berbagi...itulah yang akan menjadi titik singgung antara kita...kita bisa akrab bahkan saling memusuhi, sebab tidak semua berbagi akan menjadikan pihak-pihak tertentu menjadi kawan.
Rabu, 26 Juli 2017
Khilafah Islamiyyah Versus The New World Order
Setiap muslim yang cukup rajin belajar agama, atau yang terlibat dengan pergerakan Islam, umumnya mengenal istilah Khilafah Islamiyyah. Khilafah Islamiyyah merupakan lembaga politik kenegaraan milik ummat Islam yang telah eksis belasan abad sejak Nabi Muhammad ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭ ﺳﻠﻢ memimpinnya pertama kali berbasis di kota Madinah Al-Munawwarah hingga runtuhnya secara resmi khilafah terakhir berupa Kesultanan Utsmani Turki yang bubar pada tahun 1924 atau 1342 hijriyyah.
Dewasa ini dunia Islam terpecah-belah menjadi aneka nation-states (negara berdasarkan kebangsaan) tidak seperti Khilafah Islamiyyah yang menyatukan kaum muslimin dari berbagai bangsa dan wilayah berdasarkan ikatan aqidah kalimat Tauhid ﻻ ﺍﻟﻪ ﺍﻻ ﺍﻟﻠﻪ dan sunnah Nabi Muhammad ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭ ﺳﻠﻢ . Sebenarnya realitas ummat Islam selama belasan abad di bawah naungan Khilafah tidaklah sepenuhnya konstan dalam kebaikan. Ada gradasi yang -perlahan tapi pasti- memperlihatkan suatu dekadensi hingga senanglah kaum kuffar menyaksikan runtuhnya Khilafah dan tercerai-berainya kaum muslimin seperti dewasa ini. Hal ini telah diprediksikan oleh rasulullah ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭ ﺳﻠﻢ lima belas abad yang lalu: ﻟَﻴُﻨْﻘَﻀَﻦَّ ﻋُﺮَﻯ ﺍﻟْﺈِﺳْﻠَﺎﻡِ ﻋُﺮْﻭَﺓً ﻋُﺮْﻭَﺓً ﻓَﻜُﻠَّﻤَﺎ ﺍﻧْﺘَﻘَﻀَﺖْﺍﻧْﺘَﻘَﻀَﺖْ ﻋُﺮْﻭَﺓٌ ﺗَﺸَﺒَّﺚَ ﺍﻟﻨَّﺎﺱُ ﺑِﺎﻟَّﺘِﻲ ﺗَﻠِﻴﻬَﺎ ﻭَﺃَﻭَّﻟُﻬُﻦَّ ﻧَﻘْﻀًﺎ ﺍﻟْﺤُﻜْﻢُ ﻭَﺁﺧِﺮُﻫُﻦَّ ﺍﻟﺼَّﻠَﺎﺓُ Dari Abu Umamah Al Bahili dari Rasulullah ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭ ﺳﻠﻢ bersabda: “Sungguh ikatan Islam akan terurai simpul demi simpul.
Setiap satu simpul terurai maka manusia akan bergantungan pada simpul berikutnya. Yang pertama kali terurai adalah simpul hukum dan yang paling akhir adalah simpul sholat.” (AHMAD – 21139)
Penegakkan hukum Allah ﺳﺒﺤﺎﻧﻪ ﻭ ﺗﻌﺎﻟﻰ telah mengalami dekadensi dari masa ke masa. Pada babak paling awal penegakkan hukum berlangsung prima karena baik person pemimpin maupun konstitusi Daulah Islamiyyah langsung di tangani oleh Rasulullah Muhammad ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭ ﺳﻠﻢ , teladan utama orang-orang beriman. Kemudian pada babak berikutnya ummat Islam menyaksikan penegakkan hukum yang masih tetap baik –walau tentunya tidak se-prima di masa Nabi ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭ ﺳﻠﻢ – di bawah person pemimpin yang dijuluki al-Khulafa ar-Rasyidun dan konstitusi Khilafah Islamiyyah, terdiri dari para sahabat utama Abu Bakar ash-Shiddiq, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhum.
Lalu pada babak selanjutnya penegakkan hukum mulai mengalami masalah karena antara person pemimpin dan konstitusi Khilafah Islamiyyah tidak selalu sinkron. Person pemimpin terdiri dari para khalifah yang dijuluki Nabi Muhammad ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭ ﺳﻠﻢ sebagai para
Mulkan ‘Aadhdhon (para penguasa yang menggigit). Namun konstitusi Khilafah Islamiyyah masih baik karena secara formal tetap berlandaskan Islam di mana berbagai urusan dirujuk kepada Allah (Al-Qur’an) dan RasulNya (As-Sunnah). Dalam sejarah dikenal sebagai era berbagai kerajaan Islam, terutama tiga di antaranya yang sangat menonjol yaitu Dinasti Bani Ummayyah, Dinasti Bani Abbasiyyah dan Kesultanan Turki Utsmani. Pada masa yang berlangsung hampir 13 abad itu person pemimpinnya bermasalah, namun konstitusi Khilafah Islamiyyah masih relatif cukup Islami.
Namun sesudah itu masuklah ummat Islam ke dalam babak yang paling kelam dalam sejarahnya di mana baik person pemimpin maupun konstitusi lembaga kenegaraan sungguh bermasalah. Inilah era yang oleh Nabi Muhammad ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭ ﺳﻠﻢ disebut era kepemimpinan Mulkan Jabbriyyan (para penguasa yang memaksakan kehendak). Dan inilah era di mana dunia modern ini berada. Dunia Islam tercabik-cabik ke dalam berbagai nation-states. Tidak ada satu wilayah tunggal ummat Islam yang memberlakukan hukum Allah ﺳﺒﺤﺎﻧﻪ ﻭ ﺗﻌﺎﻟﻰ . Tidak ada satu blok tunggal kekuatan ummat Islam yang memelihara izzul Islam wal muslimin (kemuliaan Islam dan kaum muslimin). Sedangkan kepemimpin dunia justeru berpindah gilirannya ke tangan kaum kuffar yakni the western civilization, dengan kekuatan kaum yahudi-nasrani sebagai komandannya. Oleh karenanya seringkali disebut juga sebagai the judeo-christian civilization.
Pada babak yang kelam ini dunia berjalan menuju kegelapan karena komandannya tidak memiliki cahaya penerang apapun untuk menunjuki jalan manusia ke arah tujuan semestinya. Malah para pemimpinnya justeru mengajak ummat manusia –termasuk ummat Islam- memasuki lubang biawak kebinasaan di dunia apalagi di akhirat. Persis sebagaimana diprediksikan oleh Rasulullah ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭ ﺳﻠﻢ : ﻋَﻦْ ﺃَﺑِﻲ ﺳَﻌِﻴﺪٍ ﺭَﺿِﻲَ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻨْﻪُ ﺃَﻥَّ ﺍﻟﻨَّﺒِﻲَّ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﻗَﺎﻝَ ﻟَﺘَﺘَّﺒِﻌُﻦَّ ﺳَﻨَﻦَ ﻣَﻦْ ﻗَﺒْﻠَﻜُﻢْ ﺷِﺒْﺮًﺍ ﺑِﺸِﺒْﺮٍ ﻭَﺫِﺭَﺍﻋًﺎ ﺑِﺬِﺭَﺍﻉٍ ﺣَﺘَّﻰ ﻟَﻮْ ﺳَﻠَﻜُﻮﺍ ﺟُﺤْﺮَ ﺿَﺐٍّ ﻟَﺴَﻠَﻜْﺘُﻤُﻮﻩُﻟَﺴَﻠَﻜْﺘُﻤُﻮﻩُ ﻗُﻠْﻨَﺎ ﻳَﺎ ﺭَﺳُﻮﻝَ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺍﻟْﻴَﻬُﻮﺩَ ﻭَﺍﻟﻨَّﺼَﺎﺭَﻯﻭَﺍﻟﻨَّﺼَﺎﺭَﻯ ﻗَﺎﻝَ ﻓَﻤَﻦْ “Kamu akan mengikuti perilaku/tradisi/sistem hidup orang-orang sebelum kamu sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi sehasta, sehingga kalau mereka masuk ke lubang biawak pun kamu ikut memasukinya.” Para sahabat lantas bertanya, “Apakah yang anda maksud orang-orang Yahudi dan Nasrani, ya Rasulullah?” Beliau menjawab, “Siapa lagi (kalau bukan mereka)?” (HR Bukhary 3197)
Tetapi ada suatu pertanyaan mendasar yang perlu diajukan. Mengapa ummat Islam
mengikuti perilaku/tradisi/sistem hidup kaum yahudi dan nasrani? Sesungguhnya dekadensi di bidang penegakkan hukum Allah ﺳﺒﺤﺎﻧﻪ ﻭ ﺗﻌﺎﻟﻰ bukanlah suatu fenomena yang berdiri sendiri. Ia tidak hanya berkenaan dengan hadir-tidaknya person pemimpin yang bermasalah serta berlaku tidaknya konstitusi Khilafah Islamiyyah di dalam tubuh kaum muslimin. Tetapi ia sangat dipengaruhi oleh kondisi kejiwaan dan mental kaum muslimin secara keseluruhannya yang telah dijangkiti suatu penyakit kronis yang telah disinyalir oleh Rasulullah ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭ ﺳﻠﻢ . Penyakit itu bernama al-wahan. Artinya cinta dunia dan takut menghadapi kematian. Dan penyakit ini bukan hanya muncul di tengah kaum muslimin sesudah runtuhnya secara resmi Khilafah Islamiyyah pada tahun 1924. Tetapi bibit-bibit penyakit ini telah hadir sejak lama sebelum hal itu terjadi. Runtuhnya khilafah hanyalah merupakan faktor pemicu yang menyebabkan kian ganasnya virus penyakit al-wahan berkembang di dalam tubuh kaum muslimin seperti yang dapat kita saksikan dewasa ini. ﻗَﺎﻝَ ﺭَﺳُﻮﻝُ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﻳُﻮﺷِﻚُ ﺍﻟْﺄُﻣَﻢُ ﺃَﻥْ ﺗَﺪَﺍﻋَﻰ ﻋَﻠَﻴْﻜُﻢْ ﻛَﻤَﺎ ﺗَﺪَﺍﻋَﻰ ﺍﻟْﺄَﻛَﻠَﺔُ ﺇِﻟَﻰ ﻗَﺼْﻌَﺘِﻬَﺎ ﻓَﻘَﺎﻝَ ﻗَﺎﺋِﻞٌ ﻭَﻣِﻦْ ﻗِﻠَّﺔٍ ﻧَﺤْﻦُ ﻳَﻮْﻣَﺌِﺬٍ ﻗَﺎﻝَ ﺑَﻞْ ﺃَﻧْﺘُﻢْ ﻳَﻮْﻣَﺌِﺬٍ ﻛَﺜِﻴﺮٌ ﻭَﻟَﻜِﻨَّﻜُﻢْ ﻏُﺜَﺎﺀٌ ﻛَﻐُﺜَﺎﺀِ ﺍﻟﺴَّﻴْﻞِ ﻭَﻟَﻴَﻨْﺰَﻋَﻦَّ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻣِﻦْ ﺻُﺪُﻭﺭِ ﻋَﺪُﻭِّﻛُﻢْ ﺍﻟْﻤَﻬَﺎﺑَﺔَ ﻣِﻨْﻜُﻢْ ﻭَﻟَﻴَﻘْﺬِﻓَﻦَّﻭَﻟَﻴَﻘْﺬِﻓَﻦَّ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻓِﻲ ﻗُﻠُﻮﺑِﻜُﻢْ ﺍﻟْﻮَﻫْﻦَ ﻓَﻘَﺎﻝَ ﻗَﺎﺋِﻞٌ ﻳَﺎ ﺭَﺳُﻮﻝَ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﻭَﻣَﺎ ﺍﻟْﻮَﻫْﻦُ ﻗَﺎﻝَ ﺣُﺐُّ ﺍﻟﺪُّﻧْﻴَﺎ ﻭَﻛَﺮَﺍﻫِﻴَﺔُ ﺍﻟْﻤَﻮْﺕِ Bersabda Rasulullah ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭ ﺳﻠﻢ “Hampir tiba masanya kalian diperebutkan seperti sekumpulan pemangsa yang memperebutkan makanannya.” Maka seseorang bertanya: ”Apakah karena sedikitnya jumlah kita?” ”Bahkan kalian banyak, namun kalian seperti buih mengapung. Dan Allah telah mencabut rasa gentar dari dada musuh kalian terhadap kalian. Dan Allah telah menanamkan dalam hati kalian penyakit Al-Wahan .” Seseorang bertanya: ”Ya Rasulullah, apakah Al-Wahan itu?” Nabi ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭ ﺳﻠﻢ bersabda: ”Cinta dunia dan takut akan kematian.” (HR Abu Dawud 3745)
Fihak kaum kuffar pada hakekatnya tidak akan pernah sanggup melakukan apapun terhadap ‘izzul Islam wal muslimin (kemuliaan Islam dan kaum muslimin) andaikan ummat ini benar-benar beriman dan yakin akan janji Allah ﺳﺒﺤﺎﻧﻪ ﻭ ﺗﻌﺎﻟﻰ berupa ihdal-husnayain (meraih salah satu dari dua kebaikan) yakni ‘isy kariiman au mut syahiidan (hidup mulia di bawah naungan syariat Allah atau menggapai mati syahid). ﻗُﻞْ ﻟَﻦْ ﻳُﺼِﻴﺒَﻨَﺎ ﺇِﻻ ﻣَﺎ ﻛَﺘَﺐَ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻟَﻨَﺎ ﻫُﻮَ ﻣَﻮْﻻﻧَﺎ ﻭَﻋَﻠَﻰ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﻓَﻠْﻴَﺘَﻮَﻛَّﻞِ ﺍﻟْﻤُﺆْﻣِﻨُﻮﻥَﺍﻟْﻤُﺆْﻣِﻨُﻮﻥَ ﻗُﻞْ ﻫَﻞْ ﺗَﺮَﺑَّﺼُﻮﻥَ ﺑِﻨَﺎ ﺇِﻻ ﺇِﺣْﺪَﻯ ﺍﻟْﺤُﺴْﻨَﻴَﻴْﻦِﺍﻟْﺤُﺴْﻨَﻴَﻴْﻦِ Katakanlah: “Sekali-kali tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan oleh Allah bagi kami. Dialah Pelindung kami, dan hanyalah kepada Allah orang-orang yang beriman harus bertawakal.” Katakanlah: “tidak ada yang kamu tunggu-tunggu bagi kami, kecuali
ihdal-husnayain (salah satu dari dua kebaikan).” (QS At-Taubah 51-52)
Dalam kitab tafsir Fathul Qadir dikatakan bahwa makna salah satu dari dua kebaikan ialah:
ﺇﻣﺎ ﺍﻟﻨﺼﺮﺓ ﺃﻭ ﺍﻟﺸﻬﺎﺩﺓ
“Atau kemenangan atau mati syahid”.
