Sabtu, 03 Juli 2010

JADI JUGA ....SEMUA NAIK

Jadi juga, kita menyaksikan dimedia telivisi, elektronik dan cetak serta kita mengalami langsung bagaimana harga barang-barang kebutuhan pokok mengalami kenaikan Itu baru kenaikan bayar listrik (perusahaan monopoli, tapi nggak pernah menurunkan harga tdl)

Sebagaimana diketahui, setelah menaikkan TDL, pemerintah pun berencana membatasi konsumsi bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi, serta menaikkan harga gas. Tarif tol pun akan dinaikkan. Jika semua rencana itu direalisasikan, pengaruhnya amat signifikan terhadap biaya produksi dan harga barang. Kita akan menjadi sangat prihatin karena konsekuensi terhadap daya beli masyarakat menjadi sangat serius.Pasar-pasar dan barang-barang Sayur mayur dan ikan Semua naik, melambung

Bagi para para pejabat yang menjadi penentu kebijakan-kebijakan di negri ini, kenaikan hal yang enteng-enteng saja, toh semua hidupnya sudah dijamin uang negara.

Bagi wakil-wakil rakyat, ringan-ringan saja hadapi yang demikian karna semua sudah kebagian bugdetnya.


Bagi kelompok yang tak terombang-ambing oleh naik-turunnya harga sembako di negri ini, seperti para artis, selebriti, para tokoh "tertentu" hingga para preman "tertentu" ah... itu biasa-biasa saja.


Dan bagi juragan-juragan, pemodal-pemodal besar, sedikit oleng aja, nanti dengan segera akan mendapatkan yang lebih gede, karna prinsip ekonomi kapitalis yang ia pegang.

Namun ada, dan terlalu banyak di negri ini kelompok umat manusia merasa berat menghadapi event-event semacam ini.

Dan hanya terhibur oleh cuplikan tulisan bebas

sudaraku wong-wong kalongan yang rendah hati dan diberi julukan orang kecil
kalian sering menjadi korban bagi hukum buatan manusia.
kalian bersedih, dan kesedihannya akibat dari kebijakan yang tak beradab,
dari ketidakadilan yang timpang dan dari kelicikan para juragan besar yang memilik mart-mart

sudaraku, hadapilah ........................
dibalik itu semua
ada suatu kekuatan yang tak lain adalah suara keadilan

di saat tuntutan keadilan untuk seluruh umat manusia,
mari kita buat mereka BANGKRUT, apa itu bangkrut ?....
makanya baca hadits nabi.



Sabtu, 26 Juni 2010

Bukan Teroris Yang Berbahaya Tapi Kenaikan Harga Yang Sangat BERBahaya


Naikkan terus tarif listrik sehingga harga2 barang jadi naik dan rakyat jadi semakin melarat. Beginilah jika pemerintah di bawah kendali IMF dan World Bank yang dibentuk dan dipimpin Yahudi (saat ini dipimpin Dominique Strauss-Kahn dan Robert P Zoellick) yang rentenir dan pemeras….




Pemerintah berdalih bahwa subsidi untuk rakyat kecil. Nyatanya saat ini tidak ada pemimpin seperti Khalifah Umar ra yang rela berkeliling kampung untuk mencari rakyatnya yang kelaparan dan mengangkut sendiri karung makanan untuk rakyat yang lapar.
Seorang tua menangis jika lapar. Dan tetangganya yang rata2 miskin berusaha membantu sekuat tenaga.




Lansia Miskin, Hidup di Rumah Reot‘Jika Lapar, Saya Menangis’ Sabtu, 19 Juni 2010 13:59:22 WIBReporter : Harisandi Savari

Kamis, 20 Mei 2010

HARKITNAS 20 Mei Ada Kesalahan Sejarah Yang Harus Diluruskan.




Beberapa waktu yang lalu rame diperbincangkan orang, telah diketemukannya PERAHU NUH, ini menunjukan para ahli sejarah sampai saat ini masih melakukan penelitian walau usianya sudah ribuan tahun. Kalau baru ratusan tahun tentu itu bukan sesuatu yang sulit, apalagi sudah ditemukannya kertas oleh Tsai Lun China pada 101 Masehi.

