Inilah naskah full Khotbah Idul Fitri yang menjadi #viral yang dilaksanakan di Lapangan Pemda Alun-alun Wonosari Gunungkidul
Pelaksanaan:
Ahad, 1 Syawal 1438 H / 25 Juni 2017
Tempat: Lapangan Alun2 Pemda Wonosari
Waktu: Pukul 06.30 WIB – selesai
Judul: Persatuan dan kesatuan Indonesia
Oleh: Ustadz Dr. H. Muhammad Ichsan Lc, MA ( Dosen UMY)
====================================
Ma’ashiral muslimin dan muslimat hafizakumullah. Pagi hari ini, kita
umat Islam bergembira menyambut hari raya Idul Fitri. Pagi hari ini,
kita bersyukur kepada Allah ta’ala karena berkat taufik dan hidayahnya
kita dapat menyempurnakan ibadah puasa dan serangkaian ibadah-ibadah
lainnya di bulan Ramadan yang baru saja meninggalkan kita untuk
selama-lamanya. Pagi ini kita memuji Allah, memuliakan Allah,
mengagungkan Allah, antara lain dengan salat hari raya Idul Fitri dan
meluangkan takbir: Allah Akbar, Allah Akbar.
Alangkah indahnya hari ini. Alangkah mulianya hari ini. Alangkah
gembiranya kita pada hari ini, karena sebulan penuh kita telah dibina
dan dididik dalam madrasah Ramadan. Diharapkan, pendidikan dan
pengajaran yang kita peroleh pada bulan Ramadan tersebut dapat kita
jadikan sebagai bekal untuk menjadi umat yang besar lagi bermartabat.
Para hadiri dan hadirat rahimakumullah.
Marilah kita bersyukur kepada Allah. Sadar atau tidak sadar, bangsa
Indonesia yang kita cintai ini dikaruniai Allah dengan berbagai macam
anugerah. Mulai dari pulau yang banyak jumlahnya, tanah yang subur,
iklim yang tidak ekstrim, hingga suku bangsa, bahasa, budaya, dan agama
yang berbeda-beda. Dengan kurnia Allah ta’ala semua itu dapat disatukan
olehfounding fathers atau pendiri bangsa kita, sehingga menjadi satu
bangsa yaitu bangsa Indonesia, menjadi satu negara yaitu Negara Kesatuan
Republik Indonesia.
Nenek moyang kita, para pendiri dan pahlawan bangsa, telah berkorban
dengan keringat mereka, darah mereka, harta mereka dan bahkan dengan
jiwa raga mereka untuk mempersatukan bangsa ini dan memerdekakannya dari
para penjajah yang telah merampas kemerdekaan kita berabad-abad
lamanya.
Sesudah merdeka, kita bangsa Indonesia, menikmati hasil perjuangan,
pengorbanan dan keringat serta darah para pahlawan tersebut. Kita
menghirup udara bebas dan berusaha membangun kembali bangsa itu dari
kebodohan, kemiskinan, dan keterpurukan dalam berbagai bidang. Presiden
demi presiden silih berganti memimpin negeri ini. Pemerintah demi
pemerintah bertukar, kita tetap hidup aman, damai, tenteram, dan sentosa
sebagai sebuah bangsa yang besar. Namun sayangnya, banyak orang
merasakan, selama ini kita belum pernah khawatir terhadap persatuan
bangsa ini sebagaimana (terjadi) dalam rezim ini. Selama ini kita belum
pernah cemas terhadap kesatuan negara ini seperti dalam pemerintahan
ini. Hal ini karena nikmat persatuan dan kesatuan bangsa ini beberapa
waktu yang lalu hampir terkoyak dengan kasus penistaan agama yang
dilakukan oleh Gubernur Jakarta sewaktu itu. Keadaan tersebut diperparah
dengan adanya pesta demokrasi yaitu Pilkada Jakarta.
Masyarakat terpecah menjadi dua, pendukung Ahok atau Ahokers, dan
masyarakat yang menghendaki supaya Ahok dihukum seberat-beratnya karena
menistakan agama. Meskipun yang anti Ahok banyak sekali jumlahnya, baik
dari Jakarta maupun luar Jakarta, namun karena Ahok jelas-jelas didukung
oleh para taipan, partai pemerintah dan Polri, maka terjadilah
perlawanan yang seru. Aksi Bela Islam 411 dan 212 adalah buktinya. Belum
pernah terjadi dalam sejarah Indonesia, umat Islam berkumpul di suatu
tempat sebanyak 7 juta orang lebih dalam aksi super damai untuk menuntut
ditegakkannya hukum terhadap penista agama.
Kaum muslimin dan muslimat yang dimuliakan Allah.
