Kamis, 18 Mei 2017

Berfikirnya Para Durjana

Faktanya ada kesalahpahaman dasar di sini. Sesungguhnya kehadiran umat Islam dalam Aksi Bela Islam bukan semata karena ketokohan HRS. Tapi adanya panggilan iman yang luar biasa dari para umat Islam yang dengan bangga menyebut dirinya Alumni 212. Massa ini tidak pernah menyebut dirinya sebagai Pasukan HRS atau Laskar FPI atau Pejuang GNPF, mereka menyatakan diri sebagai Alumni 212.
Upaya kriminalisasi atas HRS, Ustadz Bachtiar Nasir, Ustadz Adnin Armas dan lain-lain, tak lebih dari upaya demoralisasi. Upaya untuk menghancurkan tokoh-tokoh yang didengar oleh Umat Islam atau Alumni 212. Arahan para tokoh ini begitu didengar umat. Diminta bergerak ke Jakarta patuh, diminta demo dengan tertib patuh, diminta jaga kebersihan patuh, disuruh bubar patuh. Kepatuhan ini begitu mengerikan di mata berbagai pihak.
Intinya apa? Semua pihak yang mendukung upaya melumpuhkan kekuatan Umat Islam dalam Aksi Bela Islam sangat khawatir jika keberadaan mereka akan segera tersingkirkan, jika gerakan moral ini tidak bisa dihancurkan atau dipecahbelah. Mereka coba bersiasat dengan memutarbalik fakta dengan mengatakan silent majority tidak suka dengan gerakan moral ini. Padahal faktanya mereka tahu persis justru silent majority sangat mendukung gerakan moral ini. Pilkada Jakarta sudah menjadi fakta tentang kemana sikap silent majority.
Mereka khawatir jika bukan hanya di Jakarta saja dukungan 58% itu, tapi di seluruh Indonesia! Jika 58% rakyat Indonesia atau lebih, mendukung gerakan moral ala 212, maka dapat dipastikan kedurjanaan akan segera sirna di negara ini. Inilah yang sedang didemoralisasi oleh berbagai kepentingan. Agar Umat Islam Indonesia jangan kembali ke ajaran Quran dan Sunnah seutuhnya. Getaran iman mereka begitu mencemaskan para durjana.
Tudingan radikalisme adalah tudingan mengada-ada. Tidak ada satu pihak atau bangunan atau fasiltaspun yang dirusak oleh Aksi Bela Islam. Semua Aksi Bela Islam berjalan damai. Semua berjalan dalam kepatuhan bahwa Umat Islam itu rahmat bagi Indonesia, bukan sebagai gerakan anarki yang membuat kecemasan di ruang publik. Tudingan radikalisme cuma upaya untuk membuat gerakan moral ini menjadi tidak populer.
Para durjana berpikir mereka bisa bersiasat dengan cerdas, namun nyatanya Allah-lah sepandai-pandai pembuat siasat. Allah-lah yang membolak-balikkan hati Umat Islam Indonesia. Bukan Habib Rizieq Shihab. HRS bisa dipenjarakan, tapi Iman Umat Islam Indonesia tidak akan pernah bisa dipenjarakan.

_Renungan menyambut hari Kebangkitan Nasional 20 Mei 2017_


*Mensikapi tentang perkembangan Geopolitik dan Geostrategi di Indonesia*

1. Indonesia menjadi sasaran target incaran negara maju di dunia (bentuk Penjajahan Modern).
2. Kekuatan asing yang mengincar Indonesia sangat banyak dan berharap Indonesia rusuh, perang saudara seperti di Suriah sekarang.
3. Mereka melakukan skenario (ibarat lingkar obat nyamuk) secara sistematis melakukan Pelemahan Ketahanan Nasional Indonesia, secara bertahap dan sangat halus dari segala sendi kehidupan bernegara kita.
4. Target operasi pelemahan pertahanan meliputi semua bidang (ekonomi, politik, hukum, peraturan perundangan, sejarah, media informasi, pergeseran watak prilaku bangsa, gaya hidup, dsb )
5. Pelemahan sistem pertahanan yang mereka bangun melalui operasi inteligent asing masuk di kalangan masyarakat, ada USER (negara/kelompok elit), ada AGENT HANDLE, di bawahnya AGENT ACTION, di bawahnya lagi INFORMAN berlapis.
7. Tiap struktur dan bagian ini bergerak dan tidak saling mengenal untuk melakukan operasi-operasi cipta kondisi bahkan sabotase, dengan Dana bantuan tanpa batas serta dukungan power politik yang kuat.
9. Masing2 agent ini masuk melebur kedalam sendi sendi kehidupan bernegara kita. Ada yang masuk dan menjadi tokoh negarawan, dosen, pengamat, pejabat publik, institusi pemerintahan (Eksecutive, legislatif, yudicative), dunia perbangkan, dan dunia perfilman
10. Merekayasa untuk menciptakan terjadi gejolak kerusuhan di Indonesia, menanamkan rasa saling benci, saling curiga, saling buruk sangka, diantara sesama anak bangsa. Baik antar suku, antar agama, antar ormas, antar ulama antar pengamat, antar kampus, antar parpol, antar tokoh bangsa. Termasuk antar institusi.
11. Kita semua seolah di paksa dan di giring kepada satu titik yaitu PERANG, sekecil apapun masalah akan di peruncing dan di provokasi.
12. Tujuannya hanya satu : Menjadikan anak bangsa menjadi bangsa yang sinis, egois, sadis, ambisius, dan anti kebersamaan.
13. Kita di jauhkan dari sifat asli bangsa Indonesia seperti : _Pejuang, pemberani, kuat, jujur, kompak, suka bermusyawarah, gotong royong._
14. Jadi kalau ada kejadian disekitar kita yang diluar kewajaran itu adalah salah satu bentuk hasil kerja para agent tersebut.
15. Perang saudara adalah hal yang sangat di inginkan USER asing thd indonesia. Agar kita akhirnya terpecah belah, hancur lebur, lemah untuk kemudian mereka kuasai (Jajah).
.................
*UNTUK ITU :*
------------
1. Jadilah kita kembali menjadi jati dirinya orang Indonesia yaitu sebuah bangsa yang kuat dan bersaudara.
2. Jangan mau terpancing untuk menjadi "Tidak Waras" (Sesuai keinginan USER) untuk punya keinginan saling bunuh, saling memerangi, saling menghabisi antar sesama anak bangsa. Persoalan politik diselesaikan dengan cara politik yang moderat.
3. Kalau Indonesia pecah perang saudara, banyak negara sekitar kita yang tepuk tangan dan bahagia.
4. Secara politik konstitusional. Tidak ada sebaik melebihi lagi kepada UUD 1945 dan Pancasila sebagai pemersatu bangsa. Karena di buat oleh para Founding Father kita melalui sebuah perenungan, pemikiran, dan penghayatan yang sangat dalam sesuai dengan kondisi bangsa.
5. Ikat kembali rasa persatuan sesama anak bangsa, jangan mudah terpancing, tapi justru merekat kembali rasa persaudaraan kita untuk melakukan perbaikan moral dan cita cita bangsa. NKRI harga mati harus kita pertahankan.
.......................