Kelahiran organisasi Boedhi Oetomo pada tanggal 20 Mei 1908 yang kini diperingati sebagai Hari Kebangkitan Nasional mestinya menjadi masalah, sebab dipilihnya organasi itu sebagai Organisasi Pertama yang pernah dimiliki masa lalu negeri ini ternyata tidak tepat, sebab ada organisasi yang lebih tua lagi yaitu organisasi Syarikat Islam (SI) yang lahir terlebih dahulu dari Boedhi Oetomo (BO), yakni pada tahun 1905.

Para ahli sejarah negeri ini seharusnya tertantang untuk mengklarifikasi, jika memang hal itu benar. Apalagi peringatan Harkitnas baru dimulai peringatannya pada tahun 1948, maklum mungkin waktu itu masih belum terpikirkan untuk saling berdebat atau diskusi tentang hari-hari besar nasional waktu itu.

Apalagi banyak tanggapan bahwa BO tidak pantas dijadikan sebagai tonggak kebangkitan nasional, sebab BO tidak memiliki andil sedikit pun untuk perjuangan kemerdekan, karena mereka para pegawai negeri yang digaji Belanda untuk mempertahankan penjajahan yang dilakukan tuannya atas Indonesia. Dan BO tidak pula turut serta mengantarkan bangsa ini ke pintu gerbang kemedekaan, karena telah bubar pada tahun 1935. BO adalah organisasi sempit, lokal dan etnis, di mana hanya orang Jawa dan Madura elit yang boleh menjadi anggotanya. Orang Betawi saja tidak boleh menjadi anggotanya.

BO didirikan di Jakarta tanggal 20 Mei 1908 atas prakarsa para mahasiswa kedokteran STOVIA, Soetomo dan kawan-kawan. Perkumpulan ini dipimpin oleh para ambtenaar, yakni para pegawai negeri yang setia terhadap pemerintah kolonial Belanda. BO pertama kali diketuai oleh Raden T. Tirtokusumo, Bupati Karanganyar kepercayaan Belanda, yang memimpin hingga tahun 1911. Kemudian dia diganti oleh Pangeran Aryo Notodirodjo dari Keraton Paku Alam Yogyakarta yang digaji oleh Belanda dan sangat setia dan patuh pada induk semangnya.

Di dalam rapat-rapat perkumpulan dan bahkan di dalam penyusunan anggaran dasar organisasi, BO menggunakan bahasa Belanda, bukan bahasa Indonesia. “Tidak pernah sekali pun rapat BO membahas tentang kesadaran berbangsa dan bernegara yang merdeka. Mereka ini hanya membahas bagaimana memperbaiki taraf hidup orang-orang Jawa dan Madura di bawah pemerintahan Ratu Belanda, memperbaiki nasib golongannya sendiri, dan menjelek-jelekkan Islam yang dianggapnya sebagai batu sandungan bagi upaya mereka.

Di dalam Pasal 2 Anggaran Dasar BO tertulis “Tujuan organisasi untuk menggalang kerjasama guna memajukan tanah dan bangsa Jawa dan Madura secara harmonis. ” Inilah tujuan BO, bersifat Jawa-Madura sentris, sama sekali bukan kebangsaan.

TANTANGAN UNTUKMU WAHAI AHLI SEJARAH……………………………..

REFLEKSI 20 MEI


20 Mei Bukan Hari Kebangkitan Nasional, tapi itu adalah Hari Lahirku

Paling tidak namaku bukan nama pasaran seperti yang dikatakan banyak orang, Budi ya.. budi banyak yang pakai nama ini, tapi bukan sembarang Budi yang dipakai oleh ortuku saat aku lahir, mengapa …. Karna Nama itu dipilih bertepatan dengan (DIANGGAPNYA OLEH NEGERI INI) hari lahirnya organisasi pertama di negeri ini.

Brati aku sekarang gak perlu repot-repot merayakan hari ulang tahun, sebab negeri ini dari kota sampai tingkat nasional sudah rame merayakan hari lahir ku.

Syukurlah.

