
berbagi...itulah yang akan menjadi titik singgung antara kita...kita bisa akrab bahkan saling memusuhi, sebab tidak semua berbagi akan menjadikan pihak-pihak tertentu menjadi kawan.
Minggu, 14 September 2008
PAK BODO (bukan bodoh)

Kamis, 11 September 2008
ZAKAT

Jika masa-masa ramadhan seperti ini tiba, maka rumah seorang kyai waktu itu sangat makmur. Dari jajan pasar, gula, teh dan sembako banyak yang disedekahkan warga sekitar untuk sang kyai. Dan diakhir ramadhan zakat fitrah menumpuk di rumah sang kyai. Waktu itu aku tidak berfikir, beras sebanyak itu terus dibagi kemana? Tidak, aku ikut-ikut saja ber-zakat fitrah kerumah kyai. Tanpa ada rasa su’udzan semua warga percaya bahwa Insya Allah zakatnya akan di terima dan puasanya menjadi sempurna jika sudah zakat fitrah ke kyai.
Di masa kemudian, saat banyak anak-anak muda memahami Islam secara moderat, budaya kirim zakat ke kyai sudah bergeser, minimal ke musholla atau ke pengurus-pengurus masjid dan banyak pula panitia-panitia yang siap menampung dan membagikan zakat fitrah. Bahkan bermunculan kritik-kritik kepada sang kyai karna telah menumpuk-numpuk zakat. Wallahu’alam.
Di Era masa kini, rupanya wajah-wajah kyai tempo doeloe kembali hadir di permukaan era yang serba teknologi. Zakat sudah bisa dengan SMS, bisa dengan HP, atau internet Banking. Dan ‘kyai-kyai’ zaman dulu tampil dengan wajah baru, ada berupa ‘istana zakat’ ada berupa ‘lembaga zakat si upik’ ada berupa ‘badan zakat si budi’ dan masih banyak lagi rupa-rupa wajah sang ‘kyai’ di era kini dan background sang kyai pun terpampang di spanduk-spaduk di brosur-brosur, di majalah-majalah, di media-media lainnya….seolah memanggil-manggil …ayo berzakat…ayo berinfak…ayo bersedekah melalui kyai tersebut. Persis…aku jadi ingat kembali masa-masa kyai di kampung…persis sama.
Sabtu, 06 September 2008
Menjelang Lebaran 1429 H

Masih sekitar tiga minggu lagi Lebaran, namun rasa kangen dengan kampung halaman sudah rekat. Mudik... akan aku alami kembali, keluarga menunggu. Dikampungku akan berdatangan dengan orang-orang kota, baik yang sudah sukses, sedang merintis maupun yang belum sukses bahkan tambah terpuruk.
Dikampungku aku kangen dengan tradisi Syawalan dengan memotong Lopis Raksasa. Walau sekarang agak bergeser makna, yang dulu adalah wahana dan ajang silaturahim.
Tapi ada tradisi-tradisi yang sudah puluhan tahun dari zaman orde baru sampai orde reformasi tidak bergeser makna. Ia adalah tradisi 'upeti'...ya 'upeti' yang diberikan dari pengusaha-pengusaha sukses, cukong-cukong, bos-bos lokal dan terutama pengusaha keturunan asing yang memiliki sebagian besar pangsa ekonomi negri ini.
Dari jajaran tertinggi di suatu daerah...sampai paling bawah saat-saat jelang lebaran akan 'rejeh' dengan ini. Misal di suatu daerah ada toko roti yang sukses, maka akan mengirim roti dan pernik-pernik serta parcel-parcel lebaran yang nilainya jutaan rupiah untuk petinggi daerah. Misal ada pengusaha tekstil yang sukses, maka tekstil dan lainnya akan menjadi 'kewajiban' kirim ke petinggi daerah. Tidak ada aturan yang mengatur, tidak ada paksaan yang memaksa,... tapi tradisi ini sangat terasa....tapi lagi-lagi hanya untuk orang-orang yang notabene hidupnya sudah 'kepenak' jadi tambah enak.
Ada juga tradisi kelilingnya orang-orang susah di kampungku yang berduyun-duyun mendatangi orang-orang kaya untuk meminta 'zakat', 'infaq' dan 'sedekah'. Sayang sekali ini menjadi kebanggaan orang-orang kaya atas pepatah "Tangan diatas lebih baik dari tangan dibawah".
Wahai...para petinggi di daerah dan para orang kaya di daerah tidak bisakah tradisi yang satu 'mensubsidi' tradisi lainnya. Dengan demikian 'hadiah' yang melimpah bisa merata ke sebagian orang susah, dan pemberian infaq dan sodaqoh sebaiknya tidak ada yang tahu.
Maka akan terlihat sejuk suasana daerah kalau begitu.
Wallahu'alam
Ramadhan 1429 H ......Lebaran

Rabu, 27 Agustus 2008
63 Tahun Negriku (3)

Kamis, 21 Agustus 2008
63 Tahun Negriku (2)

Minggu, 17 Agustus 2008
63 Tahun Negriku

Hari-hari memperingati kemerdekaan, tidak di kampung tidak di Ibukota, sama, semua mengelu-elukan, semua merayakan. Dari merah putih berjejer dan berkibar hingga hiasan-hiasan gapura yang nyentrik dan nylekit. Dari lomba makan krupuk sampai lomba adu prestasi lainnya.
Kalau di kampung karna disana deket dengan pantai, ada lomba 'nyadran' balap perahu. Di kampung ku yang terkenal dengan Lopis Raksasa saat lebaran Syawalan, saat-saat 17-an seperti ini rame. Rame lomba, pawe pembangunan, arak-arakan drum band dll.
Disini di Ibukota aku masih mengenang kampungku yang rame saat 17-an, melihat acara-acara merayakan kemerdekaan disini jadi rindu kampung halaman. Dari anak-anak lomba joget, nangis, makan krupuk, yang dewasa karaoke, yang tua dangdutan. Meriah banget.
Dari jajaran pemerintahan pusat, wilayah, daerah, kecamatan, kelurahan, semua aparat sampai rakyat kecil semua diajak merayakan, diajak menyaksikan. Ada acara tirakatan, ada tumpengan ada sholat dan doa syukur bersama. Sambutan disana sini, cerita klise perjuangan para pejuang kemerdekaan. (Yang sampai saat ini orang-orang pendahulu negri ini yang mempertahankan negri ini dari penjajahan, yang langsung berhadapan dengan musuh-musuh yang nyata....sampai detik ini belum ada penerus dan penggantinya). Semua jadi melebur..berseru, MERDEKA, semua mengangkat dan mengenggam MERDEKA, semua jadi lupa ... BENARKAH KITA SUDAH MERDEKA???????????????
Balqis Humaira EDISI 9 FEBRUARY 2026
Lo pasti setuju bahwa Musuh paling berbahaya itu bukan yang menodongkan pistol di depan muka lo. Musuh paling berbahaya adalah orang yan...
-
Lo pasti setuju bahwa Musuh paling berbahaya itu bukan yang menodongkan pistol di depan muka lo. Musuh paling berbahaya adalah orang yan...
-
Video-Video Smarthome https://youtu.be/edoOSR8kbe4 https://youtu.be/edoOSR8kbe4 Penerapan Internet Of Things https://youtu.be/edoOSR8kbe4 M...
-
…Negara ini bukan lagi salah urus, tapi salah niat. Karena gini ya. Ini bukan lagi soal angka. Ini soal urutan nilai hidup. Ini soal apa y...