Kisah imam Syafi'i yang mengunjungi imam Ahmad bin Hanbal

Putri imam Hanbal sangat senang akan kehadiran Imam Syafi'i karna putri beliau sangat senang dengan kisah Orang Orang Soleh
Setelah datang ke Rumah Imam Hanbal putri beliau memperhatikan imam Syafi'i sampai shalat subuh...
Pagi harinya putri Imam Hanbal bercerita dengan Ayahnya..dan bertanya
"Abi apa benar itu Imam Syafi'i yang terkenal dengan ilmu dan ke solehannya.. kenapa beliau begtu banyak makannya saat makan bersama kita ..
Aku semaleman tidak tidur aku perhatikan beliau setelah shalat Isya beliau hanya tidur dan shalat subuh dengan kita tidak ambil wudhu lagi langsung ikut di barisan"
Kemudian Imam Hanbal menemui Imam Syafi'i dan mencetitakan apa yang di sampaikan putrinya dan Imam Syafi'i berkata:
"Aku makan banyak dengan makanan yang kau hidangkan Aku Hanya mengharapkan makan dari Rizqi orang soleh seperti mu itu sebagai Obat Riziqi yang kau dapat sudah jelas Halal dan Berkah..
Kenapa aku tidak mengambil wudhu saat shalat subuh karna aku masih memiliki wudhu dari shalat isya sesungguhnya semalam aku tidak bisa tidur aku hanya berbaring bagaimana aku bisa tidur karna di kepalaku ada Al qur'an dan Hadit's aku memikirkan bagai mana Umat agar selamat mengikuti Syari'at"
Dan Imam Hanbal sangat takjub dengan apa yang di ceritakan Imam Syafi'i dan beliau ceritakan kepada putinya .. dan Putri beliau sangat senang dengan apa yang di sampaikan Ayahnya..
☺☺☺
Orang Sholeh tau apa yang harus di lakukan
Beda dengan kita Orang Awam hanya melakukan apa yang kita tau

AHOK HARUS DISELAMATKAN

Oleh: Mustofa B. Nahrawardaya *)
POROSINDONESIA. Jakarta — Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok, pria keturunan Tionghoa yang sempat menjadi Gubernur hasil ‘lungsuran’ Pak Jokowi 2014 silam, mungkin tidak menduga bahwa Majelis Hakim Pengadilan Jakarta Utara akan memvonisnya dengan 2 tahun penjara. Saya katakan menggunakan istilah ‘mungkin’, karena saya juga tidak bisa mengesampingkan kemungkinan adanya informan-informan Ahok yang barangkali sudah tahu bocoran vonis Majelis Hakim sebelum dibacakan. Tanpa diberi ijin pulang ke rumah, Ahok juga diharuskan menempati ruang di LP Cipinang usai sidang, Selasa (9/5/2017) petang, sebelum dipindah ke Mako Brimob dengan alasan keamanan. Masih banyak dari kita barangkali yang tidak mau menerima alasan Polisi, kenapa Ahok harus dipisahkan dari napi Cipinang dan harus dipindah ke Mako Brimob. Bagi saya, ini justru lebih baik, daripada terpidana Penoda Agama itu ditempatkan di LP Cipinang. Kok bisa?
Kasus yang membelit Ahok, memang bukan kasus Extra Ordinary Crime (EOC) yang di Indonesia ada tiga jenis kejahatan yakni Terorisme, Narkoba dan Korupsi. Kejahatan yang dilakukan Ahok, adalah menodai Agama Islam dengan sengaja, melakukan ujaran kebencian terhadap kelompok Umat Islam di Kepulauan Seribu maupun melalui tulisan di buku yang dia terbitkan dan dijual hingga sekarang di toko buku. Bahkan di berbagai tempat, Ahok juga melakukan pengulangan perbuatannya, sehingga kasus ini menjadi spesial dan sensitif.
Berbeda dengan style kasus EOC, penodaan agama terasa sangat khas dan efek yang ditimbulkan sungguh sangat dahsyat. Kasus ini dapat menyebabkan keresahan massif dan terstruktur jika tidak segera ditangani penegak hukum dengan benar. Oleh karenanya, perbuatan Ahok sudah menjadi fakta di depan mata telah menyebabkan keresahan Umat Islam di Indonesia. Hampir di semua kota di Indonesia, Umat Islam geram dan marah, sehingga setiap Aksi Bela Islam yang bertujuan meminta keadilan kasus ini, nyaris membuat Jakarta penuh sesak. Sekalipun dihambat polisi di mana-mana dengan berbagai dalih, aksi massa Umat Islam relatif sukses, sekalipun para pimpinannya bahkan ada yang ditangkap.
Akibat perbuatan Ahok, maka musuh Ahok kini bukan lagi sekedar lawan-lawan politiknya di Pilkada atau di Partai Politik. Ahok telah sedemikian rupa membentuk Umat Islam tersinggung, dan ini jelas mengakibatkan banyak Umat Islam merasa dimusuhi. Nah, karena yang marah Umat Islam, maka jangan salah jika di manapun orang Islam berada, bisa jadi ada di sana yang merasa dimusuhi Ahok dan tidak mudah melenyapkan kejengkelan dan kekesalan hingga melahirkan sikap dendam. Di jalan, di toko, di sawah, di kampung, di kota, di mal, di kantor, di pelabuhan, di terminal, di pasar, bahkan di kantor Polisi dan TNI tidak tertutup kemungkinan ada musuh Ahok. Tentu karena perbuatan Penodaan Agama, sikap permusuhannya tidak seperti permusuhan kasus lain. Ini terkait keyakinan. Ditambah, mudahnya warga memiliki akun media sosial, mereka dengan mudah dapat menularkan ide dan gagasan yang berangkat dari rasa dendam itu. Apalagi, orang-orang yang marah akibat pelaku Penodaan Agama, jelas tidak mengenal profesi. Bisa aparat, pedagang, PNS, tukang sapu, ibu rumah tangga, mahasiswa, pengurus Masjid, dan lain-lain. Mereka semua sangat dikhawatirkan sedang menyimpan berbagai aroma rasa dendam yang belum terlampiaskan selain melalui aksi-aksi damai selama ini. Oleh karena itu ketika mendekati tanggal 9 Mei 2017 dimana Ahok akan divonis Majelis Hakim, maka salahsatu yang perlu saya khawatirkan terhadap Ahok adalah: dia ditahan atau tidak, jika dinyatakan bersalah. Dua pilihan ini sangat penting, karena memiliki konsekuensi. Tuntutan Umat Islam sejak aksi 411, 212, sampai 505 belum lama ini, sangat jelas, agar Ahok ditahan.
Maka, ketika Hakim kemudian memerintahkan agar Ahok ditahan, salahsatu kekhawatiran saya yang selama ini menggantung, menjadi hilang. Namun bukan berarti masalah selesai. Ketika Ahok dilarikan ke Cipinang, ternyata kekhawatiran baru, kembali muncul. Bagaimana jika di Cipinang ada sekelompok oknum yang juga menyimpan rasa dendam kepada dia? Bagaimana jika yang menyimpan rasa dendam itu bukan hanya penghuni, tetapi juga sipir? Keselamatan Ahok dipertaruhkan. Berbagai kemungkinan pun bisa terjadi. Bisa saja Ahok dilukai atau bahkan dihabisi oknum di dalam. Atau, Ahok dilukai atau dihabisi pihak tertentu dengan meminjam tangan napi. Atau, berita klasik: ada berita “Ahok Meninggal Karena Gagal Jantung”. Ini akan menampar kita semua. Sekalipun berita ini benar dari fakta, namun dapat dibayangkan analisa liar para pendukung Ahok terhadap jagoannya itu. Yang akan dikambing hitamkan oleh analisa liar, bisa sangat banyak. Jatuhnya korban luka dan apalagi jatuhnya jiwa politikus di sebuah tempat, sangat mengundang beragam dugaan penyebab. Apalagi jika musuh politikus itu, juga bertebaran di luar ranah politiknya.
Oleh karena itu, memang sudah tepat Ahok ditahan, untuk menghindari adanya huku

