Rabu, 19 Juli 2017

Membangun mental Pengusaha


(Seri 1)
👳 Alhamdulillah atas anugerah dari Allah SWT. Mempunyai mental yang tepat untuk suatu profesi itu adalah anugerah dari Allah, apakah mental yang positif itu datang begitu saja? belum tentu, kadang diperlukan pendidikan tersendiri, kadang diperlukan motifasi tersendiri untuk menghadirkan karakter positif dalam menjalani suatu profesi.
🙏 Mohon maaf kali ini terpaksa saya sebutkan kata-kata yang buat sebagian orang tidak pantas untuk disebutkan, tapi ini sangat penting untuk disampaikan, karena ini sangat penting, harapan saya hilangkan beberapa karakter negatif pada diri anda kalau anda ingin ternak anda berkah dan menunjang keberhasilan anda dalam beternak.
🖕 Kali ini saya hanya akan membahas salah satu karakter negatif yang paling merusak mental peternak yaitu “ *pelit alias bakhil* ”.
😰 Sebagian peternak itu pelit bahkan kadang-kadang kebanyakan peternak itu pelit, ingat dalam satu hadits dikatakan “orang yang pelit itu musuhnya Allah SWT.”, lalu bagaimana mungkin orang yang pelit bisa mendapatkan rahmat dari Allah? Ingat memberi makan kucing yang sama sekali tidak menguntungkan itu saja bisa mendatangkan pahala, lalu kenapa terhadap ternak yang menyumbang keuntungan buat kita kok kita tidak berkenan mengeluarkan dana untuk makanan yang lebih baik buat ternak yang kita pelihara. Kadang harga pakan yang mahal menjadi alasan, semahal-mahalnya pakan dipasaran tetap akan menguntungkan peternak dan yang perlu diingat disaat anda memberikan pakan yang bagus untuk ternak maka saat itu ternak anda sangat senang menyambut pakan tersebut, dan yang lebih penting bahwa biaya yang anda keluarkan akan kembali dengan jumlah yang lebih besar.
😊 Pakan ayam secara umum yang cukup bagus mengandung protein sekitar 20% harganya sekita Rp 6000,- sd Rp 7000,- bila diberikan buat ayam jenis apapun yang dalam masa perkembangan akan menghasilkan berat badan diatas 500 gram, sementara umumnya ayam kampung atau kalkun perkilonya seharga Rp 40,000- bahkan bisa lebih dari itu, dengan demikian biaya Rp 6,000,- atau anggap saja Rp 7,000,- untuk pakan itu akan menjadi sekitar tiga (3) kali lipat.
*Lalu untuk alasan apa perlunya menghemat pakan dalam usaha peternakan?*
*Masihkah anda berpikir untuk menghemat biaya untuk pakan?*
 Keinginan untuk menghemat pakan sebetulnya hanya akan menghambat perkembangan ternak yang anda pelihara, sehebat apapun langkah anda untuk memproduksi pakan tambahan hasilnya dijamin tidak begitu banyak, tapi kalau anda mau membeli pakan maka dijamin jumlah pakan yang bisa anda beli pasti sesuai dengan uang yang anda siapkan, kapanpun anda mau beli pakan yang sangat banyak bisa anda lakukan, tapi memaksakan menghasilkan pakan tambahan yang banyak akan menghadapi banyak kendala.
🏃 Beternak adalah berpacu untuk membesarkan ternak, semakin besar nafsu makan ternak maka semakin menguntungkan peternak itu, tapi anehnya ada peternak yang sedih kalau ternaknya banyak makan, ini penyakit lain yang sering ada pada peternak.
👎 Terlambat membesarkan ternak itu kerugian buat peternak karena akan berdampak pada perkembangan yang lambat alias kuntet, sedangakan pemberian pakan yang bagus akan menjadikan ternak lebih besar dibanding umumnya sehingga harganyapun bisa lebih mahal karena dianggap lebih bagus kualitasnya.
🚶‍♀ Seorang peternak yang mentalnya rendah mengelola tanah 100 meter persegi untuk ayam kampung atau ayam kalkun akan sulit untuk menghasilkan keuntungan Rp 500,000 dalam sebulan tapi buat peternak yang mentalnya super maka dia sanggup mencari keuntungan sampai dengan lima (5) kalih lipatnya yaitu Rp 2,500,000,- dalam sebulan, lalu apa yang membedakan keduanya? ingat yang satu pelit dan yang lainnya hatinya mulia alias rahim.
👌 Semoga semua peternak yang ada di grup ini hatinya mulia alias rahim baik untuk ternaknya ataupun untuk tetangganya ataupun untuk keluarganya!
Sekian dan untuk karakter lain nantikan pada bahasan lain.
Wassalamu’alaikum Wr. Wb.
Jombang, 19 Juli 2017
ttd
*Faishal Ishaq*
Mau gabung di grup
*Petani & Peternak Organik*
Oleh *Naturaid Centre*
Faishal Ishaq
WA +6285330939999

Sabtu, 08 Juli 2017

REZIM DHOLIM

Naudzubillahi mindzaalik , ternyata program chinanisasi tidak hanya dilakukan di Jakarta dan pantai reklamasi. Ternyata sebagian perkebunan pribumi di Tasikmalaya sudah berpindah milik ke orang China. Juga di daerah Lippo Cikarang Bekasi 4000 hektare lebih sudah dibeli oleh pemerintah RRC, rencana akan dibangun apartemen semua, material dan tenaga bangunan (tentara merah) di datang kan dari negeri China. Perolehan nya issu akan ditempati warga China daratan yang akan di pindahkan ke Indonesia. Sungguh keterlaluan PDIP (plus PRD) waktu jaman Gusdur sejak awal telah mengusulkan perubahan undang2 agar warga keturunan China di perbolehkan memiliki tanah. Ternyata pembuatan pangkalan udara Internasional di Kabupaten Majalengka oleh Jokowi merupakan grand Design RRC untuk menguasai tanah sunda yang mayoritas beragama islam. DI tambah lagi Jokowi menegaskan untuk merubah undang2, agar warga China daratan diberikan hak membuat e-KTP dan diakui memiliki dua Kewarganegaraan. Ini sudah jelas banget bahwa arah pemerintahan Jokowi menuju chinanisasi, dengan dilakukan mega proyek kereta cepat, tol laut, jalan tol dan pelabuhan laut peti kemas dan internasional di Cikarang bergabung dengan pemindahan Sukarno hata ke Karawang. Semua ini untuk melancarkan pergerakan RRC dalam pemindahan penduduk. Seperti hal nya di Turkistan warga pribumi membuat pasport a/n pemerintah China. Nantinya bisa juga indonesia menggunakan uang yuan dan paspor RRC seperti Turkistan. Ini adalah perbuatan keji PDI pki. kita tertipu oleh rezim dzolim ini yang telah menipu rakyat dengan menjual negara kita kepada komunis Tiongkok China dengan berpura-pura investasi besar-besaran proyek besar-besaran di mana-mana semua adalah omong kosong ini adalah strategi supaya komunis utk berkuasa di Indonesia kembali dan kita semua adalah korban-korban rezim dholim ini maka oleh karena itu umat Islam di seluruh Indonesia kita bersatu kita ganti sistem demokrasi yang kufur ini

Minggu, 02 Juli 2017

VIDEO INTOLERANSI POLISI.

SEORANG PEMELUK KATHOLIK MEMPROTES VIDEO INTOLERANSI POLISI.
FRANSISKUS WIDODO ; “SAYA KATHOLIK, KAMI TIDAK INGIN DIBENTURKAN, KENAPA POLISI MALAH MENGADU DOMBA MASYARAKAT???"



Seperti sebelumnya, kali ini seorang umat nasrani Katholik bernama Fransiskus Widodo ikut bersuara melalui akunnya @bengkeldodo yang merasa jika video intoleransi yang dishare oleh akun milik kepolisian @divhumaspolri sangat tendensius.
Video yang menggambarkan pada sebuah adegan dimana salah satu keluarga korban yang berada di dalam ambulance yang sedang berdoa sambil memegang kalung salib mirip dengan kalung milik umat Katholik, rosario, di protes oleh Widodo.
Widodo menumpahkan kekesalannya kepada video yang dimenangkan dalam lomba pembuatan video yang diselenggarakan oleh Kepolisian RI. Kekesalannya ditulis secara bersambung dalam akun twitternya, @bengkeldodo.
1. Sebagai umat Katholik saya menolak tegas visualisasi pasien dalam ambulan mengunakan kalung salib, kami tak ingin dibenturkan
2. Justru dalam pengalaman hidup kami berdampingan denga saudara2 muslim dan kami saling tolong menolong.
3. Tidak pernah saya temui hal di dunia nyata seperti apa yang di tampilkan dlm video pendek itu.
4. Saya sebagai umat Katholik menolak sangat sangat tegas simbol2 keagamaan kami digunakan sebagai pemicu kontroversi.
5. Saya bertetangga dengan muslim, kami mengutamakan hati dalam bermasyarakat dalam kebersamaan.
6. Saya sebagai pemeluk agama Katholik saja merasakan bahwa video itu sangat menyudutkan saudara2ku umat muslim.
7. Sehingga saya menolak tegas, gambaran pasien dalam ambulan yg mengunakan kalung salib.
8. Saya rasakan lebih banyak efek negatif dari pada positif dari yg didapat dari video tersebut.
9. Saya harapkan tidak ada lagi hal” yg mengunakan atribut” keagamaan yang dapat memicu kontroversi.
10 . Teriring salam damai bagi saudaraku umat Islam, salam sejahtera bagi seluruh umat beragama apapun di Indonesia.
11. Mari terus jaga kerukunan yg telah kita bina, Indonesia besar karna perbedaan,bukan karna keseragaman.
12. Kami menjaga agar tidak saling menyakiti dalam sikap maupun ucapan… terima kasih.
Postingan milik Widodo ini di share dan apresiasi oleh akun twitter lainnya, bahkan tidak sedikit yang memuji sikap Widodo yang dianggap sudah ikut membela tentang video tersebut hanyalah sebuah langkah untuk membuat perpecahan.
(Jall)

