Selasa, 26 September 2017

Fakta tentang Soekarno


INTERMEZZO 'JAS MERAH'
•••¤¤¤•••
"Fakta tentang Sukarno"
( kebenaran yang di tutupi)

Marhaen itu singkatan "Marx-Haegel-Engels".
Sosok petani bernama Marhaen itu fiktif!! Soekarno mengada-ngada aja.
Banyak yg bilang Soekarno pemikir hebat dibanding politisi skrg?
Dia keliatan hebat krn dulu “yg berpendidikan cuma segelintir orang”.
Kalo SAJA Soekarno hidup di jaman sekarang, paling cuma sekelas "Iwan falsu"
Jago ngumpulin massa doank dan massanya saat itu banyak orang yang tdk berpendidikan, gampang diarah2kan tanpa mikir panjang.
Soekarno cuma mengubah konsep2 dari Eropa agar lebih terdengar "Indonesia"
.Jika anda Anti-Amrik = maka anda di cap Nasionalis tapi akrab dengan JFK.
Soekarno marah ke Amerika itu akibat urusan perang dingin, bukan masalah nasionalisme. Amerika ( JFK) ngasih duit ke Soekarno agar komunis gak berkembang di Asia tenggara,
lha, dia malah deket sama PKI.
Pasti lah amerika marah.
Sukarno menasionalisasi perusahaan peninggalan penjajah tetapi ujungnya semua jatuh ke mana?
Tentu saja Ke kroni nya
Sukarno Mikirin rakyat?
Entah lah coba tanya saja kepada orang tua kita dulu apakah tidak sengsara jaman hidup di era Sukarno sementara Sukarnonya saja berambisi jadi raja seumur hidup di negara ini, lalu kawin sana kawin sini sampai 9 kali sampai kekuasaannya runtuh, syukur di selamatkan suharto
Soekarno anti asing?
Itu upeti jepang di buat untuk apa?,
Pesta?!
Sejarah dibuat oleh orang yang menang dalam sejarah, maka sejarah isinya itu tafsir para pemenang!!
Sekarang keluarga Soekarno lagi berkuasa dan namanya pun harum seperti durian.
"Jangan tanya apa yg negara ini berikan kepadmu, tanya apa yg kau berikan kpd negara" itu kalimatnya JFK,
Gimana bisa dibilang anti-Amerika kalo kalimat andalannya saja ngutip JFK, berarti Soekarno tuh undercover fansnya amerika.
Kalian bisa marah sama politisi PKS yang suka poligami Aceng Fikri, Eyang Subur,
Kok sama Soekarno ngomongpun gak berani?
Apa karena sakral atau tabu?
Proklamasi atas jasa Soekarno ?
Dia sangat ragu jika boleh dikatakan takut, justru Anak2 Rengasdengklok yang menculik dan memaksa nya malah hilang jasa jasa dari sejarah entah kenapa?!.
Yang cape kerja nyiapin proklamasi siapa?, bukan nya BPUPKI, lha kenapa Soekarno yg dapet gelar Bapak Proklamasi?!.
"Proklamasi kami rakyat Indonesia dengan ini menyatakan dst ".
Beberapa tahun kemudian orang Padang di perangi hanya demi membela PKI.
Beberapa tahun kemudian "Soekarno' makin gak jelas dgn konsepnya dan makin diktator. Masa mau jadi Presiden seumur hidup.
Sebagai pengingat" Soekarno" juga pernah menyutujui perjanjian Linggardjati, Renville, KMB yang jelas jelas sangat merugikan Indonesia.
Sampai sampai jenderal "Sudirman" marah besar dan sangat membenci nya, walau pun akhirnya saling me maafkan.
Sukarno bukan pejuang sejati.
"Jangan ngomongin aib orang lain"
Kenapa gak boleh diomongin hanya karena udah meninggal?
Firaun juga terus2an diomongin.
Bahkan Gak pernah diomongin kebaikan dan jasa jasa .
Kalo gak boleh ngomongin yang udah meninggal, gak akan ada pelajaran sejarah.
Sampai kapan kita menutupi dosa dosa nya
(Untung suharto udah meninggal kalo gak tulisan ini akan di berangus atau saya malah di tembak)
Adam malik juga menulis. mengapa PKI cenderung merapat ke Soekarno ketimbang Tan Malaka, karena Soekarno lebih labil jadi gampang disetir.
Tan Malaka pernah pidato di Kediri bilang Soekarno sdh jadi borjuis karena upeti Jepang. Lalu Tan Malaka pun di tendang dan di injak.
Suatu kesalahan besar jika masih ada pengkultusan berlebihan, seolah olah Sukarno suci tanpa cacat!!
I refuse to be stupid.
Tapi kalo kalian ngotot mendewakan Soekarno yang jelas diktator itu sah-sah saja. Hak kalian menjadi tolol.
KARENA JAMAN SEKARANG INI PUN MASIH ADA YANG MAU MINUM AIR BEKAS CUCIAN KAKI MEGAWATI, benar benar sakit jiwa, keterbelakangan mental.
Hatta pernah menyatakan mental "inlander" (budak terjajah) bakal jd penyakit yg bahaya buat bangsa.
Pengkultusan Soekarno masih berlanjut sampai sekarang buktinya, selalu didengung2kan oleh keturunan Sukarno seperti Megawati dan kroni2nya yang hidupnya tidak pernah susah.
Mereka menikmati upeti/kumpulan harta Sukarno yang tidak pernah dinikmati rakyatnya pantas saja mereka masih suka menjelekkan Suharto.
Untungnya Suharto baik hati, tidak pernah mengungkit ungkit dosa dosa Sukarno, seperti kelakuan si Sukmawati yang mencela cela "Suharto".
Dasar tidak tau di untung.
"Regard By COPAS Grup Militer Anti PKI"