Senin, 08 Mei 2017

TREND ‘TALAFI’ DI TAHUN 2017.


( Fakta dan Pengalaman )
Sahabat iman yang dimuliakan Allah, pembahasan tentang ‘Talafi’ dan ‘Salafi’ sudah sering kita dapati. Perbedaan antara Salafi (Kaum pecinta Sunnah pengikut manhaj Salaf) dengan Talafi (aliran paling suci pemegang kunci surga) juga sudah dibahas diberbagai kesempatan. Sekarang, yuk kita rehat sejenak sambil melihat bagaimana TREND TALAFI DI TAHUN 2017 ini. Diantaranya adalah:
=> YANG BERHAK jadi ustad, hanya gurunya. Yang boleh dipanggil ustad, hanya tokoh-tokoh yang di idolakannya. yang berhak berdakwah, hanya ustad-ustadnya. Kalau ada ustadz lain tidak boleh. tidak boleh ngisi kajian di masjidnya, tidak boleh di undang ke daerahnya dan mesti di boikot. karena dianggap “sesat”, “hizbiyyah”, “khawarij”, “masuk neraka”, atau minimal dianggap “manhajnya tidak jelas”, dll. sehingga tidak berhak di panggil ustad dan jangan dianggap ulama, dst. Ada orang sealim apapun selama bukan ustadz atau bukan ulama “sesembahan” dia, maka tidak perlu di hormati. tidak perlu di panggil “ustadz”, tidak perlu di panggil “syaikh”. Ini lagi nge-trend banget di tahun 2017, sahabat. ðŸ˜Š
=> YANG BOLEH pakek jubah, hanya dia dan orang-orang yang sekelompok dengannya. yang berhak mengamalkan sunnah, hanya dia dan orang-orang yang satu spesies dengannya. yang boleh pakek gamis, sorban, hanya ustadnya. Kalau kita yang pakek jubah/pakek gamis, katanya “sok ngustad”, “sok ulama”, dst. Hebat ya mereka.? ðŸ˜ƒ dunia hanya milik mereka. kalau mau masuk surga, harus daftar dulu ke mereka. Itulah TREND TALAFI, sahabat. ðŸ˜Š
=> YANG lebih nge-trand lagi adalah, mereka ghibah, menggunjing, mem-bully serta menjatuhkan kehormatan orang lain dengan alasan “menjaga agama”, itu boleh-boleh saja menurut mereka. mereka mau mentahdzir orang dan siapa saja yang mereka benci, boleh. Seribu satu dalil dan kalam ulama mereka cari-cari, copas sana-sini untuk membenarkan nafsu jahatnya. Nafsu jahat apa itu? MENGHINA DAN MEROBEK-ROBEK KEHORMATAN ORANG LAIN. -wal ‘iyaadzubillah- . tapi kalau mereka yang di tahdzir, langsung kebakaran kumis. Ngga usah di tahdzir deh, terlalu berat. Di seggol saja sedikit tokoh panutannya atau ustadznya, langsung meradang bagaikan gerandong nyari tumbal.
=> YANG tidak kalah nge-trend adalah, MEMBUKA AIB ORANG alias MAKAN BANGKAI, talafi jagonya. kata mereka jangan suka membahas syubhat; syubhat harus di jauhi. Syubhat di hindari, tapi menghina orang & merusak nama baik orang itu bukan syubhat, bukan haram. Itu ‘HALAL’. sikat saja yang penting kenyang makan bangkai. urusan pengadilan Allah di akhirat, itu belakangan. ðŸ˜ƒ
=> TERAKHIR. Orang mau yang nikah, bisa batal nikah gara-gara doktrin Talafi. Kenapa ? Karena mereka anggap “tidak semanhaj”. Yang “semanhaj” itu mesti cingkrang dulu, jenggotanya nge-jreng dulu, ngajinya dengan ustadznya dulu, dan channel TV di rumahnya harus Channel “harap-harap cemas” dulu. Tidak percaya ? Buktikan di lapangan. Orang yang sudah menikah pun, bisa cerai di buatnya. kenapa ? Lagi-lagi karena mereka anggap “tidak seaqidah”. Hebat ya.? “lebih hebat” dari LDII (Aliran Islam Jam'ah) trend Talafi ini. . ðŸ˜Š
JIKA anda temukan ada orang muslim berjenggot, bergamis, celana cingkrang, yang memiliki ciri-ciri trend seperti yang saya sebutkan diatas (baik di dunia maya ataupun di dunia nyata), maka ketahuilah bahwa dia adalah TALAFI (makhluq Allah yang paling suci tanpa dosa dan dicipta untuk memegang kunci surga). Baik Talafi dari kalangan murji-ah (mulukiyyah) maupun Talafi dari kalangan islam jama'ah (LDII).
Tapi jika anda temukan seorang muslim berjenggot, bergamis, celananya di atas mata kaki dalam rangka menteladani Sunnah Nabi, penampilannya islami, tetapi akhlaqnya pun santun dan berbudi pekerti. terbuka dengan seluruh kaum muslimin, berlapang dada terhadap perbedaan, tidak mudah menyesat-nyesatkan, wajahnya berseri penuh senyuman, lisannya ringan menebar salam, selalu menjaga kehormatan dan mudah memaafkan, mencintai kaum muslimin & sangat membenci kaum kafirin, maka DIALAH SALAFI SEJATI.
Nas’alullah al-aafiyyah wa salamah.
✍ Maaher At-Thuwailibi

