Minggu, 14 September 2008

PAK BODO (bukan bodoh)


"PAK BODO" bosone wong kalongan, apak bodo (menjelang lebaran).
nek wes wayahe pak bodo, kalongan rame, sesek ndalan-ndalan wong-wong do metu ning toko-toko mlebu metu. Ono seng nyacak-nyacak sepatu, klambi, rok yo seng akeh nek duwete nyandak yo tuku. Toko jajan juga rame, do tuku roti kalengan, sirup, gandum nggo nggawe jajan toplesan dewe, ono macem-macem. Pasar senteleng opo maneh, saben esok seseke ora jamak kabeh wong do tuku nggo siap-siap bodo.
Seng paleng seneng yo jane toko-toko cino, yo lumrah jugak si, wong sing nduwe toko akehe wong cino. Wong jowone sing duwete akeh (mboh dek ngendi) podo ngetokke duwet. Nyandak ora nyandak pokoke kudu tuku jajan toplesan karo klambi anyar.
Wong kidulan do metu, dek mbuaran, dungwuni, kabeh do teko neng sriratu, matahari, borobudur. Kuwi seng duwite turah-turah. Lha nek seng pas-pasan yo neng alon-alon opo thr simpang lima nek ora ning pasar bae.
Wong kalongan..wong kalongan, uripe angel po'o nek pak bodo biso bae, ono bae. seng maune uripe kangelan, nek pak bodo kok bisa ono. Alhamdulillah. Lha seng dek jakarta opo bekasi opo kota liyane do teko. Terus warung-warung mangan rame, padahal isyek poso tapi mangklihe do ora poso. Seng do mudik mbuak duwite neng kalongan, wes pokok-e pak Basyir dadi seneng pendapatane wong kalongan nek koyo kiye dadi akeh.
Mbiyek ono beskop rahayu - fajar neng kono sebelahe ono warung soto carlam trus dol es campor, tapi saiki wes ora koyo maune, nek maune apak bodo ramene pok. Nek neng alon-alon ono garang asem masduki...jerene saiki ono meneh pasar tiban, pasar seng pindah-pindah nggon, mulai nek sore sampek mbengi, nis...fanis piye nis kabare, kowe seng ngoordinir "pasti" (pasar tiban) ramerak saiki......wah enake nek muleh neng kalongan pingine ora bali meneh neng jakarta.
Dadine langgar-langgar, mesjid-mesjid mangklih do sepi, nek pak bodo wes dadi langgaran, do bolong tengahe, do ora traweh, podo jalan-jalan ndelok-ndelok dol klambi karo cuci mata. Padahal kalongan kuwi nek wayah rajaban, muludan, kabeh do ngada'ake pengajian, langggar kampung, mesjid rame ngundang-ngundang kyai. Pemrintahe ngada'ake pengajian, pulisine juga ngada'ake, habib-pe opo meneh, ngada'ke gede-gedean, kyaine, kampunge, wes pokoke rame ne pok pengajian nang ngendi-ngendi ora....... tapi........ yo ngumpluk tauhid-te neng cangkem tok, sampek sa'iki ora ono hasile, ora mlebu neng ati, ora ndadekake "wajilat qulubuhum", ora ndadeake nambah iman nek wes diwaca'ake ayat-ayat Allah. Buktine akhire wet mbiyek sampek saiki nek mulai tengah-tengah poso sepi ora do traweh.
Nek jarene almarhum ustad Yahya, muludan-mulutan mulut ketan, cangkeme isine ketan, soale nek pengajian, usume do mangan jajan, biasane ketan......ojo jengkel raaaaaa......... aku kan crito kampungku, kotaku, kenanganku.
Terus biasane ono zakat beras dibagekke sak trek, kuwi mauni isik ono bos Kamaludin mhoh saiki bos Tris isik neruske ora. Nek pak bodo koyo kiye, neng kampong arab rame wong-wong mlarat karo seng ngaku mlarat do antri nyjaluk zakat. Walikotane ngundang kyai-kyai sak kalongan kumpul buka bersama trus dibageni duwet karo sarung. Seng dnuwe gajah duduk juga ngundang kyai-kyai mangan buka bersama neng ngumahe, tapi di pisah, nek wong biasa ono jadwale dewe. Lha co'e saiki partai-partai rame do ngundang buka bersama nek wes meh bar posone.
Nek cah-cah kuliah, opo seng wes sukses, do nggawe reuni, do kumpul, ngudang-ngundang koncone, ono seng kangen-kangenan, ono seng nggawe bisnis, ono seng pamer kesuksesane yo macem-macem.
Pokok-e macem-macem mbhoh sampek klalen opo meneh seng tak tulis.....
Kalongan-kalongan kowe nek adoh kok ngangeni......................................................