Senin, 25 September 2017

ADE IRMA SURYANI NASUTION

ADE IRMA SURYANI NASUTION
(19 febr1960 - 6 okt 1965)
Adalah Puteri bungsu Jenderal Abdul Harris Nasution, Ade terbunuh dalam peristiwa Gerakan 30 September/Partai Komunis Indonesia (PKI) oleh pasukan cakrabirawa yang berusaha menculik dan membunuh ayahnya. Ade yang berumur lima tahun tertembak dalam peristiwa tersebut, ia menjadi tameng hidup ayahnya bersama dengan letnan Pierre Tendean.
_______________________________________________

Image may contain: 2 people
Ibu Sunarti Nasution dengan tabah menggendong Ade Irma yg telah wafat tgl 6 oktober 1965 mengantarkannya ke pemakaman umum blok P kebayoran ( saat ini berada dibelakang kantor walikota jakarta selatan ).

"KELUAR JENDERAL!"
Teriakan dan dobrakan pintu pasukan cakrabirawa sontak mengejutkan keluarga MENHANKAM Jenderal AH Nasution, penasaran sang jenderal coba menghadapi mereka, namun ibu Johanna Sunarti, isteri beliau menghalangi nya, dengan alasan ia punya firasat buruk.
Isteri pak Nasution membuka pintu, tiba-tiba rentetan tembakan pasukan cakrabirawa menyasar kearahnya, tak kena, pasukan cakrabirawa pun mengejar hingga kekamarnya. Ade Irma yang terbangun dari tidurnya menangis ketakutan.
Bak pahlawan bagi suaminya, ia pun menyuruh pak Nasution untuk menyelamatkan diri, sambil menahan pintu kamar dari serangan pasukan yang dipimpin oleh Kopral Hargiono.
Ade Irma diserahkan kepada Mardiyah, adik pak Nasution, Malang, disaat Mardiyah mendekati pintu, pasukan cakrabirawa melakukan serangkaian tembakan, beberapa butir peluru bersarang dipunggung sikecil Ade Irma Suryani, satu peluru menembus telapak tangan Mardiyah.
Mengetahui anaknya tertembak, jenderal Nasution segera hendak melihat, namun isterinya melarang dan berkata; "pergilah, jangan fikirkan kami, mereka kesini untuk mencari mu".
Jenderal Nasution berhasil melarikan diri, beliau meloncat tembok pagar kantor kedutaan Irak.
Sambil menggendong Ade Irma yang terluka, ibu Johanna keluar menemui pasukan cakrabirawa.
"Nasution dimana?" Bentak salah seorang dari mereka.
"Jenderal Nasution di Bandung! Sudah dua hari! Kalian kemari hanya untuk membunuh anak saya" jawab ibu Johanna dengan nada marah.
Akibat tembakan tersebut, nyawa Ade Irma tidak tertolong lagi, setelah mendapat perawatan selama enam hari di rumah sakit, gadis kecil ini pun menghembuskan nafas terakhirnya dengan meninggalkan pertanyaan;
" Ade salah apa, kenapa di tembak? Ade sayang Mama papa..."
***