MUHASABAH GERAKAN

*Tragedi Mesir* mengajarkan kita untuk peduli.
*Tragedi Suriah* melihat kita untuk punya militansi.
*Tragedi Rohingya* membuat kita sadar, bahwa menjadi minoritas kemungkinan besar kita tertindas.
Setiap tragedi yang menimpa umat ini seharusnya memberi pelajaran berarti.
*Dakwah harus dikawal dengan jihad*.
Karena ketika dakwah berjalan sendiri, maka dia akan rawan mendapat halangan, disitulah jihad berperan.
Tragedi-tragedi ini juga menyadarkan kita bahwa *setiap nyawa muslim harus dibela*. Meski dengan keterbatasan yang kita punya.
*Para ibu harus sadar hal ini*. Sehingga menyiapkan anak-anak yang peka pada zamannya.
Agama modern melihat kekerasan tak perlu terjadi. *Mereka lupa bahwa kapitalis & imperialis selalu menebar teror di dunia ini*.
*Para akhwat muslimah harus sadar politik*. Dunia tak hanya sekedar memilih motif pakaian. Tetapi pertempuran idiologi iman.
*Para pemuda harus tahu tantangan zamannya*. Jangan terlalu larut pada urusan cinta. Karena nyawa muslimin dalam bahaya.
*Perlu halaqah-halaqah politik, disamping halaqah ilmu dien*. Memandang pertarungan dari sisi yang lebih benar.
*Politik umat ini* bukan hanya sekedar duduk di kursi DPR. Tetapi *tahu mana haq & bathil & harus berdiri disisi mana*.
Umat ini harus tahu bahwa musuh itu ada. Tiap detik berpikir soal bagaimana menghancurkan kita.
*Mereka hanya akan berhenti saat kita mengikuti millah mereka*. Dan bumi ini hanya akan diatur oleh aturan mereka.
*Urusan umat ini* lebih besar daripada hanya sekedar menjadi pemenang X Factor atau Master Chef.
*Urusan umat ini* lebih penting daripada sekedar mengoleksi foto penyanyi K-POP & menangisi foto mereka.
*Urusan umat ini* lebih penting daripada berdebat soal perbedaan pendapat harakah kita.
*Mereka sepakat memusuhi kita*, sedangkan kita berpecah belah dalam memerangi mereka.
Kita bersungut-sungut hanya karena takbiratul ikram yang berbeda gerakannya, sementara kristenisasi kita diam saja.
*Musuh menyediakan taman bermain untuk membuat kita lupa* mengasah pedang-pedang kita. Musuh menyediakan tayangan yang tak ada ending diakhirnya, agar kita sibuk berpikir tentangnya.
*Musuh mengajarkan konsep cinta dunia*, hingga urusan meraih pahala saja harus dihitung-hitung dengan dunia kita.
Musuh telah menebar duta-duta cantiknya, *menyeru pada kemaksiatan & kita pun masuk dalam perangkapnya.*
Sehingga tersemat dikepala umat ini, berjuang untuk agamanya tidak lebih mulia daripada berjuang demi alamnya.
*Musuh mengajak kita tertawa, agar lupa genangan darah saudara-saudara kita*. Musuh mengajak kita menikmati dunia dengan cara mereka.
Dan mereka menolak cara-cara kita. Musuh mengajak kita makan makanan mereka, dengan cara & gaya mereka.
Maka memalukan bila kita menolak pikiran & gerakan musuh, tetapi kita bangga memakan makanan mereka dengan gaya mereka.
Musuh menyajikan tayangan setiap hari untuk *membuat kering airmata kita & kerasnya hati kita.*
Musuh tidak akan memberi kesempatan pada kita berpikir menegakan agama. Berpikirlah terus tentang dunia.
*Musuh tahu bagaimana mengadu domba.* Dan kita selalu mau menjadi domba baik hati yang menuruti mereka.
*Musuh tahu bagaimana membuat kita cakar-cakaran sendiri sesama saudara*. Hanya karena beda sedikit saja.
Musuh tahu bagaimana menciptakan kesibukan dalam internal kita. *Agar kita tidak sempat berpikir melawan mereka.*

Sabtu, 06 Mei 2017

Dua Matahari dari Tanah Jawa

Dua Matahari dari Tanah Jawa 
(Menggali Rekam Jejak Masa Belajar dan Perjuangan Dakwah Tokoh Pendiri NU dan Muhammadiyyah)



Nun di pinggiran kota Semarang terdengar sayup-sayup lantunan ayat suci, dan pengajian kitab di sebuah tempat yang cukup sederhana, meski bergelut dengan kesehajaan pesantren ini yang kemudian menjadi saksi 2 tokoh besar pembaharu islam di Nusantara, sosok yang kelak akan mendirikan 2 organisasi besar agama tauhid ini di tanah air, NU dan Muhammadiyyah inilah Pondok Pesantren yang diasuh oleh Ulama’ Kharismatik, beliaulah KH. Sholeh Darat. Setiap hari Mbah Soleh mengajar para santrinya ilmu dasar keislaman seperti tasawuf dari kitab al-Hikam karya Ibnu Athaillah Al-Sakandari, dan Kitab al-Munjiyah (karya KH. Sholeh Darat); fiqih (Kitab Lataif Al-Taharah), serta beragam ilmu yang lain. Di pesantren ini, dua orang santri muda yang kelak akan turut berperan menumbuhkembangkan geliat Islam di Indonesia, juga sedang bergiat mengaji. Keduanya sama mewarisi darah Raden Paku atau yang dikenal Sunan Giri seorang Wali Besar dari kota Pudak, Gresik. 
Santri pertama berumur 16 tahun (lahir 1868 M), bernama Mohammad Darwisy. Ia dilahirkan dari kedua orangtua yang dikenal alim, KH. Abu Bakar (Imam Khatib Masjid Besar Kesultanan Yogyakarta) dan Nyai Abu Bakar (puteri H. Ibrahim, Hoofd Penghulu Yogyakarta). Kakeknya adalah KH. Muhammad Sulaiman bin Kyai Murtadha bin Kyai Ilyas bin Demang Jurung Juru Kapindo bin Demang Jurung Juru Sapisan bin Maulana Sulaiman Ki Ageng Gribig (Jatinom) bin Maulana Muhammad Fadlullah (Sunan Prapen) bin Maulana ‘Ainul Yaqin (Sunan Giri) bin Maulana Ishaq bin Syekh Jumadil Kubro. (Dalam sumber lain dari buku karya Yunus Salam terbitan 1986 dikatakan bahwa Syekh Maulana Ishaq adalah putra Syekh Maulana Malik Ibrahim, salah satu Wali Songo yang dimakamkan di Desa Gapura, Gresik) 
Sedang santri kedua berusia 15 tahun, Muhammad Hasyim. Ayahnya adalah kyai kenamaan, KH. Asy’ari (Pengasuh Pondok Pesantren Keras, Jombang Selatan) bin Abu Sarwan bin Abdul Wahid bin Abdul Halim bin Abdurrahman (Pangeran Samhud Bagda) bin Abdul Halim (Pangeran Benawa) bin Abdurrahman (Jaka Tingkir) bin Maulana ‘Ainul Yaqin (Sunan Giri).

