Rabu, 18 Februari 2026

Balqis Humaira EDISI 9 FEBRUARY 2026

 Lo pasti setuju bahwa ​Musuh paling berbahaya itu bukan yang menodongkan pistol di depan muka lo.

​Musuh paling berbahaya adalah orang yang duduk di sebelah lo saat makan malam, tertawa mendengar lelucon lo, ikut menyumbang uang buat proyek lo, tapi di belakang layar dia mengirim koordinat rumah lo ke pembunuh bayaran.
​Dalam dunia intelijen, kita menyebutnya The Fifth Column. Musuh dalam selimut. Duri dalam daging. Atau dalam bahasa gaul Jakarta: Cepu.
​Nabi Muhammad SAW menghadapi musuh tipe ini bukan di medan perang terbuka, tapi di dalam masjidnya sendiri. Di Madinah, ada satu faksi politik bawah tanah yang sangat kuat, sangat licin, dan sangat mematikan. Mereka menyebut diri mereka Muslim, mereka salat di belakang Nabi, tapi hati dan loyalitas mereka ada pada siapa saja yang bisa menghancurkan Islam.
​Al-Qur'an memberi mereka label khusus: Al-Munafiqun. Kaum Munafik.
​Dan rajanya, Godfather-nya, adalah seorang politisi veteran bernama Abdullah bin Ubay bin Salul.
​Menghadapi Abdullah bin Ubay adalah ujian kepemimpinan terberat bagi Nabi. Kenapa? Karena dia punya "Kekebalan Diplomatik". Dia secara formal adalah Muslim. Kalau Nabi memerangi dia, narasi yang keluar adalah "Muhammad membunuh pengikutnya sendiri". Itu mimpi buruk PR (Public Relations).
​kita akan bedah bagaimana Nabi melakukan operasi Kontra-Intelijen untuk menetralisir racun Abdullah bin Ubay tanpa menumpahkan setetes darah pun. Ini adalah masterclass dalam Damage Control dan Political maneuvering.
​Mari kita mulai dari profil sang antagonis.
​Abdullah bin Ubay bukan orang sembarangan. Sebelum Nabi hijrah ke Madinah, Abdullah bin Ubay adalah kandidat terkuat untuk menjadi Raja Madinah. Mahkotanya sudah dipesan. Jubah kebesarannya sudah dijahit. Rakyat Madinah (suku Aus dan Khazraj) sudah sepakat untuk menobatkan dia.
​Tiba-tiba, datanglah seorang nabi dari Mekkah.
​Dalam sekejap, karisma Nabi Muhammad SAW menyihir penduduk Madinah. Mereka berbondong-bondong masuk Islam. Posisi Abdullah bin Ubay tergeser. Mahkotanya batal dipakai. Mimpinya hancur.
​Jadi, kebencian Abdullah bin Ubay bukan soal teologi. Ini soal politik. Ini soal kekuasaan yang hilang. Dia masuk Islam secara "KTP" hanya untuk menyelamatkan karir politiknya, tapi agendanya jelas: Menunggu Muhammad jatuh, lalu mengambil alih kekuasaan.
​Modus operandinya ada dua: Sabotase Militer dan Character Assassination (Pembunuhan Karakter).
​Kasus sabotase paling brutal terjadi di Perang Uhud.
​Bayangkan situasinya. Nabi sudah memobilisasi 1.000 pasukan untuk keluar menyambut serangan Quraisy. Semangat sedang tinggi-tingginya. Pasukan sudah berjalan keluar kota.
​Tiba-tiba, di tengah jalan, Abdullah bin Ubay melakukan manuver mutiny. Dia berteriak kepada pengikut setianya: "Buat apa kita perang? Muhammad tidak mau dengar saran saya! Kita pulang saja!"
​Detik itu juga, 300 orang (sepertiga dari total pasukan!) berbalik arah dan pulang ke Madinah.
​Lo bayangkan dampak psikologisnya. Lo mau perang lawan 3.000 musuh. Pasukan lo cuma 1.000. Tiba-tiba 300 orang cabut. Sisa 700 orang. Mental pasukan yang tersisa pasti goyah. "Waduh, kok pada balik? Jangan-jangan kita bakal kalah? Jangan-jangan benar kata Abdullah bin Ubay?"
​Ini adalah Psy-War internal. Tujuannya adalah memicu desersi massal.
​Apa reaksi Nabi?
​Apakah Nabi mengejar mereka? Tidak.
Apakah Nabi berteriak marah dan mengutuk mereka? Tidak.
Apakah Nabi membatalkan perang? Tidak.
​Nabi melakukan Compartmentalization. Beliau membiarkan sampah itu pergi. Beliau fokus pada 700 orang yang tersisa. Dalam kalkulasi Nabi, 700 orang yang loyal (Solid Core) jauh lebih efektif daripada 1.000 orang tapi 300-nya adalah pengkhianat yang siap menikam dari belakang saat pertempuran pecah.
​Nabi mengubah krisis menjadi filter. Sabotase Abdullah bin Ubay justru membantu Nabi "membersihkan" barisan dari elemen-elemen lemah. Ini adalah cara Nabi memandang krisis: Biarkan pengkhianat menampakkan dirinya, supaya kita tidak perlu repot-repot menyeleksi.