Korban Komunis di Belahan Dunia

Foto Aladin Aladin.



Ini jumlah korban komunisme di belahan dunia. Apa pendapat saudaraku sekalian jika ada anak PKI menganggap dirinya korban..

JEND. AH. NASUTION...

video
SUARA ASLI JEND. AH. NASUTION...
PIDATO PELEPASAN JENAZAH PAHLAWAN REVOLUSI. KORBAN DALAM #G30SPKI
PKI PENGKHIANAT BANGSA...PKI BIADAB

Fakta sejarah yang mendekati kebenaran..

Image may contain: one or more people, people standing, crowd, stadium, concert and outdoor
Dari berbagai versi, versi ini yang menurutku paling rasional didukung pidato kenegaraan Soekarno dan fakta-fakta sejarah lainnya.
Peristiwa G30S berawal dari informasi yg dibawa oleh Subandrio dari Mesir pada tgl 15 Mei 1965 tentang adanya Dewan Jenderal (Dokumen Gilchrist).
Sukarno menanggapi isu ini dgn serius. Pada tanggal 25 Mei 1965, Sukarno memanggil para Menteri Panglima Angkatan untuk meminta kejelasan tentang adanya Dewan Jenderal.
Pada kesempatan tersebut, Letjen Ahmad Yani selaku Menpangad dgn tegas menyatakan bahwa Dewan Jenderal tidak ada, yang ada adalah Dewan Kepangkatan Tinggi (Wanjakti) yg bertugas memberi masukan atau pendapat kepada Menpangad tentang kepangkatan dan jabatan Perwira Tinggi di tubuh angkatan darat.
Bahkan Jenderal Nasution juga memastikan bila Dewan Jenderal memang tidak ada.
Merasa kurang puas dgn penjelasan Jenderal Ahmad Yani dan Jenderal Nasution, Sukarnopun berusaha mencari kejelasan lebih lanjut. Sukarno memberi perintah pd Brigjen Sjafiudin (Pangdam Udayana) untuk mencari tahu nama2 yg dimaksud, lalu didapat 9 nama.
Inilah ke 9 nama yg disodorkan Brigjen Sjafiudin :
1 Jenderal AH Nasution (Menko Pangap/KASAB),
2 Letjen Ahmad Yani (Menpangad),
3 Mayjen R Soeprapto (Deputy II Menpangad)
4 Mayjen MT Haryono (Deputy III Menpangad)
5 Mayjen S Parman (Asisten I Menpangad bidang Intelejen)
6 Mayjen Djamin Ginting (Asisten II Menpangad bidang Operasi)
7 Brigjen DI Panjaitan (Asisten IV Menpangad bidang Logistik)
8 Brigjen Sutoyo (Inspektur Kehakiman AD)
9 Brigjen Sukendro (Asintel Mayjen S Parman).
Akhirnya Sukarno memberi sinyal untuk menindak mereka tapi bulan berganti bulan tak ada perkembangan.
Lalu atas bisikan PKI, Sukarno menemukan ide yg dianggapnya cemerlang (menurut pikirannya berdasarkan pengalaman Lenin, Stalin, Mao Tse).
Berdasarkan rekomendasi dari Brigjen Sabur, Sukarno memberi perintah kepada Letkol Untung untuk menindak para Jenderal.
Ditentukanlah tanggalnya dan dipilihlah bulan Oktober dgn alasan Sukarno ingin mensejajarkan diri dgn Sovyet & China yg sdh lebih dahulu terkenal dgn Revolusi Oktobernya.
Dalam beberapa kesempatan Sukarno selalu menyebut peristiwa G30S dgn istilah “GESTOK”.
Sukarno menolak penggunaan istilah Gestapu atau G30S.
