Lo pasti setuju bahwa Musuh paling berbahaya itu bukan yang menodongkan pistol di depan muka lo.
Musuh paling berbahaya adalah orang yang duduk di sebelah lo saat makan malam, tertawa mendengar lelucon lo, ikut menyumbang uang buat proyek lo, tapi di belakang layar dia mengirim koordinat rumah lo ke pembunuh bayaran.
Dalam dunia intelijen, kita menyebutnya The Fifth Column. Musuh dalam selimut. Duri dalam daging. Atau dalam bahasa gaul Jakarta: Cepu.
Nabi Muhammad SAW menghadapi musuh tipe ini bukan di medan perang terbuka, tapi di dalam masjidnya sendiri. Di Madinah, ada satu faksi politik bawah tanah yang sangat kuat, sangat licin, dan sangat mematikan. Mereka menyebut diri mereka Muslim, mereka salat di belakang Nabi, tapi hati dan loyalitas mereka ada pada siapa saja yang bisa menghancurkan Islam.
Al-Qur'an memberi mereka label khusus: Al-Munafiqun. Kaum Munafik.
Dan rajanya, Godfather-nya, adalah seorang politisi veteran bernama Abdullah bin Ubay bin Salul.
Menghadapi Abdullah bin Ubay adalah ujian kepemimpinan terberat bagi Nabi. Kenapa? Karena dia punya "Kekebalan Diplomatik". Dia secara formal adalah Muslim. Kalau Nabi memerangi dia, narasi yang keluar adalah "Muhammad membunuh pengikutnya sendiri". Itu mimpi buruk PR (Public Relations).
kita akan bedah bagaimana Nabi melakukan operasi Kontra-Intelijen untuk menetralisir racun Abdullah bin Ubay tanpa menumpahkan setetes darah pun. Ini adalah masterclass dalam Damage Control dan Political maneuvering.
Mari kita mulai dari profil sang antagonis.
Abdullah bin Ubay bukan orang sembarangan. Sebelum Nabi hijrah ke Madinah, Abdullah bin Ubay adalah kandidat terkuat untuk menjadi Raja Madinah. Mahkotanya sudah dipesan. Jubah kebesarannya sudah dijahit. Rakyat Madinah (suku Aus dan Khazraj) sudah sepakat untuk menobatkan dia.
Tiba-tiba, datanglah seorang nabi dari Mekkah.
Dalam sekejap, karisma Nabi Muhammad SAW menyihir penduduk Madinah. Mereka berbondong-bondong masuk Islam. Posisi Abdullah bin Ubay tergeser. Mahkotanya batal dipakai. Mimpinya hancur.
Jadi, kebencian Abdullah bin Ubay bukan soal teologi. Ini soal politik. Ini soal kekuasaan yang hilang. Dia masuk Islam secara "KTP" hanya untuk menyelamatkan karir politiknya, tapi agendanya jelas: Menunggu Muhammad jatuh, lalu mengambil alih kekuasaan.
Modus operandinya ada dua: Sabotase Militer dan Character Assassination (Pembunuhan Karakter).
Kasus sabotase paling brutal terjadi di Perang Uhud.
Bayangkan situasinya. Nabi sudah memobilisasi 1.000 pasukan untuk keluar menyambut serangan Quraisy. Semangat sedang tinggi-tingginya. Pasukan sudah berjalan keluar kota.
Tiba-tiba, di tengah jalan, Abdullah bin Ubay melakukan manuver mutiny. Dia berteriak kepada pengikut setianya: "Buat apa kita perang? Muhammad tidak mau dengar saran saya! Kita pulang saja!"
Detik itu juga, 300 orang (sepertiga dari total pasukan!) berbalik arah dan pulang ke Madinah.
Lo bayangkan dampak psikologisnya. Lo mau perang lawan 3.000 musuh. Pasukan lo cuma 1.000. Tiba-tiba 300 orang cabut. Sisa 700 orang. Mental pasukan yang tersisa pasti goyah. "Waduh, kok pada balik? Jangan-jangan kita bakal kalah? Jangan-jangan benar kata Abdullah bin Ubay?"
Ini adalah Psy-War internal. Tujuannya adalah memicu desersi massal.
Apa reaksi Nabi?
Apakah Nabi mengejar mereka? Tidak.
Apakah Nabi berteriak marah dan mengutuk mereka? Tidak.
Apakah Nabi membatalkan perang? Tidak.
Nabi melakukan Compartmentalization. Beliau membiarkan sampah itu pergi. Beliau fokus pada 700 orang yang tersisa. Dalam kalkulasi Nabi, 700 orang yang loyal (Solid Core) jauh lebih efektif daripada 1.000 orang tapi 300-nya adalah pengkhianat yang siap menikam dari belakang saat pertempuran pecah.
Nabi mengubah krisis menjadi filter. Sabotase Abdullah bin Ubay justru membantu Nabi "membersihkan" barisan dari elemen-elemen lemah. Ini adalah cara Nabi memandang krisis: Biarkan pengkhianat menampakkan dirinya, supaya kita tidak perlu repot-repot menyeleksi.