Naskah Full Khotbah Idul Fitri di Gunungkidul yang Menjadi Viral

Inilah Naskah Full Khotbah Idul Fitri di Gunungkidul yang Menjadi Viral


Inilah naskah full Khotbah Idul Fitri yang menjadi #viral yang dilaksanakan di Lapangan Pemda Alun-alun Wonosari Gunungkidul
Pelaksanaan:
Ahad, 1 Syawal 1438 H / 25 Juni 2017
Tempat: Lapangan Alun2 Pemda Wonosari
Waktu: Pukul 06.30 WIB – selesai
Judul: Persatuan dan kesatuan Indonesia
Oleh: Ustadz Dr. H. Muhammad Ichsan Lc, MA ( Dosen UMY)
====================================
Ma’ashiral muslimin dan muslimat hafizakumullah. Pagi hari ini, kita umat Islam bergembira menyambut hari raya Idul Fitri. Pagi hari ini, kita bersyukur kepada Allah ta’ala karena berkat taufik dan hidayahnya kita dapat menyempurnakan ibadah puasa dan serangkaian ibadah-ibadah lainnya di bulan Ramadan yang baru saja meninggalkan kita untuk selama-lamanya. Pagi ini kita memuji Allah, memuliakan Allah, mengagungkan Allah, antara lain dengan salat hari raya Idul Fitri dan meluangkan takbir: Allah Akbar, Allah Akbar.
Alangkah indahnya hari ini. Alangkah mulianya hari ini. Alangkah gembiranya kita pada hari ini, karena sebulan penuh kita telah dibina dan dididik dalam madrasah Ramadan. Diharapkan, pendidikan dan pengajaran yang kita peroleh pada bulan Ramadan tersebut dapat kita jadikan sebagai bekal untuk menjadi umat yang besar lagi bermartabat.
Para hadiri dan hadirat rahimakumullah.
Marilah kita bersyukur kepada Allah. Sadar atau tidak sadar, bangsa Indonesia yang kita cintai ini dikaruniai Allah dengan berbagai macam anugerah. Mulai dari pulau yang banyak jumlahnya, tanah yang subur, iklim yang tidak ekstrim, hingga suku bangsa, bahasa, budaya, dan agama yang berbeda-beda. Dengan kurnia Allah ta’ala semua itu dapat disatukan olehfounding fathers atau pendiri bangsa kita, sehingga menjadi satu bangsa yaitu bangsa Indonesia, menjadi satu negara yaitu Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Nenek moyang kita, para pendiri dan pahlawan bangsa, telah berkorban dengan keringat mereka, darah mereka, harta mereka dan bahkan dengan jiwa raga mereka untuk mempersatukan bangsa ini dan memerdekakannya dari para penjajah yang telah merampas kemerdekaan kita berabad-abad lamanya.
Sesudah merdeka, kita bangsa Indonesia, menikmati hasil perjuangan, pengorbanan dan keringat serta darah para pahlawan tersebut. Kita menghirup udara bebas dan berusaha membangun kembali bangsa itu dari kebodohan, kemiskinan, dan keterpurukan dalam berbagai bidang. Presiden demi presiden silih berganti memimpin negeri ini. Pemerintah demi pemerintah bertukar, kita tetap hidup aman, damai, tenteram, dan sentosa sebagai sebuah bangsa yang besar. Namun sayangnya, banyak orang merasakan, selama ini kita belum pernah khawatir terhadap persatuan bangsa ini sebagaimana (terjadi) dalam rezim ini. Selama ini kita belum pernah cemas terhadap kesatuan negara ini seperti dalam pemerintahan ini. Hal ini karena nikmat persatuan dan kesatuan bangsa ini beberapa waktu yang lalu hampir terkoyak dengan kasus penistaan agama yang dilakukan oleh Gubernur Jakarta sewaktu itu. Keadaan tersebut diperparah dengan adanya pesta demokrasi yaitu Pilkada Jakarta.
Masyarakat terpecah menjadi dua, pendukung Ahok atau Ahokers, dan masyarakat yang menghendaki supaya Ahok dihukum seberat-beratnya karena menistakan agama. Meskipun yang anti Ahok banyak sekali jumlahnya, baik dari Jakarta maupun luar Jakarta, namun karena Ahok jelas-jelas didukung oleh para taipan, partai pemerintah dan Polri, maka terjadilah perlawanan yang seru. Aksi Bela Islam 411 dan 212 adalah buktinya. Belum pernah terjadi dalam sejarah Indonesia, umat Islam berkumpul di suatu tempat sebanyak 7 juta orang lebih dalam aksi super damai untuk menuntut ditegakkannya hukum terhadap penista agama.
Kaum muslimin dan muslimat yang dimuliakan Allah.
Meskipun Ahok telah divonis bersalah dalam kasus penistaan agama, dan telah kalah dalam Pilkada Jakarta, namun kegaduhan nasional masih terasa. Luka permusuhan dan perpecahan masyarakat masih menganga. Apalagi dua tahun lagi suasana akan semakin memanas lagi dengan adanya Pemilu. Hingga hari ini masih ada usaha-usaha membenturkan umat Islam dengan dengan Pancasila. Umat Islam yang berbeda pendapat dengan pemerintah dan penegak hukum dianggap anti-pancasila, anti-bhineka tunggal ika dan anti-NKRI. Masih ada pembunuhan karakter terhadap tokoh-tokoh Islam, meskipun selalu dinafikan dan dibantah. Masih terasa hukum selalu tajam terhadap ulama, tokoh, dan aktivis Islam, dan terhadap umat Islam pada umumnya, tapi tumpul terhadap Ahok dan para pendukungnya.
Sebagai contoh, ketika Aksi Bela Islam 212 masih berdemo setelah maghrib mereka langsung dibubarkan secara paksa dengan gas air mata, sementara para pendukung Ahok dibiarkan berdemo sampai larut malam di depan LP Cipinang. Ketika bendera kita ditulis kalimah laa ilaaha illallah, penulisnya langsung diciduk, sementara bendera mereka sering ditulisi tulisan-tulisan lain tapi dibiarkan. Ketika akan berdemo sebagian tokoh Islam ditangkap dengan tuduhan makar, sementara yang terang-terang akan makar di Papua atau memakai atribut PKI yang terlarang justru dibiarkan bebas.
Kaum muslimin dan muslimathafizakumullah.
Sekarang adalah era keterbukaan. Masyarakat hari ini sudah cerdas. Masyarakat hari ini susah untuk dibohongi. Jika pemerintah korup dan bertindak sewenang-wenang, pasti mereka mengetahuinya. Jika penegak hukum tidak adil dan tebang pilih, pasti mereka merasakannya. Meskipun pemerintah dan penegak hukum pandai menyulap fakta, memelintir kata dan membuat rekayasa, pasti rakyat akan menyadarinya. Meskipun media massa, baik cetak maupun elektronik, dikuasai oleh para taipan dan konglomerat, umat Islam masih mempunyai senjata lain yaitu medsos atau media sosial. Umat Islam dipimpin oleh para ulama dan aktivis Islam akan bergerak dengan satu kata, lawan! Lawan kezaliman! Lawan kebohongan! Lawan pembodohan!
Allah Akbar, Allah Akbar, laa ilaaha illallah, Wallah akbar, Allah akbar, Wa lillahil hamd.
Kaum muslimin dan muslimat yang dimuliakan Allah.
Apakah kebencian antara sesama masyarakat akan kita biarkan? Apakah permusuhan antara pemerintah dan rakyat akan kita biarkan? Apakah permusuhan antara pemerintah dan rakyat akan kita diamkan? Apakah boleh perpecahan antara umat kita biarkan? Tidak! Kita tidak boleh membiarkannya! Sungguh kita tidak boleh membiarkannya! Karena kita di Indonesia ini bersaudara. Kita adalah saudara sebangsa. Kita adalah saudara sesama manusia. Lebih dari itu, kebanyakan kita adalah saudara seagama.
Orang-orang yang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah supaya kamu mendapat rahmat (QS. Al-Hujurat ayat 10).
Kaum Muslimin dan Muslimat hafizakumullah.
Jangan pertanyakan kecintaan umat Islam terhadap Indonesia. Jangan ragukan betapa umat Islam sangat cinta kepada agamanya, tanah airnya, bangsanya, negerinya, budayanya. Jangan ragukan betapa umat Islam sangat cinta kepada persatuan, perdamaian, dan keamanan. Sejarah membuktikan demi kemerdekaan Indonesia, umat Islam bangun mengorbankan jiwa raganya melawan penjajah. Demi persatuan dan kesatuan Indonesia, umat Islam membuang 7 kata sakti dalam Piagam Jakarta. Demi menjaga NKRI dan merangkul umat lainnya, umat Islam mau menerima pancasila sebagai dasar negara.
Maka sungguh menyakitkan tuduhan-tuduhan yang mengatakan bahwa kita umat Islam anti-pancasila, anti-NKRI, anti-kebinekaan, radikal dan teroris. Bagaimana umat Islam anti-pancasila sementara pancasila adalah hadiah umat Islam untuk bangsa ini? Apakah berbeda pendapat dengan presiden bisa dianggap anti-pancasila? Apakah berbeda pendapat dengan pemerintah bisa disebut anti-NKRI? Apakah berbeda pendapat dengan penegak hukum bisa dituduh anti-kebinekaan?
Tuduhan-tuduhan ini menyakitkan. Tuduhan-tuduhan ini membangkitkan amarah. Tuduhan-tuduhan ini memicu perpecahan. Marilah kita akhiri kegaduhan nasional ini. Marilah kita akhiri kebencian ini. Marilah kita akhiri permusuhan ini. Sungguh masyarakat yang gaduh, saling membenci dan bermusuhan tidak akan bisa membangun, tidak akan bisa maju, tidak akan mampu bersaing di era persaingan ketat antara negara-negara dunia seperti sekarang ini. Berpecah belah itu mudah. Bersatu padu itu susah. Oleh karena itu, persatuan itu mahal harganya. Persatuan itu perlu diusahakan. Persatuan itu perlu dijaga. Bersatu padu itu adalah perintah Allah dan bercerai berai itu adalah larangan Allah.
“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara, dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayatNya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk”. (QS. Ali Imran ayat 103)
Kaum muslimin dan muslimat yang dimuliakan Allah.
Marilah kita sadari dengan sesadar-sadarnya, Indonesia adalah rumah besar kita. Di dalamnya ada orang Jawa, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Papua dan lainnya. Di dalamnya ada penduduk beragama Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Budha, dan Konghucu. Di dalamnya ada beragam bahasa, adat istiadat, dan kebudayaan. Keragaman dan perbedaan ini marilah kita rawat agar menjadi nada simfoni yang harmonis dan saling melengkapi. Keragaman dan perbedaan ini marilah kita pelihara agar menjadi aneka bunga di taman yang indah. Keragaman dan perbedaan ini jangan dimusuhi dan jangan dijadikan sebagai sumber permusuhan.
Hal terpenting untuk merawat keragaman dan perbedaan ini ialah hendaknya kita semua saling menghormati, saling menghargai dan menjaga diri dari fitnah,namimah atau adu domba, hasad, ujaran kebencian, penghinaan, dan kata-kata keji serta caci maki, baik secara langsung maupun media sosial. Selain itu, hukum harus ditegakkan dengan seadil-adilnya. Hukum harus menjadi panglima. Hukum harus ditaati baik oleh rakyat maupun penegak hukum itu sendiri. Pemerintah dan penegak hukum hendaknya berlaku adil terhadap seluruh masyarakat dan tidak tebang pilih. Seharusnya sudah tidak ada lagi kriminalisasi dan pembunuhan karakter terhadap para ulama dan aktivitas Islam. Semestinya sudah tidak boleh ada lagi tuduhan semena-mena terhadap umat Islam bahwa mereka makar, radikal, teroris, anti-Pancasila, anti-NKRI dan anti-kebinekaan.
Kaum muslimin dan muslimat rahimakumullah.
Kita tidak ingin apa yang terjadi di Timur Tengah terjadi di Indonesia. Kita tidak ingin Indonesia berperang sesama sendiri dan terpecah belah menjadi negara-negara kecil yang mudah dikuasai asing dan aseng. Justru kita bangsa Indonesia sebagai bangsa dan umat Islam besar dunia, seharusnya menjadi contoh dan teladan untuk negara-negara lainnya. Kita adalah bangsa besar yang seharusnya dikagumi oleh bangsa-bangsa lain, karena melaksanakan prinsip-prinsip toleransi dan keadilan dalam kebinekaan.
Hal ini senada dengan lirik lagu Indonesia Pusaka berikut:
Indonesia tanah air beda
Pusaka abadi nan jaya
Indonesia sejak dulu kala
Tetap dipuja-puja bangsa
Di sana tempat lahir beta
Dibuai dibesarkan bunda
Tempat berlindung di hari tua
Sampai akhir menutup mata
Marilah kita bersatu padu menjadikan Indonesia ini sebagai negeri makmur yang diridai Allah ta’ala. Marilah kita pelihara persatuan dan kesatuan Indonesia agar menjadi “baldatun toyyibatun wa rabbun ghafur”.
Hiduplah negeriku, hiduplah bangsaku, hiduplah Indonesia!
Allah akbar, Allah akbar. Laa ilaaha illalLah. Wallah akbar. Allah akbar. Wa lilLahil hamd.
Kaum muslimin dan muslimat hafizakumullah.
Pagi ini kita boleh bergembira, tapi ingatlah bahwa di antara sanak keluarga kita atau sahabat kita sekarang ini ada yang sedang menderita. Pagi ini kita boleh bersuka ria, tapi ketahuilah bahwa di antara tetangga atau masyarakat kita hari ini banyak yang sedang sengsara. Pagi ini kita boleh tersenyum bahagia, tapi sadarilah bahwa umat Islam di seluruh pelosok dunia masih dalam kondisi yang memprihatinkan. Saudara-saudara kita di Palestina, Syria, selatan Thailand, selatan Filipina, dan Myanmar masih memerlukan bantuan dan solidaritas kita. Sungguh saudara-saudara kita di Gazza dan Rohingya sekarang ini memerlukan uluran tangan kita semua.
Bergembiralah, bersukarialah dan berhiburlah sekedarnya, tanpa melampaui batas dan melanggar tuntutan agama. Pergunakanlah peluang Hari Raya ini untuk mencapai keridaan Allah dengan mengunjungi kedua ibu bapak, sanak keluarga, jiran tetangga, para sahabat dan rekan-rekan. Pereratkan silaturrahim dan marilah kita saling memaaf-maafkan. Hiburlah mereka yang kini sedang menderita. Santunilah anak-anak yatim, kaum fakir miskin, para janda,ibnu sabil dan mereka yang menyambut hari raya kali ini dalam keadaan daif lagi susah. Hargailah warga tua. Hormatilah jiran tetangga. Perkokohkan persaudaraan dan perpaduan. Jadilah umat yang mursali lagi penyayang. Umat yang dikagumi lagi diperhitungkan.
Akhirnya wahai kaum muslimin dan muslimat sekalian, marilah kita sama-sama berdoa kepada Allah, semoga kehidupan kita di dunia ini semakin baik dan berkualitas, dan kelak kita dipanggil menghadap Allah dalam keadaanhusnul khatimah. Ya Allah Yang Maha Pengampun lagi Maha Pemaaf, kami adalah hamba-hambaMu yang banyak membuat dosa. Bahkan kami adalah hamba-hambaMu yang bangga dengan dosa-dosa dan senantiasa bandel dan menangguhkan taubat. Kini kami mengakui segala dosa-dosa kami. Kini kami menghalalkan hati kami menengadahkan tangan kami. Memanjatkan doa kami untuk memohon keampunan-Mu. Oleh karena itu, ya Allah, ampunkanlah dosa-dosa kami, maafkanlah keterlanjuran kami dan terimalah taubat kami.
Ya Allah Yang Maha Menyatukan hati, sucikanlah hati kami, terangilah hati kami, dan rukunkanlah di antara hati kami. Kokohkanlah persatuan kami, perbaikilah hubungan di antara kami. Jadikalah kami kumpulan anak muda yang menghormati orang tua, dan kumpulan orang tua yang menyayangi anak muda. Jadikanlah kami penduduk negeri yang saling menghormati, menyayangi dan bertoleransi.
Ya Allah Yang Maha memelihara sesama jiwa, peliharalah kami dari benih-benih kebencian, kedengkian dan perpecahan. Hindarkan kami dari kezaliman, kefasikan, dan kemunafikan. Dan jauhkan kami daripada sifat sombong, kasar dan sifat-sifat tercela lainnya.
Ya Allah Yang Maha Bijaksana, kurniakan kepada kami pemimpin-pemimpin negeri yang takut kepadaMu dan menyayangi kami. Pemimpin-pemimpin yang membawa kami kepada kesejahteraan duniawi dan menunjukkan kepada kami jalan menuju sorgaMu. Pemimpin-pemimpin yang bekerja untuk masalahat kami dan kebahagian kami dan bekerja untuk menggapai kasih sayangMu.
Ya Allah Yang Maha Pengasih tiada pilih kasih. Maha Penyayang sayangNya tiada terbilang, berilah kami jalan keluar bagi semua krisis dan masalah yang membelenggu kami. Angkatlah kami dari keterpurukan, kemiskinan, dan kebodohan. Peliharalah kami dari segala maksiat terhadapMu.
Ya Allah yang mendengar rintihan hamba lemah teraniaya, yang menyambut orang berdosa apabila kembali dengan taubatnya, yang mengijabah segala doa hambaNya, kabulkanlah doa kami. Perkenankanlah permohonan kami. Penuhilah harapan kami.