Sesuai perencanaan, Operasi penindakan para jenderal mulai dijalankan. Supply persenjataan diperoleh dari Marsekal Oemar Dhani yg merupakan Menpangau waktu itu.
( TNI AU baru melaporkan kehilangan senjata setelah senjata2 tsb disita lewat pertempuran di wilayah Lubang Buaya).
Berdasarkan kesaksian keluarga para jenderal yg menjadi korban, ternyata pada malam kejadian telepon selalu bordering tiap jam hanyak untuk menanyakan keberadaan para jenderal, apakah ada di rumah atau tidak.
Pada dini hari pukul 4.00 Wib operasi penindakan para jenderal pun dijalankan. Satu persatu para jenderal diculik dari rumah mereka masing-masing.
Namun operasi penindakan para jenderal ini Gagal Total karena ternyata Nasution berhasil meloloskan diri
Walau tahu kalo operasi penindakan para jenderal Gagal, namun operasi tetap dijalankan.
Pada pagi harinya Letkol Untung mengumumkan berita sebaliknya melalui RRI. Letkol Untung memberitakan kesuksesan Dewan Revolusi menghabisi para jenderal yg dianggap menghalangi Revolusi yg dicanangkan Sukarno. Pengumunan ini ternyata mendapat sambutan diberbagai daerah, seperti Jogjakarta, dimana Kolonel Katamso dan Letkol Sugijono diculik dan dibunuh. Bahkan dibeberapa daerah, para anggota PKI & simpatisan PKI mulai menebar ancaman yg membuat rakyat menjadi kian ketakutan.
Dalam persembunyiannya, jenderal Nasution mengakui kalo dirina merasa gamang dlm menentukan siapa kawan dan siapa lawan yg sebenarna. Akhirnya Nasution memilih KOSTRAD sbg tempat berlindung walau diketahui sebetulnya sbg Benteng Pengendali Keamanan Ibukota adalah KODAM JAYA.
Menjelang sore sekitar pukul 4 lewat akhirnya jenderal Nasution masuk ke Markas KOSTRAD.
Jenderal Nasutionpun memberi perintah kepada Mayjen Suharto untuk mengambil alih komando TNI AD. Menindak lanjuti perintah jenderal Nasution, Mayjen Suharto mengirim telegram keseluruh Kodam memberitahukan tentang selamatnya jenderal Nasution dan memerintahkan untuk bersiaga penuh.
Mayjen Suharto pun memberi perintah kepada Kolonel Sarwo Edhie untuk segera merebut RRI & menguasai Halim (daerah Lubang Buaya yg merupakan tempat pelatihan militer para Pemuda Rakyat).
Sejarah mencatat, dari 3 Menteri Panglima yg tersisa hanya Menpangal Laksamana RE Martadinata yg menjenguk Jenderal Nasution saat berada di Kostrad pasca kejadian.
Usai mendengar kesaksian Jenderal Nasuton, Laksamana RE Martadinata menyatakan sikap TNI AL yg mendukung TNI AD untuk melawan PKI.
Namun sayang, sikap ini justru membuat karier militernya tamat, karena pada tgl 21 Februari 1966, Laksamana RE Martadinata dicopot jabatannya sbg Menpangal.
Ternyata selamatnya Jenderal Nasution waktu itu, menjadi petaka bagi Sukarno dan PKI, apalagi saat ditangkap, Letkol Untung memberi daftar 60 nama prajurit Cakrabirawa yg terlibat langsung.