Sepanjang sejarah Islam fihak musuh senantiasa berusaha menghilangkan gairah kaum
muslimin untuk meraih salah satu dari dua kebaikan di atas. Mereka melakukan segala upaya untuk memadamkan semangat perjuangan kaum muslimin. Bayangkan, mereka sampai perlu melansir perang Salib selama dua abad (dua ratus tahun)! Namun ummat Islam semakin diperangi semakin menjadi-jadi semangat berperangnya (baca: hubbul-jihad wa asy-syahadah/ cinta jihad dan mati syahid). Kalimat legendaris yang diucapkan Panglima Khalid bin Walid ra ketika memimpin pasukan Islam yang jauh lebih sedikit jumlahnya daripada pasukan Romawi telah menginspirasi pasukan Islam sepanjang zaman:
ﺟﺌﺖ ﺑﺄﻧﺎﺱ ﻳﺤﺒﻮﻥ
ﺍﻟﻤﻮﺕ ﻛﻤﺎ ﺗﺤﺒﻮﻥ ﺍﻟﺤﻴﺎﺓ
“Aku datang dengan sejumlah manusia yang mencintai kematian melebihi kalian (hai kaum Romawi) dalam mencintai kehidupan…!”
Akhirnya kaum yahudi-nasrani merubah strategi mereka menghadapi kaum muslimin. Mulailah era al-ghazwu al-fikri (perang ideologis) diterapkan menghadapi kaum muslimin. Mulailah mereka meracuni hati dan fikiran kaum muslimin melalui harta, wanita dan perebutan tahta antara sesama muslimin. Mulailah politik belah bambu alias
devide et empera diterapkan. Mulailah berbagai ideologi asing buatan kaum kuffar diperkenalkan dan dipromosikan oleh para orientalis yang belajar Islam untuk dijadikan pembungkus kebusukan berbagai ideologi menyesatkan tersebut. Mulailah mereka memperkenalkan makna-makna baru lagi sesat terhadap berbagai istilah Islam yang sudah lama disepakati pemahamannya oleh kaum muslimin sejak dahulu kala. Akhirnya tersebarlah di tengah ummat Islam makna-makna asing lagi menyesatkan terhadap kata-kata seperti al-jihad fi sabilillah, rahmatan lil ‘aalamiin, dien, ‘ibadah, rabb dan ilah.
Alhasil dekadensi di dalam tubuh ummat Islam tidak hanya terjadi pada bab penegakkan hukum semata. Tetapi dekadensi di berbagai bidang lainnya turut menyempurnakan keruntuhan ‘izzul Islam wal muslimin (kemuliaan Islam dan kaum muslimin). Sehingga kaum kuffarpun akhirnya menikmati buah ketidak-loyalan kaum muslimin terhadap agama Allah ﺳﺒﺤﺎﻧﻪ ﻭ ﺗﻌﺎﻟﻰ dan sunnah Nabi Muhammad ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭ ﺳﻠﻢ . Maka mulailah babak paling kelam dalam sejarah Islam berlangsung.
Di babak ini kaum yahudi dan kaum nasrani (yang telah ter-yahudi-kan) sangat ingin
memastikan bahwa ummat manusia –apalagi ummat Islam- tidak pernah lagi boleh menengok ke belakang. Ummat Islam harus
diharamkan berfikir menghidupkan kembali ide Khilafah Islamiyyah. Sebab ia telah menjadi sejarah dan harus tetap tersimpan dalam lembaran sejarah semata. Sementara itu kaum kuffar selanjutnya leluasa mempersiapkan dunia dengan sebuah grand-design yang sudah lama mereka rencanakan berupa ide pembentukan sebuah sistem global tunggal bernama Novus Ordo Seclorum alias the New World Order (tatanan dunia baru). Bahkan secara lebih spesifik namun tersamar kaum yahudi telah mencanangkan bahwa NOS sesungguhnya dibangun dalam rangka menyambut kehadiran sang pemimpin yang mereka nanti-nantikan sejak lama yaitu si mata tunggal alias Ad-Dajjal. Oleh karenanya kita temukan beberapa statement dari para pemimpin mereka seperti misalnya:
Henry Kissinger : “…apa yang dinamakan terorisme di Amerika, tapi sebenarnya adalah kebangkitan Islam radikal terhadap dunia secular, dan terhadap dunia yang demokratis, atas nama pendirian kembali semacam Kekhalifahan.”
Pada tanggal 5 Oktober 2005, Menteri Dalam Negeri Inggris, Charles Clarke menyampaikan pidato tentang Perang Melawan Terorisme di The Heritage Foundation (sebuah pusat kajian neo konservatif di Washington DC ). Dimana dia menyatakan:
“Apa yang mendorong orang-orang itu adalah ide-ide. Dan berbeda dengan gerakan kebebasan di era pasca Perang Dunia II di banyak belahan dunia, ide-ide itu bukanlah untuk menggapai ide-ide politik seperti kemerdekaan nasional dari penjajahan, atau persamaan bagi semua penduduk tanpa membedakan suku dan keyakinan, atau kebebasan berekspresi tanpa tekanan totaliter. Ambisi-ambisi itu adalah, paling tidak secara prinsip, bisa dirundingkan dan dalam banyak hal telah dimusyawarahkan. Namun, tidak ada perundingan bagi pendirian kembali Khilafah ; tidak ada perundingan bagi penerapan Hukum Syariah; dan tidak ada perundingan tentang penindasan atas persamaan antara laki-laki dan perempuan; tidak ada perundingan untuk mengakhiri kebebasan berbicara. Nilai-nilai itu adalah sangat fundamental bagi peradaban kami dan tidak dimungkinkan adanya perundingan.”
Dalam pidatonya di awal bulan November 2005 George Bush Jr menyatakan bahwa kaum militant sedang berusaha untuk mendirikan sebuah “kekaisaran Islam radikal”:
“Ide membunuh dari kaum Islam radikal adalah tantangan yang besar di abad baru kita. Sama seperti ideology komunisme, musuh kita yang baru ini mengajarkan bahwa individu yang tidak berdosa bisa dikorbankan untuk bisa menjalankan visi politik. Kaum militan percaya bahwa mereka dapat menyatukan kaum muslimin dengan cara menguasai Negara, sehingga dengan cara itu mereka menumbangkan semua pemerintahan moderat di wilayah dan mendirikan sebuah
kekaisaran Islam yang membentang dari Spanyol hingga Indonesia.”
Sedangkan berkenaan dengan NOS, kita temukan suatu pernyataan dari Bush Senior di tahun 1991 yang ternyata dibuktikan sebaliknya pada dekade berikutnya. Pernyataannya di antaranya sebagai berikut:
“Until now, the world we’ve known has been a world divided – a world of barbed wire and concrete block, conflict and cold war.
Now, we can see a new world coming into view. A world in which there is the very real prospect of a new world order. In the words of Winston Churchill, a “world order” in which “the principles of justice and fair play … protect the weak against the strong …” A world where the United Nations, freed from cold war stalemate, is poised to fulfil the historic vision of its founders. A world in which freedom and respect for human rights find a home among all nations.
The Gulf war put this new world to its first test, and, my fellow Americans, we passed that test.”
Jelaslah bahwa para pendukung the New World Order memiliki agenda yang sangat berbeda –bertentangan lebih tepatnya- dengan kaum muslimin yang faham dan bangga akan sejarahnya. Tidak ada muslim-mukmin yang bisa melupakan masa lalunya. Sebab kendati
Khilafah Islamiyyah sudah tiada, namun karena ia telah berlangsung belasan abad sulit untuk begitu saja dilupakan. Sedangkan hegemoni Novus Ordo Seclorum alias Sistem Dajjal belum ada seabad. Dan para pengusung sistem batil ini masih berjuang keras memastikan dan memuluskan eksistensinya. Mereka sangat khawatir jika sebelum pemimpin mereka datang, yakni Ad-Dajjal, ummat Islam keburu bangun kembali dari tidur mereka dan bergerak bangkit mewujudkan kembali Khilafah Islamiyyah yang diyakini berlandaskan Kitabullah Al-Qur’anul Karim dan As-Sunnah An-Nabawiyyah.
