Kamis, 16 September 2010

Tradisi Syawalan (1431 H) di Pekalongan


Lupis raksasa telah menjadi tradisi syawalan atau perayaan sepekan usai Lebaran di Pekalongan sejak 1855. Perkembangan sepuluh tahunan terakhir, lupis raksasa makin dibumbui dengan kesyirikan, makanan dari beras ketan ini telah makin rame warga berbondong-bondong datang ke Kota Santri ini untuk menyaksikan lupis raksasa, yang kini banyak meyakini potongan lupis ini mampu membawa berkah. Bahkan makanan ini dapat mengobati berbagai penyakit. Penyimpangan ini jelas bukan pada tempatnya di Kota Batik yang masih dikenal kota santrinya walau julukan ini sudah dipakai untuk wilayah Kabupaten Pekalongan.
Lupis yang sudah tercatat di Museum Rekor Indonesia (Muri), ini menjadi tradisi Syawalan hingga secara resmi Walikota yang ikut memotongnya.
Kebetulan saya tinggal di Krapyak, dimana kelurahan ini yang menjadi pusat keramaian tradisi syawalan. Tempatnya dekat pesisir pantai Slamaran. Konon pula wilayah ini yang paling banyak kyainya dibanding kelurahan-kelurahan lain di Kota Pekalongan. Maka pantas saja kalau dulu awal tradisi syawalan ini bermula dari ajang silaturrahim antar warga sekitar, para santri dengan kyainya. Tradisi Syawalan pada asalnya adalah bermula tatkala 1 syawal dirayakannya Lebaran di daerah Krapyak, kemudian hari 2 hingga hari ke tujuh digunakan oleh warga setempat untuk ber-puasa syawal, yaitu puasa 6 hari.
Abu Ayyub al-Anshari radhiallaahu 'anhu meriwayatkan, Nabi shallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Barangsiapa berpuasa penuh di bulan Ramadhan lalu menyambungnya dengan (puasa) enam hari di bulan Syawal, maka (pahalanya) seperti ia berpuasa selama satu tahun." (HR. Muslim)

Imam Ahmad dan an-Nasa'i, meriwayatkan dari Tsauban, Nabi shallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Puasa Ramadhan ganjarannya sebanding dengan (puasa) sepuluh bulan, sedangkan puasa enam hari (di bulan Syawal, pahalanya) sebanding dengan (puasa) dua bulan, maka bagaikan berpuasa selama setahun penuh." (HR. Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hubban dalam "Shahih" mereka)

Dari Abu Hurairah radhallaahu 'anhu, Nabi Shallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Barangsiapa berpuasa Ramadhan lantas disambung dengan enam hari di bulan Syawal, maka ia bagaikan telah berpuasa selama setahun." (HR. al-Bazzar)

Nah inilah yang banyak dilakukan terutama para penduduk Krapyak waktu itu, sehingga pada hari-hari tersebut tidak ada acara silaturrahim karna banyak yang sudah tahu kalau disana sedang mengamalkan puasa syawal, nah kemudian pada hari ke delapannya di bulan Syawal akhirnya ber-bondong-bondong orang ramai ber-silaturrahim. Dari ber-jubelnya orang di daerah Krapyak inilah maka kini dikenal tradisi syawalan.
Tradisi yang kini sudah campur baur antar laki-perempuan, mampir sana-sini tuk mencicipi suguhan 'lotekan' (lotis). Kenal gak kenal sudah santer keluar masuk rumah. Pasar jajan rame dijalanan, dan ...... traidisi puasa 6 pun kini terlupakan..........................

Syawal 1431 H



Rabu, 04 Agustus 2010

Menjelang Kemerdekaan RI ke 65


16 tahun yang lalu sebelum ayahku meninggal, dia pernah mengatakan, "le....kita ini memang sudah merdeka dan pernah di proklamirkan oleh soekarno - hatta pada 17 agustus 45...tapi tahun-tahun berikutnya tidak pernah di proklamirkan lagi...hanya di peringati saja. Jadi aku sendiri masih ragu le...apa benar-benar kita sudah merdeka atau hanya lepas dari penjajahan saja".
Benar juga Yah, seandainya engkau bisa melihat saat ini makin ngga jelas lagi klo dulu sewaktu aku di Jakarta dari 2001 hingga 2006, aku sering ke toko, mal, plaza, hypermart, mangga dua, glodok, dan tak terhitung lainnya hendak belanja perangkat komputer dan elektronik lainnya. Disana aku lihat dari pojok toko, tengah, samping TIDAK ADA ORANG PRIBUDI, WONG JOWO NE ORA ONO, KABEH CINO... bukan berarti gak seneng sama orang cina, ini sekedar sharing saja....jarene wes merdeka kok kita sendiri gak bisa buka toko di Mal seperti itu.
Bayangkan yang namanya mal-mal apalagi yang hyper-hyper, dari lantai dasar sampai lantai atas semua gak ada wonge dewe...dan usianya sudah puluhan tahun...bahkan mungkin puluhan tahun kedepan...seng rame meng toko batik-e tok neng jakarta.