Sumber : http://sangpencerah.id/2017/07/inilah-naskah-full-khotbah-idul-fitri-di-gunungkidul-yang-menjadi-viral/

Rabu, 21 Juni 2017

AKHIRNYA ISLAM RUNTUH


Hanya dengan kekuatan 200.000 tentara dan berlangsung hanya dalam waktu 40 hari Kekhalifahan Abbasiyah yang bertahta selama 500 tahun dengan segala kebesarannya lenyap dari muka bumi.
Baghdad luluh lantak dihancurkan. 1,8 juta kaum muslimin di Baghdad disembelih dan kepalanya disusun menjadi gunung tengkorak. Tua, muda bahkan kanak-kanak. Laki-laki maupun perempuan, hingga janin di dalam kandungan semua dipenggal.
Khalifah dibantai beserta 50.000 tentara pengawalnya. Sejak pembantaian itu selama 3,5 tahun umat Islam hidup tanpa Khalifah. Tentara yang biadab memusnahkan ribuan perpustakaan yang memuat jutaan kitab-kitab, manuskrip-manuskrip sebagai khazanah peradaban di Baghdad dengan mencampakkannya ke dalam laut sehingga berwarna kehitaman. Siapa pelakunya?
Mereka yang bengis itu disebut Bani Qantura dengan ciri-ciri fisik bermuka lebar dan bermata kecil yang telah diisyaratkan kemunculannya oleh Nabi Muhammad saw. Kita mengenalnya sebagai bangsa Mongol atau Tartar yang kala itu dipimpin oleh Hulagu Khan, cucu dari Jengis Khan.
Ketika itu, seluruh negeri Islam yaitu Baghdad, Syria dan Asia Tengah sudah jatuh ke tangan tentara Mongol. Hanya tinggal tiga negeri Islam yang belum dimasuki yaitu Makkah, Madinah dan Mesir. Maka Hulagu Khan terus merangsek berupaya menaklukkan negeri yang lain.
Ambisi selanjutnya adalah menaklukan Mesir dan mengutus delegasi Mongol ke Mamluk Mesir, dimana pemimpin saat itu adalah Sultan Syaifuddin Muzaffar al Quthuz. Delegasi ini datang dengan membawa surat dari Hulagu Khan yang isinya,
*“Dari Raja Raja Timur dan Barat, Khan Agung. Untuk Quthuz Mamluk, yang melarikan diri dari pedang kami. Anda harus berpikir tentang apa yang terjadi pada negara-negara lain dan tunduk kepada kami. Anda telah mendengar bagaimana kami telah menaklukkan kerajaan yang luas dan telah memurnikan bumi dari gangguan yang tercemar itu. Kami telah menaklukkan daerah luas, membantai semua orang. Anda tidak dapat melarikan diri dari teror tentara kami. kemana Anda lari? Jalan apa yang akan Anda gunakan untuk melarikan diri dari kami?*
*Kuda-kuda kami cepat, panah kami tajam, pedang kami seperti petir, hati kami sekeras gunung-gunung, tentara kami banyak seperti pasir. Benteng tidak akan mampu menahan kami, lengan Anda tidak dapat menghentikan laju kami. Doa-doa Anda kepada Allah tidak akan berguna untuk melawan kami. Kami tidak digerakkan oleh air mata atau disentuh oleh ratapan. Hanya orang-orang yang mohon perlindungan akan aman. Mempercepat balasan Anda sebelum perang api dinyalakan.*
*Menolak dan Anda akan menderita bencana yang paling mengerikan. Kami akan menghancurkan masjid Anda dan mengungkapkan kelemahan Tuhanmu, dan kemudian kami akan membunuh anak-anak dan orang tua Anda bersama-sama. Saat ini Andalah satu-satunya musuh yang mesti kami hadapi.”*
Isi surat tersebut jelas-jelas melecehkan kedaulatan Islam, cuma ada dua opsi, menyerah atau berperang. Syaifuddin Quthuz tidak gentar sedikitpun, malah beliau dengan berani menempeleng delegasi Mongol itu dan membunuh mereka karena tertangkap tangan melakukan tindakan spionase. Dengan segera ia menggerakkan pasukannya dan memancing Mongol untuk bertempur di Ain jalut.
Kemudian Al Quthuz segera memobilisasi tentaranya maka terbentuklah pasukan berjumlah 20. 000 orang tentara dan bergerak menuju Ain Jalut di Palestina untuk menantang tentara Mongol. Bahkan istri sang sultan ikut berjuang dan memilih jalan jihad bersama kekasihnya.
Pada malamnya Quthuz dan pasukan Islam melakukan tahajud dan memohon dari Allah demi kemenangan pasukan Islam dalam pertempuran esok hari. Malam itu adalah malam jum'at 25 Ramadhan, mereka menghabiskan malam mereka dengan tahajud dan doa serta menyerahkan diri kepada Allah. Semoga Allah menerima mereka sebagai hamba-Nya dan memberikan kemuliaan kemenangan atau syahid di medan pertempuran esok hari. Hari di mana mereka menebus semua kematian jutaan umat Islam di tangan Mongol. Hari dimana kekhalifahan Islam akan sirna selamanya jika Mongol berhasil mengalahkan mereka.
JUM’AT, 25 RAMADHAN 658 H
Sultan Quthuz berdiri gagah, ia hendak memotivasi seluruh tentara gabungan Mesir, Syam dan Turki, serta seluruh rakyat Mesir untuk bergerak menuju jihad di jalan Tuhan. Suaranya begitu lantang dan keras, membuat jiwa bergetar, dan mengalirkan air mata, kata-katanya terdengar nyaring, menyerukan jihad paling menentukan dalam sejarah.
*“Jika Mongol memiliki kuda, panah, tameng, dan manjanik. Maka kita punya yang tak terkalahkan oleh apapun, kita punya Allaaaaah,,,,,Azza wa Jalla.”*
Suara takbir bergemuruh, semangat pasukan terbakar, dan rakyat berjanji akan bertempur bersama sultan mati-matian, hingga darah penghabisan.
Bertemulah Kedua kekuatan tersebut di Medan perang Ain jalut, Pasukan Mamluk dengan mengandalkan pasukan kavaleri sebagai kekuatan utama di pimpin oleh Jendral Baibars dengan Sultan Quthuz mengamati dari dataran tinggi sementara Pasukan Mongol dipimpin langsung oleh jendral tangan kanan dan kepercayaan Hulagu Khan, Qitbuka Noyan.
Baibars yang memiliki jumlah pasukan kaveleri yang lebih sedikit menggunakan taktik "hit and run" dalam melawan pasukan Mongol hingga terjadi pertempuran selama berjam-jam sampai pada akhirnya pasukan Mongol jatuh ketengah-tengah perangkap pasukan Mamluk.
Melihat lawannya sudah masuk kedalam perangkap, pasukan Mamluk yang bersembunyi mulai keluar dan langsung menghujani pasukan Mongol dengan panah dan meriam kecil dalam penyerangan ini.
Ketika pasukan lawannya sudah berada dalam posisi terdesak, pasukan kavaleri Mamluk lain yang juga bersembunyi serta kemudian disusul oleh Infantrinya langsung menyerbu lawannya dalam empat posisi, menutup jalan keluar bagi pasukan Mongol.
Qitbuka yang menyadari bahwa pasukannya tidak mempunyai harapan lagi untuk melawan pasukan Kaveleri utama pimpinan Baibars dan memenangkan pertempuran, serta pasukannya terpojok ditengah-tengah, segera memerintahkan keseluruhan sisa pasukan yang dimilikinya untuk memfokuskan penyerangan ke posisi sayap kiri pasukan Mamluk pimpinan Al-Mansur Mohammad yang dirasa paling lemah, untuk membuka jalan keluar bagi pasukan yang dipimpinnya. Setelah digempur secara gencar akhirnya posisi sayap kiri pasukan Mamluk menjadi goyah.
Dari dataran tinggi, Sultan Quthuz yang mengamati jalannya pertempuran, melihat posisi sayap kiri pasukannya mulai terbuka akan dijebol pasukan Mongol, seketika itu pula ia membuang topeng bajanya ke tanah hingga wajahnya dapat terlihat oleh seluruh pasukannya, Sambil mengacungkan senjata Ia menggebrak kudanya ke arah posisi sayap kiri pasukannya,dan berteriak keras-keras,
*"Demi Islam!..Demi Islam!"*
Melihat sultannya menuju ke arah mereka, seketika itu pula moral dan semangat bertempur pasukan sayap kiri Mamluk meningkat, mereka kembali meningkatkan pertahanan dan tekanan kepada pasukan Mongol, satu-persatu pasukan Mongol berjatuhan terbunuh termasuk Qitbuka.
Pasukan yang tak pernah terkalahkan akhirnya takluk oleh pejuang Islam yang pemberani dan panji-panji Islam kembali ditegakkan.
Sultan Syaifuddin Muzhaffar al Quthuz meninggal dunia hanya lima puluh hari setelah kemenangan Ain Jalut. Kekuasaannya hanya berusia 11 bulan dan 17 hari. Tidak genap satu tahun!
Berbagai peristiwa bersejarah yang agung, persiapan yang bagus, pendidikan yang tinggi, kemenangan gemilang, hasil yang luar biasa dan dampak yang besar. Ya, semua ini dicapai kurang dari satu tahun di bawah pemerintahan pemuda legendaris ini.
Lalu. Bagaimana dengan kita? Di akhir Ramadhan ini, apakah yang telah kita persiapkan, korbankan bahkan perjuangkan untuk menegakkan keadilan dan mencegah kemungkaran di Indonesia kita?
Ramadhan adalah bulan peperangan. Mulai dari perang Badar, perang Tabuk, menggali parit untuk perang Khandaq, penaklukkan Makkah, penaklukkan Andalusia.
Selain bulan perjuangan,Ramadhan juga bulan kemenangan. Maka mari jadikan bulan ramadhan ini sebagai momentum revolusi. Mari kita berjuang, tentu saja bermula dari melawan hawa nafsu kita sendiri untuk menang dan merdeka baik sebagai diri, ummat dan bangsa. Karena tak ada yang tak bisa diraih jika perjuangan (Fight) dikombinasikan dengan keimanan (Faith).
Semoga kisah tersebut diatas menginspirasi kita semua, untuk terus bersiap siaga menjaga kehormatan diri, agama, bangsa dan negara.
Salam Kemenangan 1438Hijriyah!