Bagi muslim-mukmin yang sadar, maka urusan tegaknya kembali Khilafah Islamiyyah bukanlah sekedar mengenang kembali nostalgia masa lalu. Urusan ini berkaitan erat dengan iman dan keyakinan akan janji Allah ﺳﺒﺤﺎﻧﻪ ﻭ ﺗﻌﺎﻟﻰ yang tidak pernah berdusta serta prediksi Nabi Muhammad ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭ ﺳﻠﻢ mengenai skenario Akhir Zaman yang tidak pernah meleset. Betapapun tampak digdayanya kekuatan kaum kuffar barat, kaum yahudi-nasrani serta para antek kaki-tangan mereka dari sebagian kaum musyrikin dan munafikin yang telah berhasil mereka rekrut dengan kebijakan stick and carrot.
Urusan siapa yang Allah ﺳﺒﺤﺎﻧﻪ ﻭ ﺗﻌﺎﻟﻰ izinkan memimpin dunia adalah urusan giliran. Ada kalanya Allah ﺳﺒﺤﺎﻧﻪ ﻭ ﺗﻌﺎﻟﻰ percayakan kepada kaum beriman dan ada kalanya dipercayakan kepada kaum kuffar. Dewasa ini giliran sedang Allah ﺳﺒﺤﺎﻧﻪ ﻭ ﺗﻌﺎﻟﻰ serahkan kepada kaum kuffar. Ummat Islam wajib bersabar dan melipat-gandakan kesabaran. Kesabaran untuk terus menyempurnakan persiapan diri, keluarga dan ummat di berbagai bidang, sejak dari bina al-iman wa at-tauhid hingga
bina ad-da’wah wa al-jihad. Kesabaran untuk tidak mudah tergoda oleh rayuan pengusung NOS yang membujuk ummat Islam untuk memandang baik berkompromi dan kerja-sama dengan NOS guna memelihara nilai-nilai Sistem Dajjal. Kesabaran untuk tidak terjerembab ke dalam berbagai fitnah zaman yang telah meliputi segenap aspek kehidupan manusia. Fitnah yang telah meliputi aspek ideologi, politik, sosial, budaya, ekonomi, militer, pendidikan, hukum, kesehatan, informasi dan lain-lainnya.
Babak ini boleh jadi merupakan babak di mana ummat Islam sedang babak belur, tetapi ia bukan alasan untuk membiarkan diri mengembangkan defeated mentality (mental pecundang) sehingga kemenangan kaum kuffar sedemikian menyilaukan sehingga seorang muslim menggunakan kaedah if you can’t beat them, then you join them (jika kamu tidak dapat mengalahkan mereka, maka bergabung sajalah dengan mereka). Sehingga kita mendengar mereka yang sedemikian rupa tersilaukan melihat kedigdayaan kaum kuffar tega secara terang-terangan mengungkapkan hilangnya kepercayaan diri terhadap perlunya institusi Khilafah Islamiyyah. Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji”uun. Padahal Rasulullah ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭ ﺳﻠﻢ dengan jelas menyatakan bahwa sesudah babak yang penuh fitnah ini, niscaya Allah ﺳﺒﺤﺎﻧﻪ ﻭ ﺗﻌﺎﻟﻰ akan izinkan tegaknya kembali Khilafah Islamiyyah berdasarkan manhaj Kenabian. ﺗَﻜُﻮﻥُ ﺍﻟﻨُّﺒُﻮَّﺓُ ﻓِﻴﻜُﻢْ ﻣَﺎ ﺷَﺎﺀَ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﺃَﻥْ ﺗَﻜُﻮﻥَ ﺛُﻢَّ ﻳَﺮْﻓَﻌُﻬَﺎ ﺇِﺫَﺍ ﺷَﺎﺀَ ﺃَﻥْ ﻳَﺮْﻓَﻌَﻬَﺎ ﺛُﻢَّ ﺗَﻜُﻮﻥُ ﺧِﻠَﺎﻓَﺔٌ ﻋَﻠَﻰ ﻣِﻨْﻬَﺎﺝِ ﺍﻟﻨُّﺒُﻮَّﺓِ ﻓَﺘَﻜُﻮﻥُ ﻣَﺎ ﺷَﺎﺀَ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﺃَﻥْ ﺗَﻜُﻮﻥَ ﺛُﻢَّ ﻳَﺮْﻓَﻌُﻬَﺎ ﺇِﺫَﺍ ﺷَﺎﺀَ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﺃَﻥْ ﻳَﺮْﻓَﻌَﻬَﺎ ﺛُﻢَّ ﺗَﻜُﻮﻥُ ﻣُﻠْﻜًﺎ ﻋَﺎﺿًّﺎ ﻓَﻴَﻜُﻮﻥُ ﻣَﺎ ﺷَﺎﺀَ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﺃَﻥْ ﻳَﻜُﻮﻥَ ﺛُﻢَّ ﻳَﺮْﻓَﻌُﻬَﺎ ﺇِﺫَﺍ ﺷَﺎﺀَ ﺃَﻥْ ﻳَﺮْﻓَﻌَﻬَﺎ ﺛُﻢَّ ﺗَﻜُﻮﻥُ ﻣُﻠْﻜًﺎ ﺟَﺒْﺮِﻳَّﺔً ﻓَﺘَﻜُﻮﻥُ ﻣَﺎ ﺷَﺎﺀَ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﺃَﻥْ ﺗَﻜُﻮﻥَ ﺛُﻢَّ ﻳَﺮْﻓَﻌُﻬَﺎ ﺇِﺫَﺍ ﺷَﺎﺀَ ﺃَﻥْ ﻳَﺮْﻓَﻌَﻬَﺎ ﺛُﻢَّ ﺗَﻜُﻮﻥُ ﺧِﻠَﺎﻓَﺔً ﻋَﻠَﻰ ﻣِﻨْﻬَﺎﺝِ ﺍﻟﻨُّﺒُﻮَّﺓِ ﺛُﻢَّ ﺳَﻜَﺖَ ”Akan berlangsung nubuwwah (kenabian) di tengah-tengah kalian selama kurun waktu tertentu yang Allah kehendaki lalu Dia mengangkatnya (berakhir) bila Dia menghendaki untuk mengakhirinya. Kemudian berlangsung khilafah menurut manhaj kenabian selama kurun waktu tertentu yang Allah kehendaki lalu Dia mengangkatnya bila Dia menghendaki untuk mengakhirinya Kemudian berlangsung
para Mulkan ‘Aadhdhon (para penguasa yang menggigit) selama kurun waktu tertentu yang Allah kehendaki lalu Dia mengangkatnya bila Dia menghendaki untuk mengakhirinya Kemudian berlangsung
kepemimpinan Mulkan Jabbriyyan (para penguasa yang memaksakan kehendak) selama kurun waktu tertentu yang Allah kehendaki lalu Dia mengangkatnya bila Dia menghendaki untuk mengakhirinya Kemudian akan berelangsung kembali khilafah menurut manhaj kenabian . Kemudian beliau berhenti”. (AHMAD – 17680)
Boleh jadi Allah ﺳﺒﺤﺎﻧﻪ ﻭ ﺗﻌﺎﻟﻰ tidak izinkan kita mengalami hidup di bawah naungan Khilafah Islamiyyah. Yang paling penting ialah memastikan diri dan keluarga kita menjadi bagian dari ummat islam yang dipercaya Allah ﺳﺒﺤﺎﻧﻪ ﻭ ﺗﻌﺎﻟﻰ untuk turut serta mempersiapkan dan memperjuangkannya di atas jalan yang lurus dan benar. Bukan malah menjadi bagian dari mereka yang justeru turut melestarikan dan memandang final The New World Order yang sejatinya merupakan Sistem Dajjal dalam rangka menyambut kedatangan si puncak fitnah, yakni Ad-Dajjal. Wa na’udzu billaahi min dzaalika…!
Rabu, 19 Juli 2017
Membangun mental Pengusaha
(Seri 1)
*Lalu untuk alasan apa perlunya menghemat pakan dalam usaha peternakan?*
*Masihkah anda berpikir untuk menghemat biaya untuk pakan?*
Sekian dan untuk karakter lain nantikan pada bahasan lain.
Wassalamu’alaikum Wr. Wb.
Jombang, 19 Juli 2017
ttd
*Faishal Ishaq*
ttd
*Faishal Ishaq*
Mau gabung di grup
*Petani & Peternak Organik*
Oleh *Naturaid Centre*
Faishal Ishaq
WA +6285330939999
*Petani & Peternak Organik*
Oleh *Naturaid Centre*
Faishal Ishaq
WA +6285330939999
Sabtu, 08 Juli 2017
Minggu, 02 Juli 2017
VIDEO INTOLERANSI POLISI.
SEORANG PEMELUK KATHOLIK MEMPROTES VIDEO INTOLERANSI POLISI.
FRANSISKUS WIDODO ; “SAYA KATHOLIK, KAMI TIDAK INGIN DIBENTURKAN, KENAPA POLISI MALAH MENGADU DOMBA MASYARAKAT???"
Seperti sebelumnya, kali ini seorang umat nasrani Katholik bernama Fransiskus Widodo ikut bersuara melalui akunnya @bengkeldodo yang merasa jika video intoleransi yang dishare oleh akun milik kepolisian @divhumaspolri sangat tendensius.
Video yang menggambarkan pada sebuah adegan dimana salah satu keluarga korban yang berada di dalam ambulance yang sedang berdoa sambil memegang kalung salib mirip dengan kalung milik umat Katholik, rosario, di protes oleh Widodo.
Widodo menumpahkan kekesalannya kepada video yang dimenangkan dalam lomba pembuatan video yang diselenggarakan oleh Kepolisian RI. Kekesalannya ditulis secara bersambung dalam akun twitternya, @bengkeldodo.
1. Sebagai umat Katholik saya menolak tegas visualisasi pasien dalam ambulan mengunakan kalung salib, kami tak ingin dibenturkan
2. Justru dalam pengalaman hidup kami berdampingan denga saudara2 muslim dan kami saling tolong menolong.
3. Tidak pernah saya temui hal di dunia nyata seperti apa yang di tampilkan dlm video pendek itu.
4. Saya sebagai umat Katholik menolak sangat sangat tegas simbol2 keagamaan kami digunakan sebagai pemicu kontroversi.
5. Saya bertetangga dengan muslim, kami mengutamakan hati dalam bermasyarakat dalam kebersamaan.
6. Saya sebagai pemeluk agama Katholik saja merasakan bahwa video itu sangat menyudutkan saudara2ku umat muslim.
7. Sehingga saya menolak tegas, gambaran pasien dalam ambulan yg mengunakan kalung salib.
8. Saya rasakan lebih banyak efek negatif dari pada positif dari yg didapat dari video tersebut.
9. Saya harapkan tidak ada lagi hal” yg mengunakan atribut” keagamaan yang dapat memicu kontroversi.
10 . Teriring salam damai bagi saudaraku umat Islam, salam sejahtera bagi seluruh umat beragama apapun di Indonesia.
11. Mari terus jaga kerukunan yg telah kita bina, Indonesia besar karna perbedaan,bukan karna keseragaman.
12. Kami menjaga agar tidak saling menyakiti dalam sikap maupun ucapan… terima kasih.
Postingan milik Widodo ini di share dan apresiasi oleh akun twitter lainnya, bahkan tidak sedikit yang memuji sikap Widodo yang dianggap sudah ikut membela tentang video tersebut hanyalah sebuah langkah untuk membuat perpecahan.