​Tapi serangan Abdullah bin Ubay tidak berhenti di situ. Dia melancarkan serangan yang jauh lebih menyakitkan: Fitnah. Hoax.
​Peristiwa ini dikenal sebagai Haditsul Ifki (Berita Bohong). Korban utamanya adalah istri Nabi sendiri, Aisyah RA.
​Dalam sebuah perjalanan pulang dari ekspedisi, Aisyah tertinggal dari rombongan karena mencari kalungnya yang hilang. Dia ditemukan oleh seorang sahabat muda bernama Shafwan bin Mu'aththal, dan diantar pulang menyusul rombongan.
​Melihat Aisyah pulang berduaan dengan laki-laki lain, Abdullah bin Ubay melihat peluang emas. Dia tidak menuduh secara langsung (karena dia licik), tapi dia mulai "bertanya-tanya" dengan nada kencang di pasar, di masjid, di kedai kopi.
​"Wah, Aisyah pulang sama cowok lain nih. Ngapain aja tuh berduaan di gurun? Istri Nabi kok begitu?"
​Gosip itu menyebar seperti api di ladang kering. Madinah gempar. Kehormatan Nabi dipertaruhkan. Rumah tangga beliau guncang. Wahyu tidak turun selama sebulan, membiarkan Nabi dan Aisyah dalam siksaan psikologis yang luar biasa.
​Inilah puncak dari kejahatan Proxy War Abdullah bin Ubay. Dia ingin menghancurkan kredibilitas moral Nabi. Kalau istri Nabi saja tidak beres, bagaimana dia bisa memimpin umat?
​Di titik ini, Umar bin Khattab sudah tidak tahan lagi. Darah ksatrianya mendidih. Dia mendatangi Nabi dengan pedang terhunus.
​"Ya Rasulullah! Izinkan aku memenggal leher si munafik ini! Dia sudah keterlaluan. Dia racun bagi umat ini!"
​Secara hukum militer, Umar benar. Pengkhianatan di masa perang dan fitnah keji terhadap kepala negara hukumannya mati.
​Tapi Nabi Muhammad SAW adalah Grandmaster Strategi. Beliau melihat papan catur lima langkah ke depan, sementara Umar saat itu hanya melihat satu langkah.
​Nabi menahan tangan Umar. Jawaban Nabi adalah kuliah politik tingkat tinggi:
​"Wahai Umar, biarkan dia. Aku tidak ingin orang-orang Arab berkata bahwa Muhammad membunuh sahabat-sahabatnya sendiri."
​Kalimat ini adalah intinya
​Mari kita bedah logikanya.
​Jika Nabi mengizinkan Umar membunuh Abdullah bin Ubay, masalah selesai secara instan. Si munafik mati. Tapi, masalah baru yang lebih besar akan muncul.
​Framing Media: Orang-orang Badui di luar Madinah tidak tahu detail internal politik Madinah. Yang mereka dengar cuma headline-nya: "Muhammad Membantai Teman Sendiri." Narasi ini akan membuat suku-suku Arab takut masuk Islam. "Gila, temen sendiri aja dibunuh, apalagi kita?" Islam akan dicitrakan sebagai organisasi teror yang internal-nya saling bunuh.
​Martyrdom Effect: Abdullah bin Ubay adalah tokoh tokoh suku Khazraj. Kalau dia dibunuh, dia akan dianggap martir oleh suku-suku loyalisnya. Ini bisa memicu perang saudara (Civil War) antara Muhajirin dan Anshar, atau antara Aus dan Khazraj. Madinah akan pecah dari dalam.
​Validasi Propaganda: Musuh akan bilang, "Tuh kan bener, Muhammad itu tiran. Dia nggak bisa nerima kritik. Siapa yang beda pendapat langsung dipenggal."
​Nabi memilih menelan rasa sakit pribadi (difitnah istrinya) demi menjaga Keutuhan Negara (National Interest). Beliau mengorbankan perasaan demi stabilitas politik.
​Lalu, bagaimana cara Nabi "membunuh" Abdullah bin Ubay tanpa pedang?
​Nabi menggunakan strategi Soft Kill melalui isolasi sosial dan kelelahan fisik.
​Contoh kasusnya ada di Perang Bani Mustaliq. Terjadi cekcok antara seorang pelayan Muhajirin dan pelayan Anshar di mata air. Abdullah bin Ubay langsung memprovokasi isu SARA (Suku, Agama, Ras). Dia berpidato rasis:
​"Orang-orang Muhajirin (pendatang Mekkah) ini sudah ngelunjak! Mereka kayak anjing yang kita kasih makan, sekarang mau gigit kita. Demi Allah, nanti kalau kita pulang ke Madinah, yang kuat (penduduk asli) akan mengusir yang lemah (Nabi dan pendatang)!"
​Kalimat ini makar. Treason.
​Berita ini sampai ke telinga Nabi. Umar lagi-lagi minta izin penggal kepala. Nabi menolak lagi.
​Apa yang Nabi lakukan?
Beliau memerintahkan pasukan untuk segera berkemas dan berjalan pulang. Saat itu tengah hari bolong, panas terik. Biasanya pasukan istirahat. Tapi Nabi menyuruh mereka jalan.