Harap diingat, pada malam peristiwa Letkol Untung memberi memo kepada Sukarno saat seminar para Arsitek. Setelah membaca memo tsb Sukarno menyelipkan ucapan yg dikutip dari kisah Ramayana/Mahabrata tentang membunuh saudara kandung demi pencapaian tujuan.
Perlu diketahui, sehari sebelum peristiwa terjadi ternyata Sukarno sdh menjanjikan posisi Menpangad kepada Mayjen Mursjid yg merupakan orang nomor 2 di Kemenpangad waktu itu. Mayjen Mursjid adalah Deputy I Menpangad yg tdk turut menjadi target saat itu padahal Deputy II & Deputy III turut menjadi korban saat itu.
Para Antek2 PKI yg berkedok Sukarnois mencoba memelintir peristiwa G30S dgn mengabaikan “Selamatnya” Jenderal Nasution.
Padahal beliaulah yg membuat semua skenario & rencana Sukarno menjadi berantakan.
Lalu tindakan Sukarno yg justru mencopot jabatan Jenderal Nasution dari jabatannya sbg Menko Pangap/Kasab, semakin memperkuat kecurigaan akan keterlibatan Sukarno.
Tindakan pencopotan ini seolah menunjukan kalo Sukarno Gak Suka kalo Nasution berhasil selamat.
Pasca peristiwa pembunuhan para jenderal di Lubang Buaya, situasi Eskalasi politik di Indonesia semakin memanas. Rakyat mulai turun kejalan menuntut pembubaran PKI tapi Sukarno seolah tak bergeming membela keberadaan PKI.
Bahkan saat berpidato didepan Front Nasional tgl 13 Februari 1966, di daerah Senayan, Sukarno kembali dgn lantang memuji PKI dgn mengatakan, “Di Indonesia ini tidak ada partai yang pengorbanannya terhadap Nusa dan Bangsa sebesar PKI”.
Mendengar pidato Sukarno yang keukeuh membela PKI, tuntutan mahasiswa dan rakyat semakin menguat untuk melengserkan Sukarno. Menghadapi tuntutan mahasiswa dan rakyat yang semakin meluas, akhirnya Sukarno mengeluarkan SP 11 Maret ditahun 1966, yang isinya memerintahkan Letjen Suharto sebagai Menteri Panglima Angkatan Darat untuk segera mengendalikan situasi dan keadaan dengan mengambil tindakan yang dianggap perlu demi menjaga keamanan dan kestabilan pemerintahan. Namun Sukarno cukup cerdik dengan menyelipkan perintah untuk menjaga dan menjamin keselamatan pribadinya. Sukarno menyelipkan perintah menjaga dan menjamin keselamatan pribadinya dengan menyematkan berbagai gelar yang disandangnya.
Berdasarkan SP 11 Maret, Letjen Suharto mulai mengadakan pembersihan atas unsur-unsur PKI di pemerintahan termasuk menangkapi beberapa menteri dan pejabat yang terlibat PKI. Tindakan Letjen Suharto mendapat kritikan dari Sukarno yang ditanggapi Suharto dengan memasang dirinya sebagai tameng untuk menjaga nama baik Sukarno.
Pasca terbitnya SP 11 Maret, situasi keamanan Negara mulai kondusif dan terkendali. Gejolak demontrasi anti pemerintah mulai mereda.