REFLEKSI

Sampai usiaku berkepala 4, masih belum ketemukan :

Pemimpin yang adil, dari tingkat nasional hingga daerah…

Wakil-wakil rakyat yang pro rakyat

Ustad yang peduli dengan umatnya, dan masih banyak lagi….

belum kutemukan

Pendidikan negri ini, jauh telah bergeser dari guru menjadi pendidik kini hanyalah menjadi pengajar. Menteri Pendidkan sebagai orang tertinggi di dunia pendidikan negeri ini, hanya memikirkan value bukan moral. Ujian Nasioonal yang diusulkan banyak orang harus dihapuskan eeeeee… malah nambah proyek baru, adanya ujian nasional susulan….valu…ya hanya value, baik sisi keuntungan proyek tahunan, maupun otak yang hanya diarahkan ke nilai tinggi, akibatnya pendidikan di Indonesia telah melahirkan generasi-generasi sarat kekerasan. Kasus bentrok antar pelajar, perpoloncoan yang berujung kematian. Praktek mesum yang banyak dilakukan pula oleh siswa-siswi sekolah, perkelahian antar geng wanita, geng motor dan lain sebagainya. Serta masih banyak pula anak-anak yang tak menikmati pendidikan. Padahal pendidikan adalah sebuah kebutuhan pokok rakyat yang harus dipenuhi. Bagaimanalah negeri ini, bila yang bersekolah hanya mereka yang mapan ekonomi. Artinya semua orang miskin di Indonesia tak boleh sekolah. Sedangkan rakyat miskin di Indonesia itu jutaan penduduk. Tak hanya siswanya bermasalah, para pendidikpun bermasalah. Beberapa kasus pencabulan dan kekerasan yang dilakukan oleh beberapa oknum pendidik di beberapa daerah menjadi pelengkap rusaknya pendidikan kita. Beralih ke aspek politik. Politik kadang diidentikkan dengan pengkambinghitaman. Menghalalkan segala cara adalah aplikasinya. Idealisme bukan lagi asas partai politik saat ini, tapi pragmatisme sesaat yang haus kekuasaan. Kemudian juga menjadi ajang ”aji mumpung” bagi mereka yang punya nama untuk mencicipi kekuasaan. Itulah politik kita, politik yang sangat oportunistik.


Hingga tulisan ini dibuat, kasus Bank Century juga masih tanda tanya. Berbagai elemen masyarakat menuntut pemerintah untuk secepatnya menyelesaikannya. Banyak yang memperkirakan kasus ini akan bernasib sama seperti kasus BLBI dan Bank Bali yang hilang seperti ditelan bumi, bila dibiarkan berlarut-larut. Bidang kesehatan juga tak mau kalah dengan problematikanya. Kita ambil satu sampel saja untuk membuka cakrawala kita bahwa aspek ini juga tak lepas dari masalah. Angka pengidap HIV/AIDS hingga kini menujukkan peningkatan yang memprihatinkan. Berdasarkan data Departemen Kesehatan, Juni 2009 mencapai 17.699 kasus. Usia pengidap adalah usia-usia produktif. Penyebab lahirnya penyakit yang sampai sekarang belum ada obatnya ini adalah Narkoba dan seks bebas yang notabene menjadi industri di negara kita. Sangat memprihatinkan. Maka terbuktilah Firman Allah dalam Surat At Thaha ayat 124.


Melihat data fakta di atas, di benak kita harus muncul sebuah pertanyaan ”ada apa dengan negeri ini?” Apakah ini sebuah kesalahan individu-perindividu? atau ada permasalahan mendasar yang mendera bangsa ini. Naiflah kita bila mengira ini hanya masalah individu saja, padahal dampaknya hingga semua sektor kehidupan. Artinya ada sesuatu yang membuat individu itu digiring untuk berbuat salah. Ini adalah kesalahan sistem. Perundang-undangan dan asas Negara kita memberikan jalan bagi para pelaku kejahatan. Membentuk orang-orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai dasar bertindaknya. Sistem demokrasi kapitalis sekuler adalah asas negara kita.


Negeri ini juga menjadikan rakyat (baca:manusia) yang notabene sangat terbatas sebagai penentu benar salah (baca:halal haram). Serta melegalisasi kuasa para kapitalis untuk mengambil harta kekayaan di negeri ini. UU penanaman modal, UU Sumber Daya Air, UU Kelistrikan, UU Badan Hukum Pendidikan, UU Migas adalah buktinya.


bersambung….untuk refleksi-refleksi berikutnya…….