​Pasukan berjalan seharian penuh. Malamnya, Nabi tidak suruh berhenti. Jalan terus. Besok paginya, jalan terus sampai matahari naik lagi.
​Baru setelah mereka semua kelelahan total, Nabi menyuruh berhenti. Begitu punggung mereka menyentuh tanah, seluruh pasukan langsung pingsan ketiduran karena capek luar biasa.
​Kenapa Nabi menyiksa pasukannya sendiri?
​Ini adalah taktik Distraction by Exhaustion.
Nabi tahu, kalau pasukan punya waktu luang dan tenaga, mereka akan ngobrol. Mereka akan ngerumpi soal pidato rasis Abdullah bin Ubay tadi. Isu itu akan digoreng, membesar, dan memicu tawuran antar suku.
​Dengan membuat mereka kelelahan setengah mati, Nabi mematikan kesempatan mereka untuk bergosip. Otak mereka cuma mikir: "Capek, haus, mau tidur." Isu kudeta Abdullah bin Ubay menguap begitu saja karena tidak ada yang punya energi untuk membahasnya.
​Langkah terakhir dari strategi Nabi adalah Memenangkan Hati Anak Musuh.
​Abdullah bin Ubay punya anak laki-laki yang namanya juga Abdullah. Tapi beda bapak beda anak. Abdullah Junior ini Muslim yang sangat taat, sangat loyal, dan sangat mencintai Nabi.
​Ketika isu pengkhianatan bapaknya memuncak, Abdullah Junior datang menghadap Nabi dengan air mata berlinang.
​"Ya Rasulullah, aku dengar engkau ingin mengeksekusi ayahku. Jika benar begitu, perintahkanlah aku yang melakukannya! Jangan suruh orang lain. Aku takut kalau orang lain yang membunuh bapakku, timbul dendam di hatiku. Biar aku saja yang memenggalnya dan membawakan kepalanya padamu!"
​Bayangkan loyalitas macam apa ini. Anak menawarkan diri membunuh bapaknya demi negara.
​Nabi kaget. Ini adalah momen di mana Nabi bisa saja bilang, "Oke, silakan."
​Tapi Nabi menjawab dengan lembut:
"Tidak. Kita akan bersikap lemah lembut padanya dan mempergaulinya dengan baik selama dia masih hidup bersama kita."
​Keputusan Nabi ini jenius secara sosiologis.
Ketika rakyat Madinah melihat betapa baiknya Nabi memperlakukan Abdullah bin Ubay (meskipun si Ubay jahat banget), simpati publik bergeser.
​Orang-orang mulai mikir: "Gila ya, Nabi sabar banget. Si Ubay udah kurang ajar gitu masih dimaafin."
​Lama-kelamaan, setiap kali Abdullah bin Ubay mau bikin masalah, kaumnya sendiri (suku Khazraj) yang menyuruh dia diam. "Udah lah Bay, malu-maluin aja lo. Nabi udah baik sama lo."
​Abdullah bin Ubay mati kutu. Dia tidak dibunuh fisiknya, tapi Pengaruh Politiknya Dimatikan. Dia menjadi tidak relevan. Dia menjadi orang tua yang ngomel-ngomel sendiri dan tidak didengar orang.
​Nabi berhasil mengubah Abdullah bin Ubay dari "Ancaman Nasional" menjadi "Gangguan Kecil yang Menyedihkan".
​Apa pelajaran buat kita?
​Dalam hidup, lo bakal ketemu orang kayak Abdullah bin Ubay. Di kantor, ada rekan kerja yang manis di depan tapi jelekin lo di depan bos. Di keluarga besar, ada paman atau tante yang hobi nyebar fitnah.
​Insting pertama kita pasti ingin "Perang Terbuka". Labrak. Marah. Buka aib dia di medsos.
​Tapi Nabi mengajarkan Kontra-Intelijen yang elegan:
​Jangan Beri Panggung. Kalau lo ladenin orang toxic, lo ngasih dia validasi. Lo bikin dia merasa penting. Cuekin. Fokus ke "pasukan loyal" lo.
​Kuasai Narasi dengan Prestasi. Abdullah bin Ubay kalah karena Nabi terus mencetak kemenangan demi kemenangan. Orang pada akhirnya akan ikut pemenang, bukan penggosip.
​Jangan Rusak Citra Lo Sendiri. Kalau lo ngebales fitnah dengan fitnah, atau kekerasan dengan kekerasan, lo sama rendahnya dengan dia. Orang luar jadi susah bedain mana yang korban mana yang penjahat. Jaga High Ground.
​Nabi Muhammad SAW membuktikan bahwa untuk memenangkan perang melawan musuh dalam selimut, lo tidak butuh pedang yang tajam. Lo butuh kesabaran seluas samudra dan strategi yang mematikan langkah lawan tanpa menyentuh badannya.
​Abdullah bin Ubay mati di tempat tidur, tua, sakit, dan sendirian. Islam terus berkembang menguasai dunia.
Itulah balas dendam terbaik: Menjadi sukses, relevan, dan dicintai, sementara pembenci lo tenggelam dalam kebencian mereka sendiri.

