…Negara ini bukan lagi salah urus, tapi salah niat.
Karena gini ya. Ini bukan lagi soal angka. Ini soal urutan nilai hidup. Ini soal apa yang dianggap penting dan apa yang dianggap remeh.
Kalau orang yang kerjanya nyuci piring digaji lebih tinggi daripada orang yang kerjanya ngebentuk otak manusia, itu cuma berarti satu:
Negara ini lebih takut piring kotor daripada otak kosong.
Dan itu bukan metafora. Itu beneran kejadian.
Tukang cuci piring 2,7 juta.
Pengantar ompreng 3 juta.
Guru honorer? 300 ribu.
300 ribu itu bukan gaji. Itu uang kasihan. Itu uang buat nyuruh diem. Itu uang buat bilang: “Lo penting, tapi usahain jangan hidup dari sini.”
Dan kita masih sok kaget kenapa bangsa ini isinya makin hari makin banyak orang bego yang PD, orang licik yang jadi panutan, orang tolol yang dapat panggung.
Ya karena dari hulunya aja kita ngajarin satu pesan ke semua orang pinter:
“Kalau lo mau hidup layak, jangan jadi guru.
Kalau lo mau berguna buat bangsa, siap-siap hidup kayak tai.”
Ini sistem yang mengusir orang pintar dari dunia pendidikan secara halus tapi kejam.
Terus negara teriak:
“Kenapa kualitas pendidikan turun?”
“Kenapa anak-anak sekarang dangkal?”
“Kenapa SDM kita kalah saing?”
Jawabannya sederhana:
Karena yang lo suruh bikin SDM unggul, lo bikin hidupnya ambruk.
Gue mau nanya satu hal yang jujur aja:
Kalau lo pinter, ambisius, punya masa depan, dan lo lihat:
Jadi guru = miskin, stres, gak dihargai.
Jadi apapun selain guru = ada harapan hidup.
Menurut lo, orang waras milih yang mana?
Dan jangan bawa-bawa kata “pengabdian”.
Pengabdian itu mulia kalau yang minta ngadi juga gak tega ngeliat lo kelaparan.
Ini mah bukan pengabdian.
Ini eksploitasi pakai bahasa surga.
Negara ini aneh.
Kalau mau bangun gedung, ada duit.
Kalau mau bikin proyek, ada triliunan.
Kalau mau beli alutsista, ada anggaran.
Tapi kalau ngomongin:
“Gimana kalau guru kita hidup layak?”
Langsung:
“Ya belum ada anggarannya…”
“Ya bertahap…”
“Ya kondisi negara…”
Padahal tanpa guru, semua itu gak ada.
Pejabat yang tanda tangan anggaran itu dulunya diajar guru.
Insinyur yang bangun gedung itu dulunya diajar guru.
Dokter yang nyelametin nyawa itu dulunya diajar guru
Tapi sekarang gurunya disuruh hidup dari sisa receh sistem.
Ini namanya bukan lupa jasa.
Ini meludahi akar sendiri.
Dan kalau hari ini kita heran kenapa bangsa ini isinya:
– Tukang pamer tapi miskin isi kepala
– Tukang bacot tapi nol empati
– Tukang kuasa tapi nol rasa malu
Jangan salahkan generasi.
Salahkan negara yang menganggap orang yang mencetak generasi itu tidak penting.
Kalau gaji guru kalah sama tukang cuci piring, itu bukan soal tukang cuci piringnya.
Itu soal negara ini salah nyusun prioritas hidup.
Dan negara yang salah nyusun prioritas…
Pelan-pelan, pasti salah arah, salah jalan, dan hancur dari dalam.
Siap. Kita sambung, tetap di mode nampar tanpa anestesi.
“Terus gimana mau Indonesia Emas?”
Ini pertanyaan yang harusnya bikin malu satu gedung DPR.
Gimana mau Indonesia Emas, kalau orang yang disuruh nambang emas di kepala manusia malah disuruh hidup kayak pengemis?
Gimana mau Indonesia Emas, kalau dari awal negara ini udah ngasih pesan ke semua anak mudanya:
“Kalau lo pinter, jangan jadi guru.”
“Kalau lo mau hidup layak, cari profesi lain.”
“Kalau lo mau ngurus bangsa, siap-siap miskin.”
Ini bukan kebetulan. Ini desain kegagalan jangka panjang.
Indonesia Emas itu butuh apa sih?
Butuh:
– Otak yang jernih
– Logika yang lurus
– Karakter yang waras
– Mental yang kuat
– Dan generasi yang bisa mikir, bukan cuma nurut
Dan semua itu dibentuk di sekolah.
Bukan di baliho.
Bukan di pidato.
Bukan di TikTok.
Tapi sekarang, orang yang disuruh membentuk itu semua, hidupnya justru dibentuk oleh kecemasan: besok makan apa.
Lo mau nyetak generasi emas pakai guru yang tiap bulan mikir utang?
Ini kayak mau bikin mobil balap, tapi lo ngirit di mesinnya.
Body-nya boleh emas, cat-nya boleh mewah, tapi dalemnya mesin rongsok.
Dan kita heran kenapa jalannya ngos-ngosan.
Negara ini kebanyakan investasi di etalase, bukan di dapur.
Bangga bangun gedung sekolah.
Bangga beli laptop.
Bangga ganti kurikulum.
Tapi orang yang pake itu semua?
Disuruh bertahan hidup pakai doa dan slogan.
Indonesia Emas itu bukan soal tahun 2045.
Itu soal:
Hari ini lo ngasih makan siapa.
Hari ini lo hormatin siapa.
Hari ini lo anggap siapa penting.
Kalau hari ini guru masih diperlakukan kayak beban anggaran,
maka 20 tahun lagi jangan mimpi dapat generasi emas.
Yang ada generasi kaleng-kaleng, mental kerupuk, logika bengkok.
Dan yang paling ironis:
Kita rajin ngirim anak-anak terbaik ke luar negeri.
Kita bangga kalau ada yang kerja di Google, di NASA, di Singapura.
Tapi kita gak pernah nanya:
“Kenapa mereka gak mau pulang?”
“Kenapa mereka gak mau ngajar di sini?”
Karena mereka gak bodoh.
Mereka tau:
Di sini, orang pinter disuruh miskin.
Di sini, idealisme dihargai pakai tepuk tangan, bukan gaji.
Indonesia Emas?
Selama guru masih dijadikan tumbal sistem, itu cuma slogan.
Selama pendidik masih diperlakukan kayak pengemis berseragam, itu cuma mimpi.
Negara ini gak kekurangan bahan pidato.
Negara ini kekurangan rasa malu.
Karena gak ada bangsa yang waras berharap masa depannya cerah,
kalau orang yang menyalakan lampunya hidup dalam kegelapan.