Minggu, 09 Mei 2010

SERBA INTERNATIONAL

Saya tertarik dengan tilisannya kang pepih yang berjudul “Mau Tahu Seberapa Pantas Gajimu ?” .

Saya merasakan ada nuansa ‘visi modern dan internasional’ yang direfleksikan dengan adanya kekhawatiran soal jangan sampai gaji kita ada di bawah standar dari yang seharusnya bisa (pantas) didapatkan. Namun ada nuansa ‘kearifan tradisional’ yang nrimo ing pandum yang direfleksikan dengan adanya kepasrahan dari apa yang telah diterimanya dari perusahaan tempatnya bekerja selama 20 tahun ini yang sudah terasa cukup untuk menghidupi keluarganya dan menyekolahkan anak.

Jadi seyogyanya cukup bersyukur sajalah. Inilah mungkin ciri khasnya manusia-manusia yang berbudaya timur, tentunya mungkin termasuk diri saya ini. Ada sisi baiknya, namun tentu banyak pula sisi lemahnya.

Bagi para pemimpin yang culas dan zalim, soal nrimo dan pasrah ini akan selalu diekploitasi agar rakyatnya memaklumi kegagalan kinerja pemerintah yang dipimpinnya.

Bahkan dulu, pernah ada ustadz paling kondang yang dengan rela hati menjadikan dirinya sebagai bintang iklan kenaikan harga BBM. Didalam iklan itu, si ustadz mentausiahi rakyat Indonesia agar nrimo dengan kenaikan harga BBM yang berlipat kali itu, dan disikapi saja dengan tawakal.

Giliran disuruh pasrah dan nrimo, rakyat digiring kearah suasana batin yang menghormati ‘kearifan tradisional’.

Padahal disisi lain, setiap kali menaikkan harga komoditi tertentu, seperti harga BBM misalnya, pendukung pemerintah ribut membelanya dengan mengkaitkannya dengan standar harga internasional.

Saat biaya pendidikan perguruan tinggi melonjak naik sebab akibat dari kebijakan BHP/BHMN dan keengganan pemerintah mengucurkan subsidinya, alasannya pun internasinoal, yaitu agar dapat bersaing dengan standar internasional. Semua menjadi serba internasional, termasuk biayanya tentunya.

Namun giliran diperbandingkan dengan biaya pendidikan di India misalnya (ini India juga standar internasional lho) kok malah berang dan marah serta membentak.

Visi internasional itu baik namun jangan hanya dipakai untuk jargon mengelabuhi rakyat, seperti dalam soal hutang Negara dipakai standar internasional yang patokannya adalah Rasio Hutang terhadap PDB. Padahal itu cuma menyembunyikan fakta bahwa jumlah hutang negara yang sebenarnya malahan naik tajam secara jumlah nominalnya.

Ndak masalah sih, jika semua mau diinternasionalkan, termasuk katanya BUMN pun juga akan diprivatisasi kepada pihak asing agar menginternasional. Ndak masalah juga jika biaya hidup juga menginternasional, harga kebutuhan pokok juga menginternasional.

Namun masalahnya, apakah gajimu dan pendapatanmu juga sudah menginternasional pula ?.

Jangan sampai, gaji standar lokal, tapi biaya hidup dan harga kebutuhan pokok berstandar internasional.
Giliran menyekolahkan anak ke perguruan tinggi yang standarnya katanya internasional, gaji yang standar lokal ini tak mampu untuk menjangkau biaya kuliah Universitas Negeri yang biaya kuliahnya berstandar internasional.

Nah gimana ?, Gajimu dan pendapatanmu sudah standar yang menginternasional ?.

Udah apa belum ya ?

Wallahualambishsawa b.

Rabu, 21 April 2010

HARI KARTINI


CITA - CITA KARTINI DISALAHARTIKAN

Petikan surat berikut ini adalah cita-cita Kartini yang banyak disalah artikan :

"Kami di sini memohon diusahakan pengajaran dan pendidikan anak perempuan, bukan sekali-kali karena kami menginginkan anak-anak perempuan itu menjadi saingan laki-laki dalam perjuangan hidupnya. Tapi karena kami yakin akan pengaruhnya yang besar sekali bagi kaum wanita, agar wanita lebih cakap melakukan kewajibannya, kewajiban yang diserahkan alam sendiri ke dalam tangannya: menjadi ibu, pendidik manusia yang pertama-tama. [Surat Kartini kepada Prof. Anton dan Nyonya, 4 Oktober 1902]

Bukan Emansipasi, bukan setara dengan laki-laki.................... itu kata Kartini.