Tapi serangan Abdullah bin Ubay tidak berhenti di situ. Dia melancarkan serangan yang jauh lebih menyakitkan: Fitnah. Hoax.
Peristiwa ini dikenal sebagai Haditsul Ifki (Berita Bohong). Korban utamanya adalah istri Nabi sendiri, Aisyah RA.
Dalam sebuah perjalanan pulang dari ekspedisi, Aisyah tertinggal dari rombongan karena mencari kalungnya yang hilang. Dia ditemukan oleh seorang sahabat muda bernama Shafwan bin Mu'aththal, dan diantar pulang menyusul rombongan.
Melihat Aisyah pulang berduaan dengan laki-laki lain, Abdullah bin Ubay melihat peluang emas. Dia tidak menuduh secara langsung (karena dia licik), tapi dia mulai "bertanya-tanya" dengan nada kencang di pasar, di masjid, di kedai kopi.
"Wah, Aisyah pulang sama cowok lain nih. Ngapain aja tuh berduaan di gurun? Istri Nabi kok begitu?"
Gosip itu menyebar seperti api di ladang kering. Madinah gempar. Kehormatan Nabi dipertaruhkan. Rumah tangga beliau guncang. Wahyu tidak turun selama sebulan, membiarkan Nabi dan Aisyah dalam siksaan psikologis yang luar biasa.
Inilah puncak dari kejahatan Proxy War Abdullah bin Ubay. Dia ingin menghancurkan kredibilitas moral Nabi. Kalau istri Nabi saja tidak beres, bagaimana dia bisa memimpin umat?
Di titik ini, Umar bin Khattab sudah tidak tahan lagi. Darah ksatrianya mendidih. Dia mendatangi Nabi dengan pedang terhunus.
"Ya Rasulullah! Izinkan aku memenggal leher si munafik ini! Dia sudah keterlaluan. Dia racun bagi umat ini!"
Secara hukum militer, Umar benar. Pengkhianatan di masa perang dan fitnah keji terhadap kepala negara hukumannya mati.
Tapi Nabi Muhammad SAW adalah Grandmaster Strategi. Beliau melihat papan catur lima langkah ke depan, sementara Umar saat itu hanya melihat satu langkah.
Nabi menahan tangan Umar. Jawaban Nabi adalah kuliah politik tingkat tinggi:
"Wahai Umar, biarkan dia. Aku tidak ingin orang-orang Arab berkata bahwa Muhammad membunuh sahabat-sahabatnya sendiri."
Kalimat ini adalah intinya
Mari kita bedah logikanya.
Jika Nabi mengizinkan Umar membunuh Abdullah bin Ubay, masalah selesai secara instan. Si munafik mati. Tapi, masalah baru yang lebih besar akan muncul.
Framing Media: Orang-orang Badui di luar Madinah tidak tahu detail internal politik Madinah. Yang mereka dengar cuma headline-nya: "Muhammad Membantai Teman Sendiri." Narasi ini akan membuat suku-suku Arab takut masuk Islam. "Gila, temen sendiri aja dibunuh, apalagi kita?" Islam akan dicitrakan sebagai organisasi teror yang internal-nya saling bunuh.
Martyrdom Effect: Abdullah bin Ubay adalah tokoh tokoh suku Khazraj. Kalau dia dibunuh, dia akan dianggap martir oleh suku-suku loyalisnya. Ini bisa memicu perang saudara (Civil War) antara Muhajirin dan Anshar, atau antara Aus dan Khazraj. Madinah akan pecah dari dalam.
Validasi Propaganda: Musuh akan bilang, "Tuh kan bener, Muhammad itu tiran. Dia nggak bisa nerima kritik. Siapa yang beda pendapat langsung dipenggal."
Nabi memilih menelan rasa sakit pribadi (difitnah istrinya) demi menjaga Keutuhan Negara (National Interest). Beliau mengorbankan perasaan demi stabilitas politik.
Lalu, bagaimana cara Nabi "membunuh" Abdullah bin Ubay tanpa pedang?
Nabi menggunakan strategi Soft Kill melalui isolasi sosial dan kelelahan fisik.
Contoh kasusnya ada di Perang Bani Mustaliq. Terjadi cekcok antara seorang pelayan Muhajirin dan pelayan Anshar di mata air. Abdullah bin Ubay langsung memprovokasi isu SARA (Suku, Agama, Ras). Dia berpidato rasis:
"Orang-orang Muhajirin (pendatang Mekkah) ini sudah ngelunjak! Mereka kayak anjing yang kita kasih makan, sekarang mau gigit kita. Demi Allah, nanti kalau kita pulang ke Madinah, yang kuat (penduduk asli) akan mengusir yang lemah (Nabi dan pendatang)!"
Kalimat ini makar. Treason.
Berita ini sampai ke telinga Nabi. Umar lagi-lagi minta izin penggal kepala. Nabi menolak lagi.
Apa yang Nabi lakukan?
Beliau memerintahkan pasukan untuk segera berkemas dan berjalan pulang. Saat itu tengah hari bolong, panas terik. Biasanya pasukan istirahat. Tapi Nabi menyuruh mereka jalan.