Jumat, 23 Januari 2026

COPAS dari Balqis Humaira 20 Januari pukul 01.41 (Facebook)

 …Negara ini bukan lagi salah urus, tapi salah niat.

Karena gini ya. Ini bukan lagi soal angka. Ini soal urutan nilai hidup. Ini soal apa yang dianggap penting dan apa yang dianggap remeh.
Kalau orang yang kerjanya nyuci piring digaji lebih tinggi daripada orang yang kerjanya ngebentuk otak manusia, itu cuma berarti satu:
Negara ini lebih takut piring kotor daripada otak kosong.
Dan itu bukan metafora. Itu beneran kejadian.
Tukang cuci piring 2,7 juta.
Pengantar ompreng 3 juta.
Guru honorer? 300 ribu.
300 ribu itu bukan gaji. Itu uang kasihan. Itu uang buat nyuruh diem. Itu uang buat bilang: “Lo penting, tapi usahain jangan hidup dari sini.”
Dan kita masih sok kaget kenapa bangsa ini isinya makin hari makin banyak orang bego yang PD, orang licik yang jadi panutan, orang tolol yang dapat panggung.
Ya karena dari hulunya aja kita ngajarin satu pesan ke semua orang pinter:
“Kalau lo mau hidup layak, jangan jadi guru.
Kalau lo mau berguna buat bangsa, siap-siap hidup kayak tai.”
Ini sistem yang mengusir orang pintar dari dunia pendidikan secara halus tapi kejam.
Terus negara teriak:
“Kenapa kualitas pendidikan turun?”
“Kenapa anak-anak sekarang dangkal?”
“Kenapa SDM kita kalah saing?”
Jawabannya sederhana:
Karena yang lo suruh bikin SDM unggul, lo bikin hidupnya ambruk.
Gue mau nanya satu hal yang jujur aja:
Kalau lo pinter, ambisius, punya masa depan, dan lo lihat:
Jadi guru = miskin, stres, gak dihargai.
Jadi apapun selain guru = ada harapan hidup.
Menurut lo, orang waras milih yang mana?
Dan jangan bawa-bawa kata “pengabdian”.
Pengabdian itu mulia kalau yang minta ngadi juga gak tega ngeliat lo kelaparan.
Ini mah bukan pengabdian.
Ini eksploitasi pakai bahasa surga.
Negara ini aneh.
Kalau mau bangun gedung, ada duit.
Kalau mau bikin proyek, ada triliunan.
Kalau mau beli alutsista, ada anggaran.
Tapi kalau ngomongin:
“Gimana kalau guru kita hidup layak?”
Langsung:
“Ya belum ada anggarannya…”
“Ya bertahap…”
“Ya kondisi negara…”
Padahal tanpa guru, semua itu gak ada.
Pejabat yang tanda tangan anggaran itu dulunya diajar guru.
Insinyur yang bangun gedung itu dulunya diajar guru.
Dokter yang nyelametin nyawa itu dulunya diajar guru
Tapi sekarang gurunya disuruh hidup dari sisa receh sistem.
Ini namanya bukan lupa jasa.
Ini meludahi akar sendiri.
Dan kalau hari ini kita heran kenapa bangsa ini isinya:
– Tukang pamer tapi miskin isi kepala
– Tukang bacot tapi nol empati
– Tukang kuasa tapi nol rasa malu
Jangan salahkan generasi.
Salahkan negara yang menganggap orang yang mencetak generasi itu tidak penting.