Kamis, 11 September 2008

ZAKAT



Masa-masa kecil dulu, aku masih ingat ada kyai-kyai kampung yang menjadi sentral dari sgala kesibukan ubudiyah bagi sebagian warga disekitarnya. Jika ada hajatan-hajatan baik bersifat keluarga maupun umum, kehadiran seorang kyai sangat dibutuhkan waktu itu. Dari meng-imami musholla, berdo’a, baca fatihah untuk acara khitanan, perkawinan, pindah rumah sampai mengaji untuk orang mati. Kyai waktu itu sangat tawadhu, tidak pernah ada waktu itu ada seorang kyai yang tingkat ekonominya paling menonjol. Pasti sederajat dan rata-rata untuk kelas seorang kyai dengan rakyat biasa lainnya. Namun warga sangat menghormatinya.
Jika masa-masa ramadhan seperti ini tiba, maka rumah seorang kyai waktu itu sangat makmur. Dari jajan pasar, gula, teh dan sembako banyak yang disedekahkan warga sekitar untuk sang kyai. Dan diakhir ramadhan zakat fitrah menumpuk di rumah sang kyai. Waktu itu aku tidak berfikir, beras sebanyak itu terus dibagi kemana? Tidak, aku ikut-ikut saja ber-zakat fitrah kerumah kyai. Tanpa ada rasa su’udzan semua warga percaya bahwa Insya Allah zakatnya akan di terima dan puasanya menjadi sempurna jika sudah zakat fitrah ke kyai.
Di masa kemudian, saat banyak anak-anak muda memahami Islam secara moderat, budaya kirim zakat ke kyai sudah bergeser, minimal ke musholla atau ke pengurus-pengurus masjid dan banyak pula panitia-panitia yang siap menampung dan membagikan zakat fitrah. Bahkan bermunculan kritik-kritik kepada sang kyai karna telah menumpuk-numpuk zakat. Wallahu’alam.
Di Era masa kini, rupanya wajah-wajah kyai tempo doeloe kembali hadir di permukaan era yang serba teknologi. Zakat sudah bisa dengan SMS, bisa dengan HP, atau internet Banking. Dan ‘kyai-kyai’ zaman dulu tampil dengan wajah baru, ada berupa ‘istana zakat’ ada berupa ‘lembaga zakat si upik’ ada berupa ‘badan zakat si budi’ dan masih banyak lagi rupa-rupa wajah sang ‘kyai’ di era kini dan background sang kyai pun terpampang di spanduk-spaduk di brosur-brosur, di majalah-majalah, di media-media lainnya….seolah memanggil-manggil …ayo berzakat…ayo berinfak…ayo bersedekah melalui kyai tersebut. Persis…aku jadi ingat kembali masa-masa kyai di kampung…persis sama.

Sabtu, 06 September 2008

Menjelang Lebaran 1429 H



Masih sekitar tiga minggu lagi Lebaran, namun rasa kangen dengan kampung halaman sudah rekat. Mudik... akan aku alami kembali, keluarga menunggu. Dikampungku akan berdatangan dengan orang-orang kota, baik yang sudah sukses, sedang merintis maupun yang belum sukses bahkan tambah terpuruk.

Dikampungku aku kangen dengan tradisi Syawalan dengan memotong Lopis Raksasa. Walau sekarang agak bergeser makna, yang dulu adalah wahana dan ajang silaturahim.

Tapi ada tradisi-tradisi yang sudah puluhan tahun dari zaman orde baru sampai orde reformasi tidak bergeser makna. Ia adalah tradisi 'upeti'...ya 'upeti' yang diberikan dari pengusaha-pengusaha sukses, cukong-cukong, bos-bos lokal dan terutama pengusaha keturunan asing yang memiliki sebagian besar pangsa ekonomi negri ini.

Dari jajaran tertinggi di suatu daerah...sampai paling bawah saat-saat jelang lebaran akan 'rejeh' dengan ini. Misal di suatu daerah ada toko roti yang sukses, maka akan mengirim roti dan pernik-pernik serta parcel-parcel lebaran yang nilainya jutaan rupiah untuk petinggi daerah. Misal ada pengusaha tekstil yang sukses, maka tekstil dan lainnya akan menjadi 'kewajiban' kirim ke petinggi daerah. Tidak ada aturan yang mengatur, tidak ada paksaan yang memaksa,... tapi tradisi ini sangat terasa....tapi lagi-lagi hanya untuk orang-orang yang notabene hidupnya sudah 'kepenak' jadi tambah enak.

Ada juga tradisi kelilingnya orang-orang susah di kampungku yang berduyun-duyun mendatangi orang-orang kaya untuk meminta 'zakat', 'infaq' dan 'sedekah'. Sayang sekali ini menjadi kebanggaan orang-orang kaya atas pepatah "Tangan diatas lebih baik dari tangan dibawah".