PENGAKUAN ECONOMIC HITMAN

PENGAKUAN ECONOMIC HITMAN
Oleh: Mardigu Wowiek Prasetyo
Berdiskusi dengan seorang bule yang tinggal di top floor Pakubuwono Residence selama 2 bulan hanya untuk mempelajari ekonomi Indonesia. Setelah itu, rencananya ia akan berangkat ke Mumbay dan katanya dia berencana tinggal di India juga selama 2 bulan untuk mempelajari ekonomi Negara India. Pembicaraan kami berdua cukup intense dan “menegangkan”.
Usianya 65 tahun, kebangsaan Amerika, ras Yahudi. Sebuah spesifikasi SARA yang bagi sebagian “pegiat agama”, dia bisa di ketagorikan “public enemy number one”. Atau bagi “pegiat agama” yang senangnya mencari perbedaan, spesifikasi dia masuk object penderita yang layak di bully.
Tetapi begitu kenal dia, dia seorang parenialist, seorang pluralist, universalist dan economist sejati. Di Amerika dia juga bukan orang yang di sukai semua orang. Dia seorang financial economics, dari kampus ternama Ivy League.
Di Indonesia dia mengumpulkan data, SUN surat hutang Negara kemana saja dan siapa yang ambil, hutang korporasi kemana saja, export import Indonesia, arus keluar masuk barang. Semua di petakan di “mapping”. Dia tahu kelemahan dan kekuatan data terakhir Indonesia. Kegiatannya ini sebenarnya termasuk kategori inteligen ekonomi (economic intelligent).
Sayangnya data ini tidak bisa dilarang. Tidak ada hal/data yang di langgar olehnya. Tidak ada rahasia Negara yang dicurinya. Dia hanya mengumpulkan data publik dan data Negara dengan cara berbeda dengan BPS. Dia juga tidak ABS asal bapak senang. Bahkan dia menganalisa setiap pejabat Indonesia yang memberikan jumpa pers. Dia tahu sekali ini misalnya menteri anu pinter tuh dia tahu masalah atau pejabat anu tahu hanya kulit-kulitnya, atau pemimpin anu dia nggak tahu sama sekali.
Dari setiap perkataan dan kalimat dia analisa pemilihan kata-katanya, mimiknya, gerak tubuhnya, timingnya, konten isi informasinya, arah pembicara, semua ada arti baginya, sang financial economic ini. Dia tidak membaca Koran yang diam/statis, dia melihat video atau tayangan yang reporter (asing) rekam. Oiya catatan, hampir 80% wartawan asing dekat dengan dunia intelijen.
Lalu dia berkata, your country is in bad shape!
Saya bertanya, any proof sir?
I tell you just one, dia berkata yang saya terjemahkan : jika pada bulan Agustus nanti PLN surat hutangnya jatuh tempo, saya tahu PLN tidak punya “uang”. Pasti minta di perpanjang hutangnya di Wallstreet. Apa yang terjadi kalau “saya” tidak perpanjang hutang tersebut. Saya minta bayar, saat itu juga. Apa yang terjadi dengan PLN?
Saya berkata, PLN default ? bangkrut?
Dia berkata, Indonesia pasien IMF dua bulan kemudian!!!. Kalian kan sudah punya bukti, APP Asia Pulp Papernya Sinarmas. Kami tidak perpanjang hutangnya 14 bilion dollar kira-kira 10 tahunan yang lalu bukan? Kok masih juga di ulang lagi sih?
Hanya PLN bikin Indonesia jadi pasien IMF? Saya bertanya
You want to know the rest State-owned enterprise record? Mau tahu catatat lain BUMN? Semua parah!
Kepala saya terbayang pabrik kertas keluarga Wijaya itu kena “hostile take over” dengan gagal dapat perpanjangan surat hutang atau bond.
Dia melanjutkan, BUMN Indonesia ini lucu, yang dilawan bangsanya sendiri. Harusnya BUMN melawan asing, yang swasta belum tentu kuat atau bahkan tidak kuat sama sekali melawan investor asing. Nah ini BUMN indonesia memakan swasta malah kerja sama dengan asing lagi.
Dia tertawa tergelak-gelak. Presdiennya nggak ngerti sejauh ini efek tindakan kebijakan BUMN anda tadi, well, damage is already done. See what happens in the near future, very near!! Dia masih tergelak di ujung kalimatnya.
Dia melanjutkan, kredit macet di bank 3 besar (pelat merah), ini karena memaksakan membangun ke sektor tidak produktif, infrastruktur. Bukan salah membangun infrastruktur, tapi bukan untuk daerah yang hanya berpopulasi rendah namun ada sektor produksinya. Negara anda bukan Negara maju, China dan Amerika (tahun 1940-50 di jaman FDR) membangun infrastruktur di saat GDP nya di atas 5000. Indonesia masih 3500 saat ini.
Nggak heran Bank Mandiri beberapa perusahan konstruksi karya-karya mulai menjual asetnya demi membayar beban hutang.hampir semua bank tersebut keuntunganya tahun 2015 di banding 2016, turun separuhnya di tahun 2016 dan di tahun 2017 kembali turun setengahnya.
Yang anehnya, China membeli Newmont di biayai bank nasional. Langung cashless itu bank. NPL Mandiri 4%, NPL BRI 5,6%. Padahal Non Performing Loan ini tidak boleh lebih 3 %. Sakit semua bank besar dan sekarang semua bank tidak sanggup kasih pinjaman BUMN lagi yang tidak likuid.
Puncaknya lagi bank BUMN akan jadi tumbal keputusan kereta cepatnya Rini Soemarno (Rinso), menarik lagi 6 milyar dolar.
Ini yang saya suka dari Pemerintah saat ini, kata si Bapak itu kemudian. Saya pemain uang, ini peluang banget di depan mata, mirip tahun 1997. Puncak gunung es mencair dengan hutang tak terkendali di Indonesia.
What are you gonna do? Saya bertanya.
Dia hanya menaikan dua pundaknya sambil tersenyum. Bukan saya lho yang buat negara ini “not in good shape”. Saya hanya lihat peluang. Saya tunggu Oktober, will see what Indonesian’s government can do, katanya kemudian.

Selasa, 20 Juni 2017

AWAS, KEMUNGKINAN CALON TUNGGAL DALAM PILPRES 2019!