Bahkan ia (Kartini) menyerukan agar para wanita untuk menjadi pendidik yang pertama anak-anaknya, bukan ditinggal pergi kerja.

Mudah-mudahan Allah SWT. merahmati Kartini....Amin.

Minggu, 18 April 2010

KORUPSI !! SUDAHKAH HUKUM DITEGAKKAN?

Di Negri kita, hukum belum berlaku buat orang GEDEAN. Belum lepas dari ingatan, para pelaku kasus Bantuan Likuidasi Bank Indonesia (BLBI) yang menelan uang rakyat Rp600 triliun bebas berkeliaran. Pejabat yang merampok uang rakyat dalam kasusCentury tetap berkuasa.

Upaya untuk membongkar kebobrokan hukum terus dilakukan. Tapi berhenti di tengah jalan. Sekedar contoh, Panitia Khusus (Pansus) Century DPR RI sudah menegaskan bahwa mantan pejabat BI, Boediono yang kini menjadi WakilPresiden, dan Sri Mulyani yang kini sebagai Menteri Keuangan harus ditindaklanjuti secara hukum. Namun, tak ada tanda-tanda tindak lanjut hukum. Presiden pun tampak membelanya. Keputusan politik sudah jelas. Jalan sudah terang. Tapi, hukum tidak berjalan. Begitu juga, markus dalam kasus Gayus. Fakta sudah ditemukan, polisi sudah mencopot jabatan jenderal yang diduga terlibat, aliran dana gampang ditelusuri, nama-nama pejabat yang diduga terlibat sudah terpampang, tapi hukum berhenti.

Masalah-masalah hukum yang melibatkan pejabat dan orang besar hampir dapat dipastikan selalu menguap, tak ada tindak lanjut. Mengapa?

Ada dua hal menjadi penyebab kondisi diatas, yaitu rusaknya sistem dan rusaknya orang/pemimpin. Memang, sistem hukum yang diterapkan saat ini tidak menjamin keadilan karena hukum yang diterapkan merupakan hukum buatan manusia. Teks hukum dapat ditarik ke sana ke mari sesuaikepentingan.

Selain itu, sistem penyelesaian masalah yang digunakan pun bermasalah. Mereka menggunakan manajemen konflik, bukan resolusi konflik. Dengan manajemen konflik, maka konflik dilanggengkan sehingga hukum dilupakan. Misalnya, ketika Pansus DPR telah mengeluarkan rekomendasi, muncullah kasus LC fiktif yang diduga melibatkan inisiator pansus dan dibukalah kembali kasus suap pemilihan Gubernur BI Miranda Goeltom yang melibatkan anggota DPR. Tindak lanjut kasus Century pun berhenti. Setiap ada pembongkaran kasus hukum oleh satu pihak , dimunculkanlah kasus hukum yang melibatkan pihak pembongkar tersebut. Sebab, sama-sama berkasus. Akhirnya, proses hukum kedua-duanya berhenti. Hal ini terus berjalan. Inilah kejahatan sistemik.

Nah yang lagi ngganjel di dada, setiap pemerintah kita menyusun APBN, disana belum pernah tejadi kerugian atau pun kepincangan dari anggaran -anggaran sebelumnya, yang dikarenakan ada kekurangan uang, akibat dari perbuatan koruptor. Padahal seperti kita tahu kasus-kasus terbongkarnya korupsi, dari milyar sampai trilyunan. Tapi negara ngga pernah merasa rugi.
Lalu uang-uang itu hasil korupsi itu milik anggaran yang mana????????????????

Balqis Humaira EDISI 9 FEBRUARY 2026

  Lo pasti setuju bahwa ​Musuh paling berbahaya itu bukan yang menodongkan pistol di depan muka lo. ​Musuh paling berbahaya adalah orang yan...