Dari garis ibu, Halimah, Muhammad Hasyim memiliki kakek bernama Kiyai Usman (pimpinan Pesantren Gedang). Buyutnya, Kiyai Sihah, juga pendiri pondok pesantren Tambakberas. Jika dirunut ke atas, Muhammad Hasyim adalah turunan ke delapan Raja Brawijaya VI, yang juga dikenal dengan Lembu Peteng, ayah Jaka Tingkir yang kemudian menjadi Raja Pajang setelah keruntuhan Kerajaan Demak.
Muhammad Hasyim, lahir di Pondok Nggedang, Jombang, Jawa Timur, pada Selasa 24 Dzulqo’dah 1287 H/14 Februari 1871 M. Masa dalam kandungan dan kelahirannya sudah menampakkan keistimewaan isyarat yang menunjukkan kebesarannya kelak. Satu di antaranya, ketika dalam kandungan, Nyai Halimah bermimpi melihat bulan purnama yang jatuh ke dalam kandungannya. Begitu pun ketika melahirkan, Nyai Halimah tidak merasakan sakit yang dialami kaum perempuan saat melahirkan.
Setelah sekitar sembilan tahun mukim dan belajar di Pesantren Keras sampai berusia 15 tahun), Muhammad Hasyim mulai melakukan pengembaraannya mencari ilmu ke pondok-pondok pesantren yang masyhur di tanah Jawa, khususnya Jawa Timur. Di antaranya adalah Pondok Pesantren Wonorejo di Jombang, Wonokoyo di Probolinggo, Tringgilis di Surabaya, dan Langitan di Tuban, kemudian Bangkalan, Madura, di bawah bimbingan Syaikhona Muhammad Khalil bin Abdul Latif (Syaikhona Khalil Bangkalan).
Di Bangkalan inilah, Mohammad Darwisy bertemu pertama kali dengan Muhammad Hasyim. Dalam jangka waktu yang cukup lama mereka berteman dan belajar, maka setelah tuntas belajar pada Kyai Khalil, keduanya masing-masing dibekali kitab sebagai bekal mengaji lanjutan kepada kawan Kyai Kholil di Semarang, yakni Kyai Sholeh Darat.
Kala itu, Kyai Sholeh Darat adalah ulama terkemuka, ahli nahwu, ahli tafsir, dan ahli falak. Keluarga besar RA Kartini yang dikenal dengan pejuang emansipasi wanita di Indonesia juga mengaji pada beliau. Bahkan atas masukan Kartini lah, Kyai Sholeh Darat menerjemahkan al-Quran ke dalam bahasa Jawa agar bisa dipahami banyak orang di tanah Jawa. Buku Habislah Gelap Terbitlah Terang yang dikarang oleh tokoh kelahiran Mayong Jepara ini berasal dari tafsir tersebut diambil dari potongan ayat “Minaddzulamati ilan nuur”
Selama nyantri di bawah naungan Kyai Sholeh Darat yang dimakamkan di pemakaman umum Bergota, Kota Semarang (dalam sumber lain di dekat masjid desa darat) sepanjang dua tahun penuh, Mohammad Darwis memanggil Hasyim—teman sekamarnya, dengan sebutan Adi Hasyim. Sementara Muhammad Hasyim menyapa Mohammad Darwis dengan sebutan Mas Darwis. 
Ketekunan dua santri yang cerdas ini kemudian berbuah pengutusan mereka oleh sang kyai untuk melanjutkan studi ke Tanah Suci, Makkah. Sebelum berangkat ka jazirah Arabia, Mohamamd Darwis sempat melanjutkan pelajarannya belajar ilmu fiqih pada KH. Muhammad Shaleh, belajar ilmu nahwu pada KH. Muhsin dan KH. Abdul Hamid. Sementara itu, keahliannya dalam ilmu falak diperoleh dari berguru pada KH. R. Dahlan, salah seorang putra Kyai Termas. Sedangkan ilmu Hadis yang dikuasainya diperoleh dari KH. Mahfud, (terkenal dengan Syekh Mahfudz Termas, ulama besar dari Pacitan Jawa Timur), Syaikh Khayat, dan KH. Muhammad Nur.

Seperti juga Darwisy, pemuda Hasyim terpikat untuk lebih lama memperdalam ilmu di Pesantren Al-Hamdaniyyah, pesantren yang didirikan oleh KH. Hamdani pada tahun 1878 di Siwalan Panji, Sidoarjo, yang saat itu dipimpin oleh putra beliau, Kiyai Ya'kub. (Penjelasan terkait Pesantren ini bisa disimak di https://web.facebook.com/Bakka.dalleku/posts/1387644634602500)
Di sana, berkat kecerdasannya, Hasyim segera menjadi santri menonjol. Perilaku dan tekadnya, mencuri hati pimpinan pesantren. Bahkan belakangan, sesuai tradisi lingkungan pesantren, Kiyai Ya'kub pun mengangkat Hasyim sebagai menantu. Ia dinikahkan dengan Khadijah, pada usia 21 tahun (1308 H). Setelah pernikahan, Hasjim bersama istri dan mertuanya, ia menunaikan ibadah haji. Tetapi sayang, saat di tanah suci, istri beliau tersebut meninggal saat hamil tua.
Setiba di Makkah pada 1883, Hasyim bertemu Darwisy. Mereka pun segera menjadi murid kesayangan Imam Masjid al-Haram, Syaikh Ahmad Khatib al-Minangkabawi, Syaikh Nawawi al-Bantani (seorang ulama besar dari Tanara, Banten yang kelak menggantikan jabatan Syaikh Ahmad Khatib al-Minangkabawi), dan Syaikh Mahfudz at-Tarmisi. Selain tiga nama tokoh kawakan itu, masih ada lagi Kyai Mas Abdullah (Surabaya) dan Kyai Faqih dari Maskumambang. Memang saat itu banyak ulama Indonesia yang mengajar di Tanah Haram sebelum kemudian dilarang oleh pemerintah kerajaan Arab Saudi. Dan inilah penyebab kebangkitan umat islam menurut orientalis Belanda, Snouck Hourgenje yang mengatakan bahwa munculnya ruh jihad umat islam dalam melawan penjajahan Belanda berawal dari semangat pemuda Indonesia yang belajar dan mengajar di Tanah Haram.