(Jall)
Naskah Full Khotbah Idul Fitri di Gunungkidul yang Menjadi Viral
Inilah Naskah Full Khotbah Idul Fitri di Gunungkidul yang Menjadi Viral
Inilah naskah full Khotbah Idul Fitri yang menjadi #viral yang dilaksanakan di Lapangan Pemda Alun-alun Wonosari Gunungkidul
Pelaksanaan:
Ahad, 1 Syawal 1438 H / 25 Juni 2017
Tempat: Lapangan Alun2 Pemda Wonosari
Waktu: Pukul 06.30 WIB – selesai
Judul: Persatuan dan kesatuan Indonesia
Oleh: Ustadz Dr. H. Muhammad Ichsan Lc, MA ( Dosen UMY)
====================================
Ma’ashiral muslimin dan muslimat hafizakumullah. Pagi hari ini, kita umat Islam bergembira menyambut hari raya Idul Fitri. Pagi hari ini, kita bersyukur kepada Allah ta’ala karena berkat taufik dan hidayahnya kita dapat menyempurnakan ibadah puasa dan serangkaian ibadah-ibadah lainnya di bulan Ramadan yang baru saja meninggalkan kita untuk selama-lamanya. Pagi ini kita memuji Allah, memuliakan Allah, mengagungkan Allah, antara lain dengan salat hari raya Idul Fitri dan meluangkan takbir: Allah Akbar, Allah Akbar.
Alangkah indahnya hari ini. Alangkah mulianya hari ini. Alangkah gembiranya kita pada hari ini, karena sebulan penuh kita telah dibina dan dididik dalam madrasah Ramadan. Diharapkan, pendidikan dan pengajaran yang kita peroleh pada bulan Ramadan tersebut dapat kita jadikan sebagai bekal untuk menjadi umat yang besar lagi bermartabat.
Para hadiri dan hadirat rahimakumullah.
Marilah kita bersyukur kepada Allah. Sadar atau tidak sadar, bangsa Indonesia yang kita cintai ini dikaruniai Allah dengan berbagai macam anugerah. Mulai dari pulau yang banyak jumlahnya, tanah yang subur, iklim yang tidak ekstrim, hingga suku bangsa, bahasa, budaya, dan agama yang berbeda-beda. Dengan kurnia Allah ta’ala semua itu dapat disatukan olehfounding fathers atau pendiri bangsa kita, sehingga menjadi satu bangsa yaitu bangsa Indonesia, menjadi satu negara yaitu Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Nenek moyang kita, para pendiri dan pahlawan bangsa, telah berkorban dengan keringat mereka, darah mereka, harta mereka dan bahkan dengan jiwa raga mereka untuk mempersatukan bangsa ini dan memerdekakannya dari para penjajah yang telah merampas kemerdekaan kita berabad-abad lamanya.
Sesudah merdeka, kita bangsa Indonesia, menikmati hasil perjuangan, pengorbanan dan keringat serta darah para pahlawan tersebut. Kita menghirup udara bebas dan berusaha membangun kembali bangsa itu dari kebodohan, kemiskinan, dan keterpurukan dalam berbagai bidang. Presiden demi presiden silih berganti memimpin negeri ini. Pemerintah demi pemerintah bertukar, kita tetap hidup aman, damai, tenteram, dan sentosa sebagai sebuah bangsa yang besar. Namun sayangnya, banyak orang merasakan, selama ini kita belum pernah khawatir terhadap persatuan bangsa ini sebagaimana (terjadi) dalam rezim ini. Selama ini kita belum pernah cemas terhadap kesatuan negara ini seperti dalam pemerintahan ini. Hal ini karena nikmat persatuan dan kesatuan bangsa ini beberapa waktu yang lalu hampir terkoyak dengan kasus penistaan agama yang dilakukan oleh Gubernur Jakarta sewaktu itu. Keadaan tersebut diperparah dengan adanya pesta demokrasi yaitu Pilkada Jakarta.
Masyarakat terpecah menjadi dua, pendukung Ahok atau Ahokers, dan masyarakat yang menghendaki supaya Ahok dihukum seberat-beratnya karena menistakan agama. Meskipun yang anti Ahok banyak sekali jumlahnya, baik dari Jakarta maupun luar Jakarta, namun karena Ahok jelas-jelas didukung oleh para taipan, partai pemerintah dan Polri, maka terjadilah perlawanan yang seru. Aksi Bela Islam 411 dan 212 adalah buktinya. Belum pernah terjadi dalam sejarah Indonesia, umat Islam berkumpul di suatu tempat sebanyak 7 juta orang lebih dalam aksi super damai untuk menuntut ditegakkannya hukum terhadap penista agama.
Kaum muslimin dan muslimat yang dimuliakan Allah.
Meskipun Ahok telah divonis bersalah dalam kasus penistaan agama, dan telah kalah dalam Pilkada Jakarta, namun kegaduhan nasional masih terasa. Luka permusuhan dan perpecahan masyarakat masih menganga. Apalagi dua tahun lagi suasana akan semakin memanas lagi dengan adanya Pemilu. Hingga hari ini masih ada usaha-usaha membenturkan umat Islam dengan dengan Pancasila. Umat Islam yang berbeda pendapat dengan pemerintah dan penegak hukum dianggap anti-pancasila, anti-bhineka tunggal ika dan anti-NKRI. Masih ada pembunuhan karakter terhadap tokoh-tokoh Islam, meskipun selalu dinafikan dan dibantah. Masih terasa hukum selalu tajam terhadap ulama, tokoh, dan aktivis Islam, dan terhadap umat Islam pada umumnya, tapi tumpul terhadap Ahok dan para pendukungnya.
Sebagai contoh, ketika Aksi Bela Islam 212 masih berdemo setelah maghrib mereka langsung dibubarkan secara paksa dengan gas air mata, sementara para pendukung Ahok dibiarkan berdemo sampai larut malam di depan LP Cipinang. Ketika bendera kita ditulis kalimah laa ilaaha illallah, penulisnya langsung diciduk, sementara bendera mereka sering ditulisi tulisan-tulisan lain tapi dibiarkan. Ketika akan berdemo sebagian tokoh Islam ditangkap dengan tuduhan makar, sementara yang terang-terang akan makar di Papua atau memakai atribut PKI yang terlarang justru dibiarkan bebas.
Kaum muslimin dan muslimathafizakumullah.
Sekarang adalah era keterbukaan. Masyarakat hari ini sudah cerdas. Masyarakat hari ini susah untuk dibohongi. Jika pemerintah korup dan bertindak sewenang-wenang, pasti mereka mengetahuinya. Jika penegak hukum tidak adil dan tebang pilih, pasti mereka merasakannya. Meskipun pemerintah dan penegak hukum pandai menyulap fakta, memelintir kata dan membuat rekayasa, pasti rakyat akan menyadarinya. Meskipun media massa, baik cetak maupun elektronik, dikuasai oleh para taipan dan konglomerat, umat Islam masih mempunyai senjata lain yaitu medsos atau media sosial. Umat Islam dipimpin oleh para ulama dan aktivis Islam akan bergerak dengan satu kata, lawan! Lawan kezaliman! Lawan kebohongan! Lawan pembodohan!
Allah Akbar, Allah Akbar, laa ilaaha illallah, Wallah akbar, Allah akbar, Wa lillahil hamd.
Kaum muslimin dan muslimat yang dimuliakan Allah.
Apakah kebencian antara sesama masyarakat akan kita biarkan? Apakah permusuhan antara pemerintah dan rakyat akan kita biarkan? Apakah permusuhan antara pemerintah dan rakyat akan kita diamkan? Apakah boleh perpecahan antara umat kita biarkan? Tidak! Kita tidak boleh membiarkannya! Sungguh kita tidak boleh membiarkannya! Karena kita di Indonesia ini bersaudara. Kita adalah saudara sebangsa. Kita adalah saudara sesama manusia. Lebih dari itu, kebanyakan kita adalah saudara seagama.
Orang-orang yang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah supaya kamu mendapat rahmat (QS. Al-Hujurat ayat 10).
Kaum Muslimin dan Muslimat hafizakumullah.
Jangan pertanyakan kecintaan umat Islam terhadap Indonesia. Jangan ragukan betapa umat Islam sangat cinta kepada agamanya, tanah airnya, bangsanya, negerinya, budayanya. Jangan ragukan betapa umat Islam sangat cinta kepada persatuan, perdamaian, dan keamanan. Sejarah membuktikan demi kemerdekaan Indonesia, umat Islam bangun mengorbankan jiwa raganya melawan penjajah. Demi persatuan dan kesatuan Indonesia, umat Islam membuang 7 kata sakti dalam Piagam Jakarta. Demi menjaga NKRI dan merangkul umat lainnya, umat Islam mau menerima pancasila sebagai dasar negara.
Maka sungguh menyakitkan tuduhan-tuduhan yang mengatakan bahwa kita umat Islam anti-pancasila, anti-NKRI, anti-kebinekaan, radikal dan teroris. Bagaimana umat Islam anti-pancasila sementara pancasila adalah hadiah umat Islam untuk bangsa ini? Apakah berbeda pendapat dengan presiden bisa dianggap anti-pancasila? Apakah berbeda pendapat dengan pemerintah bisa disebut anti-NKRI? Apakah berbeda pendapat dengan penegak hukum bisa dituduh anti-kebinekaan?
Tuduhan-tuduhan ini menyakitkan. Tuduhan-tuduhan ini membangkitkan amarah. Tuduhan-tuduhan ini memicu perpecahan. Marilah kita akhiri kegaduhan nasional ini. Marilah kita akhiri kebencian ini. Marilah kita akhiri permusuhan ini. Sungguh masyarakat yang gaduh, saling membenci dan bermusuhan tidak akan bisa membangun, tidak akan bisa maju, tidak akan mampu bersaing di era persaingan ketat antara negara-negara dunia seperti sekarang ini. Berpecah belah itu mudah. Bersatu padu itu susah. Oleh karena itu, persatuan itu mahal harganya. Persatuan itu perlu diusahakan. Persatuan itu perlu dijaga. Bersatu padu itu adalah perintah Allah dan bercerai berai itu adalah larangan Allah.
“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara, dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayatNya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk”. (QS. Ali Imran ayat 103)
Kaum muslimin dan muslimat yang dimuliakan Allah.
Marilah kita sadari dengan sesadar-sadarnya, Indonesia adalah rumah besar kita. Di dalamnya ada orang Jawa, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Papua dan lainnya. Di dalamnya ada penduduk beragama Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Budha, dan Konghucu. Di dalamnya ada beragam bahasa, adat istiadat, dan kebudayaan. Keragaman dan perbedaan ini marilah kita rawat agar menjadi nada simfoni yang harmonis dan saling melengkapi. Keragaman dan perbedaan ini marilah kita pelihara agar menjadi aneka bunga di taman yang indah. Keragaman dan perbedaan ini jangan dimusuhi dan jangan dijadikan sebagai sumber permusuhan.
Hal terpenting untuk merawat keragaman dan perbedaan ini ialah hendaknya kita semua saling menghormati, saling menghargai dan menjaga diri dari fitnah,namimah atau adu domba, hasad, ujaran kebencian, penghinaan, dan kata-kata keji serta caci maki, baik secara langsung maupun media sosial. Selain itu, hukum harus ditegakkan dengan seadil-adilnya. Hukum harus menjadi panglima. Hukum harus ditaati baik oleh rakyat maupun penegak hukum itu sendiri. Pemerintah dan penegak hukum hendaknya berlaku adil terhadap seluruh masyarakat dan tidak tebang pilih. Seharusnya sudah tidak ada lagi kriminalisasi dan pembunuhan karakter terhadap para ulama dan aktivitas Islam. Semestinya sudah tidak boleh ada lagi tuduhan semena-mena terhadap umat Islam bahwa mereka makar, radikal, teroris, anti-Pancasila, anti-NKRI dan anti-kebinekaan.