Nah sekarang mungkin bisa jadi alasan... ini kan era global....

DIRGAHAYU KEMERDEKAAN TERITORIAL REPUBLIK INDONESIA KE 65

Menjelang Ramadhan 1431 H


Semua konco wong kalongan, seperti biasa dan sudah menjadi tradisi kita saat jelang ramadhan kita saling maaf memaafkan (gak usah nunggu lebaran) serta saling do'a-mendo'akan semoga di saat menempuh puasa ramadhan nanti agar diberi kesehatan dan kekuatan. Maaf yo, pren, pro konco, pro mitro, lur (poro sedulur), nda (bolo nda), brur.

Adat kebiasaan lainnya yo kuburan rame, akan diziarahi oleh keluarga jauh maupun dekat, yang sebelumnya para orang tua mereka dikubur di sapuro atau krapyak lor, nek ora mbeji.

Kalau para pedagang rame-rame stok barang buat persiapan lebaran, dari barang matang mereka siapkan mentahnya, dari sandang, mereka siapkan gudangnya.

Pengurus langgar, musholla dan masjid siap-siap bersih-bersih buat trawehan, rapat-rapat susun panitia ramadhan dan zakat.

Toko-toko dan mal siap atur bazar-bazar dengan turun harga, tapi gak tahu juga klo harga sebelumnya dah dinaikkan dulu.

Namun untuk urusan kebutuhan pokok, seperti beras, gula dan lainnya dah pasti ini adalah budaya menaikkan barang tersebut.

Pejabat, pemerintah pun tidak bisa mengaturnya dan disini kelihatan kecerdasan para pemerintah dalam pengendalian harga saat jelang ramadhan dan saat jelang lebaran. Mereka gak bisa ngapa-ngapain

Yo wes kon priye maneh, lagi-lagi rakyat kecil yang jadi kewalahan hadapi saat-saat seperti ini. Namun mudah-mudahan, smoga keberkahan ramadhan akan menjadi penyelesai dalam segala hal.

Sabtu, 03 Juli 2010

JADI JUGA ....SEMUA NAIK

Jadi juga, kita menyaksikan dimedia telivisi, elektronik dan cetak serta kita mengalami langsung bagaimana harga barang-barang kebutuhan pokok mengalami kenaikan Itu baru kenaikan bayar listrik (perusahaan monopoli, tapi nggak pernah menurunkan harga tdl)

Sebagaimana diketahui, setelah menaikkan TDL, pemerintah pun berencana membatasi konsumsi bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi, serta menaikkan harga gas. Tarif tol pun akan dinaikkan. Jika semua rencana itu direalisasikan, pengaruhnya amat signifikan terhadap biaya produksi dan harga barang. Kita akan menjadi sangat prihatin karena konsekuensi terhadap daya beli masyarakat menjadi sangat serius.Pasar-pasar dan barang-barang Sayur mayur dan ikan Semua naik, melambung

Bagi para para pejabat yang menjadi penentu kebijakan-kebijakan di negri ini, kenaikan hal yang enteng-enteng saja, toh semua hidupnya sudah dijamin uang negara.

Bagi wakil-wakil rakyat, ringan-ringan saja hadapi yang demikian karna semua sudah kebagian bugdetnya.


Bagi kelompok yang tak terombang-ambing oleh naik-turunnya harga sembako di negri ini, seperti para artis, selebriti, para tokoh "tertentu" hingga para preman "tertentu" ah... itu biasa-biasa saja.


Dan bagi juragan-juragan, pemodal-pemodal besar, sedikit oleng aja, nanti dengan segera akan mendapatkan yang lebih gede, karna prinsip ekonomi kapitalis yang ia pegang.

Namun ada, dan terlalu banyak di negri ini kelompok umat manusia merasa berat menghadapi event-event semacam ini.

Dan hanya terhibur oleh cuplikan tulisan bebas

sudaraku wong-wong kalongan yang rendah hati dan diberi julukan orang kecil
kalian sering menjadi korban bagi hukum buatan manusia.
kalian bersedih, dan kesedihannya akibat dari kebijakan yang tak beradab,
dari ketidakadilan yang timpang dan dari kelicikan para juragan besar yang memilik mart-mart

sudaraku, hadapilah ........................
dibalik itu semua
ada suatu kekuatan yang tak lain adalah suara keadilan

di saat tuntutan keadilan untuk seluruh umat manusia,
mari kita buat mereka BANGKRUT, apa itu bangkrut ?....
makanya baca hadits nabi.



Sabtu, 26 Juni 2010

Bukan Teroris Yang Berbahaya Tapi Kenaikan Harga Yang Sangat BERBahaya


Naikkan terus tarif listrik sehingga harga2 barang jadi naik dan rakyat jadi semakin melarat. Beginilah jika pemerintah di bawah kendali IMF dan World Bank yang dibentuk dan dipimpin Yahudi (saat ini dipimpin Dominique Strauss-Kahn dan Robert P Zoellick) yang rentenir dan pemeras….