Wahai...para petinggi di daerah dan para orang kaya di daerah tidak bisakah tradisi yang satu 'mensubsidi' tradisi lainnya. Dengan demikian 'hadiah' yang melimpah bisa merata ke sebagian orang susah, dan pemberian infaq dan sodaqoh sebaiknya tidak ada yang tahu.

Maka akan terlihat sejuk suasana daerah kalau begitu.

Wallahu'alam

Ramadhan 1429 H ......Lebaran





Ramadhan ...........

bulan suci

penuh arti

banyak yang berbagi kasih

Rame Masjid penuh putih.. bersih

Dan .....jelang lebaran tiba

terlebur dosa


Ada yang suka dan cita,

ada yang sempit gempita

Pasar-pasar dan barang-barang

Sayur mayur dan ikan

Semua naik

Dan sudah puluhan tahun lebaran...puluhan tahun pula belum bisa teratasi, siapa pengendali.


Bagi yang menjabat sebagai penentu-penentu kebijakan di negri ini, enteng-enteng saja karna smua sudah dijamin hidupnya.

Bagi wakil-wakil rakyat, ringan-ringan saja hadapi yang demikian karna semua sudah kebagian bugdetnya.

Bagi kelompok yang tak terombang-ambing oleh naik-turunnya harga sembako di negri ini, seperti para artis, selebriti, para tokoh "tertentu" hingga para preman "tertentu" ah... itu biasa-biasa saja.

Namun ada, dan terlalu banyak di negri ini kelompok umat manusia merasa berat menghadapi event-event semacam ini. Banyak panitia-panitia zakat di negri ini dari yang asal-asalan sampai dengan teknologi canggih dalam pengelolaannya, semua belum bisa mengatasi.
Banyak Panitia Penerima "Uang" Zakat didirikan, tapi tidak ada Panitia Manusia Penerima Zakat yang berdiri.
Banyak Pantia, banyak pula yang ingin cari nama.
Lalu.
Kepada siapa umat ini mengadu........?????????????????????????????

Rabu, 27 Agustus 2008

63 Tahun Negriku (3)



14 tahun yang lalu sebelum ayahku meninggal, dia pernah mengatakan, "le....kita ini memang sudah merdeka dan pernah di proklamirkan oleh soekarno - hatta pada 17 agustus 45...tapi tahun-tahun berikutnya tidak pernah di proklamirkan lagi...hanya di peringati saja. Jadi aku sendiri masih ragu le...apa benar-benar kita sudah merdeka atau hanya lepas dari penjajahan saja".
Ayahku, aku pun merasakan demikian, seandainya angkau masih hidup wahai ayahku, aku akan ajak sekarang keliling kota Jakarta, karna saat ini aku di Jakarta, kadang lihat-lihat dan masuk ke Mal-mal, hipermal, square, hiper square atau apalah nanti mungkin ada yang lebih besar lagi. Disana berdiri bak raksasa menjual produk-produk yang bisa kubayangkan seperti stok barang yang tidak akan habis dan tidak akan pernah habis hingga 10 tahun kedepan.
Ayahku...mal-mal raksasa itu pernah kuamati ada 1 (satu) produk yang jika di bayang-bayang, dipikir-pikir ada sesuatu yang tidak masuk diakal. Apa itu................ SUSU yaaa.... produk SUSU, susu kaleng, dan terutama susu bubuk.
Hampir di setiap super market dari mini sampai besar, setiap mal dari besar sampai raksasa, kulihat macam-macam produk susu bubuk, macam-macam merek, macam-macam kemasan. Setiap saat saya berkunjung kesana dan setiap saat pula produk itu selalu berjubel dan ada setiap saat hingga berstok-stok dan sepertinya tidak akan pernah habis sampai puluhan tahun kedepan.
Ada yang aneh.................................... ini baru di Jakarta, belum di kota besar lain, Bandung, Cirebon, Semarang, Medan ....dan luar jawa yang lain....belum lagi negri tetangga Singapore, Malaysia, Brunei dan belum lagi seluruh dunia....semua pasti ada produk susu bubuknya.
Bayangkan dari sekian banyak produk susu bubuk, susu kaleng...yang kalau di tayangkan di iklan-iklan di tv.... emm.... segar....em.... sapinya di tampilkan....NAMUN TIDAK TERPIKIRKAH OLEH KITA, DIMANAKAH ADA PETERNAKAN SAPI DI SELURUH DUNIA INI YANG BISA MENSUPLAI SUSU-SUSU, PRODUK-PRODUK SUSU SEBANYAK ITU....SELURUH DUNIA.
Itu susu, susu sintetis atau susu asli????????????????????????????????????
63 tahun kita merdeka, banyak produk-produk asing yang masih 'menjajah' kita dengan segala argumennya.