Jika Anda mengikuti pembahasan RUU Pemilu terkini, Anda pasti akan memahami narasi politik yang sedang bekerja di balik berbagai deklarasi dini pencalonan kembali Jokowi sebagai presiden pada Pemilu 2019.
Ketidakhadiran berkali-kali pemerintah dalam proses pengambilan keputusan akhir di Pansus RUU Pemilu, yang seharusnya menjadi tahapan akhir sebelum rancangan tersebut dibawa ke Paripurna DPR, ditambah ancaman penerbitan Perppu terkait Pemilu 2019 oleh Menteri Tjahjo, menunjukkan dengan jelas jika pemerintah sepertinya memang sengaja hendak menciptakan deadlock dalam pembahasan RUU Pemilu. Jangan lupa, adalah pemerintah pula yang sebelumnya terlambat menyerahkan draf RUU Pemilu ke DPR, yaitu baru akhir 2016 lalu, yang membuat pembahasan di DPR pun akhirnya terhambat.
Motif penciptaan deadlock tersebut sepertinya berhulu pada keinginan pemerintah untuk mengamankan dan mempertahankan Presidential Threshold (PT) di angka 20-25 persen, sikap yang sejauh ini didukung oleh Fraksi Partai Golkar, PDI-P dan Nasdem. Jika deadlock tersebut berhasil dikondisikan, maka Pemilu 2019 akan diselenggarakan mengacu pada undang-undang lama, di mana syarat pengajuan calon presiden dalam UU No. 42/2008 menggunakan ambang batas 20-25 persen.
Maksud ambang batas 20-25 persen tersebut adalah calon presiden hanya bisa diajukan oleh partai politik, atau gabungan partai politik yang menguasai suara sekurang-kurangnya 20 persen kursi di DPR RI, atau 25 persen perolehan suara secara nasional.
Berkaca dari pengalaman dua pemilu sebelumnya, meski di atas kertas seolah dimungkinkan bisa muncul lebih dari dua pasangan calon presiden, dalam praktiknya ambang batas tersebut hanya bisa menghasilkan dua pasangan calon presiden, bahkan mungkin hanya calon tunggal.
Kita ingat, Pilpres 2009, misalnya, bisa melahirkan tiga pasangan calon karena tiga partai dengan perolehan suara terbesar masing-masing mengusung calon presidennya sendiri. PDI-P, misalnya, mengusung Megawati-Prabowo melalui koalisi dengan Gerindra. Demokrat mengusung SBY-Boediono melalui koalisi dengan PKS, PKB, PAN, dan PPP. Sementara Golkar mengusung Jusuf Kalla-Wiranto melalui koalisi dengan Hanura.
Tapi, sebagaimana bisa kita lihat pada Pilpres 2014, begitu salah satu dari partai tiga besar tidak mengajukan pasangan calonnya sendiri, yang terjadi akhirnya polarisasi dua calon saja. Kita ingat, pada Pilpres 2014 Golkar gagal membangun koalisi, sehingga akhirnya bergabung dengan koalisi yang telah dibentuk oleh Gerindra. Pilpres 2014 akhirnya berlangsung hanya dengan dua pasangan calon, yaitu Prabowo-Hatta, yang didukung oleh Gerindra, PKS, PAN, PPP, PBB, dan kemudian Golkar, lalu Jokowi-Kalla yang didukung oleh PDI-P, PKB, Nasdem dan PKPI.
Dari dua pengalaman tadi, memperhatikan grouping kekuatan politik yang berlangsung hari ini, jika syarat ambang batas itu tetap dipertahankan, maka kita kemungkinan akan kembali mengulang drama Pilpres 2014, atau bahkan lebih buruk lagi: hanya akan muncul calon tunggal!
Dua partai dengan perolehan suara terbesar Pemilu 2014 silam, PDI-P (18,95%) dan Golkar (14,75%), keduanya akan kembali mengusung Jokowi sebagai calon presiden, meskipun secara resmi PDI-P belum mengemukakannya. Nasdem (6,72%) juga hampir pasti akan kembali mengusung Jokowi. Tiga partai ini saja sudah menguasai 40,42% kursi parlemen.
Meski empat partai pendukung pemerintah lainnya, yaitu PKB (9,04%), PAN (7,59%), Hanura (5,26%) dan PPP (6,53%) sejauh ini berbeda pendapat dengan PDI-P, Golkar dan Nasdem terkait Presidential Threshold, namun pandangan terkait keberadaan dan angka PT ini bisa jadi tak ada kaitannya dengan preferensi koalisi yang akan terbentuk.
Memperhatikan kecenderungan politiknya, jika PKB, Hanura dan PPP konsisten dukungannya terhadap Jokowi, gabungan partai-partai ini saja telah mengambil porsi 61,2% kursi DPR.
Sisa partai lainnya, yaitu Gerindra (11,81%), Demokrat (10,9%), PKS (6,79%), dan PAN (7,59%), secara kumulatif tak mungkin mengajukan dua pasangan calon. Sehingga, di atas kertas kengototan pemerintah dengan PT 20-25 persen hanya bisa dibaca melalui satu sudut pandang: mengulang kembali drama Pilpres 2014.
Tapi benarkah hanya itu kemungkinannya?!
Sejauh ini, jika kita lihat, hanya PKS yang konsisten seiring dan sejalan dengan Gerindra. Dan ini sudah berlangsung setidaknya dalam lima tahun terakhir. Terakhir, kekompakan dua partai ini bisa dilihat pada Pilkada DKI 2017 lalu.
Masalahnya, jika angka PT dalam Pilpres 2019 mendatang berpatokan pada hasil Pileg 2014, gabungan Gerindra dan PKS hanya bisa mengumpulkan 18,6% kursi parlemen. Dua partai lainnya, Demokrat dan PAN, juga hanya bisa mengakumulasikan 18,49% suara.
Jelas, melihat komposisi demikian, dengan kuasanya pemerintah bisa saja merekayasa hanya akan ada calon tunggal pada Pilpres 2019. Kita tentu ingat, menjelang kontestasi politik akbar, berbagai kasus hukum biasanya banyak dibuka, bukan untuk dilakukan penegakkan hukum, tapi sekadar untuk menyandera lawan politik. Masih ingat heboh pengakuan Antasari menjelang Pilkada DKI putaran pertama lalu?! Atau, masih ingat "netralitas" Demokrat dalam Pilpres 2014 silam?! Itu netralitas yang sangat penuh arti. Sebagai partai yang selalu berada dalam lingkaran kekuasaan, PAN juga rentan disandera oleh modus semacam ini.
Celakanya, Pansus RUU Pemilu sendiri telah menyepakati dimungkinkannya calon tunggal! Sehingga, pernyataan dan manuver Menteri Tjahjo dalam Pansus RUU Pemilu, tidak bisa tidak harus kita dicurigai hanya merupakan bentuk pretext bagi terjadinya kemungkinan ganjil tersebut.
Lahirnya calon tunggal, memang tidak otomatis buruk bagi demokrasi. Tapi calon tunggal yang lahir melalui rekayasa hukum dan politik sudah pastilah buruknya. Baliho-baliho dan deklarasi dini merupakan bumbu penyedapnya.
Sesudah berbuih-buih ngomong demokrasi, Pancasila, pluralisme dan kebhinekaan, itukah yang kita inginkan: calon tunggal dalam Pilpres 2019?

Semoga ini Bukan Ramadhan Terakhir


Andai saja, Ramadhan tahun ini adalah Ramadhan terakhir yang menyapa kita, apa yang akan kita lakukan? Andai saja memang demikian.
Pertanyaan seperti di atas, sesekali perlu kita ajukan pada diri sendiri. Untuk apa? Tentu saja untuk memacu diri, agar memanfaatkan waktu yang kita jalani. Mengumpulkan detik demi detik, agar tak ada yang tersia. Memanfaatkan setiap saatnya agar bernilai ibadah dan berat timbangannya.
Pernahkah kita mendengar kisah tentang seorang ahli hikmah bernama Bahlul? Dalam bahasa Arab, kata bahlul berarti bodoh. Meski demikian, sang pemilik nama tidaklah bodoh sama sekali. Dengan perilakunya yang seringkali dianggap bodoh, Bahlul justru kerap memberi hikmah.
Suatu hari Bahlul dipanggil oleh raja. Sang Raja merasa heran, mengapa ada seorang manusia yang rela memakai nama Bahlul. Maka dengan penuh rasa penasaran, sang raja bertanya, “Apakah tidak ada orang lain yang pantas menyandang namamu?”
“Tidak ada, baginda. Menurut sepengetahuan saya, hamba saja yang paling bodoh dan paling pantas menyandangnya,” ujar Bahlul yakin.
“Kalau begitu, aku akan memberikan anugerah untukmu atas kejujuran itu,” kata sang raja. Lalu kepada Bahlul diberikan sebuah tongkat yang indah.
“Terimalah tongkah ini dengan satu syarat. Jika kelak kau menemui orang yang lebih bodoh darimu, maka kau harus rela menyerahkannya,” titah sang raja. Bahlul pun menyetujuinya.
Kisah pun berlanjut. Suatu ketika, Bahlul mendengar kabar tentang raja yang sakit berat. Dari kabar yang menyebar, umur baginda raja sudah tak akan lama. Maka Bahlul pun menemuinya.
Setelah bertemu dan beruluk salam, Bahlul pun bertanya. “Wahai baginda, apa yang baginda rasakan sekarang?”
“Wahai Bahlul, jangan lagi kamu tanyakan. Rasanya aku akan pergi jauh. Jauh sekali.”
Bahlul yang tak mengerti bahasa isyarat, ingin mengetahui lebih dalam lagi. “Pergi kemana baginda? Sejauh apa?”
“Sejauh apa? Sangat jauh. Bahkan aku tak akan kembali dalam perjalanan ini,” kata sang raja.
“Ohoi, alangkah jauhnya, baginda. Sampai-sampai engkau tak memikirkan kembali. Apakah baginda sudah menyiapkan bekal untuk perjalanan jauh ini?” tanya Bahlul, masih tak mengerti.
“Tak ada, Bahlul, tak ada. Dalam perjalanan ini, engkau tak mungkin membawa bekal,” sang raja menerangkan.
Tiba-tiba Bahlul berdiri sambil menarik tongkatnya. Semua orang di ruangan terkejut melihatnya. Lalu Bahlul mengambil tongkatnya, dengan serta merta ia memberikan tingkat itu pada sang raja.
“Saya tidak percaya, ternyata baginda lebih bodoh dari saya. Sebodoh-bodohnya saya, saya masih mengerti semua perjalanan memerlukan bekal. Apalagi untuk perjalanan yang jauh dan tak mungkin kembali. Baginda, terimalah tongkat ini, karena baginda lebih berhak memegangnya,” tegas Bahlul mantap.
Semua perjalanan memerlukan bekal. Benar, seperti yang dikatakan Bahlul. Dan jika Ramadhan ini adalah Ramadhan terakhir dalam umur kita, maka kita harus benar-benar memanfaatkannya untuk mengumpulkan bekal sebanyak-banyaknya.
Suatu kali Rasulullah saw pernah menaiki mimbar untuk berkhutbah. Saat menginjak anak tangga pertama beliau mengucapkan, "Amin." Begitu pula pada anak tangga kedua dan ketiga. Lalu para sahabat, seusai shalat bertanya kepada Rasulllah. “Mengapa Rasulullah mengucapkan, amin?”
Beliau pun menjawab, bahwa Malaikat Jibril datang dan berkata, “Kecewa dan merugi seorang yang bila namamu disebut dan dia tidak mengucap shalawat atasmu. Kecewa dan merugi orang yang berkesempatan hidup bersama kedua orangtuanya tetapi dia tidak sampai bisa masuk surga. Kecewa dan merugi orang yang berkesempatan (hidup) pada bulan Ramadhan tetapi tidak terampuni dosa-dosanya,” (HR Ahmad).
Tak seperti bekal-bekal yang lain yang harus kita himpun. Bekal untuk menghadap Allah, justru harus kita tabur. Perbanyak sedekah, adalah mengumpulkan bekal. Perbanyak perbuatan baik, adalah mengumpulkan bekal. Perbanyak silaturahim, adalah mengumpulkan bekal.
Tidak seperti di bulan-bulan lain, di bulan yang mulia ini, Rasulullah saw mengajarkan kita untuk lebih memperbanyak infaq, sedekah dan perbuatan baik. Di bulan Ramadhan, kedermawanan Rasulullah jauh melebihi bulan-bulan yang lain. Di bulan ini beliau melipatgandakan semua perbuatan baik.
Rasulullah memerintahkan kita untuk tak berat tangan dalam bersedekah. Rasulullah mengajarkan kepada kita agar tak pernah berpikir dua kali ketika hendak memberi. Karena apa yang kita sedekahkan akan menjadi penghalang dari azab Allah yang akan datang. “Jauhkan dirimu dari api neraka, meski dengan sedekah sebutir kurma,” (HR Muttafaq Alaihi).
Agama ini begitu ajaib. Di buka berbagai cara untuk melakukan kebaikan. Diajarkan bermacam keutamaan. Tak melulu soal harta. Tak selalu tentang materi. Kekuatan niat menjadi landasan utama dari berbagai peristiwa.
Rasulullah memerintahkan kepada kita untuk ringan tangan memberi sedekah. Lalu para sahabat bertanya tentang caranya. “Bagaimana kalau dia tidak memiliki sesuatu?”
“Bekerja dengan keterampilan tangannya untuk kemanfaatan bagi dirinya lalu bersedekah,” sabda baginda Rasulullah.
Para sahabat bertanya lagi. “Bagaimana kalau dia tidak mampu?”
Lalu Rasulullah pun memberi cara yang lain, “Menolong orang yang membutuhkan dan sedang teraniaya.”
“Bagaimana kalau dia tidak bisa melakukannya?”
“Menyuruh berbuat ma’ruf adalah sedekah.”
“Bagaimana kalau dia tidak melakukannya?”
“Mencegah diri dari berbuat kejahatan itulah sedekah,” (HR Bukhari dan Muslim).
Kita tak boleh kehilangan kesempatan untuk meraih kebaikan. Ramadhan ini kita harus menghisap kebaikannya dan kemuliaannya sampai pada tetes yang terakhir. Tak boleh ada yang tersisa dan harus menghasilkan keutamaan untuk diri kita.
Jangan sampai kita menjadi orang-orang yang telah diberi peringatan oleh Rasulullah saw. Banyak di antara orang yang berpuasa, tapi tak mendapatkan kebaikan dan kemuliaan dari bulan Ramadhan yang penuh berkah. “Mungkin hasil yang diraih seorang shaum hanya lapar dan haus saja. Mungkin hasil yang dicapai seorang yang shalat malam hanyalah berjaga,” (HR Ahmad dan Al Hakim).
Na’udzubillah. Semoga Allah melindungi kita dari perbuatan dosa dan perilaku yang sia-sia. Amin.