Puluhan ulama-ulama Makkah waktu itu yang berdarah Nusantara dalam praktik ibadah, seperti; tasawuf, wirid, tahlil, membaca barzanji (diba’) telah menjadi bagian dari kehidupan mereka yang diamalkan di sana. Tentu saja, itu pula yang diajarkan pada para santri seperti Mohammad Darwisy, Muhammad Hasyim, Wahab Hasbullah, Syaikh Abdul Kadir Mandailing, dll. Dari sini tampaklah kecenderungan Muhammad Hasyim yang sangat mencintai Hadis, sementara Mohammad Darwisy lebih tertarik bahasan pemikiran dan gerakan Islam yang dipengaruhi oleh pemikiran Muhammad Abduh, pembaharu islam dari Universitas Al-Azhar, Mesir.
Di antara guru-guru Hasyim yakni, Syaikh Mahfudz lah yang sangat menyayanginya. Hasyim memperdalam ilmu Hadis dari Syaikh Mahfudz yang dikenal sebagai isnad (perantai) dalam pengajaran kitab Sahih al-Bukhari. Bahkan, ia pun mendapatkan ijazah dari sang guru atas penguasaannya pada kitab Sahih al-Bukhari.
Syaikh Mahfudz merupakan generasi terakhir dari 23 generasi ulama 'Shahih al-Bukhari' yang mendapatkan ijazah langsung dari Imam Bukhari. Hasyim kemudian memperoleh ijazah itu dari Syaikh Mahfudz, pertanda besarnya penghargaan sang guru pada muridnya.
Hasyim memang laiknya musafir di sisi Baitullah. Malam-malamnya, diisi dengan menyimak pengajaran dari sang guru. Bersama santri dari pelbagai negeri mancanegara, ia duduk di dalam lingkaran disiram cahaya fanus (pelita). Di tengah lingkaran, sang guru dengan jubah kebesarannya, memberikan wejangan dan pengajaran.
Di saat senggang, ia terisak di sisi makam Rasulullah SAW, maupun di tempat mustajab yang lain seraya memanjatkan doa pada Allah Swt agar dapat mudah dalam memperdalam Islam tuk kemudian mendakwahkannya. Saat hendak kembali ke Tanah Air, Hasyim bersama beberapa santri seperguruan di antaranya, Pangeran Syiria, mengikat ikrar dengan disaksikan Baitullah.
Doa dengan linangan air mata itu, kemudian dikabulkan Allah. Ikrar tersebut menyatukan mereka kelak menjadi pemuka agama di negeri masing-masing. Sekembali ke Tanah Air, ia pun bersungguh-sungguh mengajarkan ilmu yang diperolehnya di Tanah Suci. Bahkan, kemudian ia memilih membuka pesantren di Tebuireng. Pilihan ini sempat menjadi bahan tertawaan. Sebab Tebuireng kala itu adalah muara maksiat. Sebagian penduduknya masih terbiasa dengan judi, zinah, bahkan merampok. Di pusat kekelaman itulah, Hasyim muda menyalakan pelita ilmu.
Pada usia 20 tahun (1888), Darwisy kembali ke Yogyakarta dan ia pun diangkat menjadi Khatib Amin di lingkungan Kesultanan Yogyakarta. Dua tahun berselang pada usia 22 tahun, Darwisy menunaikan ibadah haji. Kesempatan menunaikan ibadah haji tersebut ia pergunakan sebaik-baiknya untuk belajar pada seorang guru bermazhab Syafi'i yang bernama Sayid Bakir Syaththa di Makkah, selama kurang lebih dua tahun. Tokoh inilah yang mengganti namanya menjadi KH Ahmad Dahlan, terinspirasi dari nama mufti Syafiiyyah dari Kota Makkah, Syekh Ahmad bin Zaini Dahlan.
Muhammad Hasyim pulang ke Jombang. Di sana, KH Muhammad Ikhsan (Kakek Cak Nun “Emha Ainun Najib”), telah menantinya penuh rindu. Bersama lima kiyai lain dari Cirebon, kakek Cak Nun nan 'sakti' inilah yang menaklukkan kawasan rampok dan durjana bernama Tebuireng, untuk didirikan pesantren. Ia memohon pada Hasyim muda agar berkenan mengajar di situ. Maka dibukalah pengajian 'Shahih al-Bukhari' di Jombang.
Ada cerita menarik terkait kakek Cak Nun ini. Saat hendak dimakzulkan (diturunkan) dan diminta mundur dari jabatan presiden, Gus Dur biasanya menjawab, "Saya kok disuruh mundur, maju saja susah, harus dituntun!" Tapi berbeda halnya dengan Cak Nun yang mendatanginya ke Istana Negara. "Gus, kon wis wayahe munggah pangkat: Gus, kamu sudah saatnya naik jabatan!" Sebenarnya bukan perkataan Cak Nun semata yang membuat Gus Dur berkenan mundur. Ia ingat belaka jasa baik kakek Cak Nun dulu pada kakeknya sendiri, Hadratusy Syaikh Hasyim Asy’ari.
Kembali ke Hadratusy Syaikh Hasyim Asy'ariy. Sejak memulai pengajian Shahih al-Bukhari, beliaulah orang yang menjadikan pengajian Hadis dinilai penting & terhormat. Sebelum Hadratusy Syaikh memulai Pondok Pesantren Tebuireng-nya dengan kajian Shahih al-Bukhari, umumnya saat itu banyak pondok pesantren hanya mengajarkan tarekat saja.
Tak lama berselang, Ponpes Tebuireng pun kian maju. Para santri mulai berdatangan dari seantero Nusantara. Hubungan baik pun terjalin dengan Kiyai Abdul Wahab Hasbullah, Tambakberas, putra Kiyai Wahab Hasbullah. Tebuireng juga berhubungan baik dengan KH Bisyri Syansuri, Denanyar. Kelak, KH. Abdul Wahid Hasyim, putra Hadratusy Syaikh Hasyim Asy’ariy, menikahi putri beliau Nyai Solichah (ibu Gus Dur). Sementara KH. Bisyri Syansuri juga beriparan dengan KH. Abdul Wahab Hasbullah. Inilah yang kelak menjadi segitiga pilar NU: Tambakberas - Tebuireng - Denanyar.
***


Pemimpin dengan Bakat Alamiah
Pada Usia 35 tahun, untuk kali kedua Kiyai Dahlan menunaikan ibadah haji bersama putranya, Siraj Dahlan yang masih berumur 13 tahun. Selama 1,5 tahun mereka bermukim di Makkah guna memperdalam ilmu fiqih pada Syaikh Saleh Bafadal, Syaikh Sa’id Yamani, dan Syaikh Sa’id Babusyel. Beliau juga belajar ilmu Hadis pada mufti mazhab Syafi’i, ilmu falaq pada Kiyai Asy’ari Bawean, ilmu qiraat (langgam bacaan al-Quran) pada Syaikh Ali Misri Makkah.