Kamis, 21 Agustus 2008

63 Tahun Negriku (2)




Negriku Alhamdulillah diawasi dari berbagai sektor dan kepentingan, diurus oleh berbagai menteri dan pejabat. Dari pusat hingga daerah para aparatur negara mengelola dengan menunjukkan baju seragam yang kelhatan serius.
Wahai 63 tahun Negriku, sedikit saja yang bisa aku sampaikan kepada negriku dan biarlah orang lain yang menyampaikan lain hal.
Di pasar - pasar tradisional, tempat belanja para ibu dan sebagian kecil bapak, banyak toko-toko yang menjual makanan kering, kue-kue dengan penuh pengawet, 'ciki-ciki' an, jajanan kering, dan banyak pula jajanan anak-anak dengan berbagai merek yang tidak terkenal dan bahkan tanpa merek. Makanan dan jajanan ini jelas terang-terangan tanpa izin dinas kesehatan, toko-toko yang menjajakan seperti gudang, segitu besar dan banyaknya. Makanan dan jajanan tidak sehat ini sering mangkal di depan sekolah-sekolah tk - sd - smp sampai sma. Ok lah anak yang sudah smp ato sma bisa mereka hindari, tapi serbuan jajanan tidak sehat ke tk sd ini menyulitkan orang tua tuk mengawasinya lebih jauh. 1 - 2 orang tua bisa, 1 - 3 - 100 sekolah orang-orang kaya, sekolah unggulan, sekolah ketat, itu bisa dihindarkan. Namun itu hanyalah 10 % di negri ini 90% sekolah 'miskin' ini sana sini diserang oleh jajanan tidak sehat bahkan beracun.
Lalu siapa lagi yang bertanggung jawab akan pengawasan ini, menteri kah, aparat kah, pemerintah kah, pejabat kah, orang tua kah, sekolah kah.
Pasti masing-masing akan saling tuding. ............................................. Tapi produk-produk ini lagi-lagi dikuasai oleh orang-orang ras tertentu di negri ini, dari produk sampo. sabun, kosmetik palsu sampai ke jajanan anak dan ini sudah berlangsung puluhan tahun yang lalu.
Ada kemushilan yang tidak bisa aku pikirkan, sekian lama Indonesia merdeka, sekian lama pula hal itu berlangsung, sebagaimana sekian lamanya tindakan korupsi di negri ini.
Anak-anak ku di kampung dan anak-anak saudara ku di kampung yang sekolah di sekolahan biasa, mereka jadi korban jajanan tidak sehat. MEREKA TIDAK BISA MENIKMATI KEMERDEKAAN..... MERDEKA DARI KERUSAKAN DARI JAJANAN BERACUN.

Minggu, 17 Agustus 2008

63 Tahun Negriku








Hari-hari memperingati kemerdekaan, tidak di kampung tidak di Ibukota, sama, semua mengelu-elukan, semua merayakan. Dari merah putih berjejer dan berkibar hingga hiasan-hiasan gapura yang nyentrik dan nylekit. Dari lomba makan krupuk sampai lomba adu prestasi lainnya.
Kalau di kampung karna disana deket dengan pantai, ada lomba 'nyadran' balap perahu. Di kampung ku yang terkenal dengan Lopis Raksasa saat lebaran Syawalan, saat-saat 17-an seperti ini rame. Rame lomba, pawe pembangunan, arak-arakan drum band dll.
Disini di Ibukota aku masih mengenang kampungku yang rame saat 17-an, melihat acara-acara merayakan kemerdekaan disini jadi rindu kampung halaman. Dari anak-anak lomba joget, nangis, makan krupuk, yang dewasa karaoke, yang tua dangdutan. Meriah banget.
Dari jajaran pemerintahan pusat, wilayah, daerah, kecamatan, kelurahan, semua aparat sampai rakyat kecil semua diajak merayakan, diajak menyaksikan. Ada acara tirakatan, ada tumpengan ada sholat dan doa syukur bersama. Sambutan disana sini, cerita klise perjuangan para pejuang kemerdekaan. (Yang sampai saat ini orang-orang pendahulu negri ini yang mempertahankan negri ini dari penjajahan, yang langsung berhadapan dengan musuh-musuh yang nyata....sampai detik ini belum ada penerus dan penggantinya). Semua jadi melebur..berseru, MERDEKA, semua mengangkat dan mengenggam MERDEKA, semua jadi lupa ... BENARKAH KITA SUDAH MERDEKA???????????????

Balqis Humaira EDISI 9 FEBRUARY 2026

  Lo pasti setuju bahwa ​Musuh paling berbahaya itu bukan yang menodongkan pistol di depan muka lo. ​Musuh paling berbahaya adalah orang yan...