Senin, 19 Juni 2017

2 PERIODE????????

BBM (Bahan Bakar Minyak)SAAT INI MINYAK MENTAH SEKITAR $50/Barel Kurang dari separo zaman Pak SBY, Tapi BBM(Bahan Bakar Minyak) lebih mahal sekarang LISTRIK
Dari harga semula Rp 318 perKwh menjadi Rp 1467 PerKwh itu bukan kenaikan tapi PERAMPOKAN..!! apalagi Tanpa sosialisasi kepada masyarakat
Masih mau 2 periode?

KRISIS LISTRIK di Indonesia Ternyata AKAL- AKALAN Penguasa dan Taipan


Belakangan ini di Jakarta, Jawa-Bali dan berbagai daerah, listrik sering mati. Seperti paduan suara, listrik mati secara berirama, silih berganti, saling bersambut antara satu wilayah dengan wilayah lainnya. Begitu kompak.
Anehnya kok di jawa sering mati lsitrik? Padahal di Jawa-Bali terjadi kelebihan produksi listrik. Listrik di Jawa tidak habis dikonsumsi. Tapi kok aneh listrik di Jawa kok sering mati? Ini pasti ada sesuatu.
Padahal jika melihat laporan Badan Pusat Statistik (electricity Statistic. 2011-2014), pada tahun 2014 produksi listrik sebesar 234.549,4 GWh, sementara jumlah listrik terjual pada tahun 2014 mencapai 199.028,08 GWh.
Dengan demikian maka terdapat selisih antara ketersediaan dengan konsumsi yang cukup besar yakni mencapai 35.521,32 GWh yang tidak terpakai. Selisih tersebut terbesar adalah di Jawa-Bali.
Lalu mengapa listrik di Jawa sering mati? Apakah pemerintah mencari alasan untuk menaikkan tarif listrik lagi, atau untuk membusukkan nama PLN, mengancurkan PLN agar terbuka peluang asing dan taipan untuk menggantikan peran PLN terutama di Jawa Bali.
Ingat, meskipun listrik di Jawa Bali mengalami kelebihan pasokan, investor asing dan para taipan listrik tetap ingin menumpuk investasi pembangkit di Jawa-Bali.
Nanti ketika pembangkit telah bertumpuk di Jawa-Bali, maka secara perlahan lahan pembangkit listrik milik PLN dihabisi, dihancurkan, dibangkrutkan, dirusak nama baiknya. Dengan demikian maka infrastruktur jaringan yang dimiliki PLN dapat diambil alih oleh asing dan taipan listrik.

Sekarang ini bisnis listrik di Indonesia telah menjadi ajang bancakan yang paling busuk. Mengapa? karena pembuat kebijakan (legislator), para pelaksana kebijakan (eksekutor) dan para pelaksana proyek (kontraktor) adalah para penguasa Republik ini sendiri. Jadi ini adalah bisnis sesuka hati penguasa saja. Mereka menjadikan program elektrifikasi nasional sebagai proyek bancakan penguasa untuk memperkaya diri, keluarga dan kelompoknya.
Bagaimana strategi dan cara oligarki penguasa bekerjasama dengan asing dan taipan listrik menjarah keuangan negara, keuangan PLN dan keuangan rakyat?
Dibaca pelan pelan ya….
Pertama, PLN dipaksa membiayai pembangunan infrstruktur listrik dengan didanai utang dalam jumlah besar. Utang PLN sudah melebihi nilai asetnya sebelum revaluasi aset.
Kedua, Proses pembangunan infrstruktur dikerjakan oleh swasta melalui Engineering Procurement Construction (EPC). Dalam proyek proyek EPC inilah yang menjadi bancakan oligarki penguasa dan taipan listrik
Ketiga, Infrastruktur yang dibangun PLN akan dimanfaatkan oleh para investor lsitrik yakni investor asing dan para taipan listrik. Investor tidak mungkin melakukan investasi pembangunan jaringan listrik.
Keempat, Pembangkit listrik diserahkan kepada investor asing dan taipan listrik dengan memanfaatkan jaringan yang dibangun dengan investasi PLN yang didanai utang.
Kelima, PLN diwajibkan membeli listrik yang dihasilkan asing dan taipan listrik termasuk kelebihan produksi listrik asing dan taipan listrik tersebut.
Keenam, Negara memberikan dana subdisi untuk PLN agar membeli listrik swasta termasuk kelebihan produksi swasta. Jadi selama ini tidak benar dana subsidi listrik itu untuk rakyat. Dana subsidi lsitrik dinikmati oleh asing, taipan dan oligarki penguasa.
Itulah mengapa mega proyek listrik 35 ribu megawatt yang tengah dirancang pemerintah, merupakan peluang empuk bagi asing, taipan dan oligarkhi penguasa dalam menjarah keuangan negara dan keuangan PLN.
Dengan mega proyek ini, investor asing, para taipan listrik dan oligarki penguasa dapat menjarah dana subdisi listrik (subsidi digunakan untuk membeli kelebihan produksi listrik swasta oleh PLN), menjarah keuangan PLN melalui pembangunan infrastruktur yang dibiayai dengan EPC dan menjarah keuangan rakyat dengan kenaikan tarif listrik setinggi langit tanpa alasan.
Penulis: Salamuddin Daeng (AEPI Jakarta)

Indonesia Milik Konglomerat


Oleh : Iwan Piliang
Dulu di akhir 80-an sebagai jurnalis, saya sempat bertemu dengan Dirut bank-bank pemerintah. Bahkan saat itu beberapa kali memandu diskusi terbatas perbankan, era belum ada istilah pengamat, diksi pakar belum mewabah. Era di mana Omar Abdalla, BBD, Kukuh Basuki, BNI, Widarsa Dipradja, BDN, Kamardi Arif, BRI, begitu dicari, dilobby.
Berkawan dengan mereka, sekadar sumber. Berteman bukan untuk meminta. Tetapi agar dimudahkan mengutip keterangan untuk ditulis.
Berbeda dengan pengusaha. Dekat dengan direksi bank, jaminan bagi perolehan kredit tambun. Saya paham bagaimana Eka Tjipta Wijaya, mendapatkan kredit besar dari BRI. Publik pun kemudian tahu setelah tak menjabat Dirut BRI, Kamardi menjadi komisaris di perusahaan grup Sinar Mas, sekadar salah satu contoh. Lakon demikian hampir dijalani semua konglomerat papan atas Indonesia.
Bahkan modal awal pendirian bank swasta mereka dominan juga dari uang pinjaman bank pemerintah. Ingat kebijakan Pakto, tahun 1988. Swasta diberi kemudahan bagi pendirian bank. Perjalanan ini kemudian terjadilah praktek pelanggaran Capital Eduquacy Ratio, Legal Lending Limit. Proses pelanggaran dan ranah abu-abu dalam bisnis itu terus berlanjut hingga era KLBI, BLBI, bahkan era BPPN, jaman panen membeli aset BPPN dengan pola cesie, 20% dari nilai riil, melalui anak usaha di negara bebas pajak, perusahaan Blossom Limited, dari British Virgin Island, sekadar menulis nama. Padahal pemiliknya mereka telah dikonglomeratkan bank pemerintah, negara, Indonesia.
Di hadapan para peserta Sesko TNI di Bandung, 17 November 2015 perih-hal ini - - sengaja saya tambah h-nya - - konglomerasi di Indonesia itu sudah pernah saya paparkan. Produk TVRI jadi TV publik, kemasan Undang-Undang. Simak saja mana ada TV negara yang nasibnya seterperkosa TVRI, lihat saja pesta pendapatan TV Swasta. Setelah dapat Bisnis TV, dari pendapatan iklan mereka merambah partai politik.
Beruntung dunia perbankan pemerintah, nasibnya tak sejelek TVRI. Akan tetapi bank swasta milik konglo telah membangun kepercayaan terutama di lingkup pengusaha keturunan untuk diutamakan dipilih. Dalam sikon demikian para konglomerat tambun merambah memiliki lalu mencengkeram partai politik.
Tommy Winata saja punya hak veto di Nasdem. Surya Paloh pernah akui ia hanya pendana ke empat. Setelah TW, ada Jan Darmadi, bisa dilihat kemudian diangkat jadi anggota penasehat presiden, lalu ada pendana Franky, kini bendahara. Sjamsul Nursalim yang mukim di Singapura, diduga pemgemplang BLBI melalui bank BDNI-nya, punya tangan ke pendirian partai baru. Sebutlah konglomerat lain, kalau pun mereka tidak terang-terangan punya partai, publik paham bagaimana tangan mereka ke penguasa.
Bukan rahasia tangan grup Sinarmas, Lippo, berandil memenangkan Jokowi-Ahok. Melalui indikasi dukungan uang untuk kampanye. Semua itu harus dibayar dengan kebijakan.
Kebijakan kereta cepat Jakarta- Bandung, sudah lama saya katakan untuk kepentingan pengembang. Baru saja dua hari lalu James Riady, mendeklarasikan kota baru Meikarta, terkoneksi dengan jalur kereta cepat.
Ketika Pilkada DKI Jakarta, ada janji membatalkan reklamasi pantai utara Jakarta, saya pesimis. Indonesia milik konglomerat kini. Lihatlah bagaimana tercampaknya dengan mudah Rizal Ramli dari kabinet, tengoklah kekehnya pembelaan pusat kekuasaan kepada Basuki Tjahanja Purnama.
Semua bisnis sah saja adanya. Tidak ada seorang pun di Indonesia melarang orang sangat kaya.
Saya sebagai warga misalnya hanya mengkritisi soal penggelapan pajak tambun setiap tahun melalui pola transfer pricing. Setahun 2005 saja terindikasi sudah Rp 1.300 triliun. Tahun 2015 sudah di atas Rp 2.200 triliun setahun. Jika Pengadilan Pajak benar, kerja bisa membuktikan 30% maka Indonesia tak perlu berhutang APBN-nya.
Majalah Tempo pernah ungkap soal penggelapan pajak, transfer pricing PT ASIAN agri, terbukti di Pengadilan. Kasus diakhiri, menguap. Bandingkan dengan Australia, pada 2005 bisa me nuntut laku transfer pricing Toyota US$1 miliar. Sementara untuk tahun sama perusahaan terindikasi kasus transfer pricing di Pengadilan Pajak, Toyota Motor Manufactur Indonesia, belum jelas kesudahannya. Sekadar satu contoh.
Indikasi penggelapan pajak tambun Pola transfer pricing tiap tahun itu dari sektor tambang, ekspor CPO sangat dominan. Polanya simpel, harga jual riil di pasar bukan jadi laporan pajak. Tetapi laporan pajak dari pembukuan pembeli dari tax heaven country. Misalnya harga riil jual 50 dollar per ton, laporan pajak 25 dollar per ton. Metha Dharmaputra, wartawan Tempo saat liput kasus Asian Agri, di rapat perencanaan tahunan tercantum dokumen transfer pricing bagian dari rencana pendapatan.
Grup Sinarmas besar di tambang batu bara dan ekspor CPO otomatis laku sejenis sudah lama saya duga terjadi di grup mereka. Akan tetapi setelah rejim berganti bukan penggelapan pajak tambun diberesi justeru berganti ke tax amnesty.
Maka secara miris saya katakan tax amnesty sebagai saya rakyat dihisap darah hingga dikikir tulang, ditimpuk kepala pakai batu, di saat bocor ditetesi cuka. Itu rasa tax amnesty bagi saya. Ketika ada berita Grup Sinarmas, diduga pembeli utama karangan bunga yang beredar di Jakarta, saya bertanya ini episode apalagi yang hendak dimainkan konglomerat di negeri ini?
Bukan rahasia tangan konglomerat ke mana-mana. Beralihnya empati warga ke Ridwan Kamil , Bandung, bukan mustahil akibat jerat konglomerat. Pembangunan di Bandung, banyak juga didukung CSR pemgembang dari grup Lippo, misalnya. Dan kini Nasdem mendukung RK.
Berpilin berkelindannya konglomerat ke media, ke partai politik, hari kini memberi framing radikal umat, menurut saya nyata.
Mengapa misalnya sikap Polri seakan berlawanan dengan warga? Karena pimpinan mereka di atas, mengutamakan kepentingan konglomerat, beberapa pemilik, terindikasi tak nyaman, politik terjerembab pasrah ke sikon oligarki fulus mulus membaja.
Mencegah kebuntuan demikian sejatinya sudah kami lakukan ketika mendukung Jokowi 2012, 2014. Eh ternyata kebekuan itu kian mengeras, lebih membaja, sehingga ranah keadilan dirasakan pahit oleh umat Muslim khususnya, karena cap, label radikal, bahkan teroris. Padahal satu saja tuntutan umat kini tegakkan keadilan.
Jika laku "maling" dengan transfer pricing dominan warga diem karena kecerdasan hati mereka tinggi. Mungkin anggapan warga biarlah kalau negara diam, masih ada alam akhirat, tetapi Al Quran dihina, memang himbauan akidah wajib membelanya.
Karenanya konglomerat kini sudah tambun di besarkan negara tidak sepatu t nya, juga tidak sepantasnya ngelunjak berlebih-lebih. Sebagai contoh kecil Jika Indikasi pembeli karangan bunga ke kantor Kapolri dan Kapolda adalah Sinarmas, maksudnya apalagi? Radikal riil kah umat Islam?
(Sedikit tambahan bukan dari penulis asli 👇👇👇)
Atau justru para koruptor yang sudah sangat kaya raya tersebut dan takut diusut asa muasal harta serta assetnya yang *radikal fundamentalis garis keras* menyingkirkan siapapun yg berpotensi mengganggu kenyamanan hidup mereka dan cengkraman mereka terhadap negara dan aparatusnya..???