Kepulangannya yang kedua dari Makkah inilah yang kemudian menjadi tonggak Muhammadiyah berdiri pada 8 Dzulhijjah 1330 H/18 November 1912 M. Sahabat santrinya dulu, yang telah dikenal sebagai Hadratusy Syaikh Hasyim Asy’ary mendirikan Nahdhatul Ulama (Kebangkitan Ulama) pada 16 Rajab 1344 H/31 Januari 1926 M.
Bakat memimpin kedua tokoh ini sejatinya telah muncul sedari mereka masih belia. Hadratusy Syaikh Hasyim Asy’ari, misalnya. Ia gemar melerai temannya yang bertengkar, dan merukunkan mereka kembali. Bahkan pernah kepalanya sampai berdarah terkena pukulan dari salah satu temannya yang sedang ribut itu. Tapi ia tidak marah dan tidak membalas. Karena sikapnya yang baik, kedua orang yang bertengkar itu pun akhirnya berhenti, dan merawat kepala Hasyim kecil.
Semasa masih remaja, Hadratusy Syaikh Hasyim Asy’ari juga pernah menggembala sapi dan kambing ketika nyantri pada Syaikhuna Kholil Bangkalan. Ia yang merawat, membersihkan kandang dan mencari rumput bagi hewan gembalaan. Itu dilakukannya semata-mata karena patuh terhadap titah sang guru. Bahkan pernah suatu hari, ia dengan senang hati membongkar septic tank dan mengaduk-aduk isinya hanya demi mencari cincin istri sang guru yang kecebur di kloset hingga cincin itu pun ia temukan. Bagi Hadratusy Syaikh Hasyim Asy’ari, patuh dan menghormati serta membahagiakan guru adalah segalanya. Dari situlah barokah (berkah) sang guru diharapkan bisa hinggap. Pada kenyataannya, Hadratusy Syaikh Hasyim Asy’ari memang menjadi tokoh besar—bahkan “melampaui” gurunya. Bahkan dalam suatu riwayat, Syaikhona Kholil pernah mengaji ilmu hadist kepada Mbah Hasyim Asy’ari di jombang. Inilah sebuah bentuk penghormatan guru murid dan darisitulah banyak berdatangan kyai-kyai khususnya santrinya Syaikhona Kholil untuk berguru dengan Mbah Hasyim.
Hadratusy Syaikh Hasyim Asy’ari juga mendalami ilmu kanuragan, pencak silat. Ini tak lepas dari kondisi sosial yang memang menuntutnya mempunyai keahlian bela diri. Ketika itu, Tebuireng–tempat tinggalnya yang baru—termasuk daerah yang berbahaya lantaran masyarakatnya banyak yang suka mabuk-mabukan, berandalan, penjudi, dan sebagainya. Pernah beberapa kali, kediaman beliau disatroni penyamun. Itulah sebabnya beliau dan para santrinya belajar pencak silat, dengan mendatangkan guru ilmu kanuragan dari Cirebon.
Lain lagi dengan Darwisy kecil yang gemar bermain petak umpet, gobag sodor, dan sepak bola. Ia tak pernah absen bermain bola bersama teman-temannya ketika menjelang sore. Biasanya, Darwisy dan teman-temannya bermain sepakbola seusai mengaji pada sore hari di bawah bimbingan Kiyai Kamaludiningrat di Masjid Gede Kauman.
Darwisy dan kawan-kawannya sering bermain bola tak jauh dari tempat mereka mengaji, yakni di alun-alun utara, atau sesekali di alun-alun selatan yang tak jauh dari rumahnya. Walaupun permainan yang berlangsung sering tidak berpihak pada timnya, tidak menjadikan jiwa dan raga Darwisy lesu. Ia tetap semangat walaupun telah dicederai pihak lawan. Bahkan ia tidak mendendam akibat permainan curang itu. Di sinilah etos kedisiplinan dan kejantanan dijunjung tinggi oleh Darwis.
Tak heran jika kelak Darwisy yang kemudian dikenal sebagai KH. Ahmad Dahlan berubah menjadi orang besar dan berkharisma dalam memimpin organisasi Muhammadiyah yang ia dirikan. Sejak kecil, beliau secara alamiah memang terlatih sebagai pemimpin yang dicintai. Saat memimpin, beliau menekankan strategi dan kerja sama yang dibangun bersama dalam tim. Hingga kini, Muhammadiyah yang didirikan pada 1912 dikenal sebagai organisasi dengan kepemimpinan secara kolegial. 
Kepemimpinan model ini tidak menonjolkan kharisma seseorang, melainkan dengan kerja sama dan mencari titik temu jika terjadi perbedaan di antara para pemimpin. Berdasar karakter kepemimpinan tersebut, maka proses generasi pelanjut dapat berlangsung nyaris tanpa hambatan. Masyarakat pun akan lebih mengenal amal usaha Muhammadiyah, seperti sekolah, rumah sakit, panti asuhan dan sebagainya, tinimbang nama pemimpinnya.

Langkah yang dipilih KH. Ahmad Dahlan demi mempercepat dan memperluas gagasannya tentang gerakan dakwah Muhammadiyah ialah dengan mendidik para calon pamongpraja (calon pejabat) yang belajar di Opleiding School Voor Inlandsche Ambtenaren (OSVIA), Magelang, dan para calon guru yang belajar di Kweekschool Jetis, Yogyakarta, karena ia sendiri diizinkan oleh pemerintah kolonial untuk meng¬ajarkan agama Islam di kedua sekolah tersebut.
Langkah yang ditempuh Hadratusy Syaikh Hasyim Asy’ariy lain lagi. Beliau memilih mendidik santri Tebuireng dengan balutan semangat hisb al-wathon (cinta bangsa). Hal ini terbukti pada 1945. Hadratusy Syaikh dan para ulama NU di Jawa Timur mengeluarkan resolusi jihad, yang mewajibkan umat Islam, terutama kalangan Nahdliyin, untuk mengangkat senjata melawan penjajahan Belanda dan sekutunya yang ingin berkuasa kembali di Indonesia. Kewajiban ini merupakan perang suci (jihad), yang berlaku bagi setiap Muslim yang tinggal radius 94 kilometer dari Tebuireng. Sedangkan mereka yang berada di luar radius tersebut, harus membantu dalam bentuk material bagi mereka yang berjuang. Selain itu Kyai Hasyim juga dikenal produktif dengan meneluarkan berbagai karya, salah satunya Risalah Ahlus Sunnah wal Jama’ah.
KH. Ahmad Dahlan adalah seorang yang sangat hati-hati dalam kehidupan sehari-harinya. Tersirat jelas pada sebuah nasihat dalam bahasa Arab yang ia tulis untuk dirinya sendiri:
“Wahai Dahlan, sungguh di depanmu ada bahaya besar dan peristiwa-peristiwa yang akan mengejutkan engkau, yang pasti harus engkau lewati. Mungkin engkau mampu melewatinya dengan selamat, tetapi mungkin juga engkau akan binasa karenanya. Wahai Dahlan, coba engkau bayangkan seolah-olah engkau berada seorang diri bersama Allah, sedangkan engkau menghadapi kematian, pengadilan, hisab (perhitungan), surga, dan neraka. Dari sekalian yang engkau hadapi itu, renungkanlah yang terdekat padamu, dan tinggalkanlah lainnya. 
(Diterjemahkan oleh Jarnawi Hadikusumo)
Selain itu, kebiasaan KH. Ahmad Dahlan mengajar pendidikan agama dengan media biola terbilang fenomenal dan tidak lumrah bagi masyarakat Kauman—tempatnya tinggal—kala itu. Mereka bahkan menganggap apa yang diajarkan oleh Kiyai Dahlan adalah pelajaran orang kafir. Kendati demikian, Kiyai Dahlan terus menjalankan kebiasaan ini tanpa merasa takut atau gentar. Dalam banyak kesempatan ia malah terus bermain biola. Sesungguhnya, dengan biola, Kiyai Dahlan ingin mengajarkankan pada para santrinya bahwa hidup adalah keselarasan. Jika tidak selaras sesuai tuntunan agama, maka hidup akan berantakan. Seperti halnya biola, jika tidak dipetik dengan piawai, bunyi yang dihasilkan tidak beraturan.

Batas Senjang NU-Muhammadiyah
Irisan kisah perjuangan Hadratusy Syaikh Hasyim Asy’ariy dan Kiyai Dahlan di atas masih terus berlanjut hingga suatu hari seorang santri Hadratusy Syaikh melapor, ada gerakan yang ingin memurnikan agama & aktif beramal usaha dari Yogyakarta. Beliau pun tangkas menjawab, "O kuwi Mas Dahlan. Ayo padha disokong: Itu Mas Dahlan, ayo kita dukung sepenuhnya.”

