu maulahu fa 'Aliyyun maulahu, siapa menganggap aku sebagai pemimpinnya, maka terimalah Ali sebagai pemimpin.
Benarkah begitu ustadz? Atau haditsnya palsu juga?
Ustadz Syiah: Hmmmm.. Haditsnya shahih.. tapi bukan begitu juga maksudnya.
Aisyah: Tapi tunggu ustadz, sebelum ustadz jelaskan maksudnya saya pengen tanya lagi biar kelar. Apakah setelah imam Ali yang akan menjadi khalifah adalah anaknya Al Hasan?
Ustadz Syiah: Ya benar sekali, tidak bisa dipungkiri.
Aisyah: Ada dalilnya? Shahih apa tidak?
Ustadz Syiah: Ada, shahih jiddan (sekali).
Aisyah: Bagaimana bunyinya?
Ustadz Syiah: Wahai Ali engkau adalah khalifahku untuk umatku sepeninggalku, maka jika telah dekat kewafatanmu maka serahkanlah kepada anakku Al Hasan,,
hadits ini cukup panjang menjelaskan tentang 12 imam.
Aisyah: Ustadz coba lihat kembali kitab Al Ghaibah yang berisi tentang wasiat Rasul tadi. Tidakkah isinya sama dengan yg baru saja ustadz sebutkan?
Ustadz Syiah: Sebentar.. oh iya sama.
Aisyah: Bukankah tadi saat kita membahas tentang keberadaan Aisyah di sorga, ustadz katakan hadits ini palsu?, tapi sekarang saat membahas tentang dalil kekhalifahan Ali dan Hasan malah ustadz berbalik mengatakan hadits ini shahih jiddan???
Ustadz Syiah pun diam seribu bahasa. Aisyah melihat raut ustadz berubah dari biasanya, mau senyum tapi tanggung, mau pulang tapi malu.
Aisyah: Ustadz, saya pernah dengar dari teman-teman saya bahwa Syiah itu suka bertaqiyah. Apakah ini bagian dari taqiyah itu?
Abang Aisyah: Hahahaha.. ustadz, akuilah bahwa Aisyah radhiyallahu 'anha adalah penghuni surga, Abu bakar adalah khalifah pertama, Umar kedua, Utsman ketiga,dan Ali keempat,
kita semua mencintai ahlul bait ustadz, Ali juga setia kepada kepemimpinan Abu bakar, Umar dan Utsman. Dan Ali sangat mencintai ketiga sahabatnya, bahkan sampai-sampai nama anak-anak Ali dari istrinya yang lain (selain Fathimah) diberi nama Abu Bakar, Umar & Utsman ... Apakah ustadz mau menafikan itu semua?
Ustadz Syiah: Hmmmmm.. sebaiknya kami pulang saja.
Aisyah: Tunggu ustadz, ustadz belum menjawab pertanyaan kami.
Ustadz Syiah: Sepertinya kalian sudah tau semua.
Aisyah: Oh berarti ustadz mengakui kebenaran ini?
Ustadz Syiah: Allahu a'lam, saya permisi dulu.
Husna (sepupu Aisyah): Bagaimana dengan kalian(kedua wanita syiah)?
Salah satu dari wanita Syiah angkat bicara: "Saya akan kembali lagi besok kesini dan saya harap Husna mau menemani saya"
Ustadz Syiah: Baiklah kalau begitu kalian tinggal disini dan saya pamit.
Wassalamu 'alaikum..
Kami: Wa'alaikumussalam warahmatullah.
Selesai.
Sumber: Status FB Aisyah Salsabila
Semoga kisah ini membuka mata hati kita dan pengetahuan kita tentang ajaran yang menyimpang, khususnya Syiah di Indonesia. Share dan sebarkan kawan! JANGAN DIABAIKAN karena tentu kita berharap kepada Allah agar Indonesia tidak menjadi "sarang besar" penganut syiah yang sesat. Kita berharap kisah seperti ini mampu membendung laju mereka dan membuka wawasan kita semua agar sadar bahayanya paham syiah.
Semoga bermanfaat. Wassalam
Jika Anda Mencintai Islam Maka
"Berbagai / Share"
Postingan Ini kepada Umat
Nabi Muhammad Agar Mereka Tau Syiah Laknatullah bukan lah Golongan dari orang Islam.

Jumat, 30 Oktober 2015

MURJIAH.....................................