Kaum muslimin dan muslimat rahimakumullah.
Kita tidak ingin apa yang terjadi di Timur Tengah terjadi di Indonesia. Kita tidak ingin Indonesia berperang sesama sendiri dan terpecah belah menjadi negara-negara kecil yang mudah dikuasai asing dan aseng. Justru kita bangsa Indonesia sebagai bangsa dan umat Islam besar dunia, seharusnya menjadi contoh dan teladan untuk negara-negara lainnya. Kita adalah bangsa besar yang seharusnya dikagumi oleh bangsa-bangsa lain, karena melaksanakan prinsip-prinsip toleransi dan keadilan dalam kebinekaan.
Hal ini senada dengan lirik lagu Indonesia Pusaka berikut:
Indonesia tanah air beda
Pusaka abadi nan jaya
Indonesia sejak dulu kala
Tetap dipuja-puja bangsa
Di sana tempat lahir beta
Dibuai dibesarkan bunda
Tempat berlindung di hari tua
Sampai akhir menutup mata
Marilah kita bersatu padu menjadikan Indonesia ini sebagai negeri makmur yang diridai Allah ta’ala. Marilah kita pelihara persatuan dan kesatuan Indonesia agar menjadi “baldatun toyyibatun wa rabbun ghafur”.
Hiduplah negeriku, hiduplah bangsaku, hiduplah Indonesia!
Allah akbar, Allah akbar. Laa ilaaha illalLah. Wallah akbar. Allah akbar. Wa lilLahil hamd.
Kaum muslimin dan muslimat hafizakumullah.
Pagi ini kita boleh bergembira, tapi ingatlah bahwa di antara sanak keluarga kita atau sahabat kita sekarang ini ada yang sedang menderita. Pagi ini kita boleh bersuka ria, tapi ketahuilah bahwa di antara tetangga atau masyarakat kita hari ini banyak yang sedang sengsara. Pagi ini kita boleh tersenyum bahagia, tapi sadarilah bahwa umat Islam di seluruh pelosok dunia masih dalam kondisi yang memprihatinkan. Saudara-saudara kita di Palestina, Syria, selatan Thailand, selatan Filipina, dan Myanmar masih memerlukan bantuan dan solidaritas kita. Sungguh saudara-saudara kita di Gazza dan Rohingya sekarang ini memerlukan uluran tangan kita semua.
Bergembiralah, bersukarialah dan berhiburlah sekedarnya, tanpa melampaui batas dan melanggar tuntutan agama. Pergunakanlah peluang Hari Raya ini untuk mencapai keridaan Allah dengan mengunjungi kedua ibu bapak, sanak keluarga, jiran tetangga, para sahabat dan rekan-rekan. Pereratkan silaturrahim dan marilah kita saling memaaf-maafkan. Hiburlah mereka yang kini sedang menderita. Santunilah anak-anak yatim, kaum fakir miskin, para janda,ibnu sabil dan mereka yang menyambut hari raya kali ini dalam keadaan daif lagi susah. Hargailah warga tua. Hormatilah jiran tetangga. Perkokohkan persaudaraan dan perpaduan. Jadilah umat yang mursali lagi penyayang. Umat yang dikagumi lagi diperhitungkan.
Akhirnya wahai kaum muslimin dan muslimat sekalian, marilah kita sama-sama berdoa kepada Allah, semoga kehidupan kita di dunia ini semakin baik dan berkualitas, dan kelak kita dipanggil menghadap Allah dalam keadaanhusnul khatimah. Ya Allah Yang Maha Pengampun lagi Maha Pemaaf, kami adalah hamba-hambaMu yang banyak membuat dosa. Bahkan kami adalah hamba-hambaMu yang bangga dengan dosa-dosa dan senantiasa bandel dan menangguhkan taubat. Kini kami mengakui segala dosa-dosa kami. Kini kami menghalalkan hati kami menengadahkan tangan kami. Memanjatkan doa kami untuk memohon keampunan-Mu. Oleh karena itu, ya Allah, ampunkanlah dosa-dosa kami, maafkanlah keterlanjuran kami dan terimalah taubat kami.
Ya Allah Yang Maha Menyatukan hati, sucikanlah hati kami, terangilah hati kami, dan rukunkanlah di antara hati kami. Kokohkanlah persatuan kami, perbaikilah hubungan di antara kami. Jadikalah kami kumpulan anak muda yang menghormati orang tua, dan kumpulan orang tua yang menyayangi anak muda. Jadikanlah kami penduduk negeri yang saling menghormati, menyayangi dan bertoleransi.
Ya Allah Yang Maha memelihara sesama jiwa, peliharalah kami dari benih-benih kebencian, kedengkian dan perpecahan. Hindarkan kami dari kezaliman, kefasikan, dan kemunafikan. Dan jauhkan kami daripada sifat sombong, kasar dan sifat-sifat tercela lainnya.
Ya Allah Yang Maha Bijaksana, kurniakan kepada kami pemimpin-pemimpin negeri yang takut kepadaMu dan menyayangi kami. Pemimpin-pemimpin yang membawa kami kepada kesejahteraan duniawi dan menunjukkan kepada kami jalan menuju sorgaMu. Pemimpin-pemimpin yang bekerja untuk masalahat kami dan kebahagian kami dan bekerja untuk menggapai kasih sayangMu.
Ya Allah Yang Maha Pengasih tiada pilih kasih. Maha Penyayang sayangNya tiada terbilang, berilah kami jalan keluar bagi semua krisis dan masalah yang membelenggu kami. Angkatlah kami dari keterpurukan, kemiskinan, dan kebodohan. Peliharalah kami dari segala maksiat terhadapMu.
Ya Allah yang mendengar rintihan hamba lemah teraniaya, yang menyambut orang berdosa apabila kembali dengan taubatnya, yang mengijabah segala doa hambaNya, kabulkanlah doa kami. Perkenankanlah permohonan kami. Penuhilah harapan kami.
Pelaksanaan:
Ahad, 1 Syawal 1438 H / 25 Juni 2017
Tempat: Lapangan Alun2 Pemda Wonosari
Waktu: Pukul 06.30 WIB – selesai
Judul: Persatuan dan kesatuan Indonesia
Oleh: Ustadz Dr. H. Muhammad Ichsan Lc, MA ( Dosen UMY)
====================================
Ma’ashiral muslimin dan muslimat hafizakumullah. Pagi hari ini, kita umat Islam bergembira menyambut hari raya Idul Fitri. Pagi hari ini, kita bersyukur kepada Allah ta’ala karena berkat taufik dan hidayahnya kita dapat menyempurnakan ibadah puasa dan serangkaian ibadah-ibadah lainnya di bulan Ramadan yang baru saja meninggalkan kita untuk selama-lamanya. Pagi ini kita memuji Allah, memuliakan Allah, mengagungkan Allah, antara lain dengan salat hari raya Idul Fitri dan meluangkan takbir: Allah Akbar, Allah Akbar.
Alangkah indahnya hari ini. Alangkah mulianya hari ini. Alangkah gembiranya kita pada hari ini, karena sebulan penuh kita telah dibina dan dididik dalam madrasah Ramadan. Diharapkan, pendidikan dan pengajaran yang kita peroleh pada bulan Ramadan tersebut dapat kita jadikan sebagai bekal untuk menjadi umat yang besar lagi bermartabat.
Para hadiri dan hadirat rahimakumullah.
Marilah kita bersyukur kepada Allah. Sadar atau tidak sadar, bangsa Indonesia yang kita cintai ini dikaruniai Allah dengan berbagai macam anugerah. Mulai dari pulau yang banyak jumlahnya, tanah yang subur, iklim yang tidak ekstrim, hingga suku bangsa, bahasa, budaya, dan agama yang berbeda-beda. Dengan kurnia Allah ta’ala semua itu dapat disatukan olehfounding fathers atau pendiri bangsa kita, sehingga menjadi satu bangsa yaitu bangsa Indonesia, menjadi satu negara yaitu Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Nenek moyang kita, para pendiri dan pahlawan bangsa, telah berkorban dengan keringat mereka, darah mereka, harta mereka dan bahkan dengan jiwa raga mereka untuk mempersatukan bangsa ini dan memerdekakannya dari para penjajah yang telah merampas kemerdekaan kita berabad-abad lamanya.
Sesudah merdeka, kita bangsa Indonesia, menikmati hasil perjuangan, pengorbanan dan keringat serta darah para pahlawan tersebut. Kita menghirup udara bebas dan berusaha membangun kembali bangsa itu dari kebodohan, kemiskinan, dan keterpurukan dalam berbagai bidang. Presiden demi presiden silih berganti memimpin negeri ini. Pemerintah demi pemerintah bertukar, kita tetap hidup aman, damai, tenteram, dan sentosa sebagai sebuah bangsa yang besar. Namun sayangnya, banyak orang merasakan, selama ini kita belum pernah khawatir terhadap persatuan bangsa ini sebagaimana (terjadi) dalam rezim ini. Selama ini kita belum pernah cemas terhadap kesatuan negara ini seperti dalam pemerintahan ini. Hal ini karena nikmat persatuan dan kesatuan bangsa ini beberapa waktu yang lalu hampir terkoyak dengan kasus penistaan agama yang dilakukan oleh Gubernur Jakarta sewaktu itu. Keadaan tersebut diperparah dengan adanya pesta demokrasi yaitu Pilkada Jakarta.
Masyarakat terpecah menjadi dua, pendukung Ahok atau Ahokers, dan masyarakat yang menghendaki supaya Ahok dihukum seberat-beratnya karena menistakan agama. Meskipun yang anti Ahok banyak sekali jumlahnya, baik dari Jakarta maupun luar Jakarta, namun karena Ahok jelas-jelas didukung oleh para taipan, partai pemerintah dan Polri, maka terjadilah perlawanan yang seru. Aksi Bela Islam 411 dan 212 adalah buktinya. Belum pernah terjadi dalam sejarah Indonesia, umat Islam berkumpul di suatu tempat sebanyak 7 juta orang lebih dalam aksi super damai untuk menuntut ditegakkannya hukum terhadap penista agama.
Kaum muslimin dan muslimat yang dimuliakan Allah.
Meskipun Ahok telah divonis bersalah dalam kasus penistaan agama, dan telah kalah dalam Pilkada Jakarta, namun kegaduhan nasional masih terasa. Luka permusuhan dan perpecahan masyarakat masih menganga. Apalagi dua tahun lagi suasana akan semakin memanas lagi dengan adanya Pemilu. Hingga hari ini masih ada usaha-usaha membenturkan umat Islam dengan dengan Pancasila. Umat Islam yang berbeda pendapat dengan pemerintah dan penegak hukum dianggap anti-pancasila, anti-bhineka tunggal ika dan anti-NKRI. Masih ada pembunuhan karakter terhadap tokoh-tokoh Islam, meskipun selalu dinafikan dan dibantah. Masih terasa hukum selalu tajam terhadap ulama, tokoh, dan aktivis Islam, dan terhadap umat Islam pada umumnya, tapi tumpul terhadap Ahok dan para pendukungnya.
Sebagai contoh, ketika Aksi Bela Islam 212 masih berdemo setelah maghrib mereka langsung dibubarkan secara paksa dengan gas air mata, sementara para pendukung Ahok dibiarkan berdemo sampai larut malam di depan LP Cipinang. Ketika bendera kita ditulis kalimah laa ilaaha illallah, penulisnya langsung diciduk, sementara bendera mereka sering ditulisi tulisan-tulisan lain tapi dibiarkan. Ketika akan berdemo sebagian tokoh Islam ditangkap dengan tuduhan makar, sementara yang terang-terang akan makar di Papua atau memakai atribut PKI yang terlarang justru dibiarkan bebas.