Sabtu, 17 Juni 2017

MENJERAT HABIB RIZIEQ, Mentah di Gorengan Isu Radikalisme, Kedodoran di Isu Chat Palsu

Pasca kekalahan pasangan petahana pada putaran kedua Pilgub DKI, banyak pihak terhenyak, tetap tak bisa percaya. Bagaimana mungkin petahana yang didukung habis-habisan, diusung 2 parpol peraih suara terbanyak dan runner up di Senayan, didukung dana tak terbatas, di back up keberpihakan penguasa dan aparatnya, bisa kalah telak sampai hampir 16%?! Sebuah kekalahan yang nyaris tak bisa diprediksi lembaga survei manapun.

Berangkat dari keterhenyakan itu, mulailah dicari siapa “biang kerok” yang dianggap paling berperan meng-goal-kan kemenangan bagi paslon Gubernur Muslim.

Alhasil, Habib Rizieq Shihab lah orang yang dianggap punya andil terbesar atas kekalahan ahok. Logikanya sederhana: kekalahan Ahok dianggap tak lepas dari maraknya Aksi Bela Islam yang tujuannya menuntut tindakan hukum atas Ahok yang telah menistakan Al Qur’an terkait pidatonya di Pulau Pramuka yang meminta agar masyarakat jangan mau dibohongi pakai surat Al Maidah ayat 51. Dan Habib Rizieq lah tokoh sentral yang dianggap menggerakkan serangkaian Aksi Bela Islam, terutama yang paling fenomenal Aksi Damai 411 dan Aksi Super Damai 212.

Padahal, menuding Habib Rizieq sebagai biang keladi kekalahan ahok sebenarnya sama dengan MENGAKUI KEHEBATAN Habib Rizieq Shihab.

Mana mungkin seorang HRS bisa mempengaruhi jutaan warga DKI yang berhak pilih, untuk tidak memilih ahok di bilik suara?! Sedangkan money politics dalam berbagai bentuknya, pembagian sembako “ugal-ugalan” sampai menerobos masa tenang, semua operasi itu telah dijalankan. Seharusnya, hitung-hitungan di atas kertas, petahana pasti menang dong! Lalu bagaimana caranya HRS jadi penyebab kekalahan paslon petahana?! Sedangkan dia tak melakukan gerakan kontra kampanye?!

* * *

Yang dilakukan Habib Rizieq Shihab, bagi penguasa saat ini, justru jauh lebih dari itu, bukan sekedar berperan mengalahkan Ahok, tapi bisa lebih berbahaya lagi jika dibiarkan. Sebab yang dilakukan HRS adalah MEMBUKA PINTU KESADARAN UMMAT ISLAM, MENGUSIK GHIRAH KAUM MUSLIMIN. Mereka yang semula beragama hanya sekedar sebatas kesalehan ritual (banyak sedekah, sumbang masjid sana sini, bantu panti asuhan dimana-mana, umroh berkali-kali) namun kering dari ‘sense of belonging’ terhadap ISLAM itu sendiri, dengan adanya Aksi Bela Islam, mereka seakan disentakkan kesadarannya bahwa beragama itu bukan sekedar melakukan ibadah ritual semata. Tapi bagaimana membumikan perintah dan larangan Allah, merasa memiliki terhadap apa yang Allah turunkan, sehingga timbul rasa tidak rela jika agamanya dinistakan, Al Quran nya dianggap alat kebohongan.

Orang yang tadinya tidak peduli pada perintah surat Al Maidah ayat 51, justru dengan dikatakan “jangan mau dibohongi pakai…” terusik untuk mengkaji lebih dalam surat Al Maidah ayat 51 dan ayat-ayat selanjutnya.
Disinilah peran Habib Rizieq dan beberapa ulama yang tergabung dalam GNPF MUI.

Kesadaran itu tidak hanya berhenti sampai sebatas memilih siapa di Pilgub DKI. Sebab Aksi 212 kemudian bergulir ke segala arah, termasuk ke ranah ekonomi. Munculnya kesadaran ummat Islam untuk bergotongroyong, dengan semangat ukhuwah Islamiyah, membangun bisnis berbasis syariah, bisnis dari ummat, oleh ummat, untuk ummat. Sekarang mungkin masih kecil skalanya. Tapi bukan tidak mungkin jika kelak akan terus menbesar dan mengancam hegemoni dagang para taipan.

Ghirah ummat Islam untuk memilih pemimpin yang berpihak pada Islam dan tidak meminggirkan Islam, akan terus bergulir, tidak berhenti hanya pada Pilgub DKI.
Justru kemenangan paslon Gubernur Muslim yang semula tak diperhitungkan, kini mendongkrak rasa percaya diri ummat Islam, bahwa jika mereka bersatu, maka mereka akan bisa mengalahkan kekuatan besar yang ditopang kekuasaan sekalipun.
Semangat seperti inilah yang akan terbawa dan menular ke berbagai daerah dalam menghadapi Pilkada serentak 2018.
Lebih “celaka” lagi jika semangat ini berlanjut sampai 2019, saat moment Pemilu Legislatif dan Pilpres akan digelar bersamaan.

Apalagi pasca Aksi Bela Islam muncul semangat dan KEPEDULIAN ummat untuk mengawal proses pemungutan suara. Mereka yang dulu hanya pasif menanti hasil perhitungan suara dari KPUD/KPU atau mantengin quick count dari lembaga survei yang bekerjasama dengan media tivi, kini sadar bahwa “KEJUJURAN hasil pemungutan suara dimulai dari TPS”.

Maka bergeraklah ummat Islam, kaum ibu, anak muda, jawara, untuk mengawal TPS, menjaga agar prosesnya steril dari aksi intimidasi ala Iwan Bopeng, tidak bisa disusupi pemilih siluman yang datang gerudukan menjelang TPS tutup hanya berbekal KTP padahal tak dikenali sebagai penduduk setempat, dan yang terpenting hasilnya tak bisa direkayasa secara sistem hitungan di KPU/KPUD. Bayangkan jika hal ini terjadi di semua Pilkada serentak 2018 dan Pemilu/Pilpres 2019! Maka, memenangkan pilkada dan pemilu bukanlah hal mudah lagi. Tak cukup hanya punya modal uang tak berseri atau intervensi kekuasaan.

Itu sebabnya Habib Rizieq Shihab HARUS DIHABISI. Dihabisi bukan berarti harus dibunuh. Tidak perlu membunuh beliau secara fisik. Tapi bunuhlah karakternya.
Buat citra HRS sedemikian buruk, kotor dan hina sehingga ummat tak mau lagi mendengar nasihatnya, ogah ikut komandonya bahkan ummat menyingkir, meninggalkan HRS.
Apa yang harus dilakukan?

Memenjarakan HRS dengan kasus kriminal biasa, sulit. HRS tidak korupsi karena dia bukan aparatur negara yang punya peluang untuk korupsi. Maka dibidiklah HRS dengan beragam kasus. Penghinaan terhadap lambang negara, ternyata tak cukup ampuh. Sebab yang dimaksud penghinaan lambang negara adalah menghina burung Garuda Pancasila. Sedangkan thesis HRS hanya mengupas sejarah “lahirnya” Pancasila sehingga menjadi 5 sila yang urutannya persis seperti apa yang kita kenal sekarang. Mentahlah tuduhan itu, terlalu sumir jika dipaksakan, Kejaksaan saja mengembalikan berkasnya.

Lalu kenapa akhirnya yang diangkat kasus chat sex? Karena untuk membunuh karakter
seorang ulama agar kehilangan kepercayaan ummatnya adalah jika dia terlibat skandal sex! Maka dibuatlah issu chat sex antara HRS dengan seorang wanita, FH

Meski terlalu banyak kejanggalan dalam kasus chat sex, tapi gaungnya cukup luas. Itulah yang diharapkan, semua orang jadi sibuk membincangkan “bener enggak sih Habib Rizieq melakukan chat sex dengan FH?”.
Tak peduli logis atau tidak (karena HP milik FH sudah berada di tangan kepolisian sejak hampir 2 bulan sebelum chat sex itu diunggah ke internet), yang penting efeknya meluas.