Membongkar Syubhat Murjiah:
Taat Kepada Pemimpin
Sering sekali kita mendengar golongan Murjiah dan ulama irja penguasa menyuruh kita untuk tetap patuh kepada pemimpin meskipun sudah terang benderang bahwa para pemimpin ini membuang sumber hukum Allah ke dalam tong sampah.
Dan berikut ini Dalil yang sering digunakan para murjiah untuk mengkaburkan makna taat kepada pemimpin,
Berkata Imam Abdullah ibnul Mubarok –Rahimahullah- :
وَهَلْ أَفْسَدَ الدِّيْنَ إِلاَّ الْمُلُوكُ * وَأَحْبَارُ سُوْءٍ وَرُهْبَانُهَا
Tiadalah yang merssak agama ini melainkan para raja,
ulama jahat dan para pendetanya.
Menilik perkataan beliau ini, mari kita membongkar syubhat yang mereka gunakan untuk menghalalkan aksi-aksi tuannya dalam merusak agama ini.
Diantara yang banyak disebarkan adalah hadits dalam “Shahih Muslim” yang mengatakan:
(وإن ضرب ظهرك وأخذ مالك)
“Walaupun dia memukul punggungmu dan mengambil hartamu”.
Mereka berdalil dengan hadits ini untuk menyuruh para muwahidin tetap patuh dibawah hukum thogut.
Jawapan:
1. Semua hadits yang menyuruh taat kepada pemimpin maksudnya adalah pada pemimpin muslim yang menerapkan “Syariat Allah sebagai sumber hukum”. dalilnya
Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam bersabda:
إن أُمِّر عليكم عبدٌ مجدَّع- يقودكم بكتاب الله تعالى فاسمعوا له وأطيعوا" رواه مسلم
“Walaupun yang memerintah kalian hamba sahaya yang cacat YANG MENGATUR KALIAN DENGAN KITAB ALLAH tetaplah taat dan patuh”. [HR. Muslim]
Dalam Musnad Ahmad dengan lafazh:
مَا أَقَامَ فِيكُمْ كِتَابَ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ
“Selama mereka memimpinmu dengan KITAB ALLAH Azza wa Jalla”.
Imam Nawawi berkata:
"فأمر صلى الله عليه وسلم بطاعة ولي الأمر ولو كان بهذه الخساسة ما دام يقودنا بكتاب الله تعالى، قال العلماء : معناه ما داموا متمسكين بالإسلام والدعاء إلى كتاب الله تعالى على أي حال كانوا في أنفسهم وأديانهم وأخلاقهم، ولا يشق عليهم العصا.
“Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam menyuruh taat kepada ulil amri walaupun mereka seburuk ini keadaannya SELAMA MEMIMPIN KITA Dengan KITAB ALLAH, berkata para ULAMA:
Maknanya adalah selama mereka berpegang teguh dengan Islam, MENYERU kepada Kitab Allah, bagaimanapun keburukan mereka pada diri, agama, dan akhlak mereka, jangan memecah persatuan”.
(syarah Shohih Muslim).
So... Pemimpin muslim saja tidak cukup shinggalah dia menjadikan Al Qur’an sebagai sumber hukum dalam memimpin.
Karenanya menerapkan hadits-hadits ketaatan kepada pemimpin-pemimpin yang tidak berhukum dengan hukum Allah adalah merupakan TALBIS, apalagi diterapkan kepada pemimpin yang MEMERANGI Kitab Allah tanpa rasa malu.
Allahul musta’an.
2. Lafazh ini:
وإن ضرب ظهرك وأخذ مالك
“ walaupun dia memukul punggungmu dan mengambil hartamu” diletakkan oleh Imam Muslim dalam Mutaba’at bukan ushul dari riwayat ABU SALAM dari HUDZAIFAH.
Ternyata Abu Salam tidak pernah mendengar dari Hudzaifah, automatik sanad lafaz hadits ini terputus yang menjadikannya sebagai hadits “mursal”, dan hadits mursal merupakan bahagian dari hadits “DHO’IF”.
Berkata imam Nawawi dalam syarah Shohih Muslim:
"قال الدارقطني هذا عندي مرسل لأن أبا سلام لم يسمع حذيفة وهو كما قال الدارقطني"
“Imam Daruquthni berkata: (Lafazh hadits) ini bagiku adalah mursal, karena Abu Salam tidak mendengar dari Hudzaifah”, dan memang (benar keadaannya) seperti yang diucapkan Imam Daruquthni”.
3. Hadits ini bukan perintah untuk taat kepada kezholiman namun hanya perintah untuk bersabar atas kezoliman penguasa (bukan sengaja membiarkan diri dizalimi) terhadap kita dan tetap patuh jika perintah tersebut dalam kebaikan, sebagaimana hadits:
إنما الطاعة في المعروف
“Sesunguhnya ketaatan itu hanya pada kebaikan”. (Muttafaqun ‘alaihi).
Dalam Shahih Bukhori, mengenai isi surat Abu Bakar Radhiallahu ‘anhu dalam zakat:
ومن سئل فوقها فلا يعط
“Jika (kalian) diminta mengeluarkan lebih (oleh petugas zakat) maka janganlah engkau berikan”.
Namun tetap bersabar walaupun ada kezaliman pada penguasa tersebut sampai terlihat padanya kekufuran yang nyata:
إلا أن تروا كفرا بواحاً، عندكم من الله فيه برهان.[متفق عليه].
“Sampai kalian melihat KEKUFURAN YANG NYATA, dan kalian memiliki bukti dari Allah”. [Muttafaqun ‘alaihi]

Balqis Humaira EDISI 9 FEBRUARY 2026

  Lo pasti setuju bahwa ​Musuh paling berbahaya itu bukan yang menodongkan pistol di depan muka lo. ​Musuh paling berbahaya adalah orang yan...