Kalau gaji guru kalah sama tukang cuci piring, itu bukan soal tukang cuci piringnya.
Itu soal negara ini salah nyusun prioritas hidup.
Dan negara yang salah nyusun prioritas…
Pelan-pelan, pasti salah arah, salah jalan, dan hancur dari dalam.
Siap. Kita sambung, tetap di mode nampar tanpa anestesi.
“Terus gimana mau Indonesia Emas?”
Ini pertanyaan yang harusnya bikin malu satu gedung DPR.
Gimana mau Indonesia Emas, kalau orang yang disuruh nambang emas di kepala manusia malah disuruh hidup kayak pengemis?
Gimana mau Indonesia Emas, kalau dari awal negara ini udah ngasih pesan ke semua anak mudanya:
“Kalau lo pinter, jangan jadi guru.”
“Kalau lo mau hidup layak, cari profesi lain.”
“Kalau lo mau ngurus bangsa, siap-siap miskin.”
Ini bukan kebetulan. Ini desain kegagalan jangka panjang.
Indonesia Emas itu butuh apa sih?
Butuh:
– Otak yang jernih
– Logika yang lurus
– Karakter yang waras
– Mental yang kuat
– Dan generasi yang bisa mikir, bukan cuma nurut
Dan semua itu dibentuk di sekolah.
Bukan di baliho.
Bukan di pidato.
Bukan di TikTok.
Tapi sekarang, orang yang disuruh membentuk itu semua, hidupnya justru dibentuk oleh kecemasan: besok makan apa.
Lo mau nyetak generasi emas pakai guru yang tiap bulan mikir utang?
Ini kayak mau bikin mobil balap, tapi lo ngirit di mesinnya.
Body-nya boleh emas, cat-nya boleh mewah, tapi dalemnya mesin rongsok.
Dan kita heran kenapa jalannya ngos-ngosan.
Negara ini kebanyakan investasi di etalase, bukan di dapur.
Bangga bangun gedung sekolah.
Bangga beli laptop.
Bangga ganti kurikulum.
Tapi orang yang pake itu semua?
Disuruh bertahan hidup pakai doa dan slogan.
Indonesia Emas itu bukan soal tahun 2045.
Itu soal:
Hari ini lo ngasih makan siapa.
Hari ini lo hormatin siapa.
Hari ini lo anggap siapa penting.
Kalau hari ini guru masih diperlakukan kayak beban anggaran,
maka 20 tahun lagi jangan mimpi dapat generasi emas.
Yang ada generasi kaleng-kaleng, mental kerupuk, logika bengkok.
Dan yang paling ironis:
Kita rajin ngirim anak-anak terbaik ke luar negeri.
Kita bangga kalau ada yang kerja di Google, di NASA, di Singapura.
Tapi kita gak pernah nanya:
“Kenapa mereka gak mau pulang?”
“Kenapa mereka gak mau ngajar di sini?”
Karena mereka gak bodoh.
Mereka tau:
Di sini, orang pinter disuruh miskin.
Di sini, idealisme dihargai pakai tepuk tangan, bukan gaji.
Indonesia Emas?
Selama guru masih dijadikan tumbal sistem, itu cuma slogan.
Selama pendidik masih diperlakukan kayak pengemis berseragam, itu cuma mimpi.
Negara ini gak kekurangan bahan pidato.
Negara ini kekurangan rasa malu.
Karena gak ada bangsa yang waras berharap masa depannya cerah,
kalau orang yang menyalakan lampunya hidup dalam kegelapan.