Namun situasi kembali memanas saat Sukarno mengawini gadis belia, Heldy Jaffar yang berusia 18 tahun dibulan Mei 1966. Perkawinan ini menjadi puncak kemarahan rakyat dan menjadi bukti “Ketidak Pedulian” Sukarno terhadap kondisi dan situasi Negara. Rakyat melihat ternyata Sukarno lebih mementingkan kepentingan pribadinya dibanding kepentingan Bangsa dan Negara.
Akhirnya tuntutan rakyat dijawab oleh MPRS yang diketuai oleh Jenderal AH Nasution.
Pada bulan Juni 1966, Sukarnopun diseret ke SU MPRS untuk dimintai pertanggung jawaban. Inilah awal kejatuhan Sukarno dimana 2 nota pembelaannya yang diberi judul Nawaksara I dan II ditolak oleh MPRS. Mandat Sukarno sebagai Presidenpun dicabut MPRS pada bulan Maret 1967. Selanjutnya MPRS memilih dan mengangkat Letjen Suharto sebagai Plt Presiden.
Terlukis kesan ketidak relaan di wajah Sukarno atas pencopotan dirinya dari kedudukan Presiden.
Berdasarkan Tap MPRS no 33 tahun 1967, MPRS memerintahkan kepada Plt Presiden, Jenderal Suharto untuk melakukan proses hukum kepada Sukarno sesuai ketentuan hukum yg berlaku, namun Suharto hanya mengenakan status Tahanan Rumah tanpa pernah berusaha mengajukan Sukarno untuk diadili.
"Mikhul Dhuwur Mendhem Jero" menjadi alasan Suharto agar Bangsa Indonesia tdk memperlakukan Sukarno seperti pesakitan/pecundang. Sikap Suharto ini dipertegas dgn pidatonya di depan Sidang MPRS pd tahun 1968, agar kita lebih baik mencurahkan tenaga & pikiran dlm menghadapi masa depan bangsa Indonesia dibanding mempermasalahkan masa yg lalu.
Pada kenyataannya, Suharto memang tidak pernah mengajukan Sukarno kedepan sidang pengadilan manapun. Bahkan sebagai bentuk penghormatan, pada tahun 1986 Suharto memberikan gelar Pahlawan Proklamasi kepada Sukarno & Hatta.
Mendirikan Tugu Proklamasi untuk menghormatinya serta menyematkan nama Sukarno-Hatta pada nama Bandara Internasional Indonesia.
Dan terakhir, Suharto menyematkan foto Sukarno-Hatta pada lembaran uang kertas Rp.100.000,-
NB : 2 Nama dari 9 nama jenderal yg menjadi target operasi berhasil selamat karena pada malam kejadian tidak berada ditempat/dirumah.
Mayjen Djamin Ginting berada di Medan saat peristiwa terjadi.
Brigjen Sukendro berada di luar Jakarta saat peristiwa terjadi.
Pasca peristiwa, Mayjen Djamin Ginting turut berlindung di Markas Kostrad bersama Jenderal AH Nasution.
Kronologis Kejadian G30S diatas ditulis oleh beberapa mantan aktivis 66. Bagi Buzzer JASMEV/PROJO & Orang2 yg Sok Ngaku Sukarnois, saya persilahkan untuk membantah Kronologis diatas dengan cara menulis Kronologis Kejadian sebagai pembandingnya.
Saya persilahkan kalian untuk memasukan semua tuduhan kalian kepada pak Harto, tapi saya ingatkan untuk tidak melupakan situasi selamatnya jenderal Nasution yg berlindung ke Markas Kostrad waktu itu.
Bila kalian masih tidak mampu untuk menuliskannya maka berarti kronologis yg ditulis para mantan aktivis 66 diatas adalah BENAR & TIDAK TERBANTAHKAN.

Minggu, 24 September 2017

Aidit Tidak Merokok???

Di ILC... Ilham aidit bilang bapaknya tidak merokok... nyatanya di counter dengan fakta ini.....
EKSKLUSIF G30S: Sebelum Didor Aidit Minta Rokok ke Eksekutor
TEMPO.CO, Yogyakarta - Ketua Committee Central Partai Komunis Indonesia Dipa Nusantara Aidit ditangkap di Solo pada 22 November 1965 oleh Tentara Nasional Indonesia. Besoknya, pada 23 November 1965, Aidit dieksekusi mati di Boyolali, Jawa Tengah, kabupaten yang dekat dengan Solo.
Kolonel TNI Ms yang menyergap dan mengakui mengeksekusi Aidit becerita kepada sahabatnya ihwal drama penangkapan tersebut. Sang sahabat itu, menuturkan pengakuan itu kepada Tempo yang menemuinya di rumahnya di Yogyakarta, Sabtu 26 September 2015 lalu.
Setelah ditangkap di balik lemari di rumah milik simpatisan PKI di Solo, Aidit diajak ke ruang depan tempat meja yang masih ada sisa kopi dan puntung rokok. Saat hari nahas itu Aidit sempat menikmati kopi dan rokok di ruang depan, ruangan terbuka seperti umumnya rumah orang Jawa. “Intelijen meyakini posisi Aidit di rumah itu akibat Aidit ceroboh minum kopi di ruang terbuka,” kata Ms, seperti ditirukan sahabatnya.
Menurut Ms, di ruang depan itu juga Aidit sempat diinterogasi, dan menyatakan menyerah pada TNI Angkatan Darat. Aidit menandatangani sejumlah dokumen pernyataan. Kepada sahabatnya, Ms memperlihatkan setidaknya lima foto ketika Aidit baru ditangkap dan diinterogasi. “Rambut Aidit agak panjang dan menutupi dahi di foto itu,” kata sahabat Ms.
Ms juga bercerita, ketika menginterogasi Aidit, Ms merokok merek Bentoel yang berbungkus kertas warna merah. Setelah Aidit menandatangani surat pernyataan menyerah, Aidit dibawa ke luar dari rumah itu. Saat hendak meninggalkan rumah itu, Aidit menyaksikan masih ada rokok dalam bungkus, yang isinya tinggal separuh.
Aidit berujar ke Ms, “Boleh ya rokok ini saya bawa.” Ms menjawab, “Bawa saja rokok itu, nanti buat rokokan bersama Gatot Subroto.” Tahun 1962, Jenderal TNI Angkatan Darat Gatot Subroto meninggal. “Pernyataan Ms mengisyaratkan Aidit segera dihabisi,” kata kawan Ms.

Tentang Pembuatan Film PKI

Di ILC TV One, Istri Sutradara Film G30SPKI Bongkar Kebohongan Sukmawati
Istri sutradara Film G30SPKI Arifin C Noer, Jajang C Noer membantah pernyataan Sukmawati Soekarnoputri bahwa film tersebut banyak bohongnya, rekayasa dan pembuatannya di bawah tekanan tentara.
“Mas Arifin tidak mungkin mengerjakan sesuatu yang tidak diyakini. Film ini untuk bangsa mengetahui sejarahnya dan membuatnya dengan penuh cinta untuk bangsa,” kata Jajan di acara ILC tvOne, Selasa (19/9).
Jajang mengatakan, sebelum membuat film tersebut Arifin kesulitan menemui orang-orang PKI dan hanya bertemu Sjam Kamaruzzaman dan banyak diamnya ketika ditanya.
“Arifin tanya tentang kebiasaannya Aidit, dan Kamuruzzaman bilang biasa saja, ditanya tentang Aidit merokok dan Kamuruzzaman hanya jawab ya, seperti orang biasa saja,” kata Jajang.
Jajang juga mengatakan, Arifin membuat Aidit merokok, untuk menggambarkan kegawatan saat itu. “Arifin tidak membuat adanya penyayatan terhadap para jenderal, adanya darah itu merah jenderal, hanya membawa pisau, tidak ada indikasi mencokel mata jenderal,” ungkap Jajang.
Ia juga membantah pernyataan Sukmawati bahwa pembuatan film itu dapat intervensi dan diawasi tentara terus. “Tidak benar mendapat intervensi dan diawasi terus, secara estetis dibebaskan,” ungkapnya.
Selain itu, ia menceritakan awal pembuatan itu awalnya Direktur PPFN G Dwipaya bertanya ke Goenawan Mohamad tentang sutradara yang bisa membuat film. “Goenawan menajwab Teguh Karya dan Arifin C Noer. Dan Dwipayana memilih Arifin C Noer,” ungkap Jajang.