Pasukan berjalan seharian penuh. Malamnya, Nabi tidak suruh berhenti. Jalan terus. Besok paginya, jalan terus sampai matahari naik lagi.
Baru setelah mereka semua kelelahan total, Nabi menyuruh berhenti. Begitu punggung mereka menyentuh tanah, seluruh pasukan langsung pingsan ketiduran karena capek luar biasa.
Kenapa Nabi menyiksa pasukannya sendiri?
Ini adalah taktik Distraction by Exhaustion.
Nabi tahu, kalau pasukan punya waktu luang dan tenaga, mereka akan ngobrol. Mereka akan ngerumpi soal pidato rasis Abdullah bin Ubay tadi. Isu itu akan digoreng, membesar, dan memicu tawuran antar suku.
Dengan membuat mereka kelelahan setengah mati, Nabi mematikan kesempatan mereka untuk bergosip. Otak mereka cuma mikir: "Capek, haus, mau tidur." Isu kudeta Abdullah bin Ubay menguap begitu saja karena tidak ada yang punya energi untuk membahasnya.
Langkah terakhir dari strategi Nabi adalah Memenangkan Hati Anak Musuh.
Abdullah bin Ubay punya anak laki-laki yang namanya juga Abdullah. Tapi beda bapak beda anak. Abdullah Junior ini Muslim yang sangat taat, sangat loyal, dan sangat mencintai Nabi.
Ketika isu pengkhianatan bapaknya memuncak, Abdullah Junior datang menghadap Nabi dengan air mata berlinang.
"Ya Rasulullah, aku dengar engkau ingin mengeksekusi ayahku. Jika benar begitu, perintahkanlah aku yang melakukannya! Jangan suruh orang lain. Aku takut kalau orang lain yang membunuh bapakku, timbul dendam di hatiku. Biar aku saja yang memenggalnya dan membawakan kepalanya padamu!"
Bayangkan loyalitas macam apa ini. Anak menawarkan diri membunuh bapaknya demi negara.
Nabi kaget. Ini adalah momen di mana Nabi bisa saja bilang, "Oke, silakan."
Tapi Nabi menjawab dengan lembut:
"Tidak. Kita akan bersikap lemah lembut padanya dan mempergaulinya dengan baik selama dia masih hidup bersama kita."
Keputusan Nabi ini jenius secara sosiologis.
Ketika rakyat Madinah melihat betapa baiknya Nabi memperlakukan Abdullah bin Ubay (meskipun si Ubay jahat banget), simpati publik bergeser.
Orang-orang mulai mikir: "Gila ya, Nabi sabar banget. Si Ubay udah kurang ajar gitu masih dimaafin."
Lama-kelamaan, setiap kali Abdullah bin Ubay mau bikin masalah, kaumnya sendiri (suku Khazraj) yang menyuruh dia diam. "Udah lah Bay, malu-maluin aja lo. Nabi udah baik sama lo."
Abdullah bin Ubay mati kutu. Dia tidak dibunuh fisiknya, tapi Pengaruh Politiknya Dimatikan. Dia menjadi tidak relevan. Dia menjadi orang tua yang ngomel-ngomel sendiri dan tidak didengar orang.
Nabi berhasil mengubah Abdullah bin Ubay dari "Ancaman Nasional" menjadi "Gangguan Kecil yang Menyedihkan".
Apa pelajaran buat kita?
Dalam hidup, lo bakal ketemu orang kayak Abdullah bin Ubay. Di kantor, ada rekan kerja yang manis di depan tapi jelekin lo di depan bos. Di keluarga besar, ada paman atau tante yang hobi nyebar fitnah.
Insting pertama kita pasti ingin "Perang Terbuka". Labrak. Marah. Buka aib dia di medsos.
Tapi Nabi mengajarkan Kontra-Intelijen yang elegan:
Jangan Beri Panggung. Kalau lo ladenin orang toxic, lo ngasih dia validasi. Lo bikin dia merasa penting. Cuekin. Fokus ke "pasukan loyal" lo.
Kuasai Narasi dengan Prestasi. Abdullah bin Ubay kalah karena Nabi terus mencetak kemenangan demi kemenangan. Orang pada akhirnya akan ikut pemenang, bukan penggosip.
Jangan Rusak Citra Lo Sendiri. Kalau lo ngebales fitnah dengan fitnah, atau kekerasan dengan kekerasan, lo sama rendahnya dengan dia. Orang luar jadi susah bedain mana yang korban mana yang penjahat. Jaga High Ground.
Nabi Muhammad SAW membuktikan bahwa untuk memenangkan perang melawan musuh dalam selimut, lo tidak butuh pedang yang tajam. Lo butuh kesabaran seluas samudra dan strategi yang mematikan langkah lawan tanpa menyentuh badannya.
Abdullah bin Ubay mati di tempat tidur, tua, sakit, dan sendirian. Islam terus berkembang menguasai dunia.
Itulah balas dendam terbaik: Menjadi sukses, relevan, dan dicintai, sementara pembenci lo tenggelam dalam kebencian mereka sendiri.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar