Rabu, 30 Desember 2015

Kesombongan

Kesombongan walaupun tidak dinyatakan dalam perkataan atau perbuatan, dapat dirasakan dalam hati si hamba sendiri. Sebab, kesombongan yang tersimpan dalam hati, akan lebih membahayakan si hamba, karena akan menumbuhkan berbagai macam sifat yang bisa menggolongkan dirinya sebagai manusia syirik.
Dikisahkan pada masa lampau ada seorang ahli ibadah yang selalu bertaqarrub kepada Allah, membuat ia selalu mendapat perlindungan-Nya. Kemana saja pergi ia selalu ditutupi oleh awan hingga badannya tidak terkena panas matahari. Pada suatu hari ketika si ‘abid ini sedang mengadakan suatu perjalanan, seorang pelacur melihatnya, lalu dalam hati pelacur ini tumbuh perasaan halusnya. Ia mendekati hamba Allah yang taat ini, dengan harapan ia mendapatkan rahmat Allah. Ketika pelacur ini mendekat kepadanya, tiba-tiba saja ahli ibadah ini rnenjadi jijik, dan mengusir pelacur itu dengan kata-kata yang menyakitkan. Peristiwa itu dikisahkan dari peristiwa ahli ibadah Bani Israil. Nabi Muhammad saw menerima wahyu dari Allah swt tentang peristiwa ini, menyebut bahwa Allah swt telah mengampuni dosa pelacur tersebut dan membatalkan amal ibadah si ‘abid itu. Peristiwa ini telah mernberi i’tibar kepada manusia, agar janganlah mereka mencampurkan kemurnian ibadah kepada Allah dengan perasaan atau tindakan yang berakibat musnahnya amal ibadat mereka sendiri. Perbuatan seperti riya’, angkuh, bangga, meremehkan sesama manusia, menyakitkan hati sesama hamba, karena merasa dekat dengan Allah, adalah perbuatan yang bisa merusak amal ibadah si ‘abid itu.

Peristiwa yang sama juga pernah terjadi terhadap seorang hamba ahli ibadah Bani Israil. Ketika sedang sujud di tempat tafakkumya, tiba-tiba tengkuk ahli ibadah ini diinjak oleh seorang laki-laki dengan sangat keras, sangat menyakitkan. Diriwayatkan bahwasanya kejadian ini berhubungan dengan sifat ahli ibadah yang diketahui oleh Allah swt sangat sombong dan membanggakan ibadahnya di hadapan manusia. Kesombongan karena merasa dirinya dekat kepada Allah berakibat dosanya tidak diampuni oleh-Nya.
Dalam beribadah yang semata-mata dihadapkan kepada Allah Ta’ala belaka, seorang ‘abid yang takwa hendaklah berhati-hati memerihara ibadahnya sendiri. Jangan sampai bercampur baur dengan kehendak lain yang akan menjerumuskan si hamba kepada perasaan angkuh, riya’, ujub, rasa suci, menganggap orang lain kotor, membuat diri seakan-akan tidak ada yang menyamainya, atau menempatkan diri sebagai manusia suci yang harus menyisihkan diri dari anggota masyarakat yang dianggapnya kotor dan berdosa. Seorang muslim yang mengikuti jejak Nabi Muhammad Saw tidak boleh menjadi saleh sendiri, ia wajib pula membawa manusia yang dianggap banyak bermaksiat kembali kepada jalan Allah, agar menjadi saleh, hidup beribadah bersama para muslimin lainnya.
.
Semoga kita dapat mengamalkan mutiara pesan ini, dan semoga Allah swt selalu meridhoi dan memberikan petunjuk-Nya kepada kita. Aamiin.
.
Sumber: Al Hikam, Ibnu Athailah as Sakandari.

Sabtu, 19 Desember 2015

Dialog Si Liberal dan Kyai Kampung

 Dialog Si Liberal dan Kyai Kampung
Liberal: Kyai, ada orang baek banget, anti korupsi, bangun mesjid, rajin sedekah sampe hidupnya sendiri dikorbanin buat nolongin orang banyak, trus meninggal dan dia bukan Muslim, masuk mana?
Kyai: Maaf… Neraka…
Liberal: Lahh? Kan dia orang baek. Kenapa masuk neraka?
Kyai: Karena dia bukan Muslim.
Liberal: Tapi dia orang baek Ki. Banyak orang yang kebantu karena dia, bahkan umat Islam juga. Malah Bangun Masjid Raya segala. Jahat bener dah Tuhan kalau orang sebaek itu dimasukin neraka juga.
Kyai: Allah tidak jahat, hanya adil.
Liberal: Adil dari mane?
Kyai: Kamu sekolahnya apa?
Liberal: Ane mah Master Sains lulusan Amerika Kyai, kenape?
Kyai: Kenapa bisa kamu dapat titel Master Sains dari Amerika?
Liberal: Karena kemaren ane kuliah disana, diwisuda disana.
Kyai: Namamu terdaftar disana? Kamu mendaftar?
Liberal: Ya jelas dong Kyai, ini ijazah juga masih basah.
Kyai: Sekiranya waktu itu kamu tidak mendaftar, tapi kamu tetap datang kesana, hadir di perkuliahan, diam-diam ikut ujian, bahkan kamu dapat nilai sempurna, apakah kamu tetap akan dapat ijazah?
Liberal: Jelas enggak Kyai, itu namanya mahasiswa ilegal, sekalipun dia pintar, dia nggak terdaftar sebagai mahasiswa, kampus ane mah ketat soal aturan gituan.
Kyai: Berarti kampusmu jahat dong, ada orang sepintar itu tak dikasih ijazah hanya karena tidak mendaftar?
Liberal: *terdiam*
Kyai: Gimana?
Liberal: Ya nggak jahat sih, itu kan aturan, salah si mahasiswa kenapa nggak mendaftar, konsekuensinya ya nggak dapat ijazah dan titel resmi dari kampus.
Kyai: Nah, kalau kampusmu saja ada aturan, apalagi dunia dan akhirat… Kalau surga diibaratkan ijazah, dunia adalah bangku kuliah, maka syahadat (mengakui tidak ada tuhan selain Allah dan nabi Muhammad adalah utusan Allah) adalah pendaftaran awalnya. Tanpa pendaftaran awal, mustahil kita diakui dan dapat ijazah, sekalipun kita ikut kuliah dan mampu melaluinya dengan gemilang. Itu adalah aturan, menerapkannya bukanlah kejahatan, melainkan keadilan.