Kaum muslimin dan muslimathafizakumullah.
Sekarang adalah era keterbukaan. Masyarakat hari ini sudah cerdas. Masyarakat hari ini susah untuk dibohongi. Jika pemerintah korup dan bertindak sewenang-wenang, pasti mereka mengetahuinya. Jika penegak hukum tidak adil dan tebang pilih, pasti mereka merasakannya. Meskipun pemerintah dan penegak hukum pandai menyulap fakta, memelintir kata dan membuat rekayasa, pasti rakyat akan menyadarinya. Meskipun media massa, baik cetak maupun elektronik, dikuasai oleh para taipan dan konglomerat, umat Islam masih mempunyai senjata lain yaitu medsos atau media sosial. Umat Islam dipimpin oleh para ulama dan aktivis Islam akan bergerak dengan satu kata, lawan! Lawan kezaliman! Lawan kebohongan! Lawan pembodohan!
Allah Akbar, Allah Akbar, laa ilaaha illallah, Wallah akbar, Allah akbar, Wa lillahil hamd.
Kaum muslimin dan muslimat yang dimuliakan Allah.
Apakah kebencian antara sesama masyarakat akan kita biarkan? Apakah permusuhan antara pemerintah dan rakyat akan kita biarkan? Apakah permusuhan antara pemerintah dan rakyat akan kita diamkan? Apakah boleh perpecahan antara umat kita biarkan? Tidak! Kita tidak boleh membiarkannya! Sungguh kita tidak boleh membiarkannya! Karena kita di Indonesia ini bersaudara. Kita adalah saudara sebangsa. Kita adalah saudara sesama manusia. Lebih dari itu, kebanyakan kita adalah saudara seagama.
Orang-orang yang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah supaya kamu mendapat rahmat (QS. Al-Hujurat ayat 10).
Kaum Muslimin dan Muslimat hafizakumullah.
Jangan pertanyakan kecintaan umat Islam terhadap Indonesia. Jangan ragukan betapa umat Islam sangat cinta kepada agamanya, tanah airnya, bangsanya, negerinya, budayanya. Jangan ragukan betapa umat Islam sangat cinta kepada persatuan, perdamaian, dan keamanan. Sejarah membuktikan demi kemerdekaan Indonesia, umat Islam bangun mengorbankan jiwa raganya melawan penjajah. Demi persatuan dan kesatuan Indonesia, umat Islam membuang 7 kata sakti dalam Piagam Jakarta. Demi menjaga NKRI dan merangkul umat lainnya, umat Islam mau menerima pancasila sebagai dasar negara.
Maka sungguh menyakitkan tuduhan-tuduhan yang mengatakan bahwa kita umat Islam anti-pancasila, anti-NKRI, anti-kebinekaan, radikal dan teroris. Bagaimana umat Islam anti-pancasila sementara pancasila adalah hadiah umat Islam untuk bangsa ini? Apakah berbeda pendapat dengan presiden bisa dianggap anti-pancasila? Apakah berbeda pendapat dengan pemerintah bisa disebut anti-NKRI? Apakah berbeda pendapat dengan penegak hukum bisa dituduh anti-kebinekaan?
Tuduhan-tuduhan ini menyakitkan. Tuduhan-tuduhan ini membangkitkan amarah. Tuduhan-tuduhan ini memicu perpecahan. Marilah kita akhiri kegaduhan nasional ini. Marilah kita akhiri kebencian ini. Marilah kita akhiri permusuhan ini. Sungguh masyarakat yang gaduh, saling membenci dan bermusuhan tidak akan bisa membangun, tidak akan bisa maju, tidak akan mampu bersaing di era persaingan ketat antara negara-negara dunia seperti sekarang ini. Berpecah belah itu mudah. Bersatu padu itu susah. Oleh karena itu, persatuan itu mahal harganya. Persatuan itu perlu diusahakan. Persatuan itu perlu dijaga. Bersatu padu itu adalah perintah Allah dan bercerai berai itu adalah larangan Allah.
“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara, dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayatNya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk”. (QS. Ali Imran ayat 103)
Kaum muslimin dan muslimat yang dimuliakan Allah.
Marilah kita sadari dengan sesadar-sadarnya, Indonesia adalah rumah besar kita. Di dalamnya ada orang Jawa, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Papua dan lainnya. Di dalamnya ada penduduk beragama Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Budha, dan Konghucu. Di dalamnya ada beragam bahasa, adat istiadat, dan kebudayaan. Keragaman dan perbedaan ini marilah kita rawat agar menjadi nada simfoni yang harmonis dan saling melengkapi. Keragaman dan perbedaan ini marilah kita pelihara agar menjadi aneka bunga di taman yang indah. Keragaman dan perbedaan ini jangan dimusuhi dan jangan dijadikan sebagai sumber permusuhan.
Hal terpenting untuk merawat keragaman dan perbedaan ini ialah hendaknya kita semua saling menghormati, saling menghargai dan menjaga diri dari fitnah,namimah atau adu domba, hasad, ujaran kebencian, penghinaan, dan kata-kata keji serta caci maki, baik secara langsung maupun media sosial. Selain itu, hukum harus ditegakkan dengan seadil-adilnya. Hukum harus menjadi panglima. Hukum harus ditaati baik oleh rakyat maupun penegak hukum itu sendiri. Pemerintah dan penegak hukum hendaknya berlaku adil terhadap seluruh masyarakat dan tidak tebang pilih. Seharusnya sudah tidak ada lagi kriminalisasi dan pembunuhan karakter terhadap para ulama dan aktivitas Islam. Semestinya sudah tidak boleh ada lagi tuduhan semena-mena terhadap umat Islam bahwa mereka makar, radikal, teroris, anti-Pancasila, anti-NKRI dan anti-kebinekaan.
Kaum muslimin dan muslimat rahimakumullah.
Kita tidak ingin apa yang terjadi di Timur Tengah terjadi di Indonesia. Kita tidak ingin Indonesia berperang sesama sendiri dan terpecah belah menjadi negara-negara kecil yang mudah dikuasai asing dan aseng. Justru kita bangsa Indonesia sebagai bangsa dan umat Islam besar dunia, seharusnya menjadi contoh dan teladan untuk negara-negara lainnya. Kita adalah bangsa besar yang seharusnya dikagumi oleh bangsa-bangsa lain, karena melaksanakan prinsip-prinsip toleransi dan keadilan dalam kebinekaan.
Hal ini senada dengan lirik lagu Indonesia Pusaka berikut:
Indonesia tanah air beda
Pusaka abadi nan jaya
Indonesia sejak dulu kala
Tetap dipuja-puja bangsa
Di sana tempat lahir beta
Dibuai dibesarkan bunda
Tempat berlindung di hari tua
Sampai akhir menutup mata
Marilah kita bersatu padu menjadikan Indonesia ini sebagai negeri makmur yang diridai Allah ta’ala. Marilah kita pelihara persatuan dan kesatuan Indonesia agar menjadi “baldatun toyyibatun wa rabbun ghafur”.
Hiduplah negeriku, hiduplah bangsaku, hiduplah Indonesia!
Allah akbar, Allah akbar. Laa ilaaha illalLah. Wallah akbar. Allah akbar. Wa lilLahil hamd.
Kaum muslimin dan muslimat hafizakumullah.
Pagi ini kita boleh bergembira, tapi ingatlah bahwa di antara sanak keluarga kita atau sahabat kita sekarang ini ada yang sedang menderita. Pagi ini kita boleh bersuka ria, tapi ketahuilah bahwa di antara tetangga atau masyarakat kita hari ini banyak yang sedang sengsara. Pagi ini kita boleh tersenyum bahagia, tapi sadarilah bahwa umat Islam di seluruh pelosok dunia masih dalam kondisi yang memprihatinkan. Saudara-saudara kita di Palestina, Syria, selatan Thailand, selatan Filipina, dan Myanmar masih memerlukan bantuan dan solidaritas kita. Sungguh saudara-saudara kita di Gazza dan Rohingya sekarang ini memerlukan uluran tangan kita semua.
Bergembiralah, bersukarialah dan berhiburlah sekedarnya, tanpa melampaui batas dan melanggar tuntutan agama. Pergunakanlah peluang Hari Raya ini untuk mencapai keridaan Allah dengan mengunjungi kedua ibu bapak, sanak keluarga, jiran tetangga, para sahabat dan rekan-rekan. Pereratkan silaturrahim dan marilah kita saling memaaf-maafkan. Hiburlah mereka yang kini sedang menderita. Santunilah anak-anak yatim, kaum fakir miskin, para janda,ibnu sabil dan mereka yang menyambut hari raya kali ini dalam keadaan daif lagi susah. Hargailah warga tua. Hormatilah jiran tetangga. Perkokohkan persaudaraan dan perpaduan. Jadilah umat yang mursali lagi penyayang. Umat yang dikagumi lagi diperhitungkan.
Akhirnya wahai kaum muslimin dan muslimat sekalian, marilah kita sama-sama berdoa kepada Allah, semoga kehidupan kita di dunia ini semakin baik dan berkualitas, dan kelak kita dipanggil menghadap Allah dalam keadaanhusnul khatimah. Ya Allah Yang Maha Pengampun lagi Maha Pemaaf, kami adalah hamba-hambaMu yang banyak membuat dosa. Bahkan kami adalah hamba-hambaMu yang bangga dengan dosa-dosa dan senantiasa bandel dan menangguhkan taubat. Kini kami mengakui segala dosa-dosa kami. Kini kami menghalalkan hati kami menengadahkan tangan kami. Memanjatkan doa kami untuk memohon keampunan-Mu. Oleh karena itu, ya Allah, ampunkanlah dosa-dosa kami, maafkanlah keterlanjuran kami dan terimalah taubat kami.
Ya Allah Yang Maha Menyatukan hati, sucikanlah hati kami, terangilah hati kami, dan rukunkanlah di antara hati kami. Kokohkanlah persatuan kami, perbaikilah hubungan di antara kami. Jadikalah kami kumpulan anak muda yang menghormati orang tua, dan kumpulan orang tua yang menyayangi anak muda. Jadikanlah kami penduduk negeri yang saling menghormati, menyayangi dan bertoleransi.
Ya Allah Yang Maha memelihara sesama jiwa, peliharalah kami dari benih-benih kebencian, kedengkian dan perpecahan. Hindarkan kami dari kezaliman, kefasikan, dan kemunafikan. Dan jauhkan kami daripada sifat sombong, kasar dan sifat-sifat tercela lainnya.
Ya Allah Yang Maha Bijaksana, kurniakan kepada kami pemimpin-pemimpin negeri yang takut kepadaMu dan menyayangi kami. Pemimpin-pemimpin yang membawa kami kepada kesejahteraan duniawi dan menunjukkan kepada kami jalan menuju sorgaMu. Pemimpin-pemimpin yang bekerja untuk masalahat kami dan kebahagian kami dan bekerja untuk menggapai kasih sayangMu.
Ya Allah Yang Maha Pengasih tiada pilih kasih. Maha Penyayang sayangNya tiada terbilang, berilah kami jalan keluar bagi semua krisis dan masalah yang membelenggu kami. Angkatlah kami dari keterpurukan, kemiskinan, dan kebodohan. Peliharalah kami dari segala maksiat terhadapMu.
Ya Allah yang mendengar rintihan hamba lemah teraniaya, yang menyambut orang berdosa apabila kembali dengan taubatnya, yang mengijabah segala doa hambaNya, kabulkanlah doa kami. Perkenankanlah permohonan kami. Penuhilah harapan kami.