Meskipun Ahok telah divonis bersalah dalam kasus penistaan agama, dan
telah kalah dalam Pilkada Jakarta, namun kegaduhan nasional masih
terasa. Luka permusuhan dan perpecahan masyarakat masih menganga.
Apalagi dua tahun lagi suasana akan semakin memanas lagi dengan adanya
Pemilu. Hingga hari ini masih ada usaha-usaha membenturkan umat Islam
dengan dengan Pancasila. Umat Islam yang berbeda pendapat dengan
pemerintah dan penegak hukum dianggap anti-pancasila, anti-bhineka
tunggal ika dan anti-NKRI. Masih ada pembunuhan karakter terhadap
tokoh-tokoh Islam, meskipun selalu dinafikan dan dibantah. Masih terasa
hukum selalu tajam terhadap ulama, tokoh, dan aktivis Islam, dan
terhadap umat Islam pada umumnya, tapi tumpul terhadap Ahok dan para
pendukungnya.
Sebagai contoh, ketika Aksi Bela Islam 212 masih berdemo setelah
maghrib mereka langsung dibubarkan secara paksa dengan gas air mata,
sementara para pendukung Ahok dibiarkan berdemo sampai larut malam di
depan LP Cipinang. Ketika bendera kita ditulis kalimah laa ilaaha
illallah, penulisnya langsung diciduk, sementara bendera mereka sering
ditulisi tulisan-tulisan lain tapi dibiarkan. Ketika akan berdemo
sebagian tokoh Islam ditangkap dengan tuduhan makar, sementara yang
terang-terang akan makar di Papua atau memakai atribut PKI yang
terlarang justru dibiarkan bebas.
Kaum muslimin dan muslimathafizakumullah.
Sekarang adalah era keterbukaan. Masyarakat hari ini sudah cerdas.
Masyarakat hari ini susah untuk dibohongi. Jika pemerintah korup dan
bertindak sewenang-wenang, pasti mereka mengetahuinya. Jika penegak
hukum tidak adil dan tebang pilih, pasti mereka merasakannya. Meskipun
pemerintah dan penegak hukum pandai menyulap fakta, memelintir kata dan
membuat rekayasa, pasti rakyat akan menyadarinya. Meskipun media massa,
baik cetak maupun elektronik, dikuasai oleh para taipan dan konglomerat,
umat Islam masih mempunyai senjata lain yaitu medsos atau media sosial.
Umat Islam dipimpin oleh para ulama dan aktivis Islam akan bergerak
dengan satu kata, lawan! Lawan kezaliman! Lawan kebohongan! Lawan
pembodohan!
Allah Akbar, Allah Akbar, laa ilaaha illallah, Wallah akbar, Allah akbar, Wa lillahil hamd.
Kaum muslimin dan muslimat yang dimuliakan Allah.
Apakah kebencian antara sesama masyarakat akan kita biarkan? Apakah
permusuhan antara pemerintah dan rakyat akan kita biarkan? Apakah
permusuhan antara pemerintah dan rakyat akan kita diamkan? Apakah boleh
perpecahan antara umat kita biarkan? Tidak! Kita tidak boleh
membiarkannya! Sungguh kita tidak boleh membiarkannya! Karena kita di
Indonesia ini bersaudara. Kita adalah saudara sebangsa. Kita adalah
saudara sesama manusia. Lebih dari itu, kebanyakan kita adalah saudara
seagama.
Orang-orang yang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu
damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan
takutlah terhadap Allah supaya kamu mendapat rahmat (QS. Al-Hujurat ayat
10).
Kaum Muslimin dan Muslimat hafizakumullah.
Jangan pertanyakan kecintaan umat Islam terhadap Indonesia. Jangan
ragukan betapa umat Islam sangat cinta kepada agamanya, tanah airnya,
bangsanya, negerinya, budayanya. Jangan ragukan betapa umat Islam sangat
cinta kepada persatuan, perdamaian, dan keamanan. Sejarah membuktikan
demi kemerdekaan Indonesia, umat Islam bangun mengorbankan jiwa raganya
melawan penjajah. Demi persatuan dan kesatuan Indonesia, umat Islam
membuang 7 kata sakti dalam Piagam Jakarta. Demi menjaga NKRI dan
merangkul umat lainnya, umat Islam mau menerima pancasila sebagai dasar
negara.
Maka sungguh menyakitkan tuduhan-tuduhan yang mengatakan bahwa kita
umat Islam anti-pancasila, anti-NKRI, anti-kebinekaan, radikal dan
teroris. Bagaimana umat Islam anti-pancasila sementara pancasila adalah
hadiah umat Islam untuk bangsa ini? Apakah berbeda pendapat dengan
presiden bisa dianggap anti-pancasila? Apakah berbeda pendapat dengan
pemerintah bisa disebut anti-NKRI? Apakah berbeda pendapat dengan
penegak hukum bisa dituduh anti-kebinekaan?