Sebagai bentuk dukungan pada perjuangan KH. Ahmad Dahlan, Hadratusy Syaikh menulis kitab Al-Tasybihat al-Wajibat Li man Yashna’ al-Maulid bi al-Munkarat dimana dikisahkan mengisahkan pengalamannya. Tepatnya pada Senin 25 Rabi’ul Awwal 1355 H, Kyai Hasyim berjumpa dengan orang-orang yang merayakan Maulid Nabi saw. Mereka berkumpul membaca Al-Qur’an, dan sirah Nabi
Akan tetapi, perayaan itu disertai aktivitas dan ritual-ritual yang tidak sesuai syari’at. Misalnya, ikhtilath (laki-laki dan perempuan bercampur dalam satu tempat tanpa hijab), menabuh alat-alat musik, tarian, tertawa-tawa, dan permainanan yang tidak bermanfaat. Kenyataan ini membuat Kyai Hasyim geram. Kyai Hasyim pun melarang dan membubarkan ritual tersebut. Bagi Hadratusy Syaikh, peringatan itu banyak bidah & mafsadatnya tetapi bukan dalam artian Mbah Hasyim melarang perayaan Maulid, hanya harus dilakukan dengan cara yang benar. Keunikan lain dari sosok mulia ini adalah, beliau adalah satu-satunya kiyai NU yang tidak diperingati haulnya (peringatan kematian).

Ketika akhirnya gesekan makin sering terjadi antara anggota Muhammadiyah vis a vis kalangan pesantren, Hadratusy Syaikh turun tangan dengan wejangannya yang meneduhkan, "Kita & Muhammadiyah sama. Kita taqlid qauli (mengambil pendapat ulama Salaf'), mereka taqlid manhaji (mengambil metode)."
Mendapat dukungan sedemikian rupa, KH. Ahmad Dahlan sang putra penghulu keraton itu amat bersyukur. Sebagai bentuk ucapan terimakasih, beliau lantas mengirim hadiah ke Tebuireng. Bahkan dalam sebuah riwayata dikatakan bahwa ketika Mbah Hasyim berkunjung ke rumah Kyai Dahlan, maka sepanjang jalan masjid-masjid dikeluarkan beduk yang biasanya dibunyikan saat adzan akan dikumadangkan, dan sebaliknya ketika Kyai Dahlan balas bersilaturrahmi maka sepanjang jalan beduk tersebut disembunyikan.
Hubungan kedua keluarga mereka pun kian akrab. Sampai generasi ke-4, putra-putri Tebuireng yang kuliah di Yogyakarta pasti selalu indekos di kediaman keluarga KH. Ahmad Dahlan di Kauman—termasuk Gus Dur.
KH. Ahmad Dahlan juga terbiasa mengamalkan amalan-amalan yang dilakukan oleh kaum nahdliyyin. Misalnya membaca doa qunut ketika shalat Subuh, ikut yasinan, tahlilan, dan shalat tarawih 20 rakaat. Memang saat ini sebagian warga Muhammadiyah melaksanakan shalat tarawih 8 rakaat. Tapi tidak demikian dengan pendirinya, KH. Ahmad Dahlan. Beliau terbiasa melakukan shalat tarawih sebanyak 20 rakaat dengan 10 salam. Kebiasaan KH. Ahmad Dahlan yang demikian itu tidak terlalu berlebihan. Pasalnya, bersama Hadratusy Syaikh Hasyim Asy’ari, ia belajar pada ulama-ulama yang bermadzhab Syafi’i, di Makkah. Tak hanya itu, di dalam kitab fiqih Muhammadiyah (karangan KH. Ahmad Dahlan) yang asli, pada bab shalat disebutkan bahwa shalat tarawih adalah shalat dengan 20 rakaat dan setiap 2 rakaat harus salam.
KH. Ahmad Dahan tetap menggunakan qunut, dan tidah pernah berpendapat bahwa qunut sholat subuh Nabi Muhammad Saw adalah qunut nazilah (qunut yang merujuk pada doa dalam sholat di tempat yang khusus sewaktu berdiri). Sebab beliau sangat memahami ilmu Hadis dan fiqih. Pun begitu dengan tarawihnya. Landasannya adalah, penduduk Makkah sejak berabad lamanya, sejak masa Umar ibn al-Khattab, telah menjalankan tarawih 20 rakaat dengan tiga witir, hingga sekarang.
Jika dilihat dari pengertiannya, sebagaimana dijelaskan oleh Ibn Hajar al-Asqallâniy dalam kitab Fath al-Bâriy Syarh al-Bukhâriy sebagai berikut: 
“Shalat jamaah yang dilaksanakan pada setiap malam bulan Ramadhan dinamai tarawih karena para sahabat pertama kali melaksanakannya, beristirahat pada setiap dua kali salam.” 
Jadi, baik KH. Ahmad Dahlan dan Hadratusy Syaikh Hasyim Asy’ary, tiada perbedaan dalam pelaksanaan ubudiyah (ibadah). (Hal ini pernah disampaikan oleh KH. Marzuki Musytamar, Rois Syuriyah PWNU Jawa Timur dalam suatu kesempatan).

Namun setelah berdirinya Majelis Tarjih di era kepemimpinan KH. Mas Mansyur (ketua keempat), terjadilah berbagai perubahan, termasuk keluarnya putusan tarjih yang meniadakan praktik doa qunut dalam shalat Shubuh dan jumlah shalat tarawih yang menjadi 11 rakaat.Dengan argumen bahwa Muhammadiyah bukan Dahlaniyah.
Meski begitu, inilah perbedaan yang cukup sulit tuk disatukan karena semenjak Rasulullah SAW hidup ini perbedaan sudah mulai ada dan itu sudah merupakan fitrah. Maka sebagai Warga NU dan Muhammadiyyah yang baik, marilah saling menghargai dan bertoleransi, karena perbedaan ini hanya dalam furuiyyah (cabang) bukan pada rana akidah yang mana hal ini tak perlu terlalu diperdebatkan. Dan marilah kita bersinergi untuk membangun persatuan umat untuk melangkah menuju masa depan yang lebih baik seraya bersiap diri tuk menghadapi musuh umat islam yang telah mengibarkan bendera perang di hadapan kita. Wassalam
Malang, 26 Januari 2016
Abid Muaffan

Disarikan dari Tulisan Ustadz Ren Muhammad Dimuat di Tabloid Matahariku, Edisi ke-IV Januari 2016 dengan berbagai tambahan dari berbagai sumber dan observasi langsung di Jombang dan Jogjakarta
Mohon Tambahan Informasi dan Koreksi dari Tulisan dan Editan Di Atas, karena hal ini begitu penting untuk langkah kami dalam jangka dekat ini akan mengadakan diskusi lintas tokoh NU dan Muhammadiyyah yang dilanjutkan napak tilas perjuangan Pendiri NU dan Muhammadiyyah di Jombang dan Jogjakarta. Matur Nuwun

Balqis Humaira EDISI 9 FEBRUARY 2026

  Lo pasti setuju bahwa ​Musuh paling berbahaya itu bukan yang menodongkan pistol di depan muka lo. ​Musuh paling berbahaya adalah orang yan...