Sumber : http://sangpencerah.id/2017/07/inilah-naskah-full-khotbah-idul-fitri-di-gunungkidul-yang-menjadi-viral/
Rabu, 21 Juni 2017
AKHIRNYA ISLAM RUNTUH
Hanya dengan kekuatan 200.000 tentara dan berlangsung hanya dalam waktu 40 hari Kekhalifahan Abbasiyah yang bertahta selama 500 tahun dengan segala kebesarannya lenyap dari muka bumi.
Baghdad luluh lantak dihancurkan. 1,8 juta kaum muslimin di Baghdad disembelih dan kepalanya disusun menjadi gunung tengkorak. Tua, muda bahkan kanak-kanak. Laki-laki maupun perempuan, hingga janin di dalam kandungan semua dipenggal.
Khalifah dibantai beserta 50.000 tentara pengawalnya. Sejak pembantaian itu selama 3,5 tahun umat Islam hidup tanpa Khalifah. Tentara yang biadab memusnahkan ribuan perpustakaan yang memuat jutaan kitab-kitab, manuskrip-manuskrip sebagai khazanah peradaban di Baghdad dengan mencampakkannya ke dalam laut sehingga berwarna kehitaman. Siapa pelakunya?
Mereka yang bengis itu disebut Bani Qantura dengan ciri-ciri fisik bermuka lebar dan bermata kecil yang telah diisyaratkan kemunculannya oleh Nabi Muhammad saw. Kita mengenalnya sebagai bangsa Mongol atau Tartar yang kala itu dipimpin oleh Hulagu Khan, cucu dari Jengis Khan.
Ketika itu, seluruh negeri Islam yaitu Baghdad, Syria dan Asia Tengah sudah jatuh ke tangan tentara Mongol. Hanya tinggal tiga negeri Islam yang belum dimasuki yaitu Makkah, Madinah dan Mesir. Maka Hulagu Khan terus merangsek berupaya menaklukkan negeri yang lain.
Ambisi selanjutnya adalah menaklukan Mesir dan mengutus delegasi Mongol ke Mamluk Mesir, dimana pemimpin saat itu adalah Sultan Syaifuddin Muzaffar al Quthuz. Delegasi ini datang dengan membawa surat dari Hulagu Khan yang isinya,
*“Dari Raja Raja Timur dan Barat, Khan Agung. Untuk Quthuz Mamluk, yang melarikan diri dari pedang kami. Anda harus berpikir tentang apa yang terjadi pada negara-negara lain dan tunduk kepada kami. Anda telah mendengar bagaimana kami telah menaklukkan kerajaan yang luas dan telah memurnikan bumi dari gangguan yang tercemar itu. Kami telah menaklukkan daerah luas, membantai semua orang. Anda tidak dapat melarikan diri dari teror tentara kami. kemana Anda lari? Jalan apa yang akan Anda gunakan untuk melarikan diri dari kami?*
*Kuda-kuda kami cepat, panah kami tajam, pedang kami seperti petir, hati kami sekeras gunung-gunung, tentara kami banyak seperti pasir. Benteng tidak akan mampu menahan kami, lengan Anda tidak dapat menghentikan laju kami. Doa-doa Anda kepada Allah tidak akan berguna untuk melawan kami. Kami tidak digerakkan oleh air mata atau disentuh oleh ratapan. Hanya orang-orang yang mohon perlindungan akan aman. Mempercepat balasan Anda sebelum perang api dinyalakan.*
*Menolak dan Anda akan menderita bencana yang paling mengerikan. Kami akan menghancurkan masjid Anda dan mengungkapkan kelemahan Tuhanmu, dan kemudian kami akan membunuh anak-anak dan orang tua Anda bersama-sama. Saat ini Andalah satu-satunya musuh yang mesti kami hadapi.”*
Isi surat tersebut jelas-jelas melecehkan kedaulatan Islam, cuma ada dua opsi, menyerah atau berperang. Syaifuddin Quthuz tidak gentar sedikitpun, malah beliau dengan berani menempeleng delegasi Mongol itu dan membunuh mereka karena tertangkap tangan melakukan tindakan spionase. Dengan segera ia menggerakkan pasukannya dan memancing Mongol untuk bertempur di Ain jalut.
Kemudian Al Quthuz segera memobilisasi tentaranya maka terbentuklah pasukan berjumlah 20. 000 orang tentara dan bergerak menuju Ain Jalut di Palestina untuk menantang tentara Mongol. Bahkan istri sang sultan ikut berjuang dan memilih jalan jihad bersama kekasihnya.
Pada malamnya Quthuz dan pasukan Islam melakukan tahajud dan memohon dari Allah demi kemenangan pasukan Islam dalam pertempuran esok hari. Malam itu adalah malam jum'at 25 Ramadhan, mereka menghabiskan malam mereka dengan tahajud dan doa serta menyerahkan diri kepada Allah. Semoga Allah menerima mereka sebagai hamba-Nya dan memberikan kemuliaan kemenangan atau syahid di medan pertempuran esok hari. Hari di mana mereka menebus semua kematian jutaan umat Islam di tangan Mongol. Hari dimana kekhalifahan Islam akan sirna selamanya jika Mongol berhasil mengalahkan mereka.
JUM’AT, 25 RAMADHAN 658 H
Sultan Quthuz berdiri gagah, ia hendak memotivasi seluruh tentara gabungan Mesir, Syam dan Turki, serta seluruh rakyat Mesir untuk bergerak menuju jihad di jalan Tuhan. Suaranya begitu lantang dan keras, membuat jiwa bergetar, dan mengalirkan air mata, kata-katanya terdengar nyaring, menyerukan jihad paling menentukan dalam sejarah.
*“Jika Mongol memiliki kuda, panah, tameng, dan manjanik. Maka kita punya yang tak terkalahkan oleh apapun, kita punya Allaaaaah,,,,,Azza wa Jalla.”*
Suara takbir bergemuruh, semangat pasukan terbakar, dan rakyat berjanji akan bertempur bersama sultan mati-matian, hingga darah penghabisan.
Bertemulah Kedua kekuatan tersebut di Medan perang Ain jalut, Pasukan Mamluk dengan mengandalkan pasukan kavaleri sebagai kekuatan utama di pimpin oleh Jendral Baibars dengan Sultan Quthuz mengamati dari dataran tinggi sementara Pasukan Mongol dipimpin langsung oleh jendral tangan kanan dan kepercayaan Hulagu Khan, Qitbuka Noyan.
Baibars yang memiliki jumlah pasukan kaveleri yang lebih sedikit menggunakan taktik "hit and run" dalam melawan pasukan Mongol hingga terjadi pertempuran selama berjam-jam sampai pada akhirnya pasukan Mongol jatuh ketengah-tengah perangkap pasukan Mamluk.
Melihat lawannya sudah masuk kedalam perangkap, pasukan Mamluk yang bersembunyi mulai keluar dan langsung menghujani pasukan Mongol dengan panah dan meriam kecil dalam penyerangan ini.
Ketika pasukan lawannya sudah berada dalam posisi terdesak, pasukan kavaleri Mamluk lain yang juga bersembunyi serta kemudian disusul oleh Infantrinya langsung menyerbu lawannya dalam empat posisi, menutup jalan keluar bagi pasukan Mongol.
Qitbuka yang menyadari bahwa pasukannya tidak mempunyai harapan lagi untuk melawan pasukan Kaveleri utama pimpinan Baibars dan memenangkan pertempuran, serta pasukannya terpojok ditengah-tengah, segera memerintahkan keseluruhan sisa pasukan yang dimilikinya untuk memfokuskan penyerangan ke posisi sayap kiri pasukan Mamluk pimpinan Al-Mansur Mohammad yang dirasa paling lemah, untuk membuka jalan keluar bagi pasukan yang dipimpinnya. Setelah digempur secara gencar akhirnya posisi sayap kiri pasukan Mamluk menjadi goyah.
Dari dataran tinggi, Sultan Quthuz yang mengamati jalannya pertempuran, melihat posisi sayap kiri pasukannya mulai terbuka akan dijebol pasukan Mongol, seketika itu pula ia membuang topeng bajanya ke tanah hingga wajahnya dapat terlihat oleh seluruh pasukannya, Sambil mengacungkan senjata Ia menggebrak kudanya ke arah posisi sayap kiri pasukannya,dan berteriak keras-keras,
*"Demi Islam!..Demi Islam!"*
Melihat sultannya menuju ke arah mereka, seketika itu pula moral dan semangat bertempur pasukan sayap kiri Mamluk meningkat, mereka kembali meningkatkan pertahanan dan tekanan kepada pasukan Mongol, satu-persatu pasukan Mongol berjatuhan terbunuh termasuk Qitbuka.
Pasukan yang tak pernah terkalahkan akhirnya takluk oleh pejuang Islam yang pemberani dan panji-panji Islam kembali ditegakkan.
Sultan Syaifuddin Muzhaffar al Quthuz meninggal dunia hanya lima puluh hari setelah kemenangan Ain Jalut. Kekuasaannya hanya berusia 11 bulan dan 17 hari. Tidak genap satu tahun!
Berbagai peristiwa bersejarah yang agung, persiapan yang bagus, pendidikan yang tinggi, kemenangan gemilang, hasil yang luar biasa dan dampak yang besar. Ya, semua ini dicapai kurang dari satu tahun di bawah pemerintahan pemuda legendaris ini.
Lalu. Bagaimana dengan kita? Di akhir Ramadhan ini, apakah yang telah kita persiapkan, korbankan bahkan perjuangkan untuk menegakkan keadilan dan mencegah kemungkaran di Indonesia kita?
Ramadhan adalah bulan peperangan. Mulai dari perang Badar, perang Tabuk, menggali parit untuk perang Khandaq, penaklukkan Makkah, penaklukkan Andalusia.
Selain bulan perjuangan,Ramadhan juga bulan kemenangan. Maka mari jadikan bulan ramadhan ini sebagai momentum revolusi. Mari kita berjuang, tentu saja bermula dari melawan hawa nafsu kita sendiri untuk menang dan merdeka baik sebagai diri, ummat dan bangsa. Karena tak ada yang tak bisa diraih jika perjuangan (Fight) dikombinasikan dengan keimanan (Faith).
Semoga kisah tersebut diatas menginspirasi kita semua, untuk terus bersiap siaga menjaga kehormatan diri, agama, bangsa dan negara.
Salam Kemenangan 1438Hijriyah!
PENGAKUAN ECONOMIC HITMAN
PENGAKUAN ECONOMIC HITMAN
Oleh: Mardigu Wowiek Prasetyo
Berdiskusi dengan seorang bule yang tinggal di top floor Pakubuwono Residence selama 2 bulan hanya untuk mempelajari ekonomi Indonesia. Setelah itu, rencananya ia akan berangkat ke Mumbay dan katanya dia berencana tinggal di India juga selama 2 bulan untuk mempelajari ekonomi Negara India. Pembicaraan kami berdua cukup intense dan “menegangkan”.
Usianya 65 tahun, kebangsaan Amerika, ras Yahudi. Sebuah spesifikasi SARA yang bagi sebagian “pegiat agama”, dia bisa di ketagorikan “public enemy number one”. Atau bagi “pegiat agama” yang senangnya mencari perbedaan, spesifikasi dia masuk object penderita yang layak di bully.
Tetapi begitu kenal dia, dia seorang parenialist, seorang pluralist, universalist dan economist sejati. Di Amerika dia juga bukan orang yang di sukai semua orang. Dia seorang financial economics, dari kampus ternama Ivy League.