Tuduhan-tuduhan ini menyakitkan. Tuduhan-tuduhan ini membangkitkan
amarah. Tuduhan-tuduhan ini memicu perpecahan. Marilah kita akhiri
kegaduhan nasional ini. Marilah kita akhiri kebencian ini. Marilah kita
akhiri permusuhan ini. Sungguh masyarakat yang gaduh, saling membenci
dan bermusuhan tidak akan bisa membangun, tidak akan bisa maju, tidak
akan mampu bersaing di era persaingan ketat antara negara-negara dunia
seperti sekarang ini. Berpecah belah itu mudah. Bersatu padu itu susah.
Oleh karena itu, persatuan itu mahal harganya. Persatuan itu perlu
diusahakan. Persatuan itu perlu dijaga. Bersatu padu itu adalah perintah
Allah dan bercerai berai itu adalah larangan Allah.
“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan
janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu
ketika kamu dahulu (masa jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah
mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah,
orang-orang yang bersaudara, dan kamu telah berada di tepi jurang
neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah
menerangkan ayat-ayatNya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk”. (QS.
Ali Imran ayat 103)
Kaum muslimin dan muslimat yang dimuliakan Allah.
Marilah kita sadari dengan sesadar-sadarnya, Indonesia adalah rumah
besar kita. Di dalamnya ada orang Jawa, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi,
Papua dan lainnya. Di dalamnya ada penduduk beragama Islam, Kristen,
Katolik, Hindu, Budha, dan Konghucu. Di dalamnya ada beragam bahasa,
adat istiadat, dan kebudayaan. Keragaman dan perbedaan ini marilah kita
rawat agar menjadi nada simfoni yang harmonis dan saling melengkapi.
Keragaman dan perbedaan ini marilah kita pelihara agar menjadi aneka
bunga di taman yang indah. Keragaman dan perbedaan ini jangan dimusuhi
dan jangan dijadikan sebagai sumber permusuhan.
Hal terpenting untuk merawat keragaman dan perbedaan ini ialah
hendaknya kita semua saling menghormati, saling menghargai dan menjaga
diri dari fitnah,namimah atau adu domba, hasad, ujaran kebencian,
penghinaan, dan kata-kata keji serta caci maki, baik secara langsung
maupun media sosial. Selain itu, hukum harus ditegakkan dengan
seadil-adilnya. Hukum harus menjadi panglima. Hukum harus ditaati baik
oleh rakyat maupun penegak hukum itu sendiri. Pemerintah dan penegak
hukum hendaknya berlaku adil terhadap seluruh masyarakat dan tidak
tebang pilih. Seharusnya sudah tidak ada lagi kriminalisasi dan
pembunuhan karakter terhadap para ulama dan aktivitas Islam. Semestinya
sudah tidak boleh ada lagi tuduhan semena-mena terhadap umat Islam bahwa
mereka makar, radikal, teroris, anti-Pancasila, anti-NKRI dan
anti-kebinekaan.
Kaum muslimin dan muslimat rahimakumullah.
Kita tidak ingin apa yang terjadi di Timur Tengah terjadi di
Indonesia. Kita tidak ingin Indonesia berperang sesama sendiri dan
terpecah belah menjadi negara-negara kecil yang mudah dikuasai asing dan
aseng. Justru kita bangsa Indonesia sebagai bangsa dan umat Islam besar
dunia, seharusnya menjadi contoh dan teladan untuk negara-negara
lainnya. Kita adalah bangsa besar yang seharusnya dikagumi oleh
bangsa-bangsa lain, karena melaksanakan prinsip-prinsip toleransi dan
keadilan dalam kebinekaan.
Hal ini senada dengan lirik lagu Indonesia Pusaka berikut:
Indonesia tanah air beda
Pusaka abadi nan jaya
Indonesia sejak dulu kala
Tetap dipuja-puja bangsa
Di sana tempat lahir beta
Dibuai dibesarkan bunda
Tempat berlindung di hari tua
Sampai akhir menutup mata
Marilah kita bersatu padu menjadikan Indonesia ini sebagai negeri
makmur yang diridai Allah ta’ala. Marilah kita pelihara persatuan dan
kesatuan Indonesia agar menjadi “baldatun toyyibatun wa rabbun ghafur”.
Hiduplah negeriku, hiduplah bangsaku, hiduplah Indonesia!
Allah akbar, Allah akbar. Laa ilaaha illalLah. Wallah akbar. Allah akbar. Wa lilLahil hamd.