Jumat, 04 Desember 2015

Nilai Kehidupan

Nilai Kehidupan Cerita Motivasi dan Inspirasi Nomor 1

Alkisah, ada seorang pemuda yang hidup sebatang kara. Pendidikan rendah, hidup dari bekerja sebagai buruh tani milik tuan tanah yang kaya raya. Walapun hidupnya sederhana tetapi sesungguhnya dia bisa melewati kesehariannya dengan baik.

Pada suatu ketika, si pemuda merasa jenuh dengan kehidupannya. Dia tidak mengerti, untuk apa sebenarnya hidup di dunia ini. Setiap hari bekerja di ladang orang demi sesuap nasi. Hanya sekadar melewati hari untuk menunggu kapan akan mati. Pemuda itu merasa hampa, putus asa, dan tidak memiliki arti.

“Daripada tidak tahu hidup untuk apa dan hanya menunggu mati, lebih baik aku mengakhiri saja kehidupan ini,” katanya dalam hati. Disiapkannya seutas tali dan dia berniat menggantung diri di sebatang pohon.

Pohon yang dituju, saat melihat gelagat seperti itu, tiba-tiba menyela lembut. “Anak muda yang tampan dan baik hati, tolong jangan menggantung diri di dahanku yang telah berumur ini. Sayang, bila dia patah. Padahal setiap pagi ada banyak burung yang hinggap di situ, bernyanyi riang untuk menghibur siapapun yang berada di sekitar sini.”

Dengan bersungut-sungut, si pemuda pergi melanjutkan memilih pohon yang lain, t
... baca selengkapnya di Nilai Kehidupan Cerita Motivasi dan Inspirasi Nomor Satu

Selasa, 01 Desember 2015

Islam tidak mengajarkan radikalisme

 Islam tidak mengajarkan radikalisme, tapi Islam mengajarkan ASYIDDA'U 'ALAL KUFFAR WA RUHAMA'U BAINAHUM (keras terhadap orang kafir dan berkasih sayang dengan sesama Mukmin).
Islam mengajarkan toleransi terhadap perbedaan, tapi Islam juga mengajarkan AMAR MA'RUF NAHI MUNKAR.
Jika sikap tegas terhadap kekafiran dan simbol2nya dianggap radikalisme, maka bagaimana sikap NABI MENGHANCURKAN 360 BERHALA saat Fathul Makkah, mau kalian istilahkan apa?
Jika kaum Muslim tidak menyetujui adanya maksiat terang2an, atau pendirian rumah ibadah yang tidak sesuai aturan, lalu itu disebut intoleran, maka sikap SAHABAT NABI MENUMPAHKAN DRUM2 MINUMAN KERAS di Madinah saat turun ayat larangannya, mau kalian istilahkan apa?
Kami akui kalian memang lihai bermain kata, menuduh, dan membuat stigma, karena kalian punya lebih percaya media kafir dan dana dari mafia kafir lagi murtad, tapi KALIAN LEMAH dalam memadamkan cahaya agama kami.
JUJUR SAJA..
Jangan malu2 untuk kalian mengatakan, "Kami Anti Islam."
Ajaran radikalisme yang kalian maksud adalah Islam dan kaum Muslimin.
Gerakan intoleransi yang kalian maksud adalah Islam dan Kaum Muslimin.
Kalian (para thaghut, liberal, nasrani, sekuler ngaku Muslim, komunis, MUNAFIK) adalah konfigurasi kerjasama abadi kekuatan jahat, yang sudah kami antisipasi sejak lama!
TIDAK USAH BERKILAH...
Sebab permusuhan kalian lebih nampak dari kilahan kalian.
Tidak usah pura2, sebab cepat atau lambat kepura2an akan berakhir.
KATAKAN SESUKA KALIAN...
Tentang kami: radikal, intoleran, teroris, ekstrimis, sampai kalian puas!
Karena sampai kapan pun ya begitulah kemunafikan kalian sejak dulu.
Jika menjalankan ajaran agama, mengamalkan nya, istiqamah kepadanya, dan tegas terhadap kekafiran dan para pelakunya, diberikan berbagai stigma buruk oleh kalian, maka sama sekali tidak menyurutkan sikap kami.. dan In Sya ALLAH kami tidak berubah, biidznillah.
Matilah kalian, dengan kedengkian Kalian.
Walhamdulillah....