Pemerintah berdalih bahwa subsidi untuk rakyat kecil. Nyatanya saat ini tidak ada pemimpin seperti Khalifah Umar ra yang rela berkeliling kampung untuk mencari rakyatnya yang kelaparan dan mengangkut sendiri karung makanan untuk rakyat yang lapar.
Seorang tua menangis jika lapar. Dan tetangganya yang rata2 miskin berusaha membantu sekuat tenaga.




Lansia Miskin, Hidup di Rumah Reot‘Jika Lapar, Saya Menangis’ Sabtu, 19 Juni 2010 13:59:22 WIBReporter : Harisandi Savari

Kamis, 20 Mei 2010

HARKITNAS 20 Mei Ada Kesalahan Sejarah Yang Harus Diluruskan.




Beberapa waktu yang lalu rame diperbincangkan orang, telah diketemukannya PERAHU NUH, ini menunjukan para ahli sejarah sampai saat ini masih melakukan penelitian walau usianya sudah ribuan tahun. Kalau baru ratusan tahun tentu itu bukan sesuatu yang sulit, apalagi sudah ditemukannya kertas oleh Tsai Lun China pada 101 Masehi.

Kelahiran organisasi Boedhi Oetomo pada tanggal 20 Mei 1908 yang kini diperingati sebagai Hari Kebangkitan Nasional mestinya menjadi masalah, sebab dipilihnya organasi itu sebagai Organisasi Pertama yang pernah dimiliki masa lalu negeri ini ternyata tidak tepat, sebab ada organisasi yang lebih tua lagi yaitu organisasi Syarikat Islam (SI) yang lahir terlebih dahulu dari Boedhi Oetomo (BO), yakni pada tahun 1905.

Para ahli sejarah negeri ini seharusnya tertantang untuk mengklarifikasi, jika memang hal itu benar. Apalagi peringatan Harkitnas baru dimulai peringatannya pada tahun 1948, maklum mungkin waktu itu masih belum terpikirkan untuk saling berdebat atau diskusi tentang hari-hari besar nasional waktu itu.

Apalagi banyak tanggapan bahwa BO tidak pantas dijadikan sebagai tonggak kebangkitan nasional, sebab BO tidak memiliki andil sedikit pun untuk perjuangan kemerdekan, karena mereka para pegawai negeri yang digaji Belanda untuk mempertahankan penjajahan yang dilakukan tuannya atas Indonesia. Dan BO tidak pula turut serta mengantarkan bangsa ini ke pintu gerbang kemedekaan, karena telah bubar pada tahun 1935. BO adalah organisasi sempit, lokal dan etnis, di mana hanya orang Jawa dan Madura elit yang boleh menjadi anggotanya. Orang Betawi saja tidak boleh menjadi anggotanya.

BO didirikan di Jakarta tanggal 20 Mei 1908 atas prakarsa para mahasiswa kedokteran STOVIA, Soetomo dan kawan-kawan. Perkumpulan ini dipimpin oleh para ambtenaar, yakni para pegawai negeri yang setia terhadap pemerintah kolonial Belanda. BO pertama kali diketuai oleh Raden T. Tirtokusumo, Bupati Karanganyar kepercayaan Belanda, yang memimpin hingga tahun 1911. Kemudian dia diganti oleh Pangeran Aryo Notodirodjo dari Keraton Paku Alam Yogyakarta yang digaji oleh Belanda dan sangat setia dan patuh pada induk semangnya.

Di dalam rapat-rapat perkumpulan dan bahkan di dalam penyusunan anggaran dasar organisasi, BO menggunakan bahasa Belanda, bukan bahasa Indonesia. “Tidak pernah sekali pun rapat BO membahas tentang kesadaran berbangsa dan bernegara yang merdeka. Mereka ini hanya membahas bagaimana memperbaiki taraf hidup orang-orang Jawa dan Madura di bawah pemerintahan Ratu Belanda, memperbaiki nasib golongannya sendiri, dan menjelek-jelekkan Islam yang dianggapnya sebagai batu sandungan bagi upaya mereka.

Di dalam Pasal 2 Anggaran Dasar BO tertulis “Tujuan organisasi untuk menggalang kerjasama guna memajukan tanah dan bangsa Jawa dan Madura secara harmonis. ” Inilah tujuan BO, bersifat Jawa-Madura sentris, sama sekali bukan kebangsaan.

TANTANGAN UNTUKMU WAHAI AHLI SEJARAH……………………………..

Balqis Humaira EDISI 9 FEBRUARY 2026

  Lo pasti setuju bahwa ​Musuh paling berbahaya itu bukan yang menodongkan pistol di depan muka lo. ​Musuh paling berbahaya adalah orang yan...