Kaum muslimin dan muslimat hafizakumullah.
Pagi ini kita boleh bergembira, tapi ingatlah bahwa di antara sanak
keluarga kita atau sahabat kita sekarang ini ada yang sedang menderita.
Pagi ini kita boleh bersuka ria, tapi ketahuilah bahwa di antara
tetangga atau masyarakat kita hari ini banyak yang sedang sengsara. Pagi
ini kita boleh tersenyum bahagia, tapi sadarilah bahwa umat Islam di
seluruh pelosok dunia masih dalam kondisi yang memprihatinkan.
Saudara-saudara kita di Palestina, Syria, selatan Thailand, selatan
Filipina, dan Myanmar masih memerlukan bantuan dan solidaritas kita.
Sungguh saudara-saudara kita di Gazza dan Rohingya sekarang ini
memerlukan uluran tangan kita semua.
Bergembiralah, bersukarialah dan berhiburlah sekedarnya, tanpa
melampaui batas dan melanggar tuntutan agama. Pergunakanlah peluang Hari
Raya ini untuk mencapai keridaan Allah dengan mengunjungi kedua ibu
bapak, sanak keluarga, jiran tetangga, para sahabat dan rekan-rekan.
Pereratkan silaturrahim dan marilah kita saling memaaf-maafkan. Hiburlah
mereka yang kini sedang menderita. Santunilah anak-anak yatim, kaum
fakir miskin, para janda,ibnu sabil dan mereka yang menyambut hari raya
kali ini dalam keadaan daif lagi susah. Hargailah warga tua. Hormatilah
jiran tetangga. Perkokohkan persaudaraan dan perpaduan. Jadilah umat
yang mursali lagi penyayang. Umat yang dikagumi lagi diperhitungkan.
Akhirnya wahai kaum muslimin dan muslimat sekalian, marilah kita
sama-sama berdoa kepada Allah, semoga kehidupan kita di dunia ini
semakin baik dan berkualitas, dan kelak kita dipanggil menghadap Allah
dalam keadaanhusnul khatimah. Ya Allah Yang Maha Pengampun lagi Maha
Pemaaf, kami adalah hamba-hambaMu yang banyak membuat dosa. Bahkan kami
adalah hamba-hambaMu yang bangga dengan dosa-dosa dan senantiasa bandel
dan menangguhkan taubat. Kini kami mengakui segala dosa-dosa kami. Kini
kami menghalalkan hati kami menengadahkan tangan kami. Memanjatkan doa
kami untuk memohon keampunan-Mu. Oleh karena itu, ya Allah, ampunkanlah
dosa-dosa kami, maafkanlah keterlanjuran kami dan terimalah taubat kami.
Ya Allah Yang Maha Menyatukan hati, sucikanlah hati kami, terangilah
hati kami, dan rukunkanlah di antara hati kami. Kokohkanlah persatuan
kami, perbaikilah hubungan di antara kami. Jadikalah kami kumpulan anak
muda yang menghormati orang tua, dan kumpulan orang tua yang menyayangi
anak muda. Jadikanlah kami penduduk negeri yang saling menghormati,
menyayangi dan bertoleransi.
Ya Allah Yang Maha memelihara sesama jiwa, peliharalah kami dari
benih-benih kebencian, kedengkian dan perpecahan. Hindarkan kami dari
kezaliman, kefasikan, dan kemunafikan. Dan jauhkan kami daripada sifat
sombong, kasar dan sifat-sifat tercela lainnya.
Ya Allah Yang Maha Bijaksana, kurniakan kepada kami pemimpin-pemimpin
negeri yang takut kepadaMu dan menyayangi kami. Pemimpin-pemimpin yang
membawa kami kepada kesejahteraan duniawi dan menunjukkan kepada kami
jalan menuju sorgaMu. Pemimpin-pemimpin yang bekerja untuk masalahat
kami dan kebahagian kami dan bekerja untuk menggapai kasih sayangMu.
Ya Allah Yang Maha Pengasih tiada pilih kasih. Maha Penyayang
sayangNya tiada terbilang, berilah kami jalan keluar bagi semua krisis
dan masalah yang membelenggu kami. Angkatlah kami dari keterpurukan,
kemiskinan, dan kebodohan. Peliharalah kami dari segala maksiat
terhadapMu.
Ya Allah yang mendengar rintihan hamba lemah teraniaya, yang
menyambut orang berdosa apabila kembali dengan taubatnya, yang
mengijabah segala doa hambaNya, kabulkanlah doa kami. Perkenankanlah
permohonan kami. Penuhilah harapan kami.
Sumber : http://sangpencerah.id/2017/07/inilah-naskah-full-khotbah-idul-fitri-di-gunungkidul-yang-menjadi-viral/