Rabu, 28 Mei 2025

SMARTHOME Budi Utomo

Video-Video Smarthome

https://youtu.be/edoOSR8kbe4

https://youtu.be/edoOSR8kbe4

Penerapan Internet Of Things https://youtu.be/edoOSR8kbe4

Membuat Rangkaian Relay dengan Lampu Listrik Part 1  https://youtu.be/znf9aj2lnhc

Membuat Rangkaian Relay dengan Lampu Listrik Part 2  https://youtu.be/VCB5-KBe6XQ

Membuat Rangkaian Relay dengan Lampu Listrik Part 3  https://youtu.be/hXPtLn1auBU


Pemrograman Kendali Lampu dengan Arduino IDE Part 1  https://youtu.be/V9vh5Yxpwyg

Pemrograman Kendali Lampu dengan Arduino IDE Part 2  https://youtu.be/BrloMFi4z_Q


Pemrograman Handphone Kendali Lampu dengan Android App Inventor Part 1  https://youtu.be/COKNmWTMuts

Pemrograman Handphone Kendali Lampu dengan Android App Inventor Part 2  https://youtu.be/S6f9WMt25CI

Pemrograman Handphone Kendali Lampu dengan Android App Inventor Part 3  https://youtu.be/ywVwCtZRs0U

Pemrograman Handphone Kendali Lampu dengan Android App Inventor Part 4  https://youtu.be/wujqEsV-4ko

Pemrograman Handphone Kendali Lampu dengan Android App Inventor Part 5  https://youtu.be/kSar8QpHdTY

Pemrograman Handphone Kendali Lampu dengan Android App Inventor Part 6  https://youtu.be/EGaWb-xQLh0

Pemrograman Handphone Kendali Lampu dengan Android App Inventor Part 7  https://youtu.be/sOiwzKtOOjw

Jumat, 07 Maret 2025

PASTIKAN HANYA INI INFO DARI PI NETWORK

 Skip to main content

Official Communications Channels

Please always rely on information provided by Pi Network’s official channels. Refer to the following for a complete list of official Pi Network information sources online.

We will always maintain a complete list of all official channels here. If something is not here, then the account/source is not official even if it claims it is. Beware of scams.

Official URL Links to Pi Apps and Products

When using official Pi Network apps and products on the Pi Browser or PiNet, make sure the URL addresses are exactly the same as below, NOT any variations of similar URLs or sites pretending to be official. 

As more Pioneers migrate to the Mainnet, please be reminded of the safety of your non-custodial Pi Wallet and Pi. Mistakes in sharing your wallet passphrase to bad actors or phishing sites may result in irreversible transactions due to the immutability of blockchain.

Local Unaffiliated & Unauthorized Activities

As we get closer to Open Network, it is important for Pioneers to safeguard their Pi account and watch out for potential bad actors and activities, scams, and individuals impersonating others. Read our statement addressing local unaffiliated and unauthorized activities.

Learn More

Unauthorized Token Listings

Several unauthorized third party exchanges, and potential unknown third parties, have sought to list tokens purporting to be Pi, or some purported derivative of Pi, without the consent, authority or involvement of Pi Network. Read our formal announcement at the time.

Learn More
Pi Network
Start mining. Easy as Pi!

Balqis Humaira EDISI 9 FEBRUARY 2026

  Lo pasti setuju bahwa ​Musuh paling berbahaya itu bukan yang menodongkan pistol di depan muka lo. ​Musuh paling berbahaya adalah orang yan...