Di Indonesia dia mengumpulkan data, SUN surat hutang Negara kemana saja dan siapa yang ambil, hutang korporasi kemana saja, export import Indonesia, arus keluar masuk barang. Semua di petakan di “mapping”. Dia tahu kelemahan dan kekuatan data terakhir Indonesia. Kegiatannya ini sebenarnya termasuk kategori inteligen ekonomi (economic intelligent).
Sayangnya data ini tidak bisa dilarang. Tidak ada hal/data yang di langgar olehnya. Tidak ada rahasia Negara yang dicurinya. Dia hanya mengumpulkan data publik dan data Negara dengan cara berbeda dengan BPS. Dia juga tidak ABS asal bapak senang. Bahkan dia menganalisa setiap pejabat Indonesia yang memberikan jumpa pers. Dia tahu sekali ini misalnya menteri anu pinter tuh dia tahu masalah atau pejabat anu tahu hanya kulit-kulitnya, atau pemimpin anu dia nggak tahu sama sekali.
Dari setiap perkataan dan kalimat dia analisa pemilihan kata-katanya, mimiknya, gerak tubuhnya, timingnya, konten isi informasinya, arah pembicara, semua ada arti baginya, sang financial economic ini. Dia tidak membaca Koran yang diam/statis, dia melihat video atau tayangan yang reporter (asing) rekam. Oiya catatan, hampir 80% wartawan asing dekat dengan dunia intelijen.
Lalu dia berkata, your country is in bad shape!
Saya bertanya, any proof sir?
I tell you just one, dia berkata yang saya terjemahkan : jika pada bulan Agustus nanti PLN surat hutangnya jatuh tempo, saya tahu PLN tidak punya “uang”. Pasti minta di perpanjang hutangnya di Wallstreet. Apa yang terjadi kalau “saya” tidak perpanjang hutang tersebut. Saya minta bayar, saat itu juga. Apa yang terjadi dengan PLN?
Saya berkata, PLN default ? bangkrut?
Dia berkata, Indonesia pasien IMF dua bulan kemudian!!!. Kalian kan sudah punya bukti, APP Asia Pulp Papernya Sinarmas. Kami tidak perpanjang hutangnya 14 bilion dollar kira-kira 10 tahunan yang lalu bukan? Kok masih juga di ulang lagi sih?
Hanya PLN bikin Indonesia jadi pasien IMF? Saya bertanya
You want to know the rest State-owned enterprise record? Mau tahu catatat lain BUMN? Semua parah!
Kepala saya terbayang pabrik kertas keluarga Wijaya itu kena “hostile take over” dengan gagal dapat perpanjangan surat hutang atau bond.
Dia melanjutkan, BUMN Indonesia ini lucu, yang dilawan bangsanya sendiri. Harusnya BUMN melawan asing, yang swasta belum tentu kuat atau bahkan tidak kuat sama sekali melawan investor asing. Nah ini BUMN indonesia memakan swasta malah kerja sama dengan asing lagi.
Dia tertawa tergelak-gelak. Presdiennya nggak ngerti sejauh ini efek tindakan kebijakan BUMN anda tadi, well, damage is already done. See what happens in the near future, very near!! Dia masih tergelak di ujung kalimatnya.
Dia melanjutkan, kredit macet di bank 3 besar (pelat merah), ini karena memaksakan membangun ke sektor tidak produktif, infrastruktur. Bukan salah membangun infrastruktur, tapi bukan untuk daerah yang hanya berpopulasi rendah namun ada sektor produksinya. Negara anda bukan Negara maju, China dan Amerika (tahun 1940-50 di jaman FDR) membangun infrastruktur di saat GDP nya di atas 5000. Indonesia masih 3500 saat ini.
Nggak heran Bank Mandiri beberapa perusahan konstruksi karya-karya mulai menjual asetnya demi membayar beban hutang.hampir semua bank tersebut keuntunganya tahun 2015 di banding 2016, turun separuhnya di tahun 2016 dan di tahun 2017 kembali turun setengahnya.
Yang anehnya, China membeli Newmont di biayai bank nasional. Langung cashless itu bank. NPL Mandiri 4%, NPL BRI 5,6%. Padahal Non Performing Loan ini tidak boleh lebih 3 %. Sakit semua bank besar dan sekarang semua bank tidak sanggup kasih pinjaman BUMN lagi yang tidak likuid.
Puncaknya lagi bank BUMN akan jadi tumbal keputusan kereta cepatnya Rini Soemarno (Rinso), menarik lagi 6 milyar dolar.
Ini yang saya suka dari Pemerintah saat ini, kata si Bapak itu kemudian. Saya pemain uang, ini peluang banget di depan mata, mirip tahun 1997. Puncak gunung es mencair dengan hutang tak terkendali di Indonesia.
What are you gonna do? Saya bertanya.
Dia hanya menaikan dua pundaknya sambil tersenyum. Bukan saya lho yang buat negara ini “not in good shape”. Saya hanya lihat peluang. Saya tunggu Oktober, will see what Indonesian’s government can do, katanya kemudian.
Oleh: Mardigu Wowiek Prasetyo
Berdiskusi dengan seorang bule yang tinggal di top floor Pakubuwono Residence selama 2 bulan hanya untuk mempelajari ekonomi Indonesia. Setelah itu, rencananya ia akan berangkat ke Mumbay dan katanya dia berencana tinggal di India juga selama 2 bulan untuk mempelajari ekonomi Negara India. Pembicaraan kami berdua cukup intense dan “menegangkan”.
Usianya 65 tahun, kebangsaan Amerika, ras Yahudi. Sebuah spesifikasi SARA yang bagi sebagian “pegiat agama”, dia bisa di ketagorikan “public enemy number one”. Atau bagi “pegiat agama” yang senangnya mencari perbedaan, spesifikasi dia masuk object penderita yang layak di bully.
Tetapi begitu kenal dia, dia seorang parenialist, seorang pluralist, universalist dan economist sejati. Di Amerika dia juga bukan orang yang di sukai semua orang. Dia seorang financial economics, dari kampus ternama Ivy League.
Di Indonesia dia mengumpulkan data, SUN surat hutang Negara kemana saja dan siapa yang ambil, hutang korporasi kemana saja, export import Indonesia, arus keluar masuk barang. Semua di petakan di “mapping”. Dia tahu kelemahan dan kekuatan data terakhir Indonesia. Kegiatannya ini sebenarnya termasuk kategori inteligen ekonomi (economic intelligent).
Sayangnya data ini tidak bisa dilarang. Tidak ada hal/data yang di langgar olehnya. Tidak ada rahasia Negara yang dicurinya. Dia hanya mengumpulkan data publik dan data Negara dengan cara berbeda dengan BPS. Dia juga tidak ABS asal bapak senang. Bahkan dia menganalisa setiap pejabat Indonesia yang memberikan jumpa pers. Dia tahu sekali ini misalnya menteri anu pinter tuh dia tahu masalah atau pejabat anu tahu hanya kulit-kulitnya, atau pemimpin anu dia nggak tahu sama sekali.
Dari setiap perkataan dan kalimat dia analisa pemilihan kata-katanya, mimiknya, gerak tubuhnya, timingnya, konten isi informasinya, arah pembicara, semua ada arti baginya, sang financial economic ini. Dia tidak membaca Koran yang diam/statis, dia melihat video atau tayangan yang reporter (asing) rekam. Oiya catatan, hampir 80% wartawan asing dekat dengan dunia intelijen.
Lalu dia berkata, your country is in bad shape!
Saya bertanya, any proof sir?
I tell you just one, dia berkata yang saya terjemahkan : jika pada bulan Agustus nanti PLN surat hutangnya jatuh tempo, saya tahu PLN tidak punya “uang”. Pasti minta di perpanjang hutangnya di Wallstreet. Apa yang terjadi kalau “saya” tidak perpanjang hutang tersebut. Saya minta bayar, saat itu juga. Apa yang terjadi dengan PLN?
Saya berkata, PLN default ? bangkrut?
Dia berkata, Indonesia pasien IMF dua bulan kemudian!!!. Kalian kan sudah punya bukti, APP Asia Pulp Papernya Sinarmas. Kami tidak perpanjang hutangnya 14 bilion dollar kira-kira 10 tahunan yang lalu bukan? Kok masih juga di ulang lagi sih?
Hanya PLN bikin Indonesia jadi pasien IMF? Saya bertanya
You want to know the rest State-owned enterprise record? Mau tahu catatat lain BUMN? Semua parah!
Kepala saya terbayang pabrik kertas keluarga Wijaya itu kena “hostile take over” dengan gagal dapat perpanjangan surat hutang atau bond.
Dia melanjutkan, BUMN Indonesia ini lucu, yang dilawan bangsanya sendiri. Harusnya BUMN melawan asing, yang swasta belum tentu kuat atau bahkan tidak kuat sama sekali melawan investor asing. Nah ini BUMN indonesia memakan swasta malah kerja sama dengan asing lagi.
Dia tertawa tergelak-gelak. Presdiennya nggak ngerti sejauh ini efek tindakan kebijakan BUMN anda tadi, well, damage is already done. See what happens in the near future, very near!! Dia masih tergelak di ujung kalimatnya.
Dia melanjutkan, kredit macet di bank 3 besar (pelat merah), ini karena memaksakan membangun ke sektor tidak produktif, infrastruktur. Bukan salah membangun infrastruktur, tapi bukan untuk daerah yang hanya berpopulasi rendah namun ada sektor produksinya. Negara anda bukan Negara maju, China dan Amerika (tahun 1940-50 di jaman FDR) membangun infrastruktur di saat GDP nya di atas 5000. Indonesia masih 3500 saat ini.
Nggak heran Bank Mandiri beberapa perusahan konstruksi karya-karya mulai menjual asetnya demi membayar beban hutang.hampir semua bank tersebut keuntunganya tahun 2015 di banding 2016, turun separuhnya di tahun 2016 dan di tahun 2017 kembali turun setengahnya.
Yang anehnya, China membeli Newmont di biayai bank nasional. Langung cashless itu bank. NPL Mandiri 4%, NPL BRI 5,6%. Padahal Non Performing Loan ini tidak boleh lebih 3 %. Sakit semua bank besar dan sekarang semua bank tidak sanggup kasih pinjaman BUMN lagi yang tidak likuid.
Puncaknya lagi bank BUMN akan jadi tumbal keputusan kereta cepatnya Rini Soemarno (Rinso), menarik lagi 6 milyar dolar.
Ini yang saya suka dari Pemerintah saat ini, kata si Bapak itu kemudian. Saya pemain uang, ini peluang banget di depan mata, mirip tahun 1997. Puncak gunung es mencair dengan hutang tak terkendali di Indonesia.
What are you gonna do? Saya bertanya.
Dia hanya menaikan dua pundaknya sambil tersenyum. Bukan saya lho yang buat negara ini “not in good shape”. Saya hanya lihat peluang. Saya tunggu Oktober, will see what Indonesian’s government can do, katanya kemudian.
Langganan:
Postingan (Atom)
Balqis Humaira EDISI 9 FEBRUARY 2026
Lo pasti setuju bahwa Musuh paling berbahaya itu bukan yang menodongkan pistol di depan muka lo. Musuh paling berbahaya adalah orang yan...
-
Lo pasti setuju bahwa Musuh paling berbahaya itu bukan yang menodongkan pistol di depan muka lo. Musuh paling berbahaya adalah orang yan...
-
Video-Video Smarthome https://youtu.be/edoOSR8kbe4 https://youtu.be/edoOSR8kbe4 Penerapan Internet Of Things https://youtu.be/edoOSR8kbe4 M...
-
…Negara ini bukan lagi salah urus, tapi salah niat. Karena gini ya. Ini bukan lagi soal angka. Ini soal urutan nilai hidup. Ini soal apa y...