Ini sangat ironis sebenarnya. Sebab sejak awal yang digoreng adalah isu radikalisme. Setiap Aksi Bela Islam selalu dikaitkan dengan isu bakal adanya kerusuhan massa, bergeser menjadi gerakan makar, melawan dan menumbangkan pemerintahan yang sah.

Namun sayang issu RADIKALISME yang digoreng itu GAGAL TOTAL! bahkan puncak dari Aksi Bela Islam, dimana 7 jutaan ummat Islam dari berbagai penjuru negeri berkumpul sejak dini hari di pusat Jakarta, di sekitar pusat-pusat kekuasaan, namun tak satupun ada kerusakan. Jangankan merusak, sampah yang dihasilkan pun secara swadaya dibersihkan dan dikumpulkan dalam kantong-kantong plastik besar, sehingga petugas kebersihan tinggal mengambil saja. Jangankan bergerak rusuh ke pusat-pusat kekuasaan, berebut makanan dan minuman saja tidak ada.

Sulit, sulit sekali menggiring opini bahwa ini gerakan ISLAM RADIKAL. Apalagi Presiden Jokowi, Wapres Jusuf Kalla, Menag, Menko Polhukam, juga ikut hadir di acara itu. Kapolri dan Panglima TNI pun ikut jadi saksi jalannya Aksi Super Damai.
Apalagi belakangan Jokowi pun tanpa disadari ikut “MEMPROMOSIKAN” ke masyarakat internasional bahwa aksi 212 adalah aksi damai, nothing to worry about untuk berinvestasi di Indonesia. Disini ummat Islam berkumpul sampai 7 juta orang, meski niatnya berdemo, tapi tetap bisa menjaga situasi tetap aman dan damai.
Nah lho, ambigu bukan jika tetap memaksakan tuduhan PENYULUT RADIKALISME pada Habib Rizieq Shihab?!

* * *

Gagal di isu radikalisme, maka harapannya kini bertumpu pada kasus chat sex. Meski sudah banyak pakar dan pengamat dari berbagai disiplin ilmu menelanjangi kejanggalan issu ini, polisi tak menyerah.
Setelah “digugat” kenapa tidak menangkap pihak yang mengunggah dan menyebarkan pertama kali, kini polisi menuduh hacker asal Amerika lah yang pertama kali meretas chat sex itu. Anonymous Amerika pelakunya.

Ini makin konyol sebenarnya. Sebab di Amerika yang namanya free sex sudah “santapan” sehari-hari. Jangankan cuma chat sex yang sudah marak sejak belasan tahun lalu ketika orang masih gandrung pakai Yahoo Messenger, aksi tukar menukar video sex disana sudah bukan issu baru. Dan sebagai masyarakat yang berpaham liberal, di sana orang mau melakukan free sex sepanjang tidak menganggu orang lain, ya tidak masalah, itu urusan pribadi pelakunya.

Jadi bagaimana Anonymous Amerika bisa sedemikian tertarik meretas urusan chat sex pribadi? Apalagi kemudian diunggah ke internet lewat website bernama “Balada Cinta Rizieq”, ini nama web nya “Indonesia bingitz”.

Tapi sudahlah. Tak penting masuk akal atau tidak, konyol atau logis, yang penting nama HRS dicemarkan. Harapannya, ummat Islam “pinggiran” yang relatif tidak terdidik, tidak well informed, akan menelan mentah-mentah tuduhan bahwa HRS melakukan chat sex.

Bukti bahwa aparat bernafsu membusukkan citra HRS, ketika kepolisian menyebar foto HRS ke berbagai daerah, seolah dia buronan yang bersembunyi di pelosok tanah air, di hutan belantara, menyamar di desa-desa terpencil.


Padahal, seluruh aparat kepolisian tahu HRS sedang berada di Arab Saudi. Tinggal layangkan saja surat resmi kepada Dirjen Imigrasi untuk mencabut paspor HRS, lalu tinggal kirim surat ke Pemerintah Saudi agar mendeportasi HRS karena dia sudah berstatus illegal tanpa paspor.


Anehnya, seperti kata Ronnie F. Sompie, Dirjen Imigrasi yang mantan Kapolda Bali, pihaknya belum akan mencabut paspor HRS karena sampai saat ini tidak ada permintaan dari Polri.

Nah, ini bukti bahwa sebenarnya kepolisian tak serius-serius amat ingin memaksa HRS kembali ke Indonesia. Padahal mudah, cukup cabut parpornya, cekal dia, agar ada alasan kuat untuk meminta pihak berwenang Saudi Arabia mendeportasi HRS. Bukan dengan menyebar foto HRS ke berbagai pelosok daerah. Untuk apa?! Jelas masyarakat sudah kenal baik wajah dan penampilan HRS, lagi pula toh HRS tak ada di Indonesia.
Disini jelas sekali tujuannya memang hanya merusak nama HRS agar ummat berkurang kepercayaannya pada HRS.

Namun sayang, kepolisian dan penguasa tidak belajar banyak dari berbagai kejadian sebelumnya. Aksi 212 misalnya, makin dihadang, makin dihalangi, justru melahirkan Aksi Simpatik longmarch, jalan kaki para santri muda dari Ciamis ke Jakarta. Aksi ini menimbulkan rasa simpati ummat Islam dan efeknya bak bola salju menstimulasi mereka yang tadinya tidak berencana ikut Aksi 212 jadi ikut. Atau belajar dari yang lebih belakangan terjadi: tebar sembako dan baju kotak-kotak habis-habisan di penghujung masa kampanye hingga masuk masa tenang, dengan harapan pemilih akan mengidentifikasikan dirinya dengan gambar paslon berbaju kotak-kotak ketika berada di TPS. Tapi apa yang didapat? Pemilih kelas menegah atas, kaum terdidik, mereka yang semula masih tergolong undecided voters, justru muak melihat aksi money politics ugal-ugalan macam itu, akhirnya… Jadilah kemenangan Anies Sandi lebih fenomenal dan lebih besar selisih suaranya.

Jadi, aparat kepolisian, penguasa, jika ingin menghabisi Habib Rizieq Shihab, mbok ya tolong cari kasus yang benar-benar berkelas. Jadi tidak malu-maluin kalau harus mengeluarkan red notice ke interpol, punya alasan kuat kalau mau mencabut paspornya, dan dampaknya ummat bisa benar-benar berpaling dari HRS.

Nah, masalahnya, dari belasan kasus yang dipakai untuk membidik HRS, adakah yang benar-benar kuat bisa menghabisi HRS?! Sementara 2018 dan 2019 makin dekat…

HasbunaLlaahu wa ni’mal wakiil, ni’mal maula wa ni’man nashiir…
Laa haula wa laa quwwata illaa billaah… HRS bukan nabi apalagi Rasul. Beliau hanyalah ulama yang memilih nahi munkar sebagai jalan dakwahnya ketika banyak ulama lain lebih memilih fokus pada amar ma’ruf semata.
HRS tentu tak luput dari kesalahan, tapi 
di tengah gersangnya figur panutan, ummat Islam Indonesia sudah menunjukkan kepercayaan mereka pada Habib Rizieq Shihab.
Siapapun yang mau mendelegitimasi HRS, dia haruslah figur yang lebih layak dipercaya.

Penulis: Iramawati Oemar

HABIB RIZIEQ KEPADA MUSLIM CYBER ARMY:


"Insya Allah dalam waktu dekat saya sekeluarga akan kembali ke tanah air. Bergabung bersama anda kembali, untuk terus berjuang melawan kedholiman, kebathilan, dan menegakkan keadilan!"
INILAH PESAN SUARA HABIB RIZIEQ KEPADA MUSLIM CYBER ARMY, LANGSUNG DARI TANAH SUCI, 13 JUNI 2017:
1. Alhamdulillah, saat ini saya sekeluarga di Tanah Suci merasa sangat bahagia dan sangat gembira dengan berkumpulnya para Pejuang Islam. Teristimewanya dari kalangan Muslim Cyber Army. Jazakumullahu khairon, semoga Allah SWT memberikan ganjaran sebaik-baiknya ganjaran kepada segenap Muslim Cyber Army, yang selama ini telah ikut berjuang membela Allah. Membela Rasul, membela Islam, dan membela para Ulama.
2. Saya ingin menyampaikan apresiasi yang tinggi, pengharagaan yang tinggi, kepada segenap netizen dimanapun berada, yang tergabung dalam Muslim Cyber Army atas jasa-jasa Anda. Atas besarnya kontribusi Anda selama ini dalam perjuangan menegakkan Islam di Indonesia.
3. Alhamdulillah dengan izin dan pertolongan Allah SWT, dengan kekompakan dan kebersamaan persatuan dan kesatuan, Muslim Cyber Army selama ini telah berhasil membongkar segala bentuk fitnah musuh-musuh Islam. Telah berhasil menelanjangi kebohongan musuh-musuh Islam. Sehingga saat ini musuh-musuh Islam kewalahan dan ketakutan.
4. Karena itu kepada segenap Muslim Cyber Army jangan pernah berhenti. Terus gaungkan kebenaran. Lawan segala fitnah mereka dengan kebenaran. Lawan segala kebohongan mereka dengan kebenaran..!
Lawan kebathilan dengan yang Haq. Insya Allah, Allah akan berikan kemenangan kepada kita. Sebagaimana firman Allah...
وَقُلۡ جَآءَ ٱلۡحَقُّ وَزَهَقَ ٱلۡبَـٰطِلُ‌ۚ إِنَّ ٱلۡبَـٰطِلَ كَانَ زَهُوقً۬ا
Dan katakanlah:
"Yang benar telah datang dan yang bathil telah lenyap. Sesungguhnya yang bathil itu adalah sesuatu yang pasti lenyap." (QS Al-Isra: 81).
5. Jangan lupa pada keberhasilan MCA dalam menelusuri seluruh jejak digital, sehingga mengetahui identitas para penebar fitnah dan kebohongan. Alhamdulillah ini adalah anugrah dari Allah SWT.
Saya ingin pesan kpd segenap MCA. Yang pertama: Jagalah jejak digital anda! Jagalah dng sedemikian penuh ketelitian, kecermatan, dan kewaspadaan, sehingga tidak bisa ditelusuri oleh musuh2 Islam.
6. Kedua: MCA harus terus beri semangat kpd masyarakat, agar tidak emosional melakukan gerakan2 persekusi. Karena itu akan kontraproduktif. Akan jadi boomerang bagi umat Islam, sehingga akhirnya umat Islam yg akan disalahkan dan diproses hukum dng tuduhan persekusi. Padahal umat Islam punya niat yg sangat baik utk membela agama dan ulama.
Beri arahan kpd masyarakat, jika fitnah, kebohongan dan identitas mereka itu telah terbongkar, maka jadikan itu semua sebagai bukti untuk melakukan pelaporan ke kepolisian. Proses hukum mereka. SEKALI LAGI, PROSES HUKUM MEREKA!
Jangan lakukan persekusi karena nanti bisa dipersalahkan. Awasi, kontrol, dan monitor, agar polisi tidak bermain mata.
7. Kobarkan pertempuran di dunia maya, di internet, di medsos. Mereka kini menguasai televisi2 mainstream, tapi mereka kewalahan menghadapi Muslim Cyber Army.
Ingat janji Allah. Jika kamu semua memenangkan agama Allah SWT, maka Allah SWT akan memenangkan kamu sekalian, dan memperkokoh langkah perjuanganmu.
8. Muslim Cyber Army adalah anugerah Allah.
Mereka terbentuk dengan izin Allah. Tanpa pendaftaran, tanpa perekrutan, tanpa adanya kantor, tanpa di gaji. Mereka hanya mengharap ridho Allah Ta'aLa
